Posted in: Umum

Asbabun Nuzul ayat

Asbabun Nuzul ayat

Ayat 229 : Menurut At Thurmudzi Al Hakim, siti Aisyah menerangkan bahwa dahulu orang laki-laki boleh mentalak istrinya dengan semaunya. Sedangkan perempuan yang ditalak tersebut tetap istrinya jika dirujuk diwaktu iddah.Walaupun dia ditalak sampai seratus kali. Sampai orang laki-laki bertanya kepada istrinya: “Demi Allah saya tidak akan mentalak engkau lagi. Tolonglah carikan keterangan dan saya tidak akan mendekatimu untuk selamanya.” Istrinya bertanya: “Bagaimana itu?” suami: “saya telah berkali-kali menealak engkau tapi setiap kali akan habis masa iddahmu, saya rujuk padamu.” Maka pergilah perempuan itu kepada Rosulullah. Beliau tidak menjawab sampai akhirnya turun ayat Al Baqarah :229.

Ayat 230: Ibn al-Mundhir meriwayatkan dari Muqatil ibn Hayyan. Ia berkata: ayat ini diturunkan berkenaan dengan ‘Aisyah binti Abd al-Rahman bin ‘Atik. Ia adalah isteri Rifa’ah bin Wahab bin ‘Atik, anak pamannya. Kemudian Rifa’ah mentalak ‘Aisyah dengan talak ba’in. setelah ditalak ia menikah lagi dengan Abd al-Rahman Ibn al Zubayr. Abd Rahman kemudian mentalaknya . Aishah selanjutnya datang menemui Nabi saw dan berkata: “sesungguhnya Abd al-Rahman mentalakku sebelum menyentuhku, apakah aku boleh kembali menikah dengan suamiku yang pertama? Nabi menjawab; tidak, sehinggga ia menyentuhmu. Kemudian turunlah ayat ini.

Ayat 231: Ibn Jarir meriwayatkan dari jalan al-‘Awfi dari Ibn Abbas ra., Ia berkata: bahwasannya terdapat seorang suami mentalak isterinya, kemudian ia merujuknya sebelum habis masa iddahnya, kemudian ia mantalaknya lagi. Ia berbuat demikian dengan maksud hendak menyusahkan isterinya dan memberi kemud}aratan kepada isterinya itu. Begitulah lalu Allah menurunkan ayat 231. Ibn Abi ‘Umar di dalam musnadnya dan ibn Mardawiyah dari abi al-Darda’ berkata; ada seorang laki-laki mentalak isterinya kemudian ia berkata akau bermain-main. Kemudian Allah menurunkan ayat (ولا تتخذوا ءايات الله هزوا).[15]

  1. Kandungan Hukum

Kandungan hukum yang terdapat dalam Ayat 229-231 surah al-Baqarah yaitu;

  1. Bilangan talak dan sunnah talak

Bilangan talak adalah dua kali yang dapat dirujuk sedangkan setelah talak yang ketiga tidak dapat dirujuk lagi. Al-Daruqutnin, mengkhabarkan kepadanya Wahab bin Nafi’ (pamannya), ia berkata: aku mendengar ‘Ikrimah meriwayatkan hadis dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: Talak itu ada 4 cara. Dua cara adalah halal dan dua cara yang lain adalah haram. talak yang halal adalah talak yang dilakukan ketika isteri dalam keadaan suci sebelum di jima’ (disetubuhi) pada masa suci itu dan talak yang dilakukan ketika isteri dalam keadaan hamil yang jelas kehamilannya. Sedangkan talak yang haram adalah talak yang dilakukan ketika isteri dalam keadaan haid dan talak yang dilakukan dalam masa suci tetapi setelah disetubuhi.

Hamka menyebutkan bahwa dua cara talak yang halal disebut dengan talak sunnah sedangkan dua talak yang haram dengan talak bid’ah. Lebih lanjut, meskipun bid’ah talak tetap jatuh juga. Berbeda dengan pendapat Sa’id bin al-Musayyab yang mengatakan bahwa talak dalam masa haid tidak jatuh talak, karena menyimpang dari sunnah. Pendapat ini juga merupakan pendapat dari golongan Shi’ah.

Menurut imam Shafi’i talak tidak dapat dikatakan bid’ah apabila dilakukan pada masa suci meskipun di ucapkan tiga sekaligus. Abu Hanifah berpendapat bahwa talak sunnah adalah talak yang dilakukan pada masa suci dan hanya satu talak sedangkan apabila tiga talak sekaligus dianggap bid’ah. Lain halnya menurut Shi’ah yang mengatakan bahwa termasuk talak yang diperbolehkan adalah talak dalam keadaan suci meskipun disetubuhi pada masa suci tersebut.

Sumber :

https://icanhasmotivation.com/sony-music-jepang-kenalkan-teknologi-interaktif-di-afa-jakarta/