Posted in: Pendidikan

Aspek Keseimbangan Lingkungan

Aspek Keseimbangan Lingkungan

Dalam menghadapi masalah kerusakan lingkungan hidup, tindakan saling menunjuk dan menyalahkan pihak tertentu yang dianggap harus bertanggung jawab bukanlah suatu sikap yang bijaksana. Hal lain yang lebih penting dilakukan adalah mengusahakan bersama langkah-langkah tertentu yang dapat dijadikan jalan keluar dari keruwetan krisis lingkungan hidup yang sudah, sedang dan mungkin akan terjadi.

Pada hakikatnya setiap keadaan merupakan transisi dari keadaan berikutnya. Keteraturan itu berada dalam suatu ambang batas tertentu, baik nilai terendah (minimum maupun nilai tertinggi/maksimum) sebagai batas toleransi. Karena itu dikenal konsep kelentingan, yang berarti bahwa suatu sistem yang stabil akan melenting pada batas-batasnya, sehingga terjadi proses keseimbangan. Proses keseimbangan tersebut dapat terganggu karena pengaruh yang berasal dari komponen-komponen dalam sistem itu sendiri maupun dari sistem lain di luarnya. Pengaruh itu dapat dilihat dari kejadian alami, misalnya gempa bumi, tetapi seringkali juga berasal dari ulah manusia, khususnya yang menggunakan perangkat teknologi modern seperti yang terjadi sekarang ini.

Manusia merupakan mahkluk yang mempenggaruhi lingkungan hidup, maka peranan dan perilaku manusia dipelajari secara khusus dalam ekologi manusia (Soerjani,1985: 5). Ekologi manusia berarti ekologi yang memusatkan pengkajian pada manusia sebagai individu maupun populasi. Seringkali pemusatan perhatian ini menimbulkan subyektifitas yang berlebihan tentang peranan dan pengaruh dan dominasi manusia dalam lingkungan hidup, hal ini mendorong perkembangan ilmu lingkungan yang melihat kedudukan manusia sebagai immanen (inklusif) yakni secara obyektif kedudukan manusia adalah sama dengan mahkluk lain di bumi. Segi yang sama dari kehidupan  manusia yaitu komponen yang tidak lain dari kehidupan manusia  berdimensi faktor psikis seperti watak, gagasan, pikiran dan keinginan pribadi manusia yang ikut membentuk mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan  secara keseluruhan.

Keadaaan atau faktor psikis inilah yang memungkinkan manusia memiliki kemampuan mengubah keadaan lingkungannya. Kota dibangun, sungai dibendung, hewan diternakan, cara-cara pertanian ditingkatkan dengan memakai bahan kimia yang kesemuannya ini menimbulkan lingkungan hidup baru buatan manusia. Manusia dengan segala kelebihan yang diberikan Tuhan kepadanya, seharusnya tidak berbuat sesuka hatiinya tanpa menghiraukan komponen lainya dari ekosistem.

Namun, dalam sejarah pandangan manusia dengan alam, dijumpai sekelompok orang yang menganggap bahwa alam disediakan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk memenuhi kepuasan manusia tanpa menghiraukan komponen lain yang ada di alam. Pandangan demikian dalam etika lingkungan disebut frontier mentalityFrontier mentality adalah pandangan hidup manusia yang berasal dari ajaran agama Kristen-Yahudi yang mengatakan bahwa alam dijadikan oleh Tuhan untuk memenuhi dan melayani kebutuhan manusia, ia dapat menaklukan alam semesta ini. Manusia memandang bahwa alam ini penuh dengan sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan tanpa batas.

Dengan demikian manusia secara leluasa dapat menguasai sumber-sumber alam sesuai dengan kebutuhan hidup material yang diperlukan. Alam adalah sumber material yang dinilai hanya dri segi ekonomis atau internal cost tanpa memperhitungkan aspek external cost seperti kebahagiaan seseorang untuk menikmati lingkungan sehat. Pakar Psikologi Alan Watts memandang sikap sewenang-wenang manusia itu merupakan sifat biologis yang mendarah daging bagi setiap manusia. Mereka beranggapan I versus not I, saya adalah saya dan semua yang di luar saya bukan golongan saya.

Akibat lebih jauh sifat ini adalah manusia cenderung mementingkan diri dan keluarganya dalam menggunakan sumber daya alam dan ia akan melakukan sesuai dengan kebutuhan materialnya saja. Munusia menguasai alam sebagaimana majikan menguasai budaknya. Manusia memandang dirinya terpisah dari alam. Sifat ini menurut Alan Watts diistilahkan dengan biological imperialism. Akibat dari sifat ini lingkungan menjadi rusak dan terancam bahaya akibat ulah manusia yang menganggap dirinya di atas segala-galanya, superior dan terpisah dari alam. Semua perbuatan manusia hanya ditujukan pada kebutuhan material. Teknologi dan industri yang dikembangkan kurang memperhitungkan aspek external cost seperti kebahagiaan, kesehatan, ketenangan, keindahan, dan lain-lain.

Penebangan hutan, tumbuh-tumbuhan dan tanaman, berburu dan memusnahkan satwa, pengikisan tanah dari sungai yang berakibat banjir adalah wujud dari perbuatan manusia yang didasari biological imperialism (Chiras, 1990 : 458-459). Untuk mengatasi sifat-sifat tersebut, manusia menmgembangkan sistem nilai yang disebut sustainable ethics yang merupakan prinsip pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada  internal cost, tetapi juga pada external cost. Selain itu manusia perlu dilihat secara transenden (eksklusif) mengingat bahwa manusia harus bertanggung jawab lebih besar dari makhluk hidup lainnya (Soerjani, 1985: 1). Pandangan transenden ini sejalan dengan firman Allah yang memperingatkan agar manusia berperilaku merusak di muka bumi, sebagai berikut:

Sumber :

https://littlehorribles.com/