Kehujahan istishhab

Kehujahan istishhab

Kehujahan istishhab

Kehujahan istishhab
Kehujahan istishhab

 

Para ulam usul fiqih berbeda pendapat tentang kehujahan istishhab diantaranya:

Pertama

menurut mayoritas mutakalimin (ahli kalam ), istishhab tidak bisa dijadikan dalil karena hukum yang ditetepkan pada masa lampau menghendaki adanya dalil. Demikian pula untuk menetapkan hukum yang sama pada masa sekarang dan yang akan datang , harus pula berdasarkan dalil. Alasan mereka, mendasarkan hukum pada istishhab, merupakan penetapan hukum tanpa dalil, sekalipun suatu hukum telah ditetapkan pada masa lampau dengan suatu dalil, namun untuk memberlakukan hukum itu untuk masa yang akan datang diperlukan dalil yang lain. Istishhab menurut mereka bukan dalil. Karena menetapkanhukum yang ada di masa lampau berlangsung terus sampai masa yang akan datang.

Kedua

menurut mayoritas hanafiyyah, khususnya muta’akhirin (genarasi belakangan ), istishhab bisa menjadi hujah untuk menetapkan hukum yang telah ada sebelumnya dan mengaggap hukum itu tetap berlaku pada masa yang akan datang. Tetapi tidak bisa menetapkan hukum yang akan ada. Alasan mereka , seorang mujtahid dalam meneliti hukum suatu masalah yang sudah ada, mempunyai gambaran bahwa hukumnya sudah ada atau sudah dibatalkan. Akan tetapi tidak mengetahui atau tidak menemukan dalil yang menyatakan bahwa hukum itu telah dibatalkan. Dalam kaitan ini mujtahid tersebut harus berpegang pada hukum yang sudah ada, karena dia tidak mengetahui adanya dalil yang membatalkan hukum itu. Namun demikian penetapan ini, hanya berlaku pada kasus yang sudah ada hukumnya dan tidak berlaku pada kasus yang akan ditetapkan hukumnya, artinya, istishhab hanya bisa dijadikan hujah untuk mempertahankan hukum yang sudah ada, selama tidak ada dalil yang membatalkan hukum itu, tetapi tidak berlaku untuk menetapkan hak yang baru muncul.

Ketiga

ulama malikiyyah, syafi’iyyah, hanabila, zhahiriyah dan syi’ah berpendapat bahwa istishhab bisa menjadi hujjah secara mtlak untuk menetapkan hukum yang sudah ada, selam belum ada dalil yang mengubahnya. Alasan mereka adalah suatu yang telah ditetapkan pada masa lalu, selama tidak ada dalil yang mengubahnya, baik secra qath’I (pasti) maupun yang dhani (relative), maka semestinya hukum yang telah ditetapkan itu berlaku terus, karena diduga keras belum ada perubahannya, apabila tidak demikian maka bisa membawa akibat tidaak berlakunya seluruh hukum-hukum yang di syariatkan oleh Allh dan Rasulallah.

Baca Juga:

Penjelasan Mengenai Aliran Hanafiyah

Penjelasan Mengenai Aliran Hanafiyah

Penjelasan Mengenai Aliran Hanafiyah

Penjelasan Mengenai Aliran Hanafiyah
Penjelasan Mengenai Aliran Hanafiyah

Para ulama dalam aliran Hanafiyah

dalam pembahasannya, berangkat dari hukum-hukum furu’ yang diterima dari imam-imam (madzhab)
mereka; yakni dalam menetapkan kaidah selalu berdasarkan kepada hukum-hukum furu ’ yang diterima dari imam-imam mereka.
Jika terdapat kaidah yang bertentangan dengan hukum-hukum furu’ yang diterima dari imam-imam mereka, maka kaidah itu diubah
sedemikian rupa dan disesuaikan dengan hukum-hukum furu’ tersebut. Jadi para ulama dalam aliran ini selalu menjaga persesuaian
antara kaidah dengan hukum furu’ yang diterima dari imam-imam mereka.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Kitab – Kitab Ushul Fiqih Aliran Hanafiyah

Di antara kitab-kitab Ilmu Ushul Fiqh dalam aliran ini, yaitu : kitab yang disusun oleh Abu Bakar Ahmad bin’ Aliy yang terkenal dengan
sebutan Al Jashshash (wafat pada tahun 380 Hijriyah), kitab yang disusun oleh Abu Zaid ’ Ubaidillah bin ’Umar Al Qadliy Ad Dabusiy
(wafat pada tahun 430 Hijriyah), kitab yang disusun oleh Syamsul Aimmah Muhammad bin Ahmad As Sarkhasiy (wafat pada tahun
483 Hijriyah). Kitab yang disebut terakhir ini diberi penjelasan oleh Alauddin Abdul ’Aziz bin Ahmad Al Bukhariy (wafat pada tahun
730 Hijriyah) dalam kitabnya yang diberi nama Kasyful Asrar .Dan juga kitab Ilmu Ushul Fiqh dalam aliran ini ialah kitab yang disusun
oleh Hafidhuddin ’Abdullah bin Ahmad An Nasafiy (wafat pada tahun 790 Hijriyah) yang berjudul ’Al Manar, dan syarahnya yang
terbaik yaitu Misykatul Anwar.
Dalam abad itu muncul para ulama yang dalam pembahasannya memadukan antara dua aliran tersebut di atas, yakni dalam
menetapkan kaidah, memperhatikan alasan-alasannya yang kuat dan memperhatikan pula persesuaiannya dengan hukum-hukum
furu’. Di antara mereka itu ialah : Mudhafaruddin Ahmad bin ’Aliy As Sya’atiy Al Baghdadiy (wafat pada tahun 694 Hijriyah) dengan
menulis kitab Badi’un Nidham yang merupakan paduan kitab yang disusun oleh Al Bazdawiy dengan kitab Al Ihkam fi Ushulil Ahkam
yang ditulis oleh Al Amidiy; dan Syadrusiy Syari’ah ’Ubaidillah bin Mas’ud Al Bukhariy Al Hanafiy (wafat pada tahun 747 Hijriyah)
menyusun kitab Tanqihul Ushul yang kemudian diberikan penjelasan-penjelasan dalam kitabnya yang berjudul At Taudlih . Kitab
tersebut merupakan ringkasan kitab yang disusun oleh A1 Bazdawiy, kitab AI Mahshul oleh Ar Raziy dan kitab Mukhtasharul
Muntaha oleh Ibnul Hajib. Demikian pula termasuk ulama yang memadukan dua aliran tersebut di atas, yaitu Tajuddin ’Abdul Wahhab
bin’ Aliy As Subkiy Asy Syafi’iy (wafat pada tahun 771 Hijriyah) dengan menyusun kitab Jam’ul Jawami’ dan Kamaluddin Muhammad
’Abdul Wahid yang terkenal dengan Ibnul Humam (wafat pada tahun 861 Hijriyah) dengan menyusun kitab yang diberi nama At Tahrir.
Dalam kaitan dengan pembahasan Ilmu Ushul Fiqh ini, perlu dikemukakan bahwa Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Musa Asy Syatibiy (
wafat pada tahun 760 Hijriyah) telah menyusun sebuah kitab Ilmu Ushul Fiqh, yang diberi nama A1 Muwafaqat. Dalam kitab tersebut
selain dibahas kaidah-kaidah juga dibahas tujuan syara’ dalam menetapkan hukum.

Kitab Ushul Fiqih Yang Disusun Para Ulama Belakangan

Kemudian perlu pula diketahui kitab-kitab Ilmu Ushul Fiqh yang disusun oleh para ulama pada masa belakangan ini, antara lain: kitab
Irsyadul Fuhul i/a Tahqiqi/ Haq min ’I/mil Ushu/ oleh Imam Muhammad bin’ A1iy Asy Syaukaniy (wafat pada tahun 1255 Hijriyah),
kitab Tashilu/ Wushu/ i/a ’Ilmi/ Ushu/ oleh Syaikh Muhammad ’Abdur Rahman A1 Mihlawiy (wafat pada tahun 1920 Hijriyah); kitab
Ushu/u/ Fiqh oleh Syaikh Muhammad A1 Khudlariy Bak (wafat pada tahun 1345 Hijriyah/ 1927 Masehi) dan kitab-kitab Ilmu Ushul
Fiqh yang lain.

Penjelasan Mengenai Aliran Mutakallimin

Penjelasan Mengenai Aliran Mutakallimin

Penjelasan Mengenai Aliran Mutakallimin

Penjelasan Mengenai Aliran Mutakallimin
Penjelasan Mengenai Aliran Mutakallimin

Para ulama dalam aliran Mutakalimin

ini dalam pembahasannya dengan menggunakan cara-cara yang digunakan dalam ilmu kalam yakni menetapkan kaidah ditopang dengan alasan-alasan yang kuat baik naqliy (dengan nash) maupun ‘aqliy (dengan akal fikiran) tanpa
terikat dengan hukum furu’ yang telah ada dari madzhab manapun, sesuai atau tidak sesuai kaidah dengan hukum-hukum furu’
tersebut tidak menjadi persoalan. Aliran ini diikuti oleh para ulama dari golongan Mu’tazilah, Malikiyah, dan Syafi’iyah.

Baca Juga: Sifat Allah

Kitab Ilmu Ushul Fiqih

Di antara kitab-kitab Ilmu Ushul Fiqh dalam aliran ini, yaitu :
Kitab Al-Mu’tamad disusun oleh Abdul Husain Muhammad bin Aliy al-Bashriy al-Mu’taziliy asy-Syafi’iy (wafat pada tahun 463
Hijriyah). Kitab Al-Burhan disusun oleh Abdul Ma’aliy Abdul Malik bin Abdullah al-Jawainiy an-Naisaburiy asy-Syafi’iy yang terkenal
dengan nama Imam Al-Huramain ( wafat pada tahun 487 Hijriyah). Kitab AI Mushtashfa disusun oleh Abu Hamid Muhammad bin
Muhammad Al Ghazaliy Asy Syafi ’ iy ( wafat pada tahun 505 Hijriyah). Dari tiga kitab tersebut yang dapat ditemui hanyalah kitab Al
Musht.shfa, sedangkan dua kitab lainnya hanya dapat dijumpai nukilan-nukilannya dalam kitab yang disusun oleh para ulama berikut,
seperti nukilan kitab dari Al Burhan oleh A1 Asnawiy dalam kitab Syahrul Minhaj .
Kitab-kitab yang datang berikutnya yakni kitab Al Mahshul disusun oleh Fakhruddin Muhammad bin Umar Ar Raziy Asy Syafi’iy (wafat
pada tahun 606 Hijriyah). Kitab ini merupakan ringkasan dari tiga kitab yang disebutkan di atas.
Kemudian kitab AI Mahshul ini diringkas lagi oleh dua orang yaitu :
Tajjuddin Muhammad bin Hasan Al Armawiy (wafat pada tahun 656 Hijriyah) dalam kitabnya yang diberi nama Al Hashil. Mahmud bin
Abu Bakar A1 Armawiy (wafat pada tahun 672 Hijriyah) dalam kitabnya yang berjudul At Tahshil. Kemudian A1 Qadliy Abdullah bin
Umar Al Badlawiy (wafat pada tahun 675 Hijriyah) menyusun kitab Minhajul Wu.shul ila ’Ilmil Ushul yang isinya disarikan dari kitab At
Tahshil. Akan tetapi karena terlalu ringkasnya isi kitab tersebut, maka sulit untuk dapat dipahami. Hal inj mendorong para ulama
berikutnya untuk menjelaskannya. Di antara mereka yaitu Abdur Rahim bin Hasan AJ Asnawiy Asy Syafi’iy (wafat pada tahun 772
Hjjriyah) dengan menyusun sebuah kitab yang menjelaskan isi kitab MinhajuI WushuI ila ’Ilmil Ushul tersebut.

Selain kitab Al Mashul yang merupakan ringkasan dari kitab-kitab Al Mu tamad, Al Burhan dan Al Mushtashfa, masih ada kitab yang
juga merupakan ringkasan dari tiga kitab tersebut, yaitu kitab AI Ihkam fi Ushulil Ahkam, disusun oleh AbduI Hasan Aliy yang terkenal
dengan nama Saifuddin Al Amidiy Asy Syafi’iy (wafat pada tahun 631 Hijriyah). Kitab Al Ihkam fi Ushulil Ahkam ini kemudian diringkas
oleh Abu Amr Utsman bin Umar yang terkenal dengan nama Ibnul Hajib AI Malikiy (wafat pada tahun 646 Hijriyah) dalam kitabnya
yang diberi nama Muntahal Su ’li wal Amal fi .Ilmil Ushul wal Jidal. Kemudian kitab itu beliau ringkas lagi dalam sebuah kitab, dengan
nama Mukhtasharul Muntaha. Kitab ini mirip dengan kitab Minhajul Wulshul ila I.lmil Ushul, sulit difahami karena ringkasnya. Hal ini
mengundang minat para ulama berikutnya untuk menjelaskannya. Di antara mereka ialah ’ AdldIuddin ’Abdur Rahman bin Ahmad Al
Ajjiy (wafat tahun 756 Hijriyah) dengan menyusun sebuah kitab yang menjelaskan kitab Mukhtasharul Muntaha tersebut.

Tafsir Kitab Jalalaini Perihal Surah Al-Lahab

Tafsir Kitab Jalalaini Perihal Surah Al-Lahab

Tafsir Kitab Jalalaini Perihal Surah Al-Lahab

Tafsir Kitab Jalalaini Perihal Surah Al-Lahab
Tafsir Kitab Jalalaini Perihal Surah Al-Lahab

 

Arti Surat Al-Lahab

Surah Al-lahab, yaitu surah yang membicarakan tentang Abu Lahab bersama istrinya, walaupun ia yaitu keturunan dari Arab Quraisy, akan tetapi Abu lahab yaitu salah seorang yang selalu menghalang-halangi dakwah Rasulullah saw., Abu Lahab tidak jarang menghasut para pengikut Nabi saw dengan sedemikian rupa untuk menghalang-halangi dakwah Rasulullah dengan tujuan untuk merendahkan pedoman yang di bawah oleh Nabi Muhammad saw. melaluiataubersamaini sikap yang dilakukan oleh Abu Lahab, sehingga Allah menurunkan sebuah surah yang yang nama Abu lahab di awetkan. Lalu apa makna yang terkandung dalam surah Al-Lahab tersebut, diberikut penafsiran dari tafsir Jalalaini.

Baca Juga: Ayat Kursi

Tafsir Jalalaini Tentang Surah Al-Lahab

1. (Binasalah) atau merugilah (kedua tangan Abu Lahab) maksudnya diri Abu Lahab; di sini diungkapkan dengan menggunakan kata-kata kedua tangan sebagai ungkapan Majaz, alasannya sebenarnya kebanyakan pekerjaan yang dilakukan oleh insan itu dikerjakan dengan kedua tangannya; Jumlah kalimat ini mengandung makna doa (dan sebenarnya ia binasa) artinya ia benar-benar merugi. Kalimat ayat ini yaitu kalimat diberita; perihalnya sama dengan perkataan mereka:
Ahlakahullaahu Waqad Halaka, yang artinya:”Semoga Allah membinasakannya; dan sungguh ia benar-benar binasa.”
Ketika Nabi saw. menakut-nakutinya dengan azab, ia berkata, “Jika apa yang sudah dikatakan oleh
anak saudaraku itu benar, maka sebenarnya saya akan menebus diriku dari azab itu dengan harta benda dan anak-anakku.” Lalu turunlah ayat selanjutnya, yaitu:

2. (Tidaklah berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan) maksudnya apa yang sudah diusahakannya itu, yakni anak-anaknya. Lafal Aghnaa di sini bermakna Yughnii, artinya tidak akan berfaedah kepadanya harta dan anak-anaknya.

3. (Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak) yang besar nyalanya; kata-kata ini pun dijadikan pula sebagai julukan namanya, alasannya ia memiliki muka yang berbinar-binar memancarkan sinar merah api.

4. (Dan begitu pula istrinya) lafal ini di’athafkan kepada Dhamir yang terkandung di dalam lafal Yashlaa, hal ini diperbolehkan alasannya di antara keduanya terdapat pemisah, yaitu Maf’ul dan sifatnya; yang dimaksud yaitu Umu Jamil (pembawa) sanggup dibaca Hammalaatun dan Hammaalatan (kayu bakar) yaitu duri dan kayu Sa’dan yang banyak durinya, kemudian kayu dan duri itu ia taruh di tengah jalan daerah Nabi saw. lewat.

5. (Yang di lehernya) atau pada lehernya (ada tali dari sabut) yakni pintalan dari sabut;
Jumlah ayat ini berkedudukan menjadi Haal atau kata keterangan dari lafal Hammaalatal
Hathab yang ialah sifat dari istri Abu Lahab. Atau kalimat ayat ini sanggup dianggap
sebagai Khabar dari Mubtada yang tidak disebutkan

Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah

Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah

Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah

Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah
Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Bani Umayyah

Pada periode daulah bani umayyah terdapat dua jenis pendidikan yang berbeda sistem dan kurikulumnya, yaitu pendidikan khusus dan pendidikan umum. Pendidikan khusus adalah pendidikan yang diselenggarakan dan diperuntukkan bagi anak – anak khalifah dan anak – anak para pembesarnya. Kurikulumnya diarahkan untuk memperoleh kecakapan memegang kendali pemerintahan, atau hal- hal yang ada sangkut pautnya dengan keperluan dan kebutuhan pemerintahan.

Adapun rencana pembelajaran bagi sekolah ini adalah menulis dan membaca al – quran dan hadist, bahasa arab dan syair – syair yang baik, sejarah bangsa arab dan peperangannya, adab kesopaan dalam perilaku pergaulan, pelajaran – pelajaran keterampilan menggunakan senjata, menunggang kuda dan kepemimpinan berperang. Tempat pendidikan berada dalam lingkungan istana. Guru – gurunya ditunjuk oleh khalifah dengan mendapat jaminan hidup yang lebih baik.

Sedangkan pendidikan umum adalah pendidikan yang diperuntukan bagi rakyat biasa. Pendidikan ini merupakan lanjutan dari pendidikan yang telah dilaksanakan sejak zaman nabi masih hidup, beliau merupakan sarana pendidikan yang sangat penting bagi kehidupan islam. Pada masa khulafaur rasyidin dan bani umayyah sebenarnya telah ada tingkat pengajaran dalam pendidikan, hampir seperti masa sekarang. Tingkat pertama ialah khuttab, tempat anak – anak belajar menulis dan membaca atau menghafal al-quran serta belajar pokok – pokok agama islam. Setelah tamat al- quran mereka meneruskan pelajaran ke masjid. Pelajaran di masjid itu terdiri dari tingkat menengah dan tingkat tinggi. Pada tingkat menengah gurunya belumlah ulama besar, sedangkan pada tingkat tinggi gurunya sudah ulama yang mashur ilmu nya, kealimannya serta kesholehannya.

Umumnya pelajaran diberikan guru kepada muridnya satu – persatu, baik di khuttab atau di masjid pada tingkat menengah. Pada tingkat tinggi pelajaran diberikan oleh guru dalam satu khalaqah dan dihadiri oleh seluruh pelajar. Yang bertanggung jawab terhadap kelancaran jalannya pendidikan ini adalah para ulama, merekalah yang memikul tugas mengajar dan memberikan bimbingan serta pimpinan kepada rakyat. Mereka bekerja atas dasar kesadaran dan keinsyafan moral serta tanggung jawab agama, bukan atas dasar pengangkatan dan penunjukkan pemerintah. Karena itu mereka tidak memperoleh jaminan hidup( gaji ) dari pemerintah.

Tujuan dari kedua pendidikan tersebut akan diperoleh kesimpulan bahwa, yang pertama bertujuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan hakikat kebenaran yang ditunjang oleh keyakinan agama. Adanya perbedaan tujuan pendidikan menunjukkan adanya perbedaan pandangan hidup. Yang pertama menghasilkan pimpinan formal yang didukung oleh jabatan kenegaraan dengan wibawa kekuasaan. Sedang yang kedua menghasilkan pimpinan informal yang didukung oleh charisma dan ilmu pengetahuan.

Baca Juga:

5 Sarana dan Prasarana Pendidikan Bani Umayyah

5 Sarana dan Prasarana Pendidikan Bani Umayyah

5 Sarana dan Prasarana Pendidikan Bani Umayyah

5 Sarana dan Prasarana Pendidikan Bani Umayyah
5 Sarana dan Prasarana Pendidikan Bani Umayyah

Masjid

Semenjak berdirinya di zaman nabi muhammad saw masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kehidupa kaum muslimin. Ia menjadi tempat bermusyawarah, tempat mengadili perkara, tempat menyampaikan penerangan agama dan informasi lainnya dan tempat menyelenggarakan pendidikan, baik bagi anak – anak maupun orang dewasa. Kemudian pada masa khalifah bani umayyah berkembang fungsinya sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan, terutama yang bersifat keagamaan. Para ulama banyak mengajarkan ilmunya di masjid.

Peranan masjid sebagai pusat pendidikan dan pengajaran senantiasa terbuka lebar bagi setiap orang yang merasa dirinya cakap dan mampu untuk memberikan dan mengajarkan ilmunya kepada orang yang haus akan ilmu pengeta huan. Setelah pelajaran anak–anak di khuttab berakhir, mereka melanjutkan pendidikannya ketingkat menengah yang dilakukan di masjid.

Dalam masjid terdapat dua tingkatan sekolah : tingkat menengah dan tingkat perguruan tinggi. Pelajaran yang diberikan dalam tingkat menengah dilakukan secara perorangan. Sedang pada tingkat perguruan tinggi di lakukan secara halaqah, murid duduk bersama mengelilingi gurunya yang memberikan pelajaran kepada mereka.

Di tingkat menengah diberikan mata pelajaran alquran dan tafsirnya , hadits dan fiqih. Sedang pada tingkat perguruan tinggi di berikan pelajaran tafsir, hadist, fiqih dan syariat islam. Pendidikan dalam masjid ini memberlakukan prinsip – prinsip pesamaan kesempatan kepada setiap muslim yang hendak menuntut ilmu pengetahuan tanpa membeda – bedakan status sosial ekonomi murid.

khan

Khan berfungsi sebagai asrama untuk murid-murid dari luar kota yang hendak belajar hukum islam pada suatu masjid, seperti khan yang dibangun oleh di’lij ibn ahmad ibn di’lij di suwaiqat ghalib dekat makam suraij. Disamping fungsi itu, khan juga digunakan sebagai sarana untuk belajar privat.

Baca Juga: Rukun Iman

Badi’ah

Secara harfiah badiah artinya dusun badui di padang sahara yang di dalam terdapat padang sahara yang didalam terdapat bahasa arab yang masih fasih dan murni sesuai dengan kaidah bahasa arab. Lembaga pendidikan ini muncul seiring dengan kebijakan pemerintahan bani umayyah untuk melakukan program arabisasi yang digagas oleh khalifah abdul malik ibn marwan. Akibat dari arabisasi ini maka muncullah ilmu qawaid dan cabang ilmu lainnya mempelajari bahasa arab. Melaui pendidikan di badiah ini,maka bahasa arab dapat sampai ke irak, syiria, mesir, lebanon, tunisia, al-jazair, maroko, di samping saudi arabia, yaman, emirat arab,dan sekitarnya. Dengan demikian banyak para penguasa yang mengirim anaknya untuk belajar bahasa arab ke badiah.

Sedangkan madrasah-madrasah yang ada pada masa bani umayyah adalah sebagai berikut:

A. Madrasah mekkah: guru pertama yang mengajar di makkah, sesudah penduduk mekkah takluk, ialah mu’az bin jabal. Ialah yang mengajarkan al qur’an dan mana yang halal dan haram dalam islam.

B. Madrasah madinah: madrasah madinah lebih termasyur dan lebih dalam ilmunya, karena di sanalah tempat tinggal sahabat-sahabat nabi. Berarti disana banyak terdapat ulama-ulama terkemuka.

C. Madrasah basrah: ulama sahabat yang termasyur di basrah ialah abu musa al-asy’ari dan anas bin malik. Abu musa al-asy’ari adalah ahli fiqih dan ahli hadist, serta ahli al qur’an. Sedangkan abas bin malik termasyhur dalam ilmu hadis.

D. Madrasah kufah: madrasah ibnu mas’ud di kufah melahirkan enam orang ulama besar, yaitu: ‘alqamah, al-aswad, masroq, ‘ubaidah, al-haris bin qais dan ‘amr bin syurahbil.

E. Madrasah damsyik (syam): setelah negeri syam (syria) menjadi sebagian negara islam dan penduduknya banyak memeluk agama islam. Maka negeri syam menjadi perhatian para khilafah. Madrasah itu melahirkan imam penduduk syam, yaitu abdurrahman al-auza’iy yang sederajat ilmunya dengan imam malik dan abu-hanafiah.

F. Madrasah fistat (mesir): setelah mesir menjadi negara islam ia menjadi pusat ilmu-ilmu agama. Ulama yang mula-mula madrasah madrasah di mesir ialah abdullah bin ‘amr bin al-‘as, yaitu di fisfat (mesir lama).

Rencana pembelajaran tingkat menengah
Pada umumnya rencana pembelajaran tersebut meliputi mata pelajaran – mata pelajaran yang bersifat umum, sebagai berikut :

A. Alquran
B. Bahasa arab dan kesusastraan- nya.
C. Fiqih
D. Tafsir
E. Hadits
F. Nahwu atau shorof atau balaghah.
G. Ilmu – ilmu pasti
H. Mantiq
I. Ilmu falaq
J. Tarikh ( sejarah )
K. Ilmu – ilmu alam.
L. Kedokteran
M. Musik

Rencana pembelajaran pada pendidikan tinggi

Pada umumnya rencana pembelajaran pada perguruan tinggi islam, dibagi menjadi dua jurusan, yaitu :

a. Jurusan ilmu – ilmu agama dan bahasa serta sastra arab, yang juga disebut sebagai ilmu – ilmu naqliyah, yang meliputi :

1). Tafsir al quran
2.) Hadits
3.) Fiqih dan ushul fiqih
4.) Nahwu atau sharaf
5) balaghah
6.) Bahasa arab dan kesusastraannya.

b. Jurusan ilmu – ilmu umum, yang disebut sebagai ilmu aqliyah meliputi:

1) mantiq
2) ilmu alam dan kimia
3) musik
4) ilmu pasti
5) ilmu ukur
6) ilmu falak
7) ilmu ilahiyah ( ketuhanan )
8) ilmu hewan dan tumbuhan
9) Ilmu kedokteran

Sarana Dan Prasana Pendidikan Masa Bani Umayyah

Sarana Dan Prasana Pendidikan Masa Bani Umayyah

Sarana Dan Prasana Pendidikan Masa Bani Umayyah

 Sarana Dan Prasana Pendidikan Masa Bani Umayyah
Sarana Dan Prasana Pendidikan Masa Bani Umayyah

Khuttab sebagai lembaga pendidikan dasar.

Khuttab atau maktab, berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat menulis. Jadi khuttab adalah tempat belajar menulis. Sebelum datangnya islam khuttab telah ada di negeri arab, walaupun belum banyak dikenal.

Sebenarnya khuttab ini telah ada sejak zaman jahiliyah, yaitu tempat belajar membaca dan menulis bagi anak –anak, hanya saja kurang mendapat perhatian. Hingga pada saat islam lahir, orang quraisy yang telah pandai membaca dan menulispun baru 17 orang saja. Dari khuttab ini anak – anak diberi pelajaran secara perorangan.

Muawiyah yang pernah menjadi anggota dewan penulis wahyu pada zaman nabi di madinah, sangat besar perhatiannya terhadap pendidikan anak – anak. Mereka diberi pelajaran membaca dan menulis, berhitung, olahraga dan sedikit al- quran serta pokok – pokok dasar aqidah dan kewajiban agama. Pada masa khalifah abdul malik bin marwan dan alwalid ibn abdil malik, peranan khuttab sangat penting. Saat ini administrasi pemerintahan telah mulai diterjemahkan dalam bahasa arab.

Sebagai lembaga pendidikan dasar, khuttab telah disebar di seluruh wilayah islam, tumbuh dan berkembang tanpa campur tangan dari pemerintah. Meurut prof dr a syalabi : “ khuttab dari jenis ini sebagai suatu rumah perguruan untuk umum, adalah hasil perkembangan dari pendidikan putra raja – raja dan para pembesar di istana mereka.”.
Rencana pembelajaran di khuttab (pendidikan dasar).

A) membaca alquran dan menghafalnya.
B) pokok – pokok agama islam, seperti cara berwudhu, shalat, puasa dsb.
C) tulis menulis
D) kisah atau riwayat orang – orang besar islam.
E) membaca dan menghafal syair – syair atau nasar ( prosa )
F) berhitung
G) pokok – pokok nahwu dan shorof ala kadarnya.

Baca Juga: Rukun Islam

Halaqah

Halaqah artinya lingkaran. Artinya, proses belajar mengajar di sini dilaksanakan di mana murid-murid melingkari gurunya. Seorang guru biasanya duduk dilantai menerangkan, membacakan karangannya, atau memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan halaqah ini bisa terjadi di masjid atau di rumah-rumah. Kegiatan halaqah ini tidak khusus untuk mengajarkan atau mendiskusikan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, termasuk filsafat.

Majlis

Majlis yang berarti sesi dimana aktivitas pengajaran atau diskusi berlangsung. Ada beberapa macam majlis seperti; majlis al-hadits, majlis ini diselenggarakan oleh ulama/guru yang ahli dalam bidang hadits. Majlis al-tadris, majlis ini biasanya menunjuk majlis selain dari pada hadist, seperti majlis fiqih, majlis nahwu, atau majlis kalam. Majlis al-syu’ara, majlis ini adalah lembaga untuk belajar syair, dan sering dipakai untuk kontes para ahli syair. Majlis al-adab, majlis ini adalah tempat untuk membahas masalah adab yang meliputi puisi, silsilah, dan laporan bersejarah bagi orang-orang yang terkenal. Majlis al-fatwa dan al-nazar, majlis ini merupakan sarana pertemuan untuk mencari keputusan suatu masalah dibidang hokum kemudian difatwakan.

Etika Berbisnis Dalam Islam

Etika Berbisnis Dalam Islam

Etika Berbisnis Dalam Islam

 

Etika Berbisnis Dalam Islam

Kegiatan Bisnis Dalam Islam

Kegiatan bisnis (usaha) dalam kacamata Islam, bukanlah kegiatan yang boleh dilakukan dengan serampangan dan sesuka hati. Islam memberikan rambu-rambu pedoman dalam melakukan kegiatan usaha, mengingat pentingnya masalah ini juga mengingat banyaknya manusia yang tergelincir dalam perkara bisnis ini. Faktanya terdapat ancaman keras bagi pelaku bisnis yang tidak mempedulikan etika, tetapi juga janji berupa keutamaan yang besar bagi mereka yang benar-benar menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan.

Pembahasaan mengenai prinsip Islam dalam dunia usaha tentunya sangatlah panjang, tetapi dalam bahasan singkat ini kita bisa mendapat gambaran tentang garis besar tentang prinsip-prinsip moral yang harus dipegang teguh oleh seorang pebisnis Muslim.

1. Niat yang Ikhlas.

Keikhlasan adalah perkara yang amat menentukan. Dengan niat yang ikhlas, semua bentuk pekerjaan yang berbentuk kebiasaan bisa bernilai ibadah. Dengan kita lain aktivitas usaha yang kita lakukan bukan semata-mata urusan harta an perut tapi berkaitan erat dengan urusan akhirat.
Allah I telah menegaskan bahwa hakekatnya tujuan manusia diciptakan di muka bumi adalah untuk beribadah kepadaNya “ Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepaKu”(QS Adz Dzariyat ayat 56), maka tentunya semua aktivitas kita di dunia tidak lepas dari tujuan itu pula. Rasulullah e bersabda “ Sesungguhnya amalan itu dengan niatnya ….”(Shahih Targhib wa Tarhib No.10)
Contoh niat yang ikhlas dalam usaha bisa berlaku dlam lingkup pribadi maupun sosial. Dalam lingkup pribadi misalnya meniatkan usaha yang halal untuk menjaga diri dari memakan harta dengan cara haram, memelihara diri dari sikap meminta-minta, untuk mendukung kesempurnaan ibadah kepada Allah I, menjaga silaturrahim dan hubungan kerabat dan motivasi positif lainya
Dalam lingkup sosial, misalnya meniatkan diri mencari harta untuk ikut andil dalam memenuhi kebutuhan masyarakat muslim, memberi kesempatan bekerja yang halal bagi orang lain, membebaskan ummat dari ketergantungan terhadap produk “orang lain”, dan motif sosial lainnya.
Niat-seperti diaktakan sebagian orang-adalah bisnisnya para ulama. Karena pahala dari suatu perbuatan bisa bertambah berkali-kali lipat jika didasari dengan niat yang ikhlas.

2. Akhlaq yang Mulia

Menjaga sikap dan perilaku dalam berbisnis adalh prinsip penting bagi seorang pebisnis muslim. Ini karena Islam sangat menekankan perilaku (aklhaq) yang baik dalam setiap kesempatan, termasuk dala berbisnis. Sebagaimana sabda Rasulullah e “….dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik” (Sahihul Jami’ No 97).
Akhlaq mulia dalam berbisnis ditekankan oleh Rasulullah e dalam sabdanya “Seorang pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan dikumpulkan bersama para nabi para shiddiq dan oarang-orang yang mati syahid. Dalam kesempatan lain Rasulullah e bersabda “Semoga Allah memberi rahmatNya kepada orang yang suka memberi kelonggaran kepada orang lain ketika menjual, membeli atau menagih hutang” (Shahih Bukhari No.2076). Di antara akhlaq mulia dalam berbisnis adalah menepati janji, jujur, memenuhi hak orang lain, bersikap toleran dan suka memberi kelonggaran.

3. Usaha yang halal

Seorang pebisnis muslim tentunya tidak ingin jika darah dagingnya tumbuh dari barang haram, ia pun tak ingin memberi makan kelauraganya dari sumber yang haram karena kan sungguh berat konsekuensinya di akhirat nanti. Dengan begitu, ia akan selalu berhati-hati dan berusaha melakuan usaha sebatas yang dibolehkan oleh Allah I dan RasulNya.
Rasulullah e bersabda : “Setiap daging yang tumbuh dari barang haram maka neraka lebih berhak baginya” (Shahihul Jami’ No. 4519)

4. Menunaikan Hak

lim selayaknya bersegera dalam menunaikan haknya, seprti hak aryawannya mendapat gaji, tidak menunda pembayaran tanggungan atau hutang, dan yang terpenting adalah hak Allah I dalam soal harta seperti membayar zakat yang wajib. Juga, hak-hak orang lain dalam perjanjian yang telah disepakati.
Dalil yang menunjukkan hal ini adalh peringatan Rasulullah e kepada oarang mampu yang menunda pembayaran hutangnya “Orang kaya yang memperlambat pembayaran hutang adalah kezaliman” (HR Bukhari, Muslim dan Malik)

5. Menghindari riba dan segala sarananya

Soerang muslim tentu meyakini bahwa riba termasuk dosa besar, yang sangat keras ancamannya. Avertebrata Maka pebisnis muslim akan berusaha keras untuk tidak terlibat sedikitpun dalam kegiatan usaha yang mengandung unsur riba. Ini mengingat ancaman terhadap riba bukan hanya kepada pemakannya tetapi juga pemberi, pencatat, atau saksi sekalipun disebutkan dalam hadits Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah e melaknat mereka semuanya dan menegaskan bahwa mereka semua sama saja (Shahih Muslim No. 1598)

6. Tidak memakan harta orang lain dengan cara bathil

Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengambil harta orang lain secara tidak sah. Allah I dengan tegas telah melarang hal ini dalam kitabNya. Ini meliputi segala kegiatan yang dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain yang menjadi rekakan bisnisnya, baik itu dengan cara riba, judi, kamuflase harga, menyembunyikan cacat barang atau produk, menimbun, menyuap, bersumpah palsu, dan sebagainya. Orang yang memakan harta orang lain dengan cara tidak sah berarti telah berbuat dhalim (aniaya) terhadap orang lain. Allah I berfirman: ”Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan kamu membawa harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan dosa, padahal kamu mengetahui”.(QS Al Baqarah 188)

7. Komitmen terhadap peraturan dalam bingkai syari’at

Soerang pebisnis muslim tidak akan membiarkan dirinya terkena sanksi hukuman undang-undang hukum positif yang berlaku di tenagh masyarakat. Misalnya dalam hal pajak, rekening membenahi sistem akuntansi agar tidak terkena sangsi karena melanggar hukum. Hal itu dilakukannya bukan untuk menetapkan adanya hak membyuat hukum ekpada manusia, tetapi semata-mata untuk mengokohkan kewajiban yang diberikan Allah I padanya dan mencegah terjadinya keruskan yang mungkin timbul

8. Tidak membahayakan/merugikan orang lain

Rasulullah e telah memberikan kaidah penting dalam mencegah hal-hal yang membahayakan, dengan sabdanya “ Tidak dihalalkan melakukan bahaya atau hal yang membahayakan orang lain (Irwa’ul Ghalil No 2175)”. Termasuk katagori membahayakan orang lain adalah menjual barang yang mengancam kesehatan orang lain seperti obat-obatan terlarang, narkotika, makanan yang kedaluwarsa. Atau melakukan hal yang membahayakan pesaingnya dan berpotensi menghancurkan usaha pesaingnya, seperti menjelek-jelekkan pesaing, memonopoli, menawar barang yang masih dalam proses tawar-menawar oleh orang lain. Seorang pebisnis muslim hendaknya bersikap fair dalam berkompetisi, dan tidak melakukan usaha yang mengundang bahaya bagi dirinya maupun orang lain.

9. Loyal terhadap orang beriman

Pebisnis muslim sekaliber apapun tetaplah bagian dari umat Islam. Sehingga sudah selayaknya ia melakukan hal-hal yang membantu kokohnya pilar-pilar masyarakat Islam dalam skala interasional, regional maupun lokal. Tidak sepantasnya ia bekerjasama dengan pihak yang nyata-nyata menampakkan permusuhannya terhadap umat Islam. Ini merupakan bagian dari prinsip Al Wala’ (Loyalitas) dan Al Bara’ (berlepas diri) yang merupakan bagian dari aqidah Islam. Sehingga ketika melaksanakan usahanya, seorang muslim tetap akan mengutamakan kemaslahatan bagi kaum muslimin dimanapun ia berada. Allah I berfirman : “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri -Nya. Dan hanya kepada Allah kembali.” (QS Ali Imran 28)

10. Mempelajari hukum dan adab mu’amalah islam

Dunia bisnis yang merupakan interaksi antara berbagai tipe manusia sangat berpotensi menjerumuskan para pelakunya ke dalam hal-hal yang diharamkan. Baik karena didesak oleh kebutuhan perut, diajak bersekongkol dengan orang lain secara tidak sah atau karena ketatnya persaingan yang membuat dia melakukan hal-hal yang terlarang dalam agama. Karena itulah seorang Muslim yang hendak terjun di dunia ini harus memahami hukum-hukum dan aturan Islam yang mengatur tentang mu’amalah. Sehingga ia bisa memilah yang halal dari yang haram, atau mengambil keputusan pada hal-hal yang tampak samar (syubhat).
Mengingat pentingnya mempelajari hukum-hukum jual beli inilah, Khalifah Umar bin Khatab mengeluarkan dari pasar orang-orang yang tidak paham hukum jual beli.

Rasulullah SAW Senantiasa Membersihkan Tangan

Rasulullah SAW Senantiasa Membersihkan Tangan

Rasulullah SAW Senantiasa Membersihkan Tangan

Rasulullah SAW Senantiasa Membersihkan Tangan
Rasulullah SAW Senantiasa Membersihkan Tangan

Jika kita memandang bahwa membersihkan tangan merupakan langkah pertama dalam hidup sehat, maka hal yang demikian telah di kemukakan oleh beliau. Hal ini dinyatakan dalam sebuah hadits berikut:

Hadits Pertama

“Barang siapa tidur dan tangannya masih berbau atau masih ada bekas makanan dan tidak dicucinya, lalu terkena sedikit gangguan penyakit kulit, maka janganlah menyalahkan, kecuali dirinya sendiri ”
(HR. Ibnu Hibban dan Abu Dawud).

Coba perhatikan akibat yang akan menimpa kita, yaitu sebuah gangguan penyakit kulit, meskipun secara spesifik Rasulullah Saw. tidak menjelaskan jenis penyakit kulit tersebut. Akan tetapi, ini cukup menjadi bukti bahwa kita harus memperhatikan kebersihan tangan.

Hadits Kedua

Padahal, yang disampaikan hadits ini, baru setelah selesai makan, coba kita perhatikan hadits berikut: “Apabila seorang bangun tidur maka jangan langsung memasukkan tangannya ke dalam ember (bak air) air sehingga mencucinya lebih dulu tiga kali. Sesungguhnya, ia tidak mengetahui di mana tangannya bermalam atau tangannya melayang.(HR. Abu Dawud).

Bagi kita yang sudah mempunyai kesadaran terhadap kepentingan kesehatan, tentunya akan melakukan dengan sendirinya, tetapi bagi mereka yang tidak memperhatikan kebersihan tangannya, seakan- akan ia telah mengambil penyakit untuk dirinya sendiri, yang tentunya bisa berpengaruh pada kenyamanan hidupnya. Hadits tersebut merupakan salah satu contoh bahwa Rasulullah Saw. merupakan orang yang sangat perhatian terhadap kebersihan tangan.

Hadits Ketiga

Selain menjaga kebersihan tangan, Rasulullah SAW Menjaga Kebersihan saat Buang Air Kecil dan Besar . Inilah akhlak Rasulullah Saw. yang jika kita mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, kita telah ditunggu dengan predikat sebagai hamba Allah Swt. yang mulia. Dalam hal ini, kita akan mengambil salah satu bagian dari cara beliau menjaga kebersihan, yaitu saat buang air kecil maupun besar. Ini menunjukkan betapa sempurnanya beliau, sesuatu yang kita anggap sebagai hal yang kurang penting dalam kehidupan kita, tetapi menjadi demikian penting di pandangan beliau. Rasulullah Saw. bersabda:
Sesungguhnya, banyak siksa kubur dikarenakan kencing, maka bersihkan dirimu dari (percikan dan bekas) kencing. (HR. Bazzar dan Thahawi).

Dalam hadits lain, Rasulullah Saw. juga bersabda:
“Janganlah kamu kencing di air yang tidak mengalir, kemudian kamu berwudhu dari situ” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam riwayat lainnya, Rasulullah Saw. juga menegaskan:
“Jauhilah (perbuatan) dua orang yang menyebabkan laknat, yaitu orang yang buang air besar dan air kecil di jalanan yang biasa dilewati orang banyak atau di tempat-tempat mereka berteduh.” (HR. Muslim).

Lalu, apa hikmah dari anjuran Rasulullah Saw, tersebut? Rasulullah Saw. sangat memperhatikan hal tersebut, sehingga jika mengikutinya, kita mendapatkan pahala karena mengikuti sunnah. Selain sebagai kebutuhan kita sebagai manusia, karena jika ingin hidup sehat, maka kita harus memperhatikan cara buang air kecil dan buang air besar. Tentunya, saat ini berbeda dengan zaman Rasulullah Saw medianya, tetapi yang perlu diketahui, beliau menyampaikan hal tersebut agar kita menjadi manusia yang bermartabat. Begitu juga pada standar kesehatan modern, kebersihan tempat buang air besar menjadi barometer tentang sehat tidaknya seorang, karena banyak sekali potensi penyakit yang terkandung di tempat tersebut. Dengan demikian, perhatian Rasulullah Saw. ini menjadi sangat selaras dengan kebutuhan standar kesehatan orang-orang modern.

hal lain yang tak kalah pentingnya adalah bahwa Rasulullah SAW Selalu Menjaga Kebersihan Pakaian . Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah pakaian. Sebab, kita butuh untuk melindungi diri dari sengatan matahari, terpaan hujan, dan lain sebagainya. Intinya, pakaian untuk melindungi tubuh. Akan tetapi, seiring perkembangannya, pakaian menjadi simbol dari sebuah kedudukan, status sosial, dan lain sebagainya. Sementara itu, dalam Islam, kita mengenal pakaian sebagai salah satu cara untuk menutup aurat, yang merupakan perintah agama, selain juga bertujuan untuk izzatin nafsi, yakni untuk menghormati tubuh sebagai anugerah yang sangat indah.

Hadits Kelima

Dengan berbagai tujuan pakaian tersebut, maka Rasulullah Saw. telah menganjurkan hal itu beberapa abad yang silam, dengan cara memperhatikan pakaian yang bersih. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda:
“Siapa yang mengenakan pakaian, hendaklah dengan yang bersih.”
(HR. Thahawi).

Hadits tersebut cukup simpel , tetapi mempunyai makna yang mendasar, yaitu untuk memberikan penjelasan bagi kita tentang cara kita menjaga kebersihan pakaian. Dapat dipastikan bahwa kata “pakaian” tidak hanya bermakna pakaian yang biasa kita pakai setiap hari. Namun, lebih dari itu, kita harus memperhatikan “pakaian” keimanan, keislaman, keyakinan, dan lain sebagainya, yang juga harus selalu dibersihkan dari berbagai kotoran apa pun, baik yang berasal dari diri sendiri maupun yang dari luar diri.

Dengan memperhatikan kebersihan pakaian yang meliputi semua yang kita kenakan, tidak hanya terbatas pada baju dan celananya saja, termasuk aksesoris dan lain sebagainya. Maka, menjaga kebersihan semua yang kita pakai (pakaian), bisa membuat kita semakin bermartabat sebagai manusia, serta akan membuat kita lebih nyaman menjalani kehidupan. Sebab, bersih itu selalu identik dengan sehat, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Demikian sekelumit uraian tentang Rasulullah SAW Selalu Membersihkan Tangan , semoga barokah. Aamiin.

Baca Juga: 

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh
Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh

Meremajakan Kulit dan Mengobati Penyakit Kulit

Bagi kita yang hendak merawat dan menjaga kesehatan kulit, puasa sangat baik sebagai medianya. Sebab, organ-organ dalam tubuh yang mengerjakan sel-sel, seperti hati, lambung, dan organ vital, dapat istirahat saat berpuasa. Sehingga, terjadi regenerasi dari organ dalam dan sel-sel memiliki kesempatan memperbaiki diri. Dengan pergantian sel baru maka akan mendorong kulit menjadi remaja, dan puasa adalah media untuk itu.

Sementara itu, untuk mengobati penyakit kulit, saat kita puasa, kandungan air dalam darah berkurang. Pada waktu yang bersamaan, kandungan air yang ada di kulit juga berkurang. Hal ini bisa menambah kekuatan kulit dalam melawan mikroba dan penyakit-penyakit dalam perut, meminimalisir kemungkinan penyakit-penyakit kulit yang menyebar di sekujur badan, seperti sakit Psoriasis (sakit kulit kronis), serta meminimalisir alergi kulit dan membatasi masalah kulit yang mempunyai banyak lemak.

Meningkatkan Fungsi Organ Tubuh

Salah satu manfaat puasa secara fisik ialah dapat meningkatkan fungsi organ tubuh. Sebab, secara sifatnya, puasa tidak mengekang fisik untuk tidak makan dan minum, sehingga organ tubuh dapat istirahat. Sebagaimana kita ketahui, ketika kita bekerja tanpa istirahat maka hasilnya malah tidak baik untuk kesehatan. Berbeda jika kita bisa menyeimbangkan antara istirahat yang bekerja, tentunya lebih produktif dalam bekerja. Sama halnya dengan organ tubuh manusia yang juga butuh keseimbangan untuk lebih memaksimalkan fungsi organ.

Dapat Menyeimbangkan Saraf Simpatis dan Parasimpatis

Salah satu yang sangat mendukung tingkat terjadinya stres dalam tubuh adalah saraf simpatis yang juga membuat jantung berdebar. Sementara, hormon parasimpatis berfungsi untuk memperlambat denyut jantung hingga lebih tenang dan dapat mengontrol emosi. Selain itu, saraf parasimpatis bisa mempengaruhi pengeluaran asam lambung. Maka, puasa mampu menyeimbangkan dua saraf tersebut sehingga tercipta ketenangan dan pengendalian diri yang tinggi.

Menjaga Kadar Gula Darah (Mengobati Diabetes)

Pada saat kita puasa, berarti kita memberikan waktu untuk istirahat pada kelenjar pankreas. Ketika istirahat ini, pankreas dapat mengeluarkan insulin yang menetralkan gula menjadi zat tepung dan lemak dikumpulkan di dalam pankreas. Sebagaimana kita ketahui, fungsi pankreas bisa melemah, bahkan tidak berfungsi sama sekali jika terdapat makanan yang mengandung insulin secara berlebihan. Akibatnya, kadar gula dalam darah merambat naik dan cenderung meningkat, sehingga kita bisa terkena penyakit diabetes.

Meminimalisir Obesitas

Pada saat asupan makanan kita berkurang (puasa) bagi tubuh, menjadi sebab menurunnya berat badan dan kegemukan, karena biasanya, orang yang kegemukan selalu mengonsumsi makan secara berlebihan dari yang dibutuhkan oleh tubuh. Sementara, bagi orang yang gemuk, akan mengalami risiko gangguan kesehatan penyakit kronis yang sangat tinggi, misalnya serangan jantung, diabetes, stroke, hipertensi, dan penyakit kronis lainnya.

Bisa Mengurangi dan Mengontrol Kolesterol , serta Mengurangi Stroke

Dengan puasa yang kita lakukan, dapat menyebabkan berkurangnya minyak dalam tubuh dan menyebabkan berkurangnya kolesterol. Sebab, kolesterol merupakan zat yang tertimbun yang dapat menyebabkan berbagai macam risiko terkena penyakit kronis sebagaimana yang telah disebutkan.

Sementara itu, puasa bermanfaat untuk mengurangi terjadinya stroke, karena puasa mampu memperbaiki kolesterol darah yang dapat menyumbat pembuluh darah dalam bentuk pengapuran dan pengerasan pembuluh darah (atekosklorosis). Sebagaimana kolesterol darah yang kita ketahui, kolesterol yang tinggi bisa menyebabkan terjadinya stroke. Sebab, cabang pembuluh darah terhambat oleh embli yang bisa berupa kolesterol atau udara. Maka, melalui puasa, kita dapat mengontrol kolesterol penyebab stroke tersebut. Sehingga, kolesterol bisa ditekan dan dikurangi.

Mengurangi Sakit Persendian Tulang

Pada saat kita merasa organ-organ tubuh mulai terasa nyeri disertai sakit-sakit, serta kedua tangan dan kaki mengalami nyeri, berarti kita sedang terkena sakit persendian tulang. Biasanya, ini menimpa manusia pada fase-fase akhir usianya, khususnya pada usia antara 30-50 tahun. Sebagaimana kita ketahui, tulang merupakan penopang agar tubuh bisa dengan elastis bergerak. Maka, dengan puasa, sakit karena tulang bisa disembuhkan, paling tidak dapat dikurangi. Sebab, ketika kita berhenti memberikan asupan bagi tubuh (puasa), tulang mendapatkan zat dari organ lain, yang berfungsi untuk menguatkan atau sebagai “pelumas” bagi tulang.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/