Etika Berbisnis Dalam Islam

Etika Berbisnis Dalam Islam

Etika Berbisnis Dalam Islam

 

Etika Berbisnis Dalam Islam

Kegiatan Bisnis Dalam Islam

Kegiatan bisnis (usaha) dalam kacamata Islam, bukanlah kegiatan yang boleh dilakukan dengan serampangan dan sesuka hati. Islam memberikan rambu-rambu pedoman dalam melakukan kegiatan usaha, mengingat pentingnya masalah ini juga mengingat banyaknya manusia yang tergelincir dalam perkara bisnis ini. Faktanya terdapat ancaman keras bagi pelaku bisnis yang tidak mempedulikan etika, tetapi juga janji berupa keutamaan yang besar bagi mereka yang benar-benar menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan.

Pembahasaan mengenai prinsip Islam dalam dunia usaha tentunya sangatlah panjang, tetapi dalam bahasan singkat ini kita bisa mendapat gambaran tentang garis besar tentang prinsip-prinsip moral yang harus dipegang teguh oleh seorang pebisnis Muslim.

1. Niat yang Ikhlas.

Keikhlasan adalah perkara yang amat menentukan. Dengan niat yang ikhlas, semua bentuk pekerjaan yang berbentuk kebiasaan bisa bernilai ibadah. Dengan kita lain aktivitas usaha yang kita lakukan bukan semata-mata urusan harta an perut tapi berkaitan erat dengan urusan akhirat.
Allah I telah menegaskan bahwa hakekatnya tujuan manusia diciptakan di muka bumi adalah untuk beribadah kepadaNya “ Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepaKu”(QS Adz Dzariyat ayat 56), maka tentunya semua aktivitas kita di dunia tidak lepas dari tujuan itu pula. Rasulullah e bersabda “ Sesungguhnya amalan itu dengan niatnya ….”(Shahih Targhib wa Tarhib No.10)
Contoh niat yang ikhlas dalam usaha bisa berlaku dlam lingkup pribadi maupun sosial. Dalam lingkup pribadi misalnya meniatkan usaha yang halal untuk menjaga diri dari memakan harta dengan cara haram, memelihara diri dari sikap meminta-minta, untuk mendukung kesempurnaan ibadah kepada Allah I, menjaga silaturrahim dan hubungan kerabat dan motivasi positif lainya
Dalam lingkup sosial, misalnya meniatkan diri mencari harta untuk ikut andil dalam memenuhi kebutuhan masyarakat muslim, memberi kesempatan bekerja yang halal bagi orang lain, membebaskan ummat dari ketergantungan terhadap produk “orang lain”, dan motif sosial lainnya.
Niat-seperti diaktakan sebagian orang-adalah bisnisnya para ulama. Karena pahala dari suatu perbuatan bisa bertambah berkali-kali lipat jika didasari dengan niat yang ikhlas.

2. Akhlaq yang Mulia

Menjaga sikap dan perilaku dalam berbisnis adalh prinsip penting bagi seorang pebisnis muslim. Ini karena Islam sangat menekankan perilaku (aklhaq) yang baik dalam setiap kesempatan, termasuk dala berbisnis. Sebagaimana sabda Rasulullah e “….dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik” (Sahihul Jami’ No 97).
Akhlaq mulia dalam berbisnis ditekankan oleh Rasulullah e dalam sabdanya “Seorang pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan dikumpulkan bersama para nabi para shiddiq dan oarang-orang yang mati syahid. Dalam kesempatan lain Rasulullah e bersabda “Semoga Allah memberi rahmatNya kepada orang yang suka memberi kelonggaran kepada orang lain ketika menjual, membeli atau menagih hutang” (Shahih Bukhari No.2076). Di antara akhlaq mulia dalam berbisnis adalah menepati janji, jujur, memenuhi hak orang lain, bersikap toleran dan suka memberi kelonggaran.

3. Usaha yang halal

Seorang pebisnis muslim tentunya tidak ingin jika darah dagingnya tumbuh dari barang haram, ia pun tak ingin memberi makan kelauraganya dari sumber yang haram karena kan sungguh berat konsekuensinya di akhirat nanti. Dengan begitu, ia akan selalu berhati-hati dan berusaha melakuan usaha sebatas yang dibolehkan oleh Allah I dan RasulNya.
Rasulullah e bersabda : “Setiap daging yang tumbuh dari barang haram maka neraka lebih berhak baginya” (Shahihul Jami’ No. 4519)

4. Menunaikan Hak

lim selayaknya bersegera dalam menunaikan haknya, seprti hak aryawannya mendapat gaji, tidak menunda pembayaran tanggungan atau hutang, dan yang terpenting adalah hak Allah I dalam soal harta seperti membayar zakat yang wajib. Juga, hak-hak orang lain dalam perjanjian yang telah disepakati.
Dalil yang menunjukkan hal ini adalh peringatan Rasulullah e kepada oarang mampu yang menunda pembayaran hutangnya “Orang kaya yang memperlambat pembayaran hutang adalah kezaliman” (HR Bukhari, Muslim dan Malik)

5. Menghindari riba dan segala sarananya

Soerang muslim tentu meyakini bahwa riba termasuk dosa besar, yang sangat keras ancamannya. Avertebrata Maka pebisnis muslim akan berusaha keras untuk tidak terlibat sedikitpun dalam kegiatan usaha yang mengandung unsur riba. Ini mengingat ancaman terhadap riba bukan hanya kepada pemakannya tetapi juga pemberi, pencatat, atau saksi sekalipun disebutkan dalam hadits Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah e melaknat mereka semuanya dan menegaskan bahwa mereka semua sama saja (Shahih Muslim No. 1598)

6. Tidak memakan harta orang lain dengan cara bathil

Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengambil harta orang lain secara tidak sah. Allah I dengan tegas telah melarang hal ini dalam kitabNya. Ini meliputi segala kegiatan yang dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain yang menjadi rekakan bisnisnya, baik itu dengan cara riba, judi, kamuflase harga, menyembunyikan cacat barang atau produk, menimbun, menyuap, bersumpah palsu, dan sebagainya. Orang yang memakan harta orang lain dengan cara tidak sah berarti telah berbuat dhalim (aniaya) terhadap orang lain. Allah I berfirman: ”Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan kamu membawa harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan dosa, padahal kamu mengetahui”.(QS Al Baqarah 188)

7. Komitmen terhadap peraturan dalam bingkai syari’at

Soerang pebisnis muslim tidak akan membiarkan dirinya terkena sanksi hukuman undang-undang hukum positif yang berlaku di tenagh masyarakat. Misalnya dalam hal pajak, rekening membenahi sistem akuntansi agar tidak terkena sangsi karena melanggar hukum. Hal itu dilakukannya bukan untuk menetapkan adanya hak membyuat hukum ekpada manusia, tetapi semata-mata untuk mengokohkan kewajiban yang diberikan Allah I padanya dan mencegah terjadinya keruskan yang mungkin timbul

8. Tidak membahayakan/merugikan orang lain

Rasulullah e telah memberikan kaidah penting dalam mencegah hal-hal yang membahayakan, dengan sabdanya “ Tidak dihalalkan melakukan bahaya atau hal yang membahayakan orang lain (Irwa’ul Ghalil No 2175)”. Termasuk katagori membahayakan orang lain adalah menjual barang yang mengancam kesehatan orang lain seperti obat-obatan terlarang, narkotika, makanan yang kedaluwarsa. Atau melakukan hal yang membahayakan pesaingnya dan berpotensi menghancurkan usaha pesaingnya, seperti menjelek-jelekkan pesaing, memonopoli, menawar barang yang masih dalam proses tawar-menawar oleh orang lain. Seorang pebisnis muslim hendaknya bersikap fair dalam berkompetisi, dan tidak melakukan usaha yang mengundang bahaya bagi dirinya maupun orang lain.

9. Loyal terhadap orang beriman

Pebisnis muslim sekaliber apapun tetaplah bagian dari umat Islam. Sehingga sudah selayaknya ia melakukan hal-hal yang membantu kokohnya pilar-pilar masyarakat Islam dalam skala interasional, regional maupun lokal. Tidak sepantasnya ia bekerjasama dengan pihak yang nyata-nyata menampakkan permusuhannya terhadap umat Islam. Ini merupakan bagian dari prinsip Al Wala’ (Loyalitas) dan Al Bara’ (berlepas diri) yang merupakan bagian dari aqidah Islam. Sehingga ketika melaksanakan usahanya, seorang muslim tetap akan mengutamakan kemaslahatan bagi kaum muslimin dimanapun ia berada. Allah I berfirman : “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri -Nya. Dan hanya kepada Allah kembali.” (QS Ali Imran 28)

10. Mempelajari hukum dan adab mu’amalah islam

Dunia bisnis yang merupakan interaksi antara berbagai tipe manusia sangat berpotensi menjerumuskan para pelakunya ke dalam hal-hal yang diharamkan. Baik karena didesak oleh kebutuhan perut, diajak bersekongkol dengan orang lain secara tidak sah atau karena ketatnya persaingan yang membuat dia melakukan hal-hal yang terlarang dalam agama. Karena itulah seorang Muslim yang hendak terjun di dunia ini harus memahami hukum-hukum dan aturan Islam yang mengatur tentang mu’amalah. Sehingga ia bisa memilah yang halal dari yang haram, atau mengambil keputusan pada hal-hal yang tampak samar (syubhat).
Mengingat pentingnya mempelajari hukum-hukum jual beli inilah, Khalifah Umar bin Khatab mengeluarkan dari pasar orang-orang yang tidak paham hukum jual beli.

Rasulullah SAW Senantiasa Membersihkan Tangan

Rasulullah SAW Senantiasa Membersihkan Tangan

Rasulullah SAW Senantiasa Membersihkan Tangan

Rasulullah SAW Senantiasa Membersihkan Tangan
Rasulullah SAW Senantiasa Membersihkan Tangan

Jika kita memandang bahwa membersihkan tangan merupakan langkah pertama dalam hidup sehat, maka hal yang demikian telah di kemukakan oleh beliau. Hal ini dinyatakan dalam sebuah hadits berikut:

Hadits Pertama

“Barang siapa tidur dan tangannya masih berbau atau masih ada bekas makanan dan tidak dicucinya, lalu terkena sedikit gangguan penyakit kulit, maka janganlah menyalahkan, kecuali dirinya sendiri ”
(HR. Ibnu Hibban dan Abu Dawud).

Coba perhatikan akibat yang akan menimpa kita, yaitu sebuah gangguan penyakit kulit, meskipun secara spesifik Rasulullah Saw. tidak menjelaskan jenis penyakit kulit tersebut. Akan tetapi, ini cukup menjadi bukti bahwa kita harus memperhatikan kebersihan tangan.

Hadits Kedua

Padahal, yang disampaikan hadits ini, baru setelah selesai makan, coba kita perhatikan hadits berikut: “Apabila seorang bangun tidur maka jangan langsung memasukkan tangannya ke dalam ember (bak air) air sehingga mencucinya lebih dulu tiga kali. Sesungguhnya, ia tidak mengetahui di mana tangannya bermalam atau tangannya melayang.(HR. Abu Dawud).

Bagi kita yang sudah mempunyai kesadaran terhadap kepentingan kesehatan, tentunya akan melakukan dengan sendirinya, tetapi bagi mereka yang tidak memperhatikan kebersihan tangannya, seakan- akan ia telah mengambil penyakit untuk dirinya sendiri, yang tentunya bisa berpengaruh pada kenyamanan hidupnya. Hadits tersebut merupakan salah satu contoh bahwa Rasulullah Saw. merupakan orang yang sangat perhatian terhadap kebersihan tangan.

Hadits Ketiga

Selain menjaga kebersihan tangan, Rasulullah SAW Menjaga Kebersihan saat Buang Air Kecil dan Besar . Inilah akhlak Rasulullah Saw. yang jika kita mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, kita telah ditunggu dengan predikat sebagai hamba Allah Swt. yang mulia. Dalam hal ini, kita akan mengambil salah satu bagian dari cara beliau menjaga kebersihan, yaitu saat buang air kecil maupun besar. Ini menunjukkan betapa sempurnanya beliau, sesuatu yang kita anggap sebagai hal yang kurang penting dalam kehidupan kita, tetapi menjadi demikian penting di pandangan beliau. Rasulullah Saw. bersabda:
Sesungguhnya, banyak siksa kubur dikarenakan kencing, maka bersihkan dirimu dari (percikan dan bekas) kencing. (HR. Bazzar dan Thahawi).

Dalam hadits lain, Rasulullah Saw. juga bersabda:
“Janganlah kamu kencing di air yang tidak mengalir, kemudian kamu berwudhu dari situ” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam riwayat lainnya, Rasulullah Saw. juga menegaskan:
“Jauhilah (perbuatan) dua orang yang menyebabkan laknat, yaitu orang yang buang air besar dan air kecil di jalanan yang biasa dilewati orang banyak atau di tempat-tempat mereka berteduh.” (HR. Muslim).

Lalu, apa hikmah dari anjuran Rasulullah Saw, tersebut? Rasulullah Saw. sangat memperhatikan hal tersebut, sehingga jika mengikutinya, kita mendapatkan pahala karena mengikuti sunnah. Selain sebagai kebutuhan kita sebagai manusia, karena jika ingin hidup sehat, maka kita harus memperhatikan cara buang air kecil dan buang air besar. Tentunya, saat ini berbeda dengan zaman Rasulullah Saw medianya, tetapi yang perlu diketahui, beliau menyampaikan hal tersebut agar kita menjadi manusia yang bermartabat. Begitu juga pada standar kesehatan modern, kebersihan tempat buang air besar menjadi barometer tentang sehat tidaknya seorang, karena banyak sekali potensi penyakit yang terkandung di tempat tersebut. Dengan demikian, perhatian Rasulullah Saw. ini menjadi sangat selaras dengan kebutuhan standar kesehatan orang-orang modern.

hal lain yang tak kalah pentingnya adalah bahwa Rasulullah SAW Selalu Menjaga Kebersihan Pakaian . Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah pakaian. Sebab, kita butuh untuk melindungi diri dari sengatan matahari, terpaan hujan, dan lain sebagainya. Intinya, pakaian untuk melindungi tubuh. Akan tetapi, seiring perkembangannya, pakaian menjadi simbol dari sebuah kedudukan, status sosial, dan lain sebagainya. Sementara itu, dalam Islam, kita mengenal pakaian sebagai salah satu cara untuk menutup aurat, yang merupakan perintah agama, selain juga bertujuan untuk izzatin nafsi, yakni untuk menghormati tubuh sebagai anugerah yang sangat indah.

Hadits Kelima

Dengan berbagai tujuan pakaian tersebut, maka Rasulullah Saw. telah menganjurkan hal itu beberapa abad yang silam, dengan cara memperhatikan pakaian yang bersih. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda:
“Siapa yang mengenakan pakaian, hendaklah dengan yang bersih.”
(HR. Thahawi).

Hadits tersebut cukup simpel , tetapi mempunyai makna yang mendasar, yaitu untuk memberikan penjelasan bagi kita tentang cara kita menjaga kebersihan pakaian. Dapat dipastikan bahwa kata “pakaian” tidak hanya bermakna pakaian yang biasa kita pakai setiap hari. Namun, lebih dari itu, kita harus memperhatikan “pakaian” keimanan, keislaman, keyakinan, dan lain sebagainya, yang juga harus selalu dibersihkan dari berbagai kotoran apa pun, baik yang berasal dari diri sendiri maupun yang dari luar diri.

Dengan memperhatikan kebersihan pakaian yang meliputi semua yang kita kenakan, tidak hanya terbatas pada baju dan celananya saja, termasuk aksesoris dan lain sebagainya. Maka, menjaga kebersihan semua yang kita pakai (pakaian), bisa membuat kita semakin bermartabat sebagai manusia, serta akan membuat kita lebih nyaman menjalani kehidupan. Sebab, bersih itu selalu identik dengan sehat, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Demikian sekelumit uraian tentang Rasulullah SAW Selalu Membersihkan Tangan , semoga barokah. Aamiin.

Baca Juga: 

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh
Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh

Meremajakan Kulit dan Mengobati Penyakit Kulit

Bagi kita yang hendak merawat dan menjaga kesehatan kulit, puasa sangat baik sebagai medianya. Sebab, organ-organ dalam tubuh yang mengerjakan sel-sel, seperti hati, lambung, dan organ vital, dapat istirahat saat berpuasa. Sehingga, terjadi regenerasi dari organ dalam dan sel-sel memiliki kesempatan memperbaiki diri. Dengan pergantian sel baru maka akan mendorong kulit menjadi remaja, dan puasa adalah media untuk itu.

Sementara itu, untuk mengobati penyakit kulit, saat kita puasa, kandungan air dalam darah berkurang. Pada waktu yang bersamaan, kandungan air yang ada di kulit juga berkurang. Hal ini bisa menambah kekuatan kulit dalam melawan mikroba dan penyakit-penyakit dalam perut, meminimalisir kemungkinan penyakit-penyakit kulit yang menyebar di sekujur badan, seperti sakit Psoriasis (sakit kulit kronis), serta meminimalisir alergi kulit dan membatasi masalah kulit yang mempunyai banyak lemak.

Meningkatkan Fungsi Organ Tubuh

Salah satu manfaat puasa secara fisik ialah dapat meningkatkan fungsi organ tubuh. Sebab, secara sifatnya, puasa tidak mengekang fisik untuk tidak makan dan minum, sehingga organ tubuh dapat istirahat. Sebagaimana kita ketahui, ketika kita bekerja tanpa istirahat maka hasilnya malah tidak baik untuk kesehatan. Berbeda jika kita bisa menyeimbangkan antara istirahat yang bekerja, tentunya lebih produktif dalam bekerja. Sama halnya dengan organ tubuh manusia yang juga butuh keseimbangan untuk lebih memaksimalkan fungsi organ.

Dapat Menyeimbangkan Saraf Simpatis dan Parasimpatis

Salah satu yang sangat mendukung tingkat terjadinya stres dalam tubuh adalah saraf simpatis yang juga membuat jantung berdebar. Sementara, hormon parasimpatis berfungsi untuk memperlambat denyut jantung hingga lebih tenang dan dapat mengontrol emosi. Selain itu, saraf parasimpatis bisa mempengaruhi pengeluaran asam lambung. Maka, puasa mampu menyeimbangkan dua saraf tersebut sehingga tercipta ketenangan dan pengendalian diri yang tinggi.

Menjaga Kadar Gula Darah (Mengobati Diabetes)

Pada saat kita puasa, berarti kita memberikan waktu untuk istirahat pada kelenjar pankreas. Ketika istirahat ini, pankreas dapat mengeluarkan insulin yang menetralkan gula menjadi zat tepung dan lemak dikumpulkan di dalam pankreas. Sebagaimana kita ketahui, fungsi pankreas bisa melemah, bahkan tidak berfungsi sama sekali jika terdapat makanan yang mengandung insulin secara berlebihan. Akibatnya, kadar gula dalam darah merambat naik dan cenderung meningkat, sehingga kita bisa terkena penyakit diabetes.

Meminimalisir Obesitas

Pada saat asupan makanan kita berkurang (puasa) bagi tubuh, menjadi sebab menurunnya berat badan dan kegemukan, karena biasanya, orang yang kegemukan selalu mengonsumsi makan secara berlebihan dari yang dibutuhkan oleh tubuh. Sementara, bagi orang yang gemuk, akan mengalami risiko gangguan kesehatan penyakit kronis yang sangat tinggi, misalnya serangan jantung, diabetes, stroke, hipertensi, dan penyakit kronis lainnya.

Bisa Mengurangi dan Mengontrol Kolesterol , serta Mengurangi Stroke

Dengan puasa yang kita lakukan, dapat menyebabkan berkurangnya minyak dalam tubuh dan menyebabkan berkurangnya kolesterol. Sebab, kolesterol merupakan zat yang tertimbun yang dapat menyebabkan berbagai macam risiko terkena penyakit kronis sebagaimana yang telah disebutkan.

Sementara itu, puasa bermanfaat untuk mengurangi terjadinya stroke, karena puasa mampu memperbaiki kolesterol darah yang dapat menyumbat pembuluh darah dalam bentuk pengapuran dan pengerasan pembuluh darah (atekosklorosis). Sebagaimana kolesterol darah yang kita ketahui, kolesterol yang tinggi bisa menyebabkan terjadinya stroke. Sebab, cabang pembuluh darah terhambat oleh embli yang bisa berupa kolesterol atau udara. Maka, melalui puasa, kita dapat mengontrol kolesterol penyebab stroke tersebut. Sehingga, kolesterol bisa ditekan dan dikurangi.

Mengurangi Sakit Persendian Tulang

Pada saat kita merasa organ-organ tubuh mulai terasa nyeri disertai sakit-sakit, serta kedua tangan dan kaki mengalami nyeri, berarti kita sedang terkena sakit persendian tulang. Biasanya, ini menimpa manusia pada fase-fase akhir usianya, khususnya pada usia antara 30-50 tahun. Sebagaimana kita ketahui, tulang merupakan penopang agar tubuh bisa dengan elastis bergerak. Maka, dengan puasa, sakit karena tulang bisa disembuhkan, paling tidak dapat dikurangi. Sebab, ketika kita berhenti memberikan asupan bagi tubuh (puasa), tulang mendapatkan zat dari organ lain, yang berfungsi untuk menguatkan atau sebagai “pelumas” bagi tulang.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Sehat dengan Puasa Ala Rasulullah SAW

Sehat dengan Puasa Ala Rasulullah SAW

Sehat dengan Puasa Ala Rasulullah SAW

Sehat dengan Puasa Ala Rasulullah SAW
Sehat dengan Puasa Ala Rasulullah SAW

Puasa merupakan salah satu revolusi yang sangat besar untuk menunjang kesehatan dalam dunia kedokteran. Sebab, puasa dapat membuat kita sehat yang sangat luar biasa. Secara fisiologis, puasa sangat erat kaitannya dengan kesehatan tubuh manusia. Saluran pencernaan manusia merupakan tempat menampung dan mencerna makanan, serta organ dalam, yang terbesar dan terberat di dalam tubuh manusia. Sistem pencernaan tersebut tidak berhenti secara terus-menerus bekerja sepanjang hari dan malam.

Hal yang demikian, menginspirasi kita bahwa anjuran dari Rasulullah Saw. untuk selalu melaksanakan puasa merupakan salah satu kunci dari kesehatan beliau. Dalam agama Islam, kita mendapatkan kewajiban untuk melakukan puasa satu bulan dalam setahun. Artinya, beliau menyediakan media untuk kita agar memperoleh kesehatan dengan puasa. Akan tetapi, bagi sebagian or¬ang, puasa masih menjadi beban yang sangat berat. Jangankan melaksanakan puasa sunnah, untuk wajib saja, terkadang mereka enggan. Padahal, manfaatnya untuk kesehatan sangat menakjubkan.

Rasulullah Saw. menganjurkan kita untuk melakukan puasa sunnah, selain sebagai ibadah yang sangat tinggi pahalanya, juga agar tubuh kita menjadi sehat. Sebab, dengan tubuh yang sehat, kita bisa melaksanakan aktivitas dengan baik. Berikut beberapa hal yang dapat kita telaah dari manfaat puasa, sebagai rekomendasi dari Rasulullah Saw.:

A. Bisa Mengistirahatkan Alat Pencernaan

Hanya dengan puasa, kita bisa memberikan kesempatan istirahat kepada alat pencernaan. Sebab, setiap hari, alat pencernaan di dalam tubuh kita selalu bekerja keras, karena banyaknya makanan dan minuman yang masuk. Maka, dengan puasa, oksigenisasi tidak berkutat di bagian perut, melainkan pada kepala. Kita dapat melihat salah satu buktinya, saat kita sedang dalam kondisi kenyang, biasanya mudah mengantuk. Hal ini karena oksigenisasi banyak terjadi di perut, sehingga mudah mengantuk.

B. Membersihkan Racun dan Kotoran di Dalam Tubuh

Puasa sangat efektif untuk membersihkan tubuh dari racun dan kotoran atau dalam dunia kedokteran disebut detoksifikasi. Pada saat puasa, racun dalam tubuh, dibersihkan melalui pembakaran seluruh cadangan makanan dalam tubuh. Ketika membersihkan racun ini, terjadi ketika makanan tidak lagi memasuki tubuh dan tubuh mengubah simpanan lemak menjadi energi. Proses melepaskan zat kimia dari asam lemak ke alam sistem, kemudian dikeluarkan lewat organ lembuangan. Maka, secara tidak langsung, puasa telah nembatasi kalori yang masuk ke dalam tubuh, sehingga nenghasilkan enzim antioksidan yang dapat membersihkan zat-zat yang bersifat racun dan karsinogen sekaligus mengeluarkannya dari dalam tubuh.

C. Menambah Sel Putih

Puasa juga dapat menambah jumlah sel darah putih. Sementara itu, kita tahu bahwa sel darah putih dapat nembantu kita mengingat ian kecerdasan. Selain itu, sel iarah putih ini juga berfungsi untuk menangkal serangan berbagai macam penyakit yang ditimbulkan oleh reaksi kimiawi dalam tubuh. Dengan bertambahnya sel darah putih, secara otomatis mampu meningkatkan sistem kekebalan pada tubuh. Hal ini didapatkan salah satunya dengan puasa.

D. Untuk Menyeimbangkan Kadar Asam

Puasa dapat membantu menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh, serta memperbaiki fungsi hormon. Melalui kurangnya makan dan minum, serta adanya waktu istirahat bagi pencernaan, tubuh dapat menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh. Sebagaimana kita tahu, jika asam terkumpul terlalu banyak, maka bisa menimbulkan banyak penyakit, salah satunya penyakit asam lambung.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/

Pengertian Sholat berjamaah

Pengertian Sholat berjamaah

Pengertian Sholat berjamaah

Pengertian Sholat berjamaah
Pengertian Sholat berjamaah

Sholat berjama’ah

Sholat berjama’ah hukumnya fardhu kifayah bagi lelaki yang bermukim (bukan musafir) pada setiap sholat lima waktu, sedang sholat jum’at hukumnya fardhu ‘ain.

Syarat-Syarat

Syarat-Syarat Apa yang Diharuskan Bagi Makmum:
Makmum supaya niat mengikuti imam,
Tempat makmum tidak boleh lebih maju dari imam,
Makmum supaya mengetahui gerak perpindahan imam walaupun dengan perantara orang atau benda,
Makmum berusaha agar mendekati imam selain di masjid,Jangan ada penghalang antara makmum dan imam,
Makmum jangan mendahului atau melambatkan dari imam dengan dua macam rukun fi’li (gerakan badan) tanpa ada halangan,
Makmum jangan mendahului atau bersamaan dengan imam dalam mengucapkan takbiratul ihram,
Makmum supaya bersesuaian dalam melakukan hal-hal yang sunnah, dan sangat tercela bila tidak mengikuti, misalnya: tasyahhud awal dan sujud sahwi,
Jangan sampai makmum itu mempunyai persangkaan kalau imamnya wajib mengulangi sholatnya, misalnya: berperasangka kalau imam itu batal wudhu’nya dan lain-lainnya.

Orang yang Sah Diikuti

Orang-Orang yang Sah Diikuti: Sah sholatnya seseorang bila mengikuti orang yang sah sholatnya, kecuali orang lelaki mengikuti orang perempuan, orang yang baik bacaannya mengikuti orang yang tidak pandai membaca. Juga tidak sah sholatnya orang yang sholat tepat pada waktunya mengikuti orang yang sholat gadha’ (yang waktunya tidak tetap dan dapat ditentukan).

Orang-Orang yang Makruh untuk Diikuti: Makruh sholatnya seseorang dibelakang orang yang dibenci oleh sebagian kaum (golongan terbanyak), dibelakang kanak-kanak, di belakang orang yang lahin (buruk bacaannya) yang bacaannya dapat merubah arti yang dibaca, di belakang orang yang belum di khitan sekalipun sudah baligh, di belakang orang yang ceroboh yang tidak dapat menjaga najis dengan baik.

Kelebihan Solat Jama’ah

Shalat berjamaah merupakan syi’ar islam yang sangat agung, menyerupai shafnya malaikat ketika mereka beribadah, dan ibarat pasukan dalam suatu peperangan, ia merupakan sebab terjalinnya saling mencintai sesama muslim, saling mengenal, saling mengasihi, saling menyayangi, menampakkan kekuatan, dan kesatuan.

Allah mensyari’atkan bagi umat islam berkumpul pada waktu-waktu tertentu, di antaranya ada yang setiap satu hari satu malam seperti shalat lima waktu, ada yang satu kali dalam seminggu, seperti shalat jum’at, ada yang satu tahun dua kali di setiap Negara seperti dua hari raya, dan ada yang satu kali dalam setahun bagi umat islam keseluruhan seperti wukuf di arafah, ada pula yang dilakukan pada kondisi tertentu seperti shalat istisqa’ dan shalat kusuf.

Baca Juga:

Pengertian Apa Itu Puasa?

Pengertian Apa Itu Puasa

Pengertian Apa Itu Puasa?

Pengertian Apa Itu Puasa
Pengertian Apa Itu Puasa

Pengertian Puasa

Puasa adalah mencegah diri dengan iringan niat dari melakukan segala hal yang membatalkan sepanjang hari di bulan Ramadhan.
Yang Diwajibkan Berpuasa, Puasa itu diwajibkan atas orang mukallaf, kuat melakukan lagi pula suci dari haid dan nifas.
Saatnya Puasa Diwajibkan, Saat diwajibkan puasa adalah setelah sempurnanya bulan sya’ban yang 30 hari, atau dengan cara melihat masuknya bulan di bulan Ramadhan.

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa, Yaitu :

Dengan sengaja bermuntah.
Memasukkan sesuatu kedalam tubuh melalui anggota yang terbuka (dari mulut, kedua telinga dan dubur), selain yang masuk dari kedua mata, demikian pula suntik tidak membatalkan.
Jima’ ( berhubungan intim suami istri )
Mengeluarkan mani dengan sengaja.
Haid.
Nifas.
Murtad (berbalik menjadi murtad).

Orang yang Dibolehkan Tidak Puasa

Orang-Orang yang Dibolehkan Tidak Puasa (Dibolehkan Berpuasa), yaitu :
Orang sakit yang dikuatirkan tambah berbahaya.
Orang bepergian dalam jarak perjalanan 80 km, atau lebih.
Wanita hamil, wanita yang menyusui anak kalau kuatir membahayakan dirinya atau anak yang disusui.
Orang yang berusia lanjut, baik lelaki maupun perempuan yang tidak mampu berpuasa.

Qadha’nya Puasa

Qadha’nya Puasa, Orang yang diperkenankan tidak berpuasa, wajib mengqadhai puasanya kecuali : Wanita hamil dan yang menyusui anak, jika keduannya kuatir membahayakan anaknya saja, maka kedua orang itu wajib mengqadhai puasa dan membayar fidyah, yaitu untuk setiap harinya sebanyak 1 mud berupa makanan (seperti beras). Untuk orang yang berusia lanjut, baik lelaki maupun perempuan, juga orang sakit yang tidak mungkin diharapkan sembuhnya, di wajibkan memberi makan setiap harinya (yang ia tidak berpuasa) satu mud makanan sesudah berlakunya hari itu (saat matahari terbenam). Keterangan: 1 mud = 1,25 kati. 1 kati = 6 ons. Jadi 1 mud = 8 ons.
Orang yang membatalkan puasanya karena melakukan jima’, Orang tersebut wajib mengqadhai puasanya dan juga diwajibkan membayar fidyah.

Sunnah-Sunnahnya Berpuasa:

Menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.
Berbuka dengan buah kurma atau minum air.
Menahan diri dari kata-kata buruk.
Memperbanyak bersedekah dan membaca Al-Qur’an.
Kaffarah Yaitu, denda berupa memerdekakan hamba sahaya perempuan yang beragama islam, menjalankan puasa berturut-turut selama dua bulan selain hari yang diperuntukkan guna mengqadhai puasanya, atau memberi makan enam puluh orang miskin, yang setiap orangnya 1 mud dari makanan menurut kebiasaan yang di makan oleh orang yang dinegerinya.

Hari-Hari yang Diharamkan untuk Berpuasa:

Hari raya idul fitri.
Hari raya idul adha dan hari tasyrik, yaitu tiga hari sesudah idul adha.
Hari syak (hari yang meragukan yakni sehari sebelum masuknya bulan Ramadhan), hari pertengahan bulan sya’ban kecuali untuk menyempurnakan puasa yang dilakukan sebelumnya.

Hari-Hari Disunnahkan untuk Berpuasa, Yaitu hari senin dan kamis dari setiap pekan, hari-hari putih yaitu setiap tanggal 13-14-15 pada setiap bulan (menurut bulan Hijriyah) atau biasa yang disebut Hari Purnama, Enam hari yang berupa kelanjutan hari raya idul fitri (puasa enam syawal), Hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), demikian pula dari Asyura (tanggal 10 Muharram) pada setiap tahun.

Puasa untuk Orang yang Meninggal, Barangsiapa yang meninggal sedangkan ia masih menanggung hutang puasa yang belum diqadhai, dan bagi orang yang tidak ada alasan yang menyebabkan ia menunda qadha’nya, maka walinya wajib mengeluarkan 1 mud makanan untuk setiap hari yang ia tinggalkan, atau diperbolehkan bagi walinya untuk berpuasa sebagai pengganti atau salah seorang keluarga dari yang meninggal. Bagi orang lain (yang bukan keluarga) juga dibolehkan mengqadhai bila memperoleh wasiat sebelum meninggalnya atau setelah memperoleh izin dari wali yang meninggal.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/tata-cara-sholat-tahajud-niat-doa-dan-keutamaan-lengkap/

Berhaji dan Umroh Serta Rukun dan Sunnah-Sunnahnya

Berhaji dan Umroh Serta Rukun dan Sunnah-Sunnahnya

Berhaji dan Umroh Serta Rukun dan Sunnah-Sunnahnya

Berhaji dan Umroh Serta Rukun dan Sunnah-Sunnahnya
Berhaji dan Umroh Serta Rukun dan Sunnah-Sunnahnya

Fikih Imam Syafi’i

Berhaji dan umroh

Haji dan Umrah, Hukum keduanya adalh fardhu dan hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup. Keduanya wajib atas setiap orang islam, merdeka mukallaf serta kuat dan sehat, mampu untuk biaya pergi dan ada pula harta yang ditinggalkan, aman dalam perjalanan pulang perginya ke tanah suci.

Rukunnya Haji, yaitu :

Niat.
Wuquf di Arafah.
Thawaf.
Sa’i.
Mencukur dan memendekkan rambut. Yang tersebut diatas juga menjadi rukunnya umrah kecuali Wuquf di Arafah.

Yang Wajib Waktu Berhaji,

Ihram dari miqat (tempat ihram dimulai).
Bermalam di Muzdalifah.
Bermalam di Mina.
Melontarkan jumrah (jumrah ula, wushta, dan aqabah).
Thawaf wada’ (mohon diri) bagi orang yang hendak pulang ke negerinya.

Sunah Haji

Yang Disunnahkan Waktu Berhaji, yang menjadi sunnahnya haji itu banyak, antara lain ialah :

Mandi untuk berihram, berwuquf dan untuk melontar jumrah pada hari-hari tasyrik.
Memakai wangi-wangian sebelum berihram.
Memakai kain panjang (sebagai penutup tubuh bagian bawah) dan selendang (penutup bagian atas) yang baru dan berwarna putih.
Mengucapkan Talbiyah dan dzikir, juga diwaktu wuquf dan diwaktu berdo’a di Masjidil Haram.

Orang-Orang yang Meninggalkan Salah Satu Rukun dari Rukun-Rukunnya Haji. Barangsiapa yang meninggalkan salah satu rukun haji dan umrah, maka tidak diperkenankan melepasakan ihramnya sampai ia menunaikan apa yang ditinggalkan kecuali Wuquf. Bila orang itu terlambat dari saatnya wuquf, mak ia boleh tahallul (melepaskan) dengan jalan berumrah. Orang yang demikian berkewajiban mengqadhai hajinya dan wajib membayar fidyah dam (menyembelih kambing) di tanah suci.

Orang-Orang yang Meninggalkan Apa yang Diwajibkan atau Disunnahkan ketika Haji. Barang siapa yang meninggalkan kewajiban haji, maka ia wajib menyembelih seekor kambing di tanah suci, sedang kalau tidak mampu maka wajib mengganti dengan berpuasa tiga hari sebelum hari nahar (hari Adha) dan melanjutkan puasanya tujuh hari lagi setelah kembali ketanah airnya. Menggenai orang yang meninggalkan sunnah haji, maka orang itu tidak dikenai kewajiban apa-apa.

Hal-Hal yang Diharamkan Selama Berihram:

Memakai pakaian yang ada jahitannya.
Menutup kepala bagi lelaki, dan bagi perempuan menutup wajah dan kedua telapak tangan. 3
Memakai wangi-wangian.
Menyisir dan berminyak rambut.
Mencukur rambut.
Memotong kuku.
Berjima’.
Melaksanakan akad nikah.
Berburuh.
Memotong pahon di tanah suci.

Hal-Hal yang Menjadi Wajib Karena Pelanggara

Hal-Hal yang Menjadi Wajib Karena Pelanggaran Terhadap yang Diharamkan ketika Berihram. Dengan sebab pelanggaran terhadap yang diharamkan ketika ihram, maka wajiblah orang itu membayar fidyah dengan menyembelih kambing dan menyedekahkan di tanah suci, atau memberi makan 3 sha’ untuk orang miskin. Denda dari pelanggaran ini tidak termasuk mereka yang melaksanakan akad nikah (karena memang tidak terkena denda apa-apa). Adapun berjima’ dengan sengaja, maka batallah hajinya. Bagi yang berburu, maka berkewajiban menyembelih binatang yang serupa dengan binatang yang diburu (dalam hal besar dan kecilnya binatang) atau boleh juga dengan memberi makan yang harganya senilai dengan hewan buruannya, kalau menebang pohon, maka diwajibkan menyembelih lembu kalau yang ditebang itu pohon yang besar dan kambing kalau yang ditebang itu pohon kecil.

Syarat-Syarat Berthawaf:

Suci dari hadats dan khobats (najis).
Menutup aurat.
Mulainya dari hajar aswad dan menepatkan dengan bauhnya sebelah kiri.
Letak ka’bah supaya berada disisi kirinya orang yang thawaf.
Jangan ada maksud lain selain melakukan thawaf.
Melakukan sebanyak tujuh kali.
Niatnya selain untuk thawaf nusuk (sunnat).

Syarat-Syaratnya Sa’i:

Sa’i supaya dilakukan sesudah mengerjakan thawaf yang sah.
Memulainya dari bukit shafa dan diakhiri di bukit marwah.
Hendaklah dilakukan tujuh kali (empat kali dari shafa ke marwah, tiga kali dari marwah ke shafa).

Hal-Hal yang Membatalkan Haji

Hal-Hal yang Membatalkan Haji, Hal yang membatalkan haji adalah berjima’ dengan sengaja. Orang yang berbuat demikian wajib menIhshar (Terhalang),yempurnakan hajinya dan mengqadha’ serta menyembelih seekor onta. Jika tidak mendapatkan, maka menyembelih sapi, kalau masih juga belum diperoleh maka menyembelih 7 ekor kambing. Kalau 7 ekor kambing belum bisa didapatkan, maka wajib membuat penilaian untuk harga seekor onta dan dengan harga taksiran itu digunakan untuk membeli makanan. Kalau usaha terakhir tidak berhasil maka wajib atas orang itu berpuasa dan untuk setiap harinya senilai 1 mud.

Orang yang Tidak Kuasa Melakukan Ibadah Haji, Barangsiapa yang tidak kuasa disebutkan lanjutnya usia atau karena sakit yang tidak dapat diharapkan sembuhnya, maka wajiblah mewakilkan kepada orang lain (mengangkat seorang selaku pengganti dirinya).

Siapa yang Meninggal Sedang Ia Belum Berhaji, Maka wajiblah atas walinya untuk mengupah orang lain dan harta diwariskan. Orang yang di upah tadi supaya menyempurnakan haji dan umrahnya orang yang meninggal itu.
Ihshar ialah terhalang atau mencegah dari melaksanakan haji dan umrah. Orang yang demikian boleh bertahallul (lepas diri ihramnya) dengan membayar dam, yaitu menyembelih seekor kambing kemudian mencukur rambutnya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-ringkas-dan-lengkap-hadhorot/

Menelusuri Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid

Menelusuri Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid

Menelusuri Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid

Menelusuri Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid
Menelusuri Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid

Kapan Ilmu Tajwid Mulai Ada ? Pertanyaan inilah yang akan menjadi topik pembahasan kita kali ini. Kumpulan Sejarah akan mengulas dan menelusuri hal yang terkait dengan sejarah munculnya ilmu tajwid yang dirangkum dari beberapa sumber yang dapat dipercaya. Untuk itu mari simak informasi selengkapnya dibawah ini.

Menelusuri Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid

Jika ditanyakan kapan asal mula ilmu Tajwid, maka pada dasarnya ilmu tajwid ini sudah ada sejak Al-Quran diturunkan kepada Baginda Rasulullah SAW. Ini karena Rasulullah SAW sendiri diperintahkan untuk membaca al-Quran dengan tajwid dan tartil seperti yang disebut dalam

وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا

“Bacalah al-Quran itu dengan tartil (perlahan-lahan)”. (QS. Al-Muzammil 73 : 4)

Kemudian Rasulullah SAW mengajar ayat-ayat tersebut kepada para sahabat dengan bacaan yang tartil. Para sahabat menguasai semua itu seperti yang telah di ajarkan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Diantaranya seperti Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit dan lain sebagainya.

Semua ini menunjukkan bahwa pembacaan al-Quran bukanlah suatu ilmu hasil dari ijtihad (fatwa) para ulama yang di olah berdasarkan dalil-dalil dari al-Quran dan Sunnah, tetapi pembacaan al-Quran adalah suatu yang taufiqi (diambil terus) melalui riwayat dari sumbernya yang asal yaitu sebutan dan bacaan Rasulullah SAW.

Akan tetapi bagaimanapun, yang dianggap sebagai penulisan ilmu tajwid yang paling awal adalah ketika adanya kesadaran akan perlunya mushaf Utsmaniah yang ditulis oleh Sayyidina Utsman diberikan titik-titik pada huruf-hurufnya, kemudian baris-baris bagi setiap huruf dan pelafalannya. Gerakan ini diketuai oleh Abu Aswad Ad-Duali dan Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi, dimana ketika itu Khalifah umat Islam memiliki tugas  besar untuk hal ini disaat umat Islam mulai ada yang melakukan kekeliruan didalam bacaan.

Itu karena ketika masa Sayyidina Ustman, belum diberi titik-titik maupun harakat, sebab bertujuan memberi keleluasaan kepada para sahabat dan tabi’in pada masa itu untuk membacanya sebagaimana yang mereka telah ambil dari Rasulullah SAW, berdasarkan dengan dialek bangsa Arab yang beraneka ragam.

Tetapi setelah berkembang luasnya agama Islam ke seluruh tanah Arab serta takluknya Roma dan Persia ke tangan umat Islam pada tahun pertama dan kedua Hijrah, bahasa Arab mulai bercampur dengan bahasa penduduk-penduduk yang ditaklukkan umat Islam. Ini telah menyebabkan terjadinya beberapa kekeliruan didalam penggunaan bahasa Arab dan demikian juga dengan pembacaan al-Quran. Maka, al-Quran Mushaf Utsmaniah diberi tambahan titik-titik dan harakat pada huruf-hurufnya untuk menghidari kekeliruan-kekeliruan tersebut.

Awal Mula Pembukuan Ilmu Tajwid

Orang yang pertama kali menghimpun ilmu ini dalam bentuk kitab adalah Al-Imam al-‘Adhim Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam pada abad ke-3 Hijriyah didalam kitabnya “Kitabul Qiraa-at/  كتاب القراءات”. Sebagian ada yang mengatakan bahwa orang yang pertama mengarang dan menghimpun ilmu-ilmu qira-at adalah Hafsh bin Umar Ad-Duriy.

Adapun pada abad ke-4 Hijriyah, masyhur seorang imam bernama Al-Hafidz Abu Bakar bin Mujahid Al-Baghdadiy, ia merupakan orang yang pertama kali mengarang kitab mengenai bacaan 7 qira’at yang masyhur (Kitab al-Sab’ah). Ia wafat pada tahun 324 H.

Memasuki abad ke-5 Hijriyah, masyhur nama Al-Hafidz Al-Imam Abu ‘Amr Ustman bin Sa’id Ad-Dani, pengarang kitab Al-Taysir (التيسير) yang berisi tentang qira-at Sab’ah dan menjadi sandaran pada ahli Qurra’. Ia juga memiliki banyak karangan dalam bidang seni qiraat dan lainnya. Dimasa ini juga masyhur, seorang ulama bernama Al-Imam Makki bin Abi Thalib Al-Qaisi Al-Qairawani, ia mengarang bermacam-macam kitab tentang qira’at dan ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Pada abad ke-6 Hijriyah, tampil seorang ulama yang menjadi rujukan tokoh-tokoh ulama yang sezaman dengannya maupun datang setelahnya, dengan karangannya bernama “Hirzul Amani wa Wajhut Tahani” atau terkenal dengan “Matan Syathibiyah”, berisi 1173 bait tentang qira-at sab’ah. Ia adalah Abul Qasim bin Fairah bin Khalaf bin Ahmad Ar-Ru’aini Al-Syathibi al-Andalusi, wafat pada tahun 590 H.

Setelah itu, banyak ulama yang menekuni bidang ini disetiap masa, menegakkan panji-panji al-Qur’an baik dengan membaca dan mengaplikasikannya, hingga akhirnya muncul tokoh penting dalam bidang ilmu tajwid dan qira-at yaitu Imamul Muhaqqiqin wa Syaikhul Muqri-iin Muhammad Ibnu Al-Jazari Al-Syafi’I dengan karangannya Al-Nasyr fil Qiraa-atil ‘Asyr, Thayyibatun Nasyr dan Ad-Duratul Mudhiyyah yang mempolopori bahwa ilmu qira-at ada 10, yaitu sebagai pelengkap apa yang telah dinyatakan oleh Imam al-Syathibi didalam kitab Hirzul Amani.

Imam Al-Jazari juga telah mengarang karangan yang berasingan bagi ilmu Tajwid dalam kitabnya “At-Tamhid” dan puisi beliau yang lebih terkenal dengan nama “Matan Al-Jazariah”. Imam Al-Jazari telah mewariskan karangan-karangannya yang begitu banyak berserta bacaannya sekali yang kemudiannya telah menjadi ikutan dan panduan bagi karangan-karangan ilmu Tajwid dan Qiraat serta bacaan al-Quran hingga ke hari ini.

Tujuan Belajar Ilmu Tajwid

Tujuan ilmu tajwid yang paling utama adalah lancarnya seseorang dalam pengucapan lafal Al-Quran dengan ilmu yang telah disampaikan oleh ulama kita dengan memberikan sifat tarqiq (tipis), tebal, mendengung, panjang, serta pendeknya, dan seterusnya. Maka ilmu ini tidak akan bisa diketahui dengan sempurna kecuali harus berguru secara langsung kepada ulama yang ahli dalam ilmu ini.

Sekian informasi yang dapat Kumpulan Sejarah berikan buat Sobat semua mengenai Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid, semoga artikel diatas dapat membantu Sobat dalam memahami sejarah ilmu tajwid sehingga dapat menambah wawasan keilmuan Sobat seputar dunia Islam pada umumnya.

Baca juga artikel:

Sejarah Kodifikasi Hadith

Sejarah Kodifikasi Hadith

Sejarah Kodifikasi Hadith

Sejarah Kodifikasi Hadith
Sejarah Kodifikasi Hadith

Hadith Pertama Kali

Ide penghimpunan hadith nabi secara tertulis untuk pertama kali dikemukakan oleh khalifah Umar bin al Khottab. Ide tersebut tidak dilaksanakan oleh umar karena Umar merasa khawatir umat islam akan terganggu perhatiannya dalam mempelajari al-Qur’an. Pembatasan niat Umar untuk menghimpun hadith nabi itu dikemukakan sesudah beliau melakaukan sholat istikharah selama satu bulan. Kebijaksanaan Umar dapat di mengerti karena pada zaman Umar daerah islam telah semakin meluas dan hal itu membawa akibat jumlah orang yang baru memeluk islam semakin bertambah banyak.

Periode Tabi’in

Memasuki periode tabi’in, sebenarnya kekhawatiran membukukan/ kodifikasi hadith tidak perlu terjadi, justru pada periode ini telah bertabur hadith-hadith palsu yang mulai bermunculan setelah umat islam terpecah belah menjadi golongan-golongan, yang semula berorientasi politik berubah menjadi faham keagamaan, seperti khawarij, syi’ah, murjji’ah dan lain-lain. Perpecahan innin terjadi sesaat setelah peristiwa tahkim yang merupakan rentetan peristiwa yang bersal dari terbunuhnya khalifah Umar bin Affan ra. Untuk mengukkuhkan eksistensi masing-masing golongan mereka merasa perlu menciptakan hadith palsu.

Kemudian semua karya tentang hadith dikumpulkan pada paruh akhir abad ke-2H/8M atau selama abad ke-3/9M. Berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa di seputar awal abad ke-2H,sejumlah kecil muhadditsun (ahli kitab) telah mulai menulis hadith,meskipun tidak dalam himpunan yang runtut. Belakangnan koleksi kecil ini menjadi sumber bagi karya-karya yag lebih besar. Meskipun begitu kebanyakan hadith yang ada dalam himpunan-himpunan disampaikan melalui tradisi lisan. Sebelum dicatat dalam himpunan-himpunan tersebut belum pernah dicatat ditempat manapun.

Ada beberapa pendapat yang berkembang mengenai kapan kodifikasi secara resmi dan serentak di mulai.

a. Kelomppok syi’ah

mendasarkan pendapat hasan al-sadr (1272-1354 H), yang menyatakan bahwa penullisan hadis telah ada sejak masa nabi dan kompilasi hadis telah ada sejak awal khalifah Ali bin Abi Thalib (35 H), terbukti adanya kitab Abu Rafi’, kitab al-Sunan wa al-Ahkam wa al-Qadaya.

b. Sejak abad 1 H

yakni atas prakasa seorang gubernur mesir ‘Abdul aziz bin marwan yang memerintahkan kepada kathir bin M urrah, seorang ulama hamsy untuk mengumpulkan haadis, yang kemmudian disanggah syuhudi ismail dengan alasan bahwa perintah Abdul Aziz bin M arwan bukan merupakan perintah resmi, Iegal dan kedinasaan terhadap ulama yang berada di luar wilayah kekuasaannya.

c. Sejak awal II H

yakni masa khalifah ke-5 dinasti Abbasiyyah, Umar ibn Abdul Aziz yang memerintahkan kepada semua gubernur dan ulama di daerah kekuasaannya untuk mengumpulkan hadith-hadith nabi. Kepada ibnu shihab al-Zuhri, belliau berkirim surat yang isinya “perhatikanlah hadith Rasulullah SAW, lalu tulislah. Karena aku mengkhawatirkan lenyapnya ilmu itu dan hilangnya para ahli” dan kepada Abu Bakar Muhammad ibn ‘Amr ibn hazm, beliau menyatakan: “tulislah kepadaku hadis Rasulillah SAW yang ad padamu dan hadis yang ada pada ‘Amrah (amrah binti Abdurrahman, w. 98 H ), karena aku mengkhawatirkan ilmu itu a.kan hilang dan lenyap”

Pendapat ketiga ini yang di anut jumhur ulama hadis, dengan pertimbangan jabatan khalilfah gaungnnya lebih besar daripada seorang gubernur, khalifah memerintah kepada para gubernur dan ulama dengan perintah resmi dan Iegal serta adanya tindak lanjut yang nyata dari par ulama masa itu untuk mewujudkannya dan kemudian menggandakan serta menyebarkan ke berbagai tempat.

Dengan demikian, penulisan hadith yang sudah ada dan marak tetapi belum selesai di tullis pada masa Nabi, baru diupayakan kodifikasinya secara serentak, rresmi dan massal pada awal abad II H yakni masa Umar bin Abdul A ziz, meskipun bisa jadi inisiatif tersebut berasal dari ayahnya, Gubernur mesir yang pernah mengisyaratkan hal yang sama sebelumnya.

Ada pun siapa kodifikator hadis pertama, muncul nama Ibnu Shihab al- Zuhri (w, 123H), karena beliaulah yang pertama kali mengkomplikasikan hadith dalam satu kitab dan menggandakannya untuk memberikan ke berbagai wilayah sebagaiman pernyataannya: “Umar bin Abdul Aziz memerintahkan kepada kami menghimpun sunnah, lalu kami menulisnya beberpa buku.” Kemudian belliau mengirimkan satu buku kepada setiap wilayah yang berada dalam kekuasaannya. Demikian pandangan yang diruntut sebagian sejarawan dan ahli hadith. Adapun yang berpandangan Muhammad abu Bakr ibn Amr ibn Hazm yang mengkodifikasikan hadith pertama, ditolak oleh banyak pihak, karena tidak menggandakannya hasil kodifikasi Ibn Amr Hazm untuk disebarluaskan ke berbagai wilayah.

Meski demikian, ada juga yang berpendapat bahwa kodifikator hadith sebelum adanya instruksi kodifikasi dari khalifah Umar ibn ‘Abdul Aziz telah dilakukan, yakni oleh khalid bin Ma’dan (w, 103 H). Rasyid Ridha (1282-1354 H) berpendapat seprti itu, berdasarkan periwayatan, khalid telah menyusun kitab pada masa itu yang diberi kancing agar tidak terlepas lembaran-lembarannya. Namun pendapat inni ditolak ‘Ajjaj al-Khatib, karena penulisan tersebut bersifat individual, dan hal tersebut telah dilakukan jauh sebelumnya oleh para sahabat. Terbukti adanya naskah kompilasi hadis dari abad 1H, yang sampai pada kita, yakni al-Sahafiah al-Sahihah.

Tulisan-tulisan hadis pada abad masa awal sangat penting sebagai dokumentasi ilmiah dalam sejarah, sebagai bukti adanya penulisan hadis sejak zaman Rasulullah, sampai dengan masa pengkodifikasian resmi dari Umar bin abdul Aziz. Bahkan sampai masa sekarang.

Baca Juga: 

Pembukuan hadith Lengkap

Pembukuan hadith Lengkap

Pembukuan hadith Lengkap

Pembukuan hadith Lengkap
Pembukuan hadith Lengkap

Penjelasan

Sebagain jawaban terhadap pemalsuan hadith maupu tuduhan ahli hadith telah menyabarkan riwayat yang bertentangan, musykil dan penuh kufarat, kalangan ahli hadith melakukan beberapa cara untuk memelihara hadith.
Pertama, dengan menginvestarisasi kritik yang di lintarkan oleh kelompok mutakallimin, kemudian memberikan penjelasan dan jawabannya. Hal ini di lakukan oleh Muhammad Abdullah bin Muslim bin qataybah al-dinuri (w. 276 H ) dalam kitabnya ta’wil mukhtalaf al hadith.

Kandungan Hadith

Kandungan hadith ini mengandung tiga pokok pembicaraan:
1. Tantangan terhadap kritik dari kelompok penantang hadith.
2. Mengkompromikan yang nilai bertentangan
3. Jawaban terhadapa tuduhan bahwa hadith dipenuhi oleh msykilat dan shubhat.
Kedua, menghimpun hadith dengan system musnad, yakni pengelompokkan yang didasarkan kepada nama seorang sahabat, tidak dibedakan apakah riwayatnya sama atau tidak. Jadi tidak disusun menurut sistematika fiqh.

Musnad Abad ke-3

Di antara musnad yang disusun pada abad ketiga adalah:
a. Musnad ubaydillah bin musa (w. 213 H)
b. Musnad al-humaydi (w. 219 H)
c. Musnad musaddad (w. 237 H)
d. Musnad ishaq bin rahawayh (w. 237 H)
e. Musnad usman bin shaybah (w. 239 H)
f. Musnad ahmad bin hanbal (w. 241 H)

Ketiga, menyusun riwayat dengan basis fiqh, yaitu dengan pengelompokkan berdasarkan kitab fiqh, dalam hal ini ada yang menghimpun semua hadis, tetapi ada pula membatasi pada shahih saja. Perintis metode ketiga ini adalah Muhammad bin isma’il al bukhari (w. dawud dan al-tirmidzi. Metode yang terakhir inilah yang memberi kemudian pada pengkaji hadith.
Literature hadith yang berhasil disusun pada abad ketiga yang sampai saat ini dapat di temukan:
1. Al-musnad, imam ahmad
2. Al-jami’ al shahih,imam al-bukhari
3. Shahih muslim, imam muslim
4. Al-sunnah al-kubra dan mujtaba, imam al-nawawi
5. Al-sunnah, imam abu dawud
6. Al-jami’ al-shahih atau sunan, imam tirmidzi
7. Al-sunnah, imam ibnu majjah al-qazwayni.

Menurut perkiraan ahli hadith literature tersebut telah mengakar sebagian besar riwayat dari Rasulullah SAW, sehinggah sepakat tujuh kitab tersebut sebagai induk kitab hadith (ummahat kutub al-hadis).

Tujuh Literature Hadith

Dari tujuh literature hadith di atas dapat di bedakan menjadi tiga istilah, yaitu:

a. Al-musnad, yang disusun berdasarkan entri nama sahabat.
b. Al-jami’ al-shahih, yang dimaksud oleh penyusunnya untuk menghimpun hadith yang shahih saja.
c. Al-sunnah, yang di maksud oleh penyusunya menghimpun semua kategori hadith, shahih, hasan atau dha’if.

Kemudian timbul juga peristilah untuk memudahkan penyebutan literature secara bersama yaitu:

1. Al-shahihaini, untuk kitab Bukhari dan Muslim.
2. Al-thalatha’, untuk kitab Abu Dawud, Tirmidzi, nsa’i.
3. Al-arba’ah, untuk Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan ibnu Majjah.
4. Al-sittah, untuk kitab Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan ibnu majjah.
5. Al-sab’ah, untuk kitab Al-Bukhari, Muslim,Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majjah, dan Ahmad.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/