Acara Menyambut Hari Film Nasional: dari Lokakarya hingga Gelar Wicara

Acara Menyambut Hari Film Nasional: dari Lokakarya hingga Gelar Wicara

Acara Menyambut Hari Film Nasional dari Lokakarya hingga Gelar Wicara
Acara Menyambut Hari Film Nasional dari Lokakarya hingga Gelar Wicara

Menyambut peringatan Hari Film Nasional tahun 2018 (HFN 2018), Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar sejumlah acara yang terkait perfilman. Acara-acara yang dilaksanakan meliputi sejumlah lokakarya (workshop) perfilman, acara nonton bareng film nasional di sejumlah kota, hingga gelar wicara (talkshow) baik di radio maupun media sosial.

Acara-acara tersebut dilaksanakan selain bertujuan memeriahkan peringatan HFN 2018, juga untuk meningkatkan kompetensi insan perfilman tanah air, dan mengajak masyarakat menikmati film nasional dengan cara yang benar. Acara-acara yang dilaksanakan dari awal tahun 2018 tersebut memperoleh sambutan yang antusias dari insan perfilman maupun masyarakat.

Lokakarya perfilman dilakukan sebagai upaya meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) bidang perfilman. Salah satu jenis keahlian yang didorong untuk dimiliki insan perfilman adalah asesor bidang perfilman. Sebagai upaya meningkatkan kompetensi asesor perfilman, Pusbangfilm menyelenggarakan Pelatihan Asesor Kompetensi Bidang Perfilman, tanggal 1 sampai dengan 7 Maret 2018 di Hotel Mirah Bogor. Kegiatan ini diikuti 24 peserta hasil seleksi yang dilakukan sebelumnya.

Asesor bidang perfilman sangat penting untuk proses sertifikasi tenaga perfilman. Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman pasal 74 ayat 1 dan 2 dinyatakan bahwa setiap insan perfilman harus memenuhi standar kompetensi. Standar kompetensi yang dimaksud dilakukan melalui sertifikasi.

Kepala Pusbangfilm, Maman Wijaya, mengatakan tujuan penilaian (assessment) di bidang perfilman adalah meningkatkan kompetensi SDM bidang perfilman agar mampu bersaing di era pasar bebas. “Terlebih lagi dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean, kita butuh SDM bidang perfilman yang kompeten dan memiliki sertifikat kompetensi,” kata Maman Wajaya, Senin (5/3/2018).

Dalam pelatihan selama tujuh hari ini, peserta memperoleh materi yang lengkap tentang penilaian kompetensi bidang perfilman. Selain mendapatkan materi terkait penilaian, peserta juga melakukan role play atau praktik penilaian yang dipandu langsung oleh master asesor dari BNSP. Setelah pelatihan, dilakukan ujian sertifikasi. Dari 24 peserta, 18 peserta dinyatakan lulus sebagai asesor bidang perfilman dan memperoleh sertifikat asesor.

Selain lokakarya asesor perfilaman, sebagai upaya untuk pemenuhan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Pusbangfilm juga menggelar lokakarya Perfilman Tingkat Dasar di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pegawai Kemendikbud di Bojongsari, Depok pada tanggal 15 – 20 Maret 2018. Kegiatan ini dibuka Kepala Pusbangfilm Maman Wijaya.

Maman Wijaya berharap melalui pola seperti ini dapat disiapkan bibit-bibit muda insan perfilman yang sesuai dengan kebutuhan standar kompetensi dan peta okupasi. “Tentu saja kami berharap agar setelah mengikuti pelatihan, peserta dapat membuat karya film yang gaungnya dapat terdengar oleh Pusbangfilm, misalnya menang dalam festival atau bahkan diputar di bioskop,” tuturnya.

Lokakarya selama tiga hari ini dibagi menjadi empat bidang keahlian, yaitu tata artistik, tata kamera, tata suara, dan editing. Peserta lokakarya dibimbing oleh praktisi perfilman yang sudah berpengalaman seperti Hans Revo untuk tata artistik, Dana Risa di bidang animasi, Dewi Alibasja untuk editing, dan Wahyudi Dono di bidang tata suara. Selain keempat bidang tersebut, khusus untuk guru SMK dibuka kelas untuk bidang animasi.

Sebelum memulai pelatihan, seluruh peserta diwajibkan untuk mengikuti

pretest. Hasil pretest tersebut nantinya akan dijadikan acuan dalam memberikan materi kepada peserta. Pelatihan ini diikuti oleh 182 peserta yang berasal dari seluruh Indonesia dan dari berbagai kalangan, termasuk komunitas perfilman, guru, dan pegawai Kemendikbud.

Acara gelar wicara (takshow) juga dilaksanakan menyambut HFN 2018 ini. Gelar Wicara melalui media sosial Facebook Kemendikbud dilaksanakan tanggal 16 Maret 2018. Selain itu gelar wicara melalui radio Sindo Trijaya FM digelar 22 Maret 2018. Dalam berbagai acara gelar wicara tersebut Kepala Pusbangfilm Maman Wijaya mengajak masyarakat turut merayakan bulan film nasional di sepanjang bulan Maret. Maman Wijaya mengatakan bahwa peringatan hari film nasional merupakan perwujudan kecintaan masyarakat terhadap film Indonesia.

“Di tanggal 30 Maret nanti, mari kita ramaikan bioskop untuk menonton film

Indonesia. Akan diputar serentak di seluruh bioskop,” ujar Kepala Pusat Pengembangan Perfilman, Maman Wijaya, Jakarta, Jumat (16/3/2018).

Tahun 2017 yang lalu jumlah penonton film Indonesia meningkat cukup signifikan, tercatat lebih dari 40 juta penonton film Indonesia. Hal tersebut meningkat sekitar 32 persen dari jumlah penonton film Indonesia di tahun sebelumnya.

“Gerakan ayo nonton film Indonesia di bioskop merupakan gerakan sederhana

yang konkret untuk mendukung perfilman nasional,” kata Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) ’56, Marcella Zalianty. Marcella mengungkapkan, saat ini Parfi mendorong tersedianya bioskop-bioskop rakyat di daerah-daerah yang memiliki keterbatasan akses informasi. (Nur Widiyanto)

 

Sumber :

http://www.macrothink.org/journal/index.php/ajfa/comment/view/11810/10136/10717