Fungsi Iman Kepada Hari Kiamat, Hikmah & Peristiwa hari Kiamat

Fungsi Iman Kepada Hari Kiamat, Hikmah & Peristiwa hari Kiamat

Fungsi Iman Kepada Hari Kiamat, Hikmah & Peristiwa hari Kiamat

Fungsi Iman Kepada Hari Kiamat, Hikmah & Peristiwa hari Kiamat
Fungsi Iman Kepada Hari Kiamat, Hikmah & Peristiwa hari Kiamat

Fungsi Iman Kepada Hari Kiamat

Membuat manusia senantiasa bersikap hati-hati, sehingga akan selalu taat kepada petunjuk agama dan sadar akan batas kesenangan hidup di dunia.
Terus memperbaiki kualitas kebaikan, yaitu berbakti kepada Allah, orang tua, dan sesama manusia lain.
Membuat manusia sadar bahwa kehidupan setelah kehidupan dunia merupakan tujuan manusia hidup di dunia.
Mendorong manusia agar menambah perbuatan baik (amal soleh) dan meninggalkan larangan Allah.
Mengingatkan bahwa kehidupan dunia adalah ladang kehidupan akhirat, jembatan untuk menuju ke alam akhirat, sehingga menghindarkan manusia dari sifat rakus, kikir, dan tamak.
Tidak iri terhadap kenikmatan yang didapat oleh orang lain.
Membuat jiwa tenteram.

Hikmah Iman Kepada Hari Kiamat

Tidak meniru pola hidup orang kafir.
Meningkatkan ketakwaan dan lebih giat dalam beramal saleh.
Selalu berusaha berbuat benar dan baik.
Berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa.
Tidak kikir dalam memberi infaq.
Menanamkan kesabaran dalam kebenaran dan saat tertimpa musibah.
Lebih berhati-hati dalam berbuat sesuatu.
Membuat manusia selalu melaksanakan kewajibannya dan tidak terlena akan kehidupan dunia.
Sadar bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, dan akhirat merupakan kehidupan yang kekal.
Sering bertaubat kepada Allah.
Lapanga dada dan ikhlas terhadap ketentuan Allah.
Memperjelas tujuan hidup manusia di dunia.

Peristiwa yang berhubungan dengan Hari Kiamat

Yaumul Barzah / Alam Kubur yaitu masa antara sesudah meninggal nya seseorang sampai menunggu datangnya hari kiamat. “ (Q.S.Al Khafi ayat 99 )
Yaumul Baats yaitu masa dibangkitkannya manusia dari alam kubur mulai dari manusia pertama sampai manusia terakhir ( Q.S. Al Zalazalah ayat 6 )
Yaumul Mahsyar yaitu masa dikumpulkannya manusia dipadang mahsyar untuk dihisab / diperhitungkan amal kebaikan dan keburukanya. (Q.S. Ibrahim : 48)
Yaumul Hisab/ Mizan yaitu Masa diperhitungkan / ditimbang amal kebaikan dan keburukan manusia“ ( Q.S. Yasin : 65 )
Sirat yaitu jembatan yang akan dilewati oleh manusia setelah dihisab dan ditimbang amal baik dan buruknya. Disini akan ditentukan manusia akan masuk neraka atau surga.
Surga yaitu tempat balasan bagi orang yang beriman kepada Allah SWT..(Q.S. Al Hajj : 23 )
Neraka yaitu tempat balasan bagi orang yang ingkar kepada Allah SWT.“ (Q.S. Az Zumar : 32 )

Baca Juga:

Tanda-Tanda Kiamat Besar dan Dalil Hari Kiamat

Tanda-Tanda Kiamat Besar dan Dalil Hari Kiamat

Tanda-Tanda Kiamat Besar dan Dalil Hari Kiamat

Tanda-Tanda Kiamat Besar dan Dalil Hari Kiamat
Tanda-Tanda Kiamat Besar dan Dalil Hari Kiamat

Pengertian Iman Kepada Hari Akhir

Secara umum pengertian iman kepada hari kiamat yaitu percaya dan yakin bahwa seluruh alam semesta dan isinya akan hancur suatu saat nanti dan setelah itu akan ada kehidupan yang kekal (akhirat).
menurut bahasa (etimologi) yaitu percaya akan datangnya hari kiamat (hari akhir).
Menurut istilah (terminologi) yaitu percayai dan yakin akan adanya kehidupan akhirat yang kekal setelah kehidupan dunia ini.

Tanda Hari Kiamat

Sedangkan tanda-tanda kiamat besar yaitu kejadian sangat besar dimana kiamat sudah sangat dekat dan mayoritasnya belum muncul, seperti munculnya Imam Mahdi, Nabi Isa, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj.
Daripada Huzaifah bin Asid Al-Ghifari ra. berkata: “Datang kepada kami Rasulullah saw. dan kami pada waktu itu sedang berbincang-bincang. Lalu beliau bersabda: “Apa yang kamu perbincangkan?”. Kami menjawab: “Kami sedang berbincang tentang hari qiamat”.
Lalu Nabi saw. bersabda: “Tidak akan terjadi hari qiamat sehingga kamu melihat sebelumnya sepuluh macam tanda-tandanya”. Kemudian beliau menyebutkannya: “Asap, Dajjal, binatang, terbit matahari dari tempat tenggelamnya, turunnya Isa bin Maryam alaihissalam, Ya’juj dan Ma’juj, tiga kali gempa bumi, sekali di timur, sekali di barat dan yang ketiga di Semenanjung Arab yang akhir sekali adalah api yang keluar dari arah negeri Yaman yang akan menghalau manusia kepada Padang Mahsyar mereka”. H.R Muslimi
Sepuluh tanda-tanda Kiamat yang disebutkan Rasulullah saw. dalam hadis ini adalah tanda-tanda qiamat yang besar-besar, akan terjadi di saat hampir tibanya hari qiamat. Sepuluh tanda itu ialah:

Baca Juga: Ayat Kursi

1. Dukhan (asap) yang akan keluar dan mengakibatkan penyakit yang seperti selsema di kalangan orang-orang yang beriman dan akan mematikan semua orang kafir.
2. Dajjal yang akan membawa fitnah besar yang akan meragut keimanan, hinggakan ramai orang yang akan terpedaya dengan seruannya.
3. Dabbah-Binatang besar yang keluar berhampiran Bukit Shafa di Mekah yang akan bercakap bahawa manusia tidak beriman lagi kepada Allah swt.
4. Matahari akan terbit dari tempat tenggelamnya. Maka pada saat itu Allah swt. tidak lagi menerima iman orang kafir dan tidak menerima taubat daripada orang yang berdosa.
5. Turunnya Nabi Isa alaihissalam ke permukaan bumi ini. Beliau akan mendukung pemerintahan Imam Mahadi yang berdaulat pada masa itu dan beliau akan mematahkan segala salib yang dibuat oleb orang-orang Kristian dan beliau juga yang akan membunuh Dajjal.
6. Keluarnya bangsa Ya’juj dan Ma’juj yang akan membuat kerusakan dipermukaan bumi ini, iaitu apabila mereka berjaya menghancurkan dinding yang dibuat dari besi bercampur tembaga yang telah didirikan oleh Zul Qarnain bersama dengan pembantu-pembantunya pada zaman dahulu.
7. Gempa bumi di Timur.. Bisa jadi ini mengacu kepada gempa di China, Tsunami di Aceh.
8. Gempa bumi di Barat. Bisa jadi ini akan terjadi di daerah Mexico, Argentina, Brazilia dan negara-negara Amerika Latin
9. Gempa bumi di Semenanjung Arab.. Kemungkinan kasus longsor di Mesir sebagai pembukanya.
10. Api besar yang akan menghalau manusia menuju ke Padang Mahsyar. Api itu akan bermula dari arah negeri Yaman. (Apa ini bahaya Nuklir?)

Dalil Naqli Tentang Hari Kiamat/Akhir

Artinya:“ Dan (ingatlah) hari (ketika) di tiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang ada di bumi, di langit dan segala yang ada di bumi, kecuali siapa yang di kehendaki Allah SWT. Dan semua akan datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (QS. An-Naml Ayat 87)
Gambaran hari kiamat menurut Al- Qur’an
Bumi digoncangkan sekuat kuatnya hingga mengeluar kan isi yang dikandungnya (QS. Al- Zalzalah : 1 – 5)
Matahari di gulung, bintang-bintang berjatuhan dan laut meluap. (QS. Al- Infithor : 1 – 3)
Gunung-gunung kemudian pecah berterbangan menjadi pasir (QS. Al- Haqqah : 14)
Manusia tidak dapat menolong manusia lainnya, bahkan seorang ayah terhadap anaknya sendiri. (QS. Lukman : 33)

Tanda – Tanda Kiamat Kecil

Tanda - Tanda Kiamat Kecil

Tanda – Tanda Kiamat Kecil

Tanda - Tanda Kiamat Kecil
Tanda – Tanda Kiamat Kecil

Tanda-tanda kiamat merupakan alamat kiamat yang menunjukkan akan terjadinya hari kiamat tersebut.

Di antara tanda-tanda kiamat kecil adalah:

1. Diutusnya Rasulullah saw

Jabir r.a. berkata, ”Adalah Rasulullah saw. jika beliau khutbah memerah matanya, suaranya keras, dan penuh dengan semangat seperti panglima perang, beliau bersabda, ‘(Hati-hatilah) dengan pagi dan sore kalian.’ Beliau melanjutkan, ‘Aku diutus dan hari Kiamat seperti ini.’ Rasulullah saw. mengibaratkan seperti dua jarinya antara telunjuk dan jari tengah. (HR Muslim)

2. Disia-siakannya amanat

Jabir r.a. berkata, tatkala Nabi saw. berada dalam suatu majelis sedang berbicara dengan sahabat, maka datanglah orang Arab Badui dan berkata, “Kapan terjadi Kiamat ?” Rasulullah saw. terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian sahabat berkata, “Rasulullah saw. mendengar apa yang ditanyakan tetapi tidak menyukai apa yang ditanyakannya.” Berkata sebagian yang lain, “Rasul saw. tidak mendengar.” Setelah Rasulullah saw. menyelesaikan perkataannya, beliau bertanya, “Mana yang bertanya tentang Kiamat?” Berkata lelaki Badui itu, ”Saya, wahai Rasulullah saw.” Rasulullah saw. Berkata, “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah kiamat.” Bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Rasulullah saw. Menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR Bukhari)

3. Penggembala menjadi kaya

Rasulullah saw. ditanya oleh Jibril tentang tanda-tanda kiamat, lalu beliau menjawab, “Seorang budak melahirkan majikannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, dan miskin, penggembala binatang berlomba-lomba saling tinggi dalam bangunan.”(HR Muslim)

4. Sungai Efrat berubah menjadi emas

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sampai Sungai Eufrat menghasilkan gunung emas, manusia berebutan tentangnya. Dan setiap seratus 100 terbunuh 99 orang. Dan setiap orang dari mereka berkata, ”Barangkali akulah yang selamat.”(Muttafaqun ‘alaihi)

5. Baitul Maqdis dikuasai umat Islam

”Ada enam dari tanda-tanda kiamat: kematianku (Rasulullah saw.), dibukanya Baitul Maqdis, seorang lelaki diberi 1000 dinar, tapi dia membencinya, fitnah yang panasnya masuk pada setiap rumah muslim, kematian menjemput manusia seperti kematian pada kambing dan khianatnya bangsa Romawi, sampai 80 poin, dan setiap poin 12.000.” (HR Ahmad dan At-Tabrani dari Muadz).

6. Banyak terjadi pembunuhan

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiada akan terjadi kiamat, sehingga banyak terjadi haraj.. Sahabat bertanya apa itu haraj, ya Rasulullah?” Rasulullah saw. Menjawab, “Haraj adalah pembunuhan, pembunuhan.” (HR Muslim)

7. Munculnya kaum Khawarij

Dari Ali ra. berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Akan keluar di akhir zaman kelompok orang yang masih muda, bodoh, mereka mengatakan sesuatu dari firman Allah. Keimanan mereka hanya sampai di tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya. Di mana saja kamu jumpai, maka bunuhlah mereka. Siapa yang membunuhnya akan mendapat pahala di hari Kiamat.” (HR Bukhari).

8. Banyak polisi dan pembela kezhaliman

“Di akhir zaman banyak polisi di pagi hari melakukan sesuatu yang dimurkai Allah, dan di sore hari melakukan sesutu yang dibenci Allah. Hati-hatilah engkau jangan sampai menjadi teman mereka.” (HR At-Tabrani)
9. Perang antara Yahudi dan Umat Islam
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan yahudi. Maka kaum muslimin membunuh mereka sampai ada seorang yahudi bersembunyi di belakang batu-batuan dan pohon-pohonan. Dan berkatalah batu dan pohon, ‘Wahai muslim, wahai hamba Allah, ini yahudi di belakangku, kemari dan bunuhlah ia.’ Kecuali pohon Gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.” (HR Muslim)

9. Dominannya Fitnah

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat, sampai dominannya fitnah, banyaknya dusta dan berdekatannya pasar.” (HR Ahmad).

10. Merebaknya perzinahan

11.  Banyaknya kaum wanita

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda. “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu diangkat, banyaknya kebodohan, banyaknya perzinahan, banyaknya orang yang minum khamr, sedikit kaum lelaki dan banyak kaum wanita, sampai pada 50 wanita hanya ada satu lelaki.” (HR Bukhari)

Baca Juga: Sayyidul Istigfar

12. Bermewah-mewah dalam membangun masjid

Dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Diantara tanda kiamat adalah bahwa manusia saling membanggakan dalam keindahan masjid.” (HR Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban)

13. Menyebarnya riba dan harta haram

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Akan datang pada manusia suatu waktu, setiap orang tanpa kecuali akan makan riba, orang yang tidak makan langsung, pasti terkena debu-debunya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Akan datang pada manusia suatu saat di mana seseorang tidak peduli dari mana hartanya didapat, apakah dari yang halal atau yang haram.” (HR Ahmad dan Bukhari)

Kehujahan istishhab

Kehujahan istishhab

Kehujahan istishhab

Kehujahan istishhab
Kehujahan istishhab

 

Para ulam usul fiqih berbeda pendapat tentang kehujahan istishhab diantaranya:

Pertama

menurut mayoritas mutakalimin (ahli kalam ), istishhab tidak bisa dijadikan dalil karena hukum yang ditetepkan pada masa lampau menghendaki adanya dalil. Demikian pula untuk menetapkan hukum yang sama pada masa sekarang dan yang akan datang , harus pula berdasarkan dalil. Alasan mereka, mendasarkan hukum pada istishhab, merupakan penetapan hukum tanpa dalil, sekalipun suatu hukum telah ditetapkan pada masa lampau dengan suatu dalil, namun untuk memberlakukan hukum itu untuk masa yang akan datang diperlukan dalil yang lain. Istishhab menurut mereka bukan dalil. Karena menetapkanhukum yang ada di masa lampau berlangsung terus sampai masa yang akan datang.

Kedua

menurut mayoritas hanafiyyah, khususnya muta’akhirin (genarasi belakangan ), istishhab bisa menjadi hujah untuk menetapkan hukum yang telah ada sebelumnya dan mengaggap hukum itu tetap berlaku pada masa yang akan datang. Tetapi tidak bisa menetapkan hukum yang akan ada. Alasan mereka , seorang mujtahid dalam meneliti hukum suatu masalah yang sudah ada, mempunyai gambaran bahwa hukumnya sudah ada atau sudah dibatalkan. Akan tetapi tidak mengetahui atau tidak menemukan dalil yang menyatakan bahwa hukum itu telah dibatalkan. Dalam kaitan ini mujtahid tersebut harus berpegang pada hukum yang sudah ada, karena dia tidak mengetahui adanya dalil yang membatalkan hukum itu. Namun demikian penetapan ini, hanya berlaku pada kasus yang sudah ada hukumnya dan tidak berlaku pada kasus yang akan ditetapkan hukumnya, artinya, istishhab hanya bisa dijadikan hujah untuk mempertahankan hukum yang sudah ada, selama tidak ada dalil yang membatalkan hukum itu, tetapi tidak berlaku untuk menetapkan hak yang baru muncul.

Ketiga

ulama malikiyyah, syafi’iyyah, hanabila, zhahiriyah dan syi’ah berpendapat bahwa istishhab bisa menjadi hujjah secara mtlak untuk menetapkan hukum yang sudah ada, selam belum ada dalil yang mengubahnya. Alasan mereka adalah suatu yang telah ditetapkan pada masa lalu, selama tidak ada dalil yang mengubahnya, baik secra qath’I (pasti) maupun yang dhani (relative), maka semestinya hukum yang telah ditetapkan itu berlaku terus, karena diduga keras belum ada perubahannya, apabila tidak demikian maka bisa membawa akibat tidaak berlakunya seluruh hukum-hukum yang di syariatkan oleh Allh dan Rasulallah.

Baca Juga:

Penjelasan Mengenai Aliran Hanafiyah

Penjelasan Mengenai Aliran Hanafiyah

Penjelasan Mengenai Aliran Hanafiyah

Penjelasan Mengenai Aliran Hanafiyah
Penjelasan Mengenai Aliran Hanafiyah

Para ulama dalam aliran Hanafiyah

dalam pembahasannya, berangkat dari hukum-hukum furu’ yang diterima dari imam-imam (madzhab)
mereka; yakni dalam menetapkan kaidah selalu berdasarkan kepada hukum-hukum furu ’ yang diterima dari imam-imam mereka.
Jika terdapat kaidah yang bertentangan dengan hukum-hukum furu’ yang diterima dari imam-imam mereka, maka kaidah itu diubah
sedemikian rupa dan disesuaikan dengan hukum-hukum furu’ tersebut. Jadi para ulama dalam aliran ini selalu menjaga persesuaian
antara kaidah dengan hukum furu’ yang diterima dari imam-imam mereka.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Kitab – Kitab Ushul Fiqih Aliran Hanafiyah

Di antara kitab-kitab Ilmu Ushul Fiqh dalam aliran ini, yaitu : kitab yang disusun oleh Abu Bakar Ahmad bin’ Aliy yang terkenal dengan
sebutan Al Jashshash (wafat pada tahun 380 Hijriyah), kitab yang disusun oleh Abu Zaid ’ Ubaidillah bin ’Umar Al Qadliy Ad Dabusiy
(wafat pada tahun 430 Hijriyah), kitab yang disusun oleh Syamsul Aimmah Muhammad bin Ahmad As Sarkhasiy (wafat pada tahun
483 Hijriyah). Kitab yang disebut terakhir ini diberi penjelasan oleh Alauddin Abdul ’Aziz bin Ahmad Al Bukhariy (wafat pada tahun
730 Hijriyah) dalam kitabnya yang diberi nama Kasyful Asrar .Dan juga kitab Ilmu Ushul Fiqh dalam aliran ini ialah kitab yang disusun
oleh Hafidhuddin ’Abdullah bin Ahmad An Nasafiy (wafat pada tahun 790 Hijriyah) yang berjudul ’Al Manar, dan syarahnya yang
terbaik yaitu Misykatul Anwar.
Dalam abad itu muncul para ulama yang dalam pembahasannya memadukan antara dua aliran tersebut di atas, yakni dalam
menetapkan kaidah, memperhatikan alasan-alasannya yang kuat dan memperhatikan pula persesuaiannya dengan hukum-hukum
furu’. Di antara mereka itu ialah : Mudhafaruddin Ahmad bin ’Aliy As Sya’atiy Al Baghdadiy (wafat pada tahun 694 Hijriyah) dengan
menulis kitab Badi’un Nidham yang merupakan paduan kitab yang disusun oleh Al Bazdawiy dengan kitab Al Ihkam fi Ushulil Ahkam
yang ditulis oleh Al Amidiy; dan Syadrusiy Syari’ah ’Ubaidillah bin Mas’ud Al Bukhariy Al Hanafiy (wafat pada tahun 747 Hijriyah)
menyusun kitab Tanqihul Ushul yang kemudian diberikan penjelasan-penjelasan dalam kitabnya yang berjudul At Taudlih . Kitab
tersebut merupakan ringkasan kitab yang disusun oleh A1 Bazdawiy, kitab AI Mahshul oleh Ar Raziy dan kitab Mukhtasharul
Muntaha oleh Ibnul Hajib. Demikian pula termasuk ulama yang memadukan dua aliran tersebut di atas, yaitu Tajuddin ’Abdul Wahhab
bin’ Aliy As Subkiy Asy Syafi’iy (wafat pada tahun 771 Hijriyah) dengan menyusun kitab Jam’ul Jawami’ dan Kamaluddin Muhammad
’Abdul Wahid yang terkenal dengan Ibnul Humam (wafat pada tahun 861 Hijriyah) dengan menyusun kitab yang diberi nama At Tahrir.
Dalam kaitan dengan pembahasan Ilmu Ushul Fiqh ini, perlu dikemukakan bahwa Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Musa Asy Syatibiy (
wafat pada tahun 760 Hijriyah) telah menyusun sebuah kitab Ilmu Ushul Fiqh, yang diberi nama A1 Muwafaqat. Dalam kitab tersebut
selain dibahas kaidah-kaidah juga dibahas tujuan syara’ dalam menetapkan hukum.

Kitab Ushul Fiqih Yang Disusun Para Ulama Belakangan

Kemudian perlu pula diketahui kitab-kitab Ilmu Ushul Fiqh yang disusun oleh para ulama pada masa belakangan ini, antara lain: kitab
Irsyadul Fuhul i/a Tahqiqi/ Haq min ’I/mil Ushu/ oleh Imam Muhammad bin’ A1iy Asy Syaukaniy (wafat pada tahun 1255 Hijriyah),
kitab Tashilu/ Wushu/ i/a ’Ilmi/ Ushu/ oleh Syaikh Muhammad ’Abdur Rahman A1 Mihlawiy (wafat pada tahun 1920 Hijriyah); kitab
Ushu/u/ Fiqh oleh Syaikh Muhammad A1 Khudlariy Bak (wafat pada tahun 1345 Hijriyah/ 1927 Masehi) dan kitab-kitab Ilmu Ushul
Fiqh yang lain.

Penjelasan Mengenai Aliran Mutakallimin

Penjelasan Mengenai Aliran Mutakallimin

Penjelasan Mengenai Aliran Mutakallimin

Penjelasan Mengenai Aliran Mutakallimin
Penjelasan Mengenai Aliran Mutakallimin

Para ulama dalam aliran Mutakalimin

ini dalam pembahasannya dengan menggunakan cara-cara yang digunakan dalam ilmu kalam yakni menetapkan kaidah ditopang dengan alasan-alasan yang kuat baik naqliy (dengan nash) maupun ‘aqliy (dengan akal fikiran) tanpa
terikat dengan hukum furu’ yang telah ada dari madzhab manapun, sesuai atau tidak sesuai kaidah dengan hukum-hukum furu’
tersebut tidak menjadi persoalan. Aliran ini diikuti oleh para ulama dari golongan Mu’tazilah, Malikiyah, dan Syafi’iyah.

Baca Juga: Sifat Allah

Kitab Ilmu Ushul Fiqih

Di antara kitab-kitab Ilmu Ushul Fiqh dalam aliran ini, yaitu :
Kitab Al-Mu’tamad disusun oleh Abdul Husain Muhammad bin Aliy al-Bashriy al-Mu’taziliy asy-Syafi’iy (wafat pada tahun 463
Hijriyah). Kitab Al-Burhan disusun oleh Abdul Ma’aliy Abdul Malik bin Abdullah al-Jawainiy an-Naisaburiy asy-Syafi’iy yang terkenal
dengan nama Imam Al-Huramain ( wafat pada tahun 487 Hijriyah). Kitab AI Mushtashfa disusun oleh Abu Hamid Muhammad bin
Muhammad Al Ghazaliy Asy Syafi ’ iy ( wafat pada tahun 505 Hijriyah). Dari tiga kitab tersebut yang dapat ditemui hanyalah kitab Al
Musht.shfa, sedangkan dua kitab lainnya hanya dapat dijumpai nukilan-nukilannya dalam kitab yang disusun oleh para ulama berikut,
seperti nukilan kitab dari Al Burhan oleh A1 Asnawiy dalam kitab Syahrul Minhaj .
Kitab-kitab yang datang berikutnya yakni kitab Al Mahshul disusun oleh Fakhruddin Muhammad bin Umar Ar Raziy Asy Syafi’iy (wafat
pada tahun 606 Hijriyah). Kitab ini merupakan ringkasan dari tiga kitab yang disebutkan di atas.
Kemudian kitab AI Mahshul ini diringkas lagi oleh dua orang yaitu :
Tajjuddin Muhammad bin Hasan Al Armawiy (wafat pada tahun 656 Hijriyah) dalam kitabnya yang diberi nama Al Hashil. Mahmud bin
Abu Bakar A1 Armawiy (wafat pada tahun 672 Hijriyah) dalam kitabnya yang berjudul At Tahshil. Kemudian A1 Qadliy Abdullah bin
Umar Al Badlawiy (wafat pada tahun 675 Hijriyah) menyusun kitab Minhajul Wu.shul ila ’Ilmil Ushul yang isinya disarikan dari kitab At
Tahshil. Akan tetapi karena terlalu ringkasnya isi kitab tersebut, maka sulit untuk dapat dipahami. Hal inj mendorong para ulama
berikutnya untuk menjelaskannya. Di antara mereka yaitu Abdur Rahim bin Hasan AJ Asnawiy Asy Syafi’iy (wafat pada tahun 772
Hjjriyah) dengan menyusun sebuah kitab yang menjelaskan isi kitab MinhajuI WushuI ila ’Ilmil Ushul tersebut.

Selain kitab Al Mashul yang merupakan ringkasan dari kitab-kitab Al Mu tamad, Al Burhan dan Al Mushtashfa, masih ada kitab yang
juga merupakan ringkasan dari tiga kitab tersebut, yaitu kitab AI Ihkam fi Ushulil Ahkam, disusun oleh AbduI Hasan Aliy yang terkenal
dengan nama Saifuddin Al Amidiy Asy Syafi’iy (wafat pada tahun 631 Hijriyah). Kitab Al Ihkam fi Ushulil Ahkam ini kemudian diringkas
oleh Abu Amr Utsman bin Umar yang terkenal dengan nama Ibnul Hajib AI Malikiy (wafat pada tahun 646 Hijriyah) dalam kitabnya
yang diberi nama Muntahal Su ’li wal Amal fi .Ilmil Ushul wal Jidal. Kemudian kitab itu beliau ringkas lagi dalam sebuah kitab, dengan
nama Mukhtasharul Muntaha. Kitab ini mirip dengan kitab Minhajul Wulshul ila I.lmil Ushul, sulit difahami karena ringkasnya. Hal ini
mengundang minat para ulama berikutnya untuk menjelaskannya. Di antara mereka ialah ’ AdldIuddin ’Abdur Rahman bin Ahmad Al
Ajjiy (wafat tahun 756 Hijriyah) dengan menyusun sebuah kitab yang menjelaskan kitab Mukhtasharul Muntaha tersebut.

Tafsir Kitab Jalalaini Perihal Surah Al-Lahab

Tafsir Kitab Jalalaini Perihal Surah Al-Lahab

Tafsir Kitab Jalalaini Perihal Surah Al-Lahab

Tafsir Kitab Jalalaini Perihal Surah Al-Lahab
Tafsir Kitab Jalalaini Perihal Surah Al-Lahab

 

Arti Surat Al-Lahab

Surah Al-lahab, yaitu surah yang membicarakan tentang Abu Lahab bersama istrinya, walaupun ia yaitu keturunan dari Arab Quraisy, akan tetapi Abu lahab yaitu salah seorang yang selalu menghalang-halangi dakwah Rasulullah saw., Abu Lahab tidak jarang menghasut para pengikut Nabi saw dengan sedemikian rupa untuk menghalang-halangi dakwah Rasulullah dengan tujuan untuk merendahkan pedoman yang di bawah oleh Nabi Muhammad saw. melaluiataubersamaini sikap yang dilakukan oleh Abu Lahab, sehingga Allah menurunkan sebuah surah yang yang nama Abu lahab di awetkan. Lalu apa makna yang terkandung dalam surah Al-Lahab tersebut, diberikut penafsiran dari tafsir Jalalaini.

Baca Juga: Ayat Kursi

Tafsir Jalalaini Tentang Surah Al-Lahab

1. (Binasalah) atau merugilah (kedua tangan Abu Lahab) maksudnya diri Abu Lahab; di sini diungkapkan dengan menggunakan kata-kata kedua tangan sebagai ungkapan Majaz, alasannya sebenarnya kebanyakan pekerjaan yang dilakukan oleh insan itu dikerjakan dengan kedua tangannya; Jumlah kalimat ini mengandung makna doa (dan sebenarnya ia binasa) artinya ia benar-benar merugi. Kalimat ayat ini yaitu kalimat diberita; perihalnya sama dengan perkataan mereka:
Ahlakahullaahu Waqad Halaka, yang artinya:”Semoga Allah membinasakannya; dan sungguh ia benar-benar binasa.”
Ketika Nabi saw. menakut-nakutinya dengan azab, ia berkata, “Jika apa yang sudah dikatakan oleh
anak saudaraku itu benar, maka sebenarnya saya akan menebus diriku dari azab itu dengan harta benda dan anak-anakku.” Lalu turunlah ayat selanjutnya, yaitu:

2. (Tidaklah berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan) maksudnya apa yang sudah diusahakannya itu, yakni anak-anaknya. Lafal Aghnaa di sini bermakna Yughnii, artinya tidak akan berfaedah kepadanya harta dan anak-anaknya.

3. (Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak) yang besar nyalanya; kata-kata ini pun dijadikan pula sebagai julukan namanya, alasannya ia memiliki muka yang berbinar-binar memancarkan sinar merah api.

4. (Dan begitu pula istrinya) lafal ini di’athafkan kepada Dhamir yang terkandung di dalam lafal Yashlaa, hal ini diperbolehkan alasannya di antara keduanya terdapat pemisah, yaitu Maf’ul dan sifatnya; yang dimaksud yaitu Umu Jamil (pembawa) sanggup dibaca Hammalaatun dan Hammaalatan (kayu bakar) yaitu duri dan kayu Sa’dan yang banyak durinya, kemudian kayu dan duri itu ia taruh di tengah jalan daerah Nabi saw. lewat.

5. (Yang di lehernya) atau pada lehernya (ada tali dari sabut) yakni pintalan dari sabut;
Jumlah ayat ini berkedudukan menjadi Haal atau kata keterangan dari lafal Hammaalatal
Hathab yang ialah sifat dari istri Abu Lahab. Atau kalimat ayat ini sanggup dianggap
sebagai Khabar dari Mubtada yang tidak disebutkan

Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah

Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah

Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah

Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah
Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah

Pada periode daulah bani umayyah terdapat dua jenis pendidikan yang berbeda sistem dan kurikulumnya, yaitu pendidikan khusus dan pendidikan umum. Pendidikan khusus adalah pendidikan yang diselenggarakan dan diperuntukkan bagi anak – anak khalifah dan anak – anak para pembesarnya. Kurikulumnya diarahkan untuk memperoleh kecakapan memegang kendali pemerintahan, atau hal- hal yang ada sangkut pautnya dengan keperluan dan kebutuhan pemerintahan.

Adapun rencana pembelajaran bagi sekolah ini adalah menulis dan membaca al – quran dan hadist, bahasa arab dan syair – syair yang baik, sejarah bangsa arab dan peperangannya, adab kesopaan dalam perilaku pergaulan, pelajaran – pelajaran keterampilan menggunakan senjata, menunggang kuda dan kepemimpinan berperang. Tempat pendidikan berada dalam lingkungan istana. Guru – gurunya ditunjuk oleh khalifah dengan mendapat jaminan hidup yang lebih baik.

Sedangkan pendidikan umum adalah pendidikan yang diperuntukan bagi rakyat biasa. Pendidikan ini merupakan lanjutan dari pendidikan yang telah dilaksanakan sejak zaman nabi masih hidup, beliau merupakan sarana pendidikan yang sangat penting bagi kehidupan islam. Pada masa khulafaur rasyidin dan bani umayyah sebenarnya telah ada tingkat pengajaran dalam pendidikan, hampir seperti masa sekarang. Tingkat pertama ialah khuttab, tempat anak – anak belajar menulis dan membaca atau menghafal al-quran serta belajar pokok – pokok agama islam. Setelah tamat al- quran mereka meneruskan pelajaran ke masjid. Pelajaran di masjid itu terdiri dari tingkat menengah dan tingkat tinggi. Pada tingkat menengah gurunya belumlah ulama besar, sedangkan pada tingkat tinggi gurunya sudah ulama yang mashur ilmu nya, kealimannya serta kesholehannya.

Umumnya pelajaran diberikan guru kepada muridnya satu – persatu, baik di khuttab atau di masjid pada tingkat menengah. Pada tingkat tinggi pelajaran diberikan oleh guru dalam satu khalaqah dan dihadiri oleh seluruh pelajar. Yang bertanggung jawab terhadap kelancaran jalannya pendidikan ini adalah para ulama, merekalah yang memikul tugas mengajar dan memberikan bimbingan serta pimpinan kepada rakyat. Mereka bekerja atas dasar kesadaran dan keinsyafan moral serta tanggung jawab agama, bukan atas dasar pengangkatan dan penunjukkan pemerintah. Karena itu mereka tidak memperoleh jaminan hidup( gaji ) dari pemerintah.

Tujuan dari kedua pendidikan tersebut akan diperoleh kesimpulan bahwa, yang pertama bertujuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan hakikat kebenaran yang ditunjang oleh keyakinan agama. Adanya perbedaan tujuan pendidikan menunjukkan adanya perbedaan pandangan hidup. Yang pertama menghasilkan pimpinan formal yang didukung oleh jabatan kenegaraan dengan wibawa kekuasaan. Sedang yang kedua menghasilkan pimpinan informal yang didukung oleh charisma dan ilmu pengetahuan.

Baca Juga:

5 Sarana dan Prasarana Pendidikan Bani Umayyah

5 Sarana dan Prasarana Pendidikan Bani Umayyah

5 Sarana dan Prasarana Pendidikan Bani Umayyah

5 Sarana dan Prasarana Pendidikan Bani Umayyah
5 Sarana dan Prasarana Pendidikan Bani Umayyah

Masjid

Semenjak berdirinya di zaman nabi muhammad saw masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kehidupa kaum muslimin. Ia menjadi tempat bermusyawarah, tempat mengadili perkara, tempat menyampaikan penerangan agama dan informasi lainnya dan tempat menyelenggarakan pendidikan, baik bagi anak – anak maupun orang dewasa. Kemudian pada masa khalifah bani umayyah berkembang fungsinya sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan, terutama yang bersifat keagamaan. Para ulama banyak mengajarkan ilmunya di masjid.

Peranan masjid sebagai pusat pendidikan dan pengajaran senantiasa terbuka lebar bagi setiap orang yang merasa dirinya cakap dan mampu untuk memberikan dan mengajarkan ilmunya kepada orang yang haus akan ilmu pengeta huan. Setelah pelajaran anak–anak di khuttab berakhir, mereka melanjutkan pendidikannya ketingkat menengah yang dilakukan di masjid.

Dalam masjid terdapat dua tingkatan sekolah : tingkat menengah dan tingkat perguruan tinggi. Pelajaran yang diberikan dalam tingkat menengah dilakukan secara perorangan. Sedang pada tingkat perguruan tinggi di lakukan secara halaqah, murid duduk bersama mengelilingi gurunya yang memberikan pelajaran kepada mereka.

Di tingkat menengah diberikan mata pelajaran alquran dan tafsirnya , hadits dan fiqih. Sedang pada tingkat perguruan tinggi di berikan pelajaran tafsir, hadist, fiqih dan syariat islam. Pendidikan dalam masjid ini memberlakukan prinsip – prinsip pesamaan kesempatan kepada setiap muslim yang hendak menuntut ilmu pengetahuan tanpa membeda – bedakan status sosial ekonomi murid.

khan

Khan berfungsi sebagai asrama untuk murid-murid dari luar kota yang hendak belajar hukum islam pada suatu masjid, seperti khan yang dibangun oleh di’lij ibn ahmad ibn di’lij di suwaiqat ghalib dekat makam suraij. Disamping fungsi itu, khan juga digunakan sebagai sarana untuk belajar privat.

Baca Juga: Rukun Iman

Badi’ah

Secara harfiah badiah artinya dusun badui di padang sahara yang di dalam terdapat padang sahara yang didalam terdapat bahasa arab yang masih fasih dan murni sesuai dengan kaidah bahasa arab. Lembaga pendidikan ini muncul seiring dengan kebijakan pemerintahan bani umayyah untuk melakukan program arabisasi yang digagas oleh khalifah abdul malik ibn marwan. Akibat dari arabisasi ini maka muncullah ilmu qawaid dan cabang ilmu lainnya mempelajari bahasa arab. Melaui pendidikan di badiah ini,maka bahasa arab dapat sampai ke irak, syiria, mesir, lebanon, tunisia, al-jazair, maroko, di samping saudi arabia, yaman, emirat arab,dan sekitarnya. Dengan demikian banyak para penguasa yang mengirim anaknya untuk belajar bahasa arab ke badiah.

Sedangkan madrasah-madrasah yang ada pada masa bani umayyah adalah sebagai berikut:

A. Madrasah mekkah: guru pertama yang mengajar di makkah, sesudah penduduk mekkah takluk, ialah mu’az bin jabal. Ialah yang mengajarkan al qur’an dan mana yang halal dan haram dalam islam.

B. Madrasah madinah: madrasah madinah lebih termasyur dan lebih dalam ilmunya, karena di sanalah tempat tinggal sahabat-sahabat nabi. Berarti disana banyak terdapat ulama-ulama terkemuka.

C. Madrasah basrah: ulama sahabat yang termasyur di basrah ialah abu musa al-asy’ari dan anas bin malik. Abu musa al-asy’ari adalah ahli fiqih dan ahli hadist, serta ahli al qur’an. Sedangkan abas bin malik termasyhur dalam ilmu hadis.

D. Madrasah kufah: madrasah ibnu mas’ud di kufah melahirkan enam orang ulama besar, yaitu: ‘alqamah, al-aswad, masroq, ‘ubaidah, al-haris bin qais dan ‘amr bin syurahbil.

E. Madrasah damsyik (syam): setelah negeri syam (syria) menjadi sebagian negara islam dan penduduknya banyak memeluk agama islam. Maka negeri syam menjadi perhatian para khilafah. Madrasah itu melahirkan imam penduduk syam, yaitu abdurrahman al-auza’iy yang sederajat ilmunya dengan imam malik dan abu-hanafiah.

F. Madrasah fistat (mesir): setelah mesir menjadi negara islam ia menjadi pusat ilmu-ilmu agama. Ulama yang mula-mula madrasah madrasah di mesir ialah abdullah bin ‘amr bin al-‘as, yaitu di fisfat (mesir lama).

Rencana pembelajaran tingkat menengah
Pada umumnya rencana pembelajaran tersebut meliputi mata pelajaran – mata pelajaran yang bersifat umum, sebagai berikut :

A. Alquran
B. Bahasa arab dan kesusastraan- nya.
C. Fiqih
D. Tafsir
E. Hadits
F. Nahwu atau shorof atau balaghah.
G. Ilmu – ilmu pasti
H. Mantiq
I. Ilmu falaq
J. Tarikh ( sejarah )
K. Ilmu – ilmu alam.
L. Kedokteran
M. Musik

Rencana pembelajaran pada pendidikan tinggi

Pada umumnya rencana pembelajaran pada perguruan tinggi islam, dibagi menjadi dua jurusan, yaitu :

a. Jurusan ilmu – ilmu agama dan bahasa serta sastra arab, yang juga disebut sebagai ilmu – ilmu naqliyah, yang meliputi :

1). Tafsir al quran
2.) Hadits
3.) Fiqih dan ushul fiqih
4.) Nahwu atau sharaf
5) balaghah
6.) Bahasa arab dan kesusastraannya.

b. Jurusan ilmu – ilmu umum, yang disebut sebagai ilmu aqliyah meliputi:

1) mantiq
2) ilmu alam dan kimia
3) musik
4) ilmu pasti
5) ilmu ukur
6) ilmu falak
7) ilmu ilahiyah ( ketuhanan )
8) ilmu hewan dan tumbuhan
9) Ilmu kedokteran

Sarana Dan Prasana Pendidikan Masa Bani Umayyah

Sarana Dan Prasana Pendidikan Masa Bani Umayyah

Sarana Dan Prasana Pendidikan Masa Bani Umayyah

 Sarana Dan Prasana Pendidikan Masa Bani Umayyah
Sarana Dan Prasana Pendidikan Masa Bani Umayyah

Khuttab sebagai lembaga pendidikan dasar.

Khuttab atau maktab, berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat menulis. Jadi khuttab adalah tempat belajar menulis. Sebelum datangnya islam khuttab telah ada di negeri arab, walaupun belum banyak dikenal.

Sebenarnya khuttab ini telah ada sejak zaman jahiliyah, yaitu tempat belajar membaca dan menulis bagi anak –anak, hanya saja kurang mendapat perhatian. Hingga pada saat islam lahir, orang quraisy yang telah pandai membaca dan menulispun baru 17 orang saja. Dari khuttab ini anak – anak diberi pelajaran secara perorangan.

Muawiyah yang pernah menjadi anggota dewan penulis wahyu pada zaman nabi di madinah, sangat besar perhatiannya terhadap pendidikan anak – anak. Mereka diberi pelajaran membaca dan menulis, berhitung, olahraga dan sedikit al- quran serta pokok – pokok dasar aqidah dan kewajiban agama. Pada masa khalifah abdul malik bin marwan dan alwalid ibn abdil malik, peranan khuttab sangat penting. Saat ini administrasi pemerintahan telah mulai diterjemahkan dalam bahasa arab.

Sebagai lembaga pendidikan dasar, khuttab telah disebar di seluruh wilayah islam, tumbuh dan berkembang tanpa campur tangan dari pemerintah. Meurut prof dr a syalabi : “ khuttab dari jenis ini sebagai suatu rumah perguruan untuk umum, adalah hasil perkembangan dari pendidikan putra raja – raja dan para pembesar di istana mereka.”.
Rencana pembelajaran di khuttab (pendidikan dasar).

A) membaca alquran dan menghafalnya.
B) pokok – pokok agama islam, seperti cara berwudhu, shalat, puasa dsb.
C) tulis menulis
D) kisah atau riwayat orang – orang besar islam.
E) membaca dan menghafal syair – syair atau nasar ( prosa )
F) berhitung
G) pokok – pokok nahwu dan shorof ala kadarnya.

Baca Juga: Rukun Islam

Halaqah

Halaqah artinya lingkaran. Artinya, proses belajar mengajar di sini dilaksanakan di mana murid-murid melingkari gurunya. Seorang guru biasanya duduk dilantai menerangkan, membacakan karangannya, atau memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan halaqah ini bisa terjadi di masjid atau di rumah-rumah. Kegiatan halaqah ini tidak khusus untuk mengajarkan atau mendiskusikan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, termasuk filsafat.

Majlis

Majlis yang berarti sesi dimana aktivitas pengajaran atau diskusi berlangsung. Ada beberapa macam majlis seperti; majlis al-hadits, majlis ini diselenggarakan oleh ulama/guru yang ahli dalam bidang hadits. Majlis al-tadris, majlis ini biasanya menunjuk majlis selain dari pada hadist, seperti majlis fiqih, majlis nahwu, atau majlis kalam. Majlis al-syu’ara, majlis ini adalah lembaga untuk belajar syair, dan sering dipakai untuk kontes para ahli syair. Majlis al-adab, majlis ini adalah tempat untuk membahas masalah adab yang meliputi puisi, silsilah, dan laporan bersejarah bagi orang-orang yang terkenal. Majlis al-fatwa dan al-nazar, majlis ini merupakan sarana pertemuan untuk mencari keputusan suatu masalah dibidang hokum kemudian difatwakan.