Ah, alangkah indahnya dunia ini

Ah, alangkah indahnya dunia ini…

Ah, alangkah indahnya dunia ini

Alangkah Indahnya Dunia

Hal itu terpikirkan oleh saya saat malem ini, saya yang menjadi seorang janda temporer akibat ditinggal pacar yang lagi camping, menangkap berbagai macam hal yang indah indah (huh!kalimat yang panjang!)

Berawal dari acara pegang pegang hape yang berakibat pada kesehatan jantung saya itulah, saya berkhayal berfikir, bagaimana ya, seandainya semua itu digratiskan?

gimana ya…seandainya bisa nelpon kemana aja dan kapan aja secara gratis…?
Tentu aja hal seperti ini dan ini tak akan terjadi lagi.
Saya bisa nelponin Ibu dan Ayah sampek batre ngedrop, bisa pacaran berkomunikasi via Hapeh dengan Mas Farid atau sekedar isengin temen – temen – yang emang patut diisengin.

 

Akhir – akhir ini, emang banyak sekali iklan dari penyedia jasa komunikasi

yang tentu saja, dengan kebohongan keunggulan masing – masing. ada yang nonjolin SmSnya, ada yang murah hati banget buat dipake telpon, ada yang gapake sarat dan ktentuan berlaku, serta berbagai macam kebohongan strategi yang bertujuan akhir sama: dapet konsumen yang sebanyak banyak.

Kembali ke alam sadar saya. Ah, semua yang gratis – gratis akan hanya jadi impian dan khayalan saya aja. Jangankan pulsa, untuk pendidikan dan kesehatan saja, masya ampyun susyahnya dan nggak semua bisa menikmati keindahannya. Apalagi pulsa…yang bisa digolongkan kebutuhan utama kesekian. Jadi, ya…cukuplah milih yang terbaik dari semua, baik yang dengan status bersyarat maupun yang tanpa syarat dan ketentuan berlaku tapi masih ada syarat syarat yang harus dipenuhi.

 

Sejak tragedi ini, dan dapat rejeki,

saya memutuskan untuk mencari suami HP baru, dan Alhamdulillah…suami Hp idaman akhirnya menemani hari hari nan indah ini meskipun dalam proses mendapatkannya pake acara malak kakak segala. Jadi deh, Afone, itu nama suami hapeh saya yang baru, menemani kemana saja saya pergi, kecuali ke kamar mandi, sementara dia dibawa ke dokter.

Beberapa hari kemudian, dia hidup lagi dan bingunglah jadinya sayah…akhirnya, dengan berbagai pertimbangan bijaksana…saya pilih Menta*i sebagai secondary simcard, sebagai teman Adit. Kenapa saya gak milih Be*as,J*mpol,A*,S*mpati, ato kartu kartu lainnya?
Simpel. Saya suka Ind*sat. CDMApun saya pake Sta*one. Dan mayoritas makhluk hidup di Kampus saya, adalah pemakai Ind*sat (baca : M3). Pernah sih, nyoba – nyoba yang lain…tapi hanya kekecewaan yang saya dapat. Entah itu tarif, pelayanan, atau ada tidaknya partner yang memakai simcard yang sama.

Dan, makin mantaf memakai 2 kartu yang sama sama Indo*at, saat pacar tercinta beralih juga menjadi pemakai im3, seperti sayah…Lengkap sudah…
Nggak peduli deh, biar cuma bisa ngobrol gratis tis tis pas jam kerjanya Om Vampir alias jam 12 malem ampe jam 5 pagi, yang penting bisa bermesraan berkomunikasi dan melepas kangen, serta mengetahui kabar masing – masing. Dan ternyata juga, kedua simcard saya, sama sama murah kalo dipake nelpon ke Luar negeri, buat telpon sang bokap. Dan nggak hanya murah, kualitas suaranyapun jawuh lebih bagus kalo dibandingkan sama yang ngaku2 dikhususkan buat nelpon ke luar negeri.

 

Orang Bijak Pasti Cerdas

Btw, semua kembali pada Anda. Jika anda orang yang bijak, pandai, cerdas dan cantik seperti saya, Anda akan bergabung dengan saya, menikmati indahnya dunia ini.
dan ingat kata pepatah : Orang bijak pasti pake M3!

 

Baca Juga Artikel Lainnya: