Etika Berbisnis Dalam Islam

Etika Berbisnis Dalam Islam

Etika Berbisnis Dalam Islam

 

Etika Berbisnis Dalam Islam

Kegiatan Bisnis Dalam Islam

Kegiatan bisnis (usaha) dalam kacamata Islam, bukanlah kegiatan yang boleh dilakukan dengan serampangan dan sesuka hati. Islam memberikan rambu-rambu pedoman dalam melakukan kegiatan usaha, mengingat pentingnya masalah ini juga mengingat banyaknya manusia yang tergelincir dalam perkara bisnis ini. Faktanya terdapat ancaman keras bagi pelaku bisnis yang tidak mempedulikan etika, tetapi juga janji berupa keutamaan yang besar bagi mereka yang benar-benar menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan.

Pembahasaan mengenai prinsip Islam dalam dunia usaha tentunya sangatlah panjang, tetapi dalam bahasan singkat ini kita bisa mendapat gambaran tentang garis besar tentang prinsip-prinsip moral yang harus dipegang teguh oleh seorang pebisnis Muslim.

1. Niat yang Ikhlas.

Keikhlasan adalah perkara yang amat menentukan. Dengan niat yang ikhlas, semua bentuk pekerjaan yang berbentuk kebiasaan bisa bernilai ibadah. Dengan kita lain aktivitas usaha yang kita lakukan bukan semata-mata urusan harta an perut tapi berkaitan erat dengan urusan akhirat.
Allah I telah menegaskan bahwa hakekatnya tujuan manusia diciptakan di muka bumi adalah untuk beribadah kepadaNya “ Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepaKu”(QS Adz Dzariyat ayat 56), maka tentunya semua aktivitas kita di dunia tidak lepas dari tujuan itu pula. Rasulullah e bersabda “ Sesungguhnya amalan itu dengan niatnya ….”(Shahih Targhib wa Tarhib No.10)
Contoh niat yang ikhlas dalam usaha bisa berlaku dlam lingkup pribadi maupun sosial. Dalam lingkup pribadi misalnya meniatkan usaha yang halal untuk menjaga diri dari memakan harta dengan cara haram, memelihara diri dari sikap meminta-minta, untuk mendukung kesempurnaan ibadah kepada Allah I, menjaga silaturrahim dan hubungan kerabat dan motivasi positif lainya
Dalam lingkup sosial, misalnya meniatkan diri mencari harta untuk ikut andil dalam memenuhi kebutuhan masyarakat muslim, memberi kesempatan bekerja yang halal bagi orang lain, membebaskan ummat dari ketergantungan terhadap produk “orang lain”, dan motif sosial lainnya.
Niat-seperti diaktakan sebagian orang-adalah bisnisnya para ulama. Karena pahala dari suatu perbuatan bisa bertambah berkali-kali lipat jika didasari dengan niat yang ikhlas.

2. Akhlaq yang Mulia

Menjaga sikap dan perilaku dalam berbisnis adalh prinsip penting bagi seorang pebisnis muslim. Ini karena Islam sangat menekankan perilaku (aklhaq) yang baik dalam setiap kesempatan, termasuk dala berbisnis. Sebagaimana sabda Rasulullah e “….dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik” (Sahihul Jami’ No 97).
Akhlaq mulia dalam berbisnis ditekankan oleh Rasulullah e dalam sabdanya “Seorang pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan dikumpulkan bersama para nabi para shiddiq dan oarang-orang yang mati syahid. Dalam kesempatan lain Rasulullah e bersabda “Semoga Allah memberi rahmatNya kepada orang yang suka memberi kelonggaran kepada orang lain ketika menjual, membeli atau menagih hutang” (Shahih Bukhari No.2076). Di antara akhlaq mulia dalam berbisnis adalah menepati janji, jujur, memenuhi hak orang lain, bersikap toleran dan suka memberi kelonggaran.

3. Usaha yang halal

Seorang pebisnis muslim tentunya tidak ingin jika darah dagingnya tumbuh dari barang haram, ia pun tak ingin memberi makan kelauraganya dari sumber yang haram karena kan sungguh berat konsekuensinya di akhirat nanti. Dengan begitu, ia akan selalu berhati-hati dan berusaha melakuan usaha sebatas yang dibolehkan oleh Allah I dan RasulNya.
Rasulullah e bersabda : “Setiap daging yang tumbuh dari barang haram maka neraka lebih berhak baginya” (Shahihul Jami’ No. 4519)

4. Menunaikan Hak

lim selayaknya bersegera dalam menunaikan haknya, seprti hak aryawannya mendapat gaji, tidak menunda pembayaran tanggungan atau hutang, dan yang terpenting adalah hak Allah I dalam soal harta seperti membayar zakat yang wajib. Juga, hak-hak orang lain dalam perjanjian yang telah disepakati.
Dalil yang menunjukkan hal ini adalh peringatan Rasulullah e kepada oarang mampu yang menunda pembayaran hutangnya “Orang kaya yang memperlambat pembayaran hutang adalah kezaliman” (HR Bukhari, Muslim dan Malik)

5. Menghindari riba dan segala sarananya

Soerang muslim tentu meyakini bahwa riba termasuk dosa besar, yang sangat keras ancamannya. Avertebrata Maka pebisnis muslim akan berusaha keras untuk tidak terlibat sedikitpun dalam kegiatan usaha yang mengandung unsur riba. Ini mengingat ancaman terhadap riba bukan hanya kepada pemakannya tetapi juga pemberi, pencatat, atau saksi sekalipun disebutkan dalam hadits Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah e melaknat mereka semuanya dan menegaskan bahwa mereka semua sama saja (Shahih Muslim No. 1598)

6. Tidak memakan harta orang lain dengan cara bathil

Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengambil harta orang lain secara tidak sah. Allah I dengan tegas telah melarang hal ini dalam kitabNya. Ini meliputi segala kegiatan yang dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain yang menjadi rekakan bisnisnya, baik itu dengan cara riba, judi, kamuflase harga, menyembunyikan cacat barang atau produk, menimbun, menyuap, bersumpah palsu, dan sebagainya. Orang yang memakan harta orang lain dengan cara tidak sah berarti telah berbuat dhalim (aniaya) terhadap orang lain. Allah I berfirman: ”Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan kamu membawa harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan dosa, padahal kamu mengetahui”.(QS Al Baqarah 188)

7. Komitmen terhadap peraturan dalam bingkai syari’at

Soerang pebisnis muslim tidak akan membiarkan dirinya terkena sanksi hukuman undang-undang hukum positif yang berlaku di tenagh masyarakat. Misalnya dalam hal pajak, rekening membenahi sistem akuntansi agar tidak terkena sangsi karena melanggar hukum. Hal itu dilakukannya bukan untuk menetapkan adanya hak membyuat hukum ekpada manusia, tetapi semata-mata untuk mengokohkan kewajiban yang diberikan Allah I padanya dan mencegah terjadinya keruskan yang mungkin timbul

8. Tidak membahayakan/merugikan orang lain

Rasulullah e telah memberikan kaidah penting dalam mencegah hal-hal yang membahayakan, dengan sabdanya “ Tidak dihalalkan melakukan bahaya atau hal yang membahayakan orang lain (Irwa’ul Ghalil No 2175)”. Termasuk katagori membahayakan orang lain adalah menjual barang yang mengancam kesehatan orang lain seperti obat-obatan terlarang, narkotika, makanan yang kedaluwarsa. Atau melakukan hal yang membahayakan pesaingnya dan berpotensi menghancurkan usaha pesaingnya, seperti menjelek-jelekkan pesaing, memonopoli, menawar barang yang masih dalam proses tawar-menawar oleh orang lain. Seorang pebisnis muslim hendaknya bersikap fair dalam berkompetisi, dan tidak melakukan usaha yang mengundang bahaya bagi dirinya maupun orang lain.

9. Loyal terhadap orang beriman

Pebisnis muslim sekaliber apapun tetaplah bagian dari umat Islam. Sehingga sudah selayaknya ia melakukan hal-hal yang membantu kokohnya pilar-pilar masyarakat Islam dalam skala interasional, regional maupun lokal. Tidak sepantasnya ia bekerjasama dengan pihak yang nyata-nyata menampakkan permusuhannya terhadap umat Islam. Ini merupakan bagian dari prinsip Al Wala’ (Loyalitas) dan Al Bara’ (berlepas diri) yang merupakan bagian dari aqidah Islam. Sehingga ketika melaksanakan usahanya, seorang muslim tetap akan mengutamakan kemaslahatan bagi kaum muslimin dimanapun ia berada. Allah I berfirman : “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri -Nya. Dan hanya kepada Allah kembali.” (QS Ali Imran 28)

10. Mempelajari hukum dan adab mu’amalah islam

Dunia bisnis yang merupakan interaksi antara berbagai tipe manusia sangat berpotensi menjerumuskan para pelakunya ke dalam hal-hal yang diharamkan. Baik karena didesak oleh kebutuhan perut, diajak bersekongkol dengan orang lain secara tidak sah atau karena ketatnya persaingan yang membuat dia melakukan hal-hal yang terlarang dalam agama. Karena itulah seorang Muslim yang hendak terjun di dunia ini harus memahami hukum-hukum dan aturan Islam yang mengatur tentang mu’amalah. Sehingga ia bisa memilah yang halal dari yang haram, atau mengambil keputusan pada hal-hal yang tampak samar (syubhat).
Mengingat pentingnya mempelajari hukum-hukum jual beli inilah, Khalifah Umar bin Khatab mengeluarkan dari pasar orang-orang yang tidak paham hukum jual beli.

Pengertian Resensi Buku, Unsur – Unsur Resensi Buku, dan Contoh Resensi Buku

Pengertian Resensi Buku, Unsur - Unsur Resensi Buku, dan Contoh Resensi Buku

Pengertian Resensi Buku, Unsur – Unsur Resensi Buku, dan Contoh Resensi Buku

 

Pengertian Resensi Buku, Unsur - Unsur Resensi Buku, dan Contoh Resensi Buku

Pengertian Resensi Buku

Resensi buku adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai-nilai sebuah buku. Di dalam resensi diperlukan kritik. Tujuannya untuk menyampaikan kepada para pembaca mengenai sebuah buku layak mendapat sambutan atau tidak. Buku-buku yang diresensi biasanya buku-buku terbitan baru. Namun demikian, buku lama juga dapat diresensi jika dianggap buku itu belum dikenal publik serta dianggap penting.

Unsur – Unsur Resensi Buku

Apa saja yang perlu dilaporkan dalam meresensi sebuah buku ? Berikut ini adalah unsur-unsur resensi buku.

1. Identitas buku.

2. Isi yang penting atau pokok-pokok isi buku.

3. Bahasa pengarang.

4. Keunggulan.

5. Kelemahan.

6. Kesimpulan dan saran.

Contoh Resensi Buku

Membentuk Sosok Pemasar Jenius

Identitas Buku

Judul Buku : Marketing Genius

Penulis : Peter Fisk

Penerbit : Capstone Publishing Limitid, England, 2006

Tebal Buku : viii+490

     Google, Apple, Microsoft, Amazon, eBay, Starbuck, Dell Computer, Toyota, IKEA, dan Nike adalah sejumlah perusahaan global yang selama beberapa tahun terakhir ini menikmati pertumbuhan bisnis yang mengagumkan. Di dalam perusahaan-perusahaan idaman ini bermukiman sejumlah tokoh-tokoh pemasaran yang jenius.

       Larry Page dan Sergey Brin, misalnya, adalah sepasang jenius yang membangun Google dimulai dari sebuah kamar di Stanford University. Google adalah nama perusahaan yang mengambil terminologi dalam matematika “Googol” yang berarti angka satu diikuti dengan angka nol sebanyak 100. Ini sudah menyiratkan ambisi perusahaan ini menguasai pasar dengan kecepatan yang luar biasa.

       Hanya dalam waktu lima tahun, Google sudah memperoleh 80 juta pengguna di seluruh dunia. Metamorfosis Pada tahun 2006, setelah 10 tahun berdiri, perusahaan telah mencetak nilai kapitalisasi yang kira-kira satu setengah kali lipat dari kapitalisasi seluruh saham yang tercatat di BEJ.

     Artinya, bila semua pemegang saham dari perusahaan yang berada di lantai Bursa Efek Jakarta sepakat menjual semua sahamnya, maka mereka tidak akan sanggup membeli sebuah perusahaan “search engine”. Apple sudah lama dikenal dengan perusahaan yang selalu memiliki pemikiran untuk tampil beda. Didirikan pada tahun 1979 dengan produknya Macintosh, perusahaan ini telah menorehkan sebuah revolusi dalam industri komputer.

       Kesuksesannya kemudian menjadi bayang-bayang yang mulai redup saat Microsoft Windows mulai menunjukkan dominasinya di seluruh dunia. Walaupun demikian, si jenius Steve Job, pendiri Apple, menjelang tahun 2000 memberikan janjinya akan melakukan inovasi yang revolusioner untuk membangkitkan kenangan akan kesuksesan Apple.

     Beberapa tahun kemudian, perusahaan ini melihat suatu peluang besar dengan meluncurkan iPod. Hari ini, produk iPod ini menjadi kisah sukses besar Apple. Walau penetrasi produk ini di pasar Indonesia masih kecil, kesuksesannya hanyalah masalah waktu, terutama bila harga produk ini bisa di bawah Rp 1 juta.

Perbedaan Radikal

       Apa yang telah Google dan Apple lakukan? Inilah pertanyaan pembuka yang dilontarkan oleh Peter Fisk, si penulis buku Marketing Genius. Bagi Peter, kedua perusahaan ini memang memang layak menjadi sebuah kasus yang inspirasional. Perusahaan ini selalu memiliki pemikiran untuk membuat perbedaan yang radikal. Mereka memiliki imajinasi untuk menciptakan suatu masa depan yang dapat diberikan kepada konsumennya hari ini. Mereka, jenius melihat peluang, mereka jenius menciptakan lompatan dalam industri.

      Mereka jenius, karena bisa melihat dan menciptakan peluang untuk membuat 1 + 1 = 3. Karena ini adalah buku dalam bidang pemasaran dan ditulis oleh pengarang yang memiliki banyak pengalaman dalam dunia pemasaran, tidak mengherankan bila 50 persen dari pembahasan buku ini terpusat kepada pelanggan sebagai stakeholder utama.

       Para pemasar jenius harus dapat melihat bahwa konsumen dan pelanggan telah berubah dengan kecepatan yang tinggi. Mereka memiliki keinginan dan harapan yang semakin kompleks dan semakin tinggi. Perusahaan tidak boleh berorientasi kepada produk, tetapi perusahaan haruslah dibentuk dan dibangun karena didorong untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan, akan mampu untuk memberikan nilai tambah secara terus-menerus, membina hubungan baik dengan pelanggan, dan akhirnya pelanggan mau loyal kepada perusahaan atau merek dari perusahaan ini.

       Agar para marketer yang menjadi target pembaca dapat menghubungkan buku ini dengan berbagai konsep-konsep pemasaran modern yang berorientasi kepada pelanggan, maka Peter Fisk, sang pengarang buku ini, menyajikan berbagai konsep pemasaran yang sudah popular. Beberapa di antaranya adalah strategi pembentukan ekuitas merek, customer perceived value, customer experience, hingga berbagai strategi komunikasi dan distribusi. Tentukan, sesuai dengan judul buku ini, maka berbagai pembahasannya lebih banyak menampilkan sisi-sisi radikal dari konsep itu sendiri. Peter Fisk menunjukkan bahwa konsep tradisional sudah tidak cukup untuk menghadapi pasar yang kompleks dan dinamis.

         Memang, penyajian konsep-konsep ini telah memberikan banyak penjelasan bagaimana sebuah perusahaan dapat menerapkan strategi pemasaran yang jenius atau bagaimana seorang individu dapat menjadi pemasar yang jerius. Hanya saja, ambisi dari pengarang ini untuk mengintegrasikan puluhan konsep ini telah menciptakan kompleksitas bagi para pembaca awam. Mereka yang tidak familier dengan berbagai konsep pemasaran tradisional, akan mengerutkan dahi untuk dapat memahaminya.

 

Empat Dimensi

       Setelah terlihat mulai kendor di bagian tengah, pengarang kemudian mengajak para pembacanya untuk melakukan evaluasi apakah sebuah perusahaan atau individu dapat dikategorikan menetapkan pemasaran jenius. Peter Fisk merangkum dalam empat dimensi bagaimana perusahaan dapat menuju ke tingkat jenius yang dia maksudkan. Pertama, bagaimana perusahaan dapat menciptakan peluang bisnis. Perusahaan yang baik haruslah lebih didominasi oleh proses pemikiran yang outside in dan bukan inside out.

       Yang pertama meunjukkan bahwa proses keputusan dan strategi dipengaruhi oleh situasi bisnis dari luar. Mereka melihat apa yang diinginkan oleh pelanggan. Mereka mendengar apa yang dikatakan pelanggan dan mereka menempatkan diri pada posisi pelanggan.

         Dengan cara seperti ini, maka perusahaan akan lebih sensitif untuk mencium adanya peluang bisnis. Percuma perusahaan membuat ide-ide yang radikal, tetapi tidak dikehendaki oleh pasar. Bukan kehebatan teknologi yang membuat produk laku, tetapi teknologi yang mengerti pelangganlah yang membuat produk dicari oleh pelanggan.

         Kedua, perusahaan yang mampu mencapai tingkat jenius dalam pemasaran adalah perusahaan yang selalu mengombinasikan orientasi jangka pendek dan jangka panjang dalam merespon pasar atau saat menyusun strategi dan melakukan pengukuran suatu kriteria suatu kesuksesan. Walaupun demikian, sang jenius akan lebih memilih untuk lebih banyak berorientasi jangka panjang. Dimensi jenius yang ketiga adalah untuk para individu, terutama para pimpinan puncak atau petinggi dalam bidang pemasaran. Para individu yang jenius selalu mengunakan proses berpikir yang jenius.

         Walau selalu menggunakan otak kiri dan otak kanan, tetapi si jenius akan lebih banyak menggunakan otak kanan untuk membuat lompatan di mana para pesaing lain tidak memikirkan. Otak kanan akan memberikan nilai kreativitas tinggi dari pemikiran rasional yang dikembangkan otak kiri. Mereka mampu untuk tidak berpikir linear.

         Mereka mampu melihat kesempatan secara holistik dan mampu melihat gambar besar yang orang lain tidak lihat. Dimensi keempat yang harus dimiliki oleh sang jenius pemasaran adalah kemampuannya untuk menghasilkan ide-ide radikal yang diimbangi dengan langkah-langkah konkret untuk mewujudkannya. Ide-ide hebat tanpa desertai implementasi akan menjadi wacana yang tidak akan dirasakan oleh pelanggan, dan akhirnya tidak memberikan keuntungan bagi para pemegang saham.

         Buku ini semakin lengkap saat Peter Fisk memberikan 50 daftar yang menjadi tantangan bagi sang jenius. Si pengarang sangat sadar, bahwa di kemudian hari, memang hanya sedikit jenius dalam bidang pemasaran yang keluar sebagai pemenang. Para jenius akan melewati banyak tantangan ini. Mereka memiliki tantangan dalam memformulasikan strategi. Mereka juga memiliki tantangan dalam membangun merek yang kuat.

           Tantangan yang nyata tentunya adalah karena dinamika pelanggan yang super cepat. Demikian pula, berbagai tantangan yang berhubungan dengan komunikasi, pembangunan saluran distribusi, serta bagaimana menggerakkan, memotivasi para karyawan agar mendukung ide-ide radikal yang diluncurkan oleh sang jenius pemasaran.

           Bagi para marketer dan praktisi pemasaran yang sudah berpengalaman, daftar lampiran di bagian akhir buku ini pastilah memiliki daya tarik. Peter Fisk memberikan daftar 50 merek jenius, 50 konsep jenius, 50 marketer jenius, 50 penemuan jenius, dan 50 inspirator jenius. Kemampuannya untuk menyusun daftar lampiran ini sudah memberikan gambaran mengenai kepiawaian pengarang untuk mengintegrasikan keseluruhan dinamika dalam dunia pemasaran.

         Dengan memberikan judul Marketing Genius, pengarang memang terlihat jenius dalam memasarkan buku ini. Judulnya sungguh provokatif. Pengarang tahu benar bahwa dia perlu membuat perbedaan yang radikal yang diinginkan para pembacanya.

         Di tengah-tengah banyaknya buku pemasaran, saya yakin, buku iniakan mendapatkan tempatnya. Walau merupakan rangkaian dari berbagai konsep pemasaran yang yang kontemporer dan tidak menawarkan suatu konsep orisinal dari pengarangnya, buku ini akan menjadi inspirator dan provokator bagi perusahaan yang bermimpi menuju tangga mencapai tahap pemasaran yang jenius atau individu yang suatu saat ingin dicatat sebagai pemasar jenius.

Perpres Zonasi Akan Terbit Tahun Ini

Perpres Zonasi Akan Terbit Tahun Ini

Perpres Zonasi Akan Terbit Tahun Ini

Perpres Zonasi Akan Terbit Tahun Ini
Perpres Zonasi Akan Terbit Tahun Ini

Staf Ahli Bidang Regulasi Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Chatarina Muliana Girsang mengatakan, hadirnya skema zonasi dalam penerimaan perserta didik baru (PPDB) bertujuan untuk pemerataan pendidikan termasuk untuk terwujudnya wajib belajar 12 tahun. Pasalnya, angka putus sekolah setiap jenjang masih tinggi karena kandala akses pendidikan belum merata.

Untuk mengikat semua kementerian/ lembaga yang terkait dengan penerapaan zonasi ini, Chatarina mengatakan, kebijakan tersebut akan diperkuat dalam Peraturan Presiden (Perpres) mengenai zonasi yang ditargetkan akan terbit pada tahun ini. Peningkatan aturan ini dimaksudkan untuk menghadirkan sinergi pembangunan pendidikan baik pusat maupun di daerah.

“Nah kita mengejar tahun ini harus keluar dan itu memang kita libatkan Kementerian/Lembaga terkait. Sebab, pentingnya sekali Perpres ini sehingga kementerian terkait seperti Kementerian Agama yang punya sekolah mesti tidak mengikuti skema PPDB. Tapi dia (Kementerian Agama, red) harus masuk dalam zoasi pendidikan agar Pemda dapat memastikan jumlah warganya berapa yang di sekolah keagamaan. Jadi mereka harus masuk dalam zonasi pendidikan,” kata Chatarina pada Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk; Zonasi PPDB,” di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Jakarta, Senin (1/7).

Chatarina menyebutkan, ada pun kementerian atau lembaga (K/L) yang telah melakukan pembahasan intens dengan beberapa kementerian terkait meliputi; Kementerian Sekretariat Negara (Kemsetneg), Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemkumham), Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera), Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokarasi (Kementerian PAN dan RB.), Kementerian Keuangan, dan Kementerian Agama (Kemag), dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi(Kemristekdikti) agar bersinergi untuk menerapkan zonasi.

Menurut Chatarina, penerapan sistem zonasi pada PPDB merupakan pemantik awal. Untuk kemudian ditindaklanjuti dengan pemenuhan jumlah sekolah dan pemerataan infrastruktur, serta sarana dan prasarana (sarpras). Kemudian pemenuhan, penataan, dan pemerataan guru hingga mendorong integrasi pendidikan formal dengan nonformal, serta gotong royong sumber daya.

“Kewajiban penyediaan akses pada layanan pendidikan sebagai layanan dasar merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah yang diamanatkan pada Undang-Undang Pemerintah Daerah. Bahkan APBD itu harus diprioritaskan penggunaannya untuk pendidikan sebagai layanan wajib,” jelasnya.

Chatarina melanjutkan, dengan adanya payung hukum berbentuk Perpres

maka pembangunan sarpras harus yang melibatkan Kempupera harus berbasis pada zonasi. Termasuk untuk rotasi guru harus berdasarkan zona ataupun terkait dengan penambahan alokasi anggaran pendidikan tentu harus kesepakatan bersama Kemkeu.

“Pembangunan sarana prasarana berdasarkan kebutuhan per zonanya. Nah, selama ini kita belum bisa petakan hal tersebut secara detail. Dengan sistem zonasi ini jadi lebih mudah mengetahui permasalahan dan menyelesaikannya,”pungkasnya.

Selanjutnya dijelaskan Chatarina, dalam Pepres tersebut tidak mengatur untuk sanksi. Sebab, Perpres tersebut mengatur tentang sinkronisasi dan kaloborasi antar-kementerian dan lembaga untuk mewujudkan pendidikan yang merata dan berkeadilan.

Sedangkan untuk sanksi, Kemdikbud tidak dapat langsung memberikan

karena telah diatur dalam undang-undang. Semisalnya sanksi kepada aparatur sipil negara (ASN) yang tidak mematuhi peraturan oleh Kementerian PAN dan RB atau kepada kepala daerah oleh Kemdagri.

Pendapat senada juga disampaikan oleh anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Ahmad Suaedy. Dia mengatakan, kerja sama antarkementerian atau lembaga sangat penting. Misalnya, Kemdikbud dengan Kemristekdikti agar kebijakan kedua kementerian ini sejalan yakni tidak adanya jalur undangan dalam penerimaan mahasiswa baru masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Sebab, permasalahan sekolah favorit ini karena orangtua mengincar kesempatan masuk PTN lebih mudah dari sekolah favorit.

“Perlu ada kerja sama dengan Kemristekdikti agar jangan sampai

Kemristekdikti masih rekrut mahasiswa baru masuk PTN dengan cara memilih sekolah-sekolah unggulan karena itu kontradiktif. Jadi tetap merekrut sekolah mana dan tidak melihat sekolah tersebut darimana,” jelasnya.

 

Baca Juga :

Ombudsman: Pemprov DKI Langgar Ketentuan Zonasi dalam PPDB 2019

Ombudsman Pemprov DKI Langgar Ketentuan Zonasi dalam PPDB 2019

Ombudsman: Pemprov DKI Langgar Ketentuan Zonasi dalam PPDB 2019

Ombudsman Pemprov DKI Langgar Ketentuan Zonasi dalam PPDB 2019
Ombudsman Pemprov DKI Langgar Ketentuan Zonasi dalam PPDB 2019

Kepala Perwakilan Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Wilayah Jakarta Raya, Teguh P Nugroho mengatakan, berdasarkan pantauan tim ORI, pemerintah provinsi (pemprov) DKI Jakarta tidak menjalankan penerimaan peserta didik baru (PPDB) sesuai Permendikbud. Hal ini terlihat dari juknis penerapan PPDB yang sama sekali tidak mempergunakan sistem zonasi sesuai dengan Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018.

Hal pertama yang diperhitungkan dalam juknis versi Pemprov DKI Jakarta adalah nilai UN. Setelah itu, baru diperhitungkan lokasi, nomor urut pendaftaran, dan waktu pendaftaran.

“Setelah kami mempelajari juknis PPDB DKI Jakarta, kami bisa menyatakan bahwa Pemprov DKI Jakarta sama sekali tidak menjalankan sistem zonasi. Jadi zero zonasi karena dalam juknis itu kami melihat bahwa dasar penentuan calon peserta didik untuk masuk ke sekolah itu tidak mempergunakan sistem zonasi sama sekali,” jelasnya di Jakarta, Kamis (27/6).

Menurut dia, dari sisi Permendikbud sebetulnya Pemprov DKI Jakarta sudah

melakukan maladministrasi. Namun, jika melihat PP Nomor 13 Tahun 2015 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Pemprov DKI tidak bisa disalahkan.

Sebab, PP tersebut menyatakan hasil ujian nasional (UN) harus menjadi dasar untuk kenaikan jenjang pendidikan tinggi. Ini tentu bertentangan dengan Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang PPDB. Dengan begitu, kisruh PPDB ini tidak dapat dilimpahkan kepada satu pihak saja.

Teguh menyebutkan, pemerintah harus segera merevisi ketidaksinkronan antara Permendikbud tentang PPDB dan PP Sisdiknas. Pasalnya, Kemdikbud juga memiliki Permendikbud Nomor 14 tahun 2015 terkait kewajiban untuk memakai hasil UN sebagai dasar masuk ke tingkat yang lebih tinggi.

“Permendikbud sendiri sebetulnya menurut kami tidak tepat karena tidak

memperhitungkan peraturan pemerintah yang ada di atasnya, termasuk PP 13 Tahun 2015 terkait Sisdiknas. Dari Sisdiknas dinyatakan dengan pasti bahwa ujian nasional harus dijadikan dasar utk kenaikan jenjang pendidikan ditingkat selanjutnya,” terangnya.

Oleh karena itu, ia mendorong Kemdikbud untuk memperhatikan dan

melakukan sinkronisasi antara peraturan dan perundangan yang lain. Dengan begitu, pelaksanaan PPDB di tahun mendatang bisa berjalan dengan lancar karena semua peraturannya sejalan dan tidak bertentangan seperti saat ini.

 

Sumber :

http://riskyeka.web.ugm.ac.id/sejarah-rajapatih-makasar-kebo-parud/

Program Kuliah Kewirausahaan Muda Kemenpora Sampai di Bekasi

Program Kuliah Kewirausahaan Muda Kemenpora Sampai di Bekasi

Program Kuliah Kewirausahaan Muda Kemenpora Sampai di Bekasi

Program Kuliah Kewirausahaan Muda Kemenpora Sampai di Bekasi
Program Kuliah Kewirausahaan Muda Kemenpora Sampai di Bekasi

Kementerian Pemuda dan Olahraga, bekerjasama dengan Universitas Islam 45 Bekasi dan PT Astra International, menyelenggarakan Kuliah Kewirausahaan Pemuda di Aula Pertemuan Universitas islam 45 di Bekasi, pada hari Kamis (04/07).

Tujuan program ini adalah untuk mensosialisasikan, menumbuhkembangkan karakter kewirausahaan, dan memberikan kemampuan kepada peserta untuk menyusun rencana bisnis dan merupakan upaya pemerintah untuk menumbuhkan minat berwirausaha di kalangan pemuda.

Kemenpora akan melaksanakan Kegiatan Kuliah Kewirausahaan Tahap

Pertama sebanyak 22 kali, dan kegiatan kuliah kewirausahaan di Unisma merupakan yang ke-12.

Kegiatan ini terdiri dari empat tahap dengan metode seleksi pada tiap tahapnya. Tahap satu diselenggarakan di 22 perguruan tinggi di wilayah Jabodetabek. Tahap dua sampai empat akan diselenggarakan di Gedung Kemenpora, Jakarta.

Selain menggandeng 22 perguruan tinggi, Kemenpora juga bekerjasama dengan PT Astra International Tbk, Sahabat UMKM, Aspirasi (Asosiasi Penulis dan Inspirator Seluruh Indonesia), dan membuka peluang kepada seluruh stakeholder yang berminat untuk bermitra dalam menciptakan ekosistem kewirausahaan dan membantu tumbuhnya wirausaha-wirausaha baru.

Kuliah Kewirausahaan Pemuda yang diselenggarakan di Aula Universitas Islam 45 itu dimulai dengan tari penyambutan, yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa, dan sambutan dari Rektor Unisma.

Kemudian perwakilan dari Menteri Pemuda dan Olahraga, Asdep

Kewirausahaan Pemuda, Drs. Imam Gunawan, MAP, memberikan sambutannya, yang kemudian diikuti oleh penandatanganan MoU dan pertukaran plakat.

UNISMA menghadirkan Piet Cyntia Mawar, seorang pengusaha kuliner, dan M. Ikhtiary Gilang (owner Breakday/WMP) sebagai pembicara untuk berbagi pengalaman mereka dalam berwirausaha, dan membangkitkan

entrepreneurial mindset bagi mahasiswa yang ingin mencoba berwirausaha.

 

12 wirausahawan terbaik akan dipilih menjadi nominator penerima akses permodalan dan mengikuti tahapan selanjutnya yang akan dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2019.

 

Sumber :

http://blog.ub.ac.id/petrusarjuna/sejarah-arya-damar/

Santri Wajib Kuasai Bahasa Asing Dan Teknologi

Santri Wajib Kuasai Bahasa Asing Dan Teknologi

Santri Wajib Kuasai Bahasa Asing Dan Teknologi

Santri Wajib Kuasai Bahasa Asing Dan Teknologi
Santri Wajib Kuasai Bahasa Asing Dan Teknologi

Santri harus bisa menguasai semua lini, bukan hanya bisa membaca kitab dan

menghafal Alquran saja. Santri wajib menguasai berbagai bahasa asing dan teknologi.

Begitu pesan pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Said Aqil Siroj

dalam acara Wisuda III Pesantren Al-Tsaqofah di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (5/5) lalu.

Kata Kiai Said, seorang santri harus mampu membangun masyarakat dan mengentaskan kemiskinan. Santri, sambungnya, juga berkewajiban dalam mendamaikan setiap pertikaian yang timbul di masyarakat.

“Karena peran apapun yang kalian capai akan percuma, jika tidak memperhatikan pesan Alquran ini,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Minggu (6/5).

Acara ini turut dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Dia secara

khusus menyampaikan rasa terima kasih kepada Said Aqil karena telah mendirikan lembaga pendidikan di DKI Jakarta.

“Kami berharap agar pondok ini terus menjadi pondok rujukan kita, saya berharap Al-Tsaqafah menjadi eskalator kemajuan bangsa,” kata Anies.

 

Baca Juga :

Pakaian Kebaya Hiasi Acara Pelepasan SMAN 1 Kota Cirebon

Pakaian Kebaya Hiasi Acara Pelepasan SMAN 1 Kota Cirebon

Pakaian Kebaya Hiasi Acara Pelepasan SMAN 1 Kota Cirebon

Pakaian Kebaya Hiasi Acara Pelepasan SMAN 1 Kota Cirebon
Pakaian Kebaya Hiasi Acara Pelepasan SMAN 1 Kota Cirebon

Sejumlah siswa-siswi kelas XII (kelas 3) Sekolah Menengah Atas Negeri

(SMAN) 1 Kota Cirebon mengikuti acara pelepasan (Graduation). Hampir seluruh siswa-siswi angkatan XII tiba di lokasi acara dengan mengenakan pakaian kebaya.

Kepada RMOL, Ibu Lis orang tua Tasya siswi kelas XII SMAN 1 Kota Cirebon mengatakan lulusan tahun sekarang merupakan lulusan terbanyak dari angkatan-angkatan sebelumnya.

“Setahu saya paling banyak diantara angkatan sebelumnya,” ujar Ibu Lis yang

tengah menunggu kedatangan anaknya dari salon ketika dihubungi di Swiss Belhotel Cirebon, Kamis (3/5).

Ia bersyukur dan bangga anaknya bisa lulus pendidikan tingkat menengah atas. Sekalipun nilai ujian belum keluar, aku Ibu Lis, anaknya sudah dinyatakan lolos dan diterima di salah satu Perguruan Tinggi di Jawa Tengah, yaitu Universitas Soedirman.

“Anak saya Tasya. Sudah diterima di Unsoed jurusan Akutansi. Kalau SNMPTN

berdasarkan nilai raport semenjak semester 4,” terangnya.

“Saya senang. Anak saya yang pertama juga lulusan SMAN 1 sekarang kuliah di Semarang dan sudah semester 6,” tambahnya.

Sementara, Sava salah seorang siswi kelas X (kelas 1) SMAN 1 kota Cirebon selaku panitia mengungkapkan jumlah siswa-siswi yang mengikuti pelepasan tahun ajaran 2017/2018 sekitar 600 orang.

“Sekitar 600 siswa-siswi. Kemungkinan lulus semua,” pungkas Sava panitia Graduation

 

Sumber :

https://nashatakram.net/pemikiran-fase-renaissance-dan-modernisme/

Sekolah Istri Besutan Dewi Sartika Masih Kokoh Berdiri

Sekolah Istri Besutan Dewi Sartika Masih Kokoh Berdiri

Sekolah Istri Besutan Dewi Sartika Masih Kokoh Berdiri

Sekolah Istri Besutan Dewi Sartika Masih Kokoh Berdiri
Sekolah Istri Besutan Dewi Sartika Masih Kokoh Berdiri

Peringatan Hari Pendidikan Nasional, sebagian orang tentu akan berpikir

tentang Taman Siswa. Namun jauh sebelum itu, tokoh pendidikan asal Jawa barat, Dewi Sartika telah mendirikan sekolah Istri di Pendopo Kabupaten Bandung, 16 Januari 1904.

Sekolah tersebut kemudian direlokasi ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri pada tahun 1910. Lanjutnya, pada tahun 1912, sudah ada sembilan sekolah yang tersebar di seluruh Jawa Barat. Lalu kemudian berkembang menjadi satu sekolah tiap kota maupun kabupaten pada tahun 1920. Pada September 1929, sekolah tersebut berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi.

Tepatnya berada di jalan Kautamaan Istri, sekolah tersebut kini masih terlihat

kokoh dan masih seperti aslinya.

Saat ini dengan perkembangan yang signifikan dan siswa yang ingin menjalani pendidikan di sekolah itu, sudah berdiri tegak dua tingkat bangunan kelas baru.

“Kalau bangunan bertingkat ini khusus untuk SMP Dewi Sartika saja, karena murid semakin tahun bertambah, maka kami bangun saja untuk menampungnya,” kata pengurus Yayasan Dewi Sartika, Sukaesih, Senin (30/4).

Ditambahkan Sukaesih, untuk merawat bangunan sekolah itu, dilakukannya peremajaan selama satu tahun sekali, baik itu cat ulang maupun membenarkan beberapa bagian yang rusak.

“Kalau ini dicatnya satu tahun sekali, dibersihkan, pokoknya terlihat dan terasa

nyaman. Terus kalau ada yang rusak atau bocor di atap. Itu juga kami bereskan, agar bangunan ini terjaga dengan baik,” jelasnya sambil menunjukan beberapa ornamen di dalam kelas.

Ia berharap, agar bangunan bersejarah ini menjadi salah satu bangunan heritage yang diketahui warga Bandung maupun wisatawan lokal dan asing, bahwa di Bandung itu terdapat sekolah pertama yang didirikan oleh pahlawan wanita

 

Sumber :

https://egriechen.info/nilai-dari-proses-pembuatan-pinisi/

Program Afirmasi untuk Daerah 3T Masih Diperlukan

Program Afirmasi untuk Daerah 3T Masih Diperlukan

Program Afirmasi untuk Daerah 3T Masih Diperlukan

Program Afirmasi untuk Daerah 3T Masih Diperlukan
Program Afirmasi untuk Daerah 3T Masih Diperlukan

Kemendikbud — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menilai program afirmasi untuk daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) masih diperlukan. Tidak terkecuali di bidang pendidikan dan kebudayaan.

“Program afirmasi dari pemerintah pusat untuk daerah 3T masih diperlukan untuk mengurangi kesenjangan dengan daerah lain yang relatif lebih maju,” kata Mendikbud saat meninjau pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (4/4/2018).

Program afirmasi atau keberpihakan ini sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo untuk melaksanakan pembangunan dari pinggiran. Mendikbud mengatakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memiliki berbagai program afirmasi untuk daerah 3T.

Namun Muhadjir mengimbau pemerintah daerah yang masuk kategori 3T

untuk berbenah memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk kemajuan daerahnya. Di sektor pendidikan, Mendikbud mengajak pemerintah daerah mengalokasikan minimal 20 persen anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk pendidikan.

Mendikbud mengapresiasi pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang telah mengalokasikan lebih dari 20 persen APBD untuk sektor pendidikan. “Hanya saja karena APBD kabupaten ini tidak besar, jadi masih relatif kurang,” kata Muhadjir.

Dalam kunjungan kerja di Kabupaten Manggarai Barat, Mendikbud meninjau

sarana dan prasarana di sejumlah SMK. Mendikbud menilai banyak SMK di provinsi NTT belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai, terutama peralatan untuk praktikum siswa.

Mendikbud mengatakan pihaknya melalui Direktorat Pembinaan SMK siap

membantu penyediaan peralatan praktikum untuk SMK, khususnya untuk daerah 3T. “Karena SMK adalah kewenangan provinsi, kita akan koordinasi dengan pemerintah provinsi agar bantuannya tidak tumpang tindih,” pungkas Muhadjir. (Nur Widiyanto)

 

Baca Juga :

 

 

Tinjau Ujian Nasional, Mendikbud Ikuti Aturan Tidak Masuk Ruang Ujia

Tinjau Ujian Nasional, Mendikbud Ikuti Aturan Tidak Masuk Ruang Ujia

Tinjau Ujian Nasional, Mendikbud Ikuti Aturan Tidak Masuk Ruang Ujia

Tinjau Ujian Nasional, Mendikbud Ikuti Aturan Tidak Masuk Ruang Ujia
Tinjau Ujian Nasional, Mendikbud Ikuti Aturan Tidak Masuk Ruang Ujia

Kemendikbud — Hari ini (2/4/2018) ujian nasional (UN) tahun pelajaran 2017/2018 dimulai. Pelaksanaan ujian tahun ini dimulai dari jenang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) meninjau pelaksanaan UN berbasis komputer (UNBK) di Jakarta, yakni di SMK Negeri 29 dan SMK Negeri 6 Jakarta. Sesuai peraturan, Mendikbud hanya melihat suasana siswa menjalani UNBK dari luar ruang ujian.

Sesuai Prosedur Operasional Standar (POS) Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2017/2018, setiap ruang UNBK hanya boleh dimasuki oleh peserta ujian, pengawas, proktor, atau teknisi. Selain itu di setiap ruang UNBK juga wajib ditempel pengumuman bertuliskan: “DILARANG MASUK RUANGAN SELAIN PESERTA UJIAN, PENGAWAS, PROKTOR, ATAU TEKNISI. TIDAK DIPERKENANKAN MEMBAWA ALAT KOMUNIKASI DAN/ATAU KAMERA DALAM RUANG UJIAN”.

“Dari luar kelas kita juga bisa mengintip kondisi atau keadaan bagaimana mereka mengadakan UNBK,” ujar Mendikbud di SMKN 29 Jakarta. Jadwal UNBK di SMK ini dibagi menjadi dua gelombang per hari untuk total peserta 247 siswa.

Setelah meninjau penyelenggaraan UNBK di SMKN 29 Jakarta, Mendikbud

segera menuju SMKN 6 Jakarta yang terletak tidak jauh dari SMKN 29 Jakarta. DI SMKN 6 Jakarta Mendikbud juga memantau pelaksanaan UNBK dari luar kelas dengan berkeliling sekolah. Ia juga melihat suasana ujian di dalam kelas melalui sistem kamera pengawas atau CCTV. Monitor CCTV di SMKN 6 Jakarta bisa dilihat di ruang kepala sekolah.

Mendikbud mengatakan, UNBK belum bisa diterapkan 100 persen di seluruh provinsi di Indonesia. Hingga tahun ini, baru ada 19 provinsi yang melaksanakan 100 persen UNBK di seluruh sekolahnya, sedangkan provinsi lain beragam tingkat persentase pelaksanaan UNBK. “Paling rendah 60 persen,” ujarnya.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu menuturkan, tahun

depan pemerintah akan memprioritaskan daerah-daerah terpencil agar dapat melaksanakan UNBK. “Terutama dalam memberikan bantuan-bantuan yang diperlukan supaya bisa segera memenuhi ketentuan, dan bisa memenuhi standar sehingga bisa melaksanakan UNBK,” tuturnya.

Berdasarkan data Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang)

Kemendikbud per tanggal 9 Maret 2018, ada 13.054 SMK yang menjalankan ujian nasional tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12.495 SMK menerapkan UNBK (96 persen dari total sekolah), sedangkan sisanya masih menerapkan UN berbasis kertas dan pensil (UNKP). (Desliana Maulipaksi)

 

Sumber :

http://ejournal.upi.edu/index.php/WapFi/comment/view/13728/0/115982