Pengertian Sholat berjamaah

Pengertian Sholat berjamaah

Pengertian Sholat berjamaah

Pengertian Sholat berjamaah
Pengertian Sholat berjamaah

Sholat berjama’ah

Sholat berjama’ah hukumnya fardhu kifayah bagi lelaki yang bermukim (bukan musafir) pada setiap sholat lima waktu, sedang sholat jum’at hukumnya fardhu ‘ain.

Syarat-Syarat

Syarat-Syarat Apa yang Diharuskan Bagi Makmum:
Makmum supaya niat mengikuti imam,
Tempat makmum tidak boleh lebih maju dari imam,
Makmum supaya mengetahui gerak perpindahan imam walaupun dengan perantara orang atau benda,
Makmum berusaha agar mendekati imam selain di masjid,Jangan ada penghalang antara makmum dan imam,
Makmum jangan mendahului atau melambatkan dari imam dengan dua macam rukun fi’li (gerakan badan) tanpa ada halangan,
Makmum jangan mendahului atau bersamaan dengan imam dalam mengucapkan takbiratul ihram,
Makmum supaya bersesuaian dalam melakukan hal-hal yang sunnah, dan sangat tercela bila tidak mengikuti, misalnya: tasyahhud awal dan sujud sahwi,
Jangan sampai makmum itu mempunyai persangkaan kalau imamnya wajib mengulangi sholatnya, misalnya: berperasangka kalau imam itu batal wudhu’nya dan lain-lainnya.

Orang yang Sah Diikuti

Orang-Orang yang Sah Diikuti: Sah sholatnya seseorang bila mengikuti orang yang sah sholatnya, kecuali orang lelaki mengikuti orang perempuan, orang yang baik bacaannya mengikuti orang yang tidak pandai membaca. Juga tidak sah sholatnya orang yang sholat tepat pada waktunya mengikuti orang yang sholat gadha’ (yang waktunya tidak tetap dan dapat ditentukan).

Orang-Orang yang Makruh untuk Diikuti: Makruh sholatnya seseorang dibelakang orang yang dibenci oleh sebagian kaum (golongan terbanyak), dibelakang kanak-kanak, di belakang orang yang lahin (buruk bacaannya) yang bacaannya dapat merubah arti yang dibaca, di belakang orang yang belum di khitan sekalipun sudah baligh, di belakang orang yang ceroboh yang tidak dapat menjaga najis dengan baik.

Kelebihan Solat Jama’ah

Shalat berjamaah merupakan syi’ar islam yang sangat agung, menyerupai shafnya malaikat ketika mereka beribadah, dan ibarat pasukan dalam suatu peperangan, ia merupakan sebab terjalinnya saling mencintai sesama muslim, saling mengenal, saling mengasihi, saling menyayangi, menampakkan kekuatan, dan kesatuan.

Allah mensyari’atkan bagi umat islam berkumpul pada waktu-waktu tertentu, di antaranya ada yang setiap satu hari satu malam seperti shalat lima waktu, ada yang satu kali dalam seminggu, seperti shalat jum’at, ada yang satu tahun dua kali di setiap Negara seperti dua hari raya, dan ada yang satu kali dalam setahun bagi umat islam keseluruhan seperti wukuf di arafah, ada pula yang dilakukan pada kondisi tertentu seperti shalat istisqa’ dan shalat kusuf.

Baca Juga:

Pengertian Apa Itu Puasa?

Pengertian Apa Itu Puasa

Pengertian Apa Itu Puasa?

Pengertian Apa Itu Puasa
Pengertian Apa Itu Puasa

Pengertian Puasa

Puasa adalah mencegah diri dengan iringan niat dari melakukan segala hal yang membatalkan sepanjang hari di bulan Ramadhan.
Yang Diwajibkan Berpuasa, Puasa itu diwajibkan atas orang mukallaf, kuat melakukan lagi pula suci dari haid dan nifas.
Saatnya Puasa Diwajibkan, Saat diwajibkan puasa adalah setelah sempurnanya bulan sya’ban yang 30 hari, atau dengan cara melihat masuknya bulan di bulan Ramadhan.

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa, Yaitu :

Dengan sengaja bermuntah.
Memasukkan sesuatu kedalam tubuh melalui anggota yang terbuka (dari mulut, kedua telinga dan dubur), selain yang masuk dari kedua mata, demikian pula suntik tidak membatalkan.
Jima’ ( berhubungan intim suami istri )
Mengeluarkan mani dengan sengaja.
Haid.
Nifas.
Murtad (berbalik menjadi murtad).

Orang yang Dibolehkan Tidak Puasa

Orang-Orang yang Dibolehkan Tidak Puasa (Dibolehkan Berpuasa), yaitu :
Orang sakit yang dikuatirkan tambah berbahaya.
Orang bepergian dalam jarak perjalanan 80 km, atau lebih.
Wanita hamil, wanita yang menyusui anak kalau kuatir membahayakan dirinya atau anak yang disusui.
Orang yang berusia lanjut, baik lelaki maupun perempuan yang tidak mampu berpuasa.

Qadha’nya Puasa

Qadha’nya Puasa, Orang yang diperkenankan tidak berpuasa, wajib mengqadhai puasanya kecuali : Wanita hamil dan yang menyusui anak, jika keduannya kuatir membahayakan anaknya saja, maka kedua orang itu wajib mengqadhai puasa dan membayar fidyah, yaitu untuk setiap harinya sebanyak 1 mud berupa makanan (seperti beras). Untuk orang yang berusia lanjut, baik lelaki maupun perempuan, juga orang sakit yang tidak mungkin diharapkan sembuhnya, di wajibkan memberi makan setiap harinya (yang ia tidak berpuasa) satu mud makanan sesudah berlakunya hari itu (saat matahari terbenam). Keterangan: 1 mud = 1,25 kati. 1 kati = 6 ons. Jadi 1 mud = 8 ons.
Orang yang membatalkan puasanya karena melakukan jima’, Orang tersebut wajib mengqadhai puasanya dan juga diwajibkan membayar fidyah.

Sunnah-Sunnahnya Berpuasa:

Menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.
Berbuka dengan buah kurma atau minum air.
Menahan diri dari kata-kata buruk.
Memperbanyak bersedekah dan membaca Al-Qur’an.
Kaffarah Yaitu, denda berupa memerdekakan hamba sahaya perempuan yang beragama islam, menjalankan puasa berturut-turut selama dua bulan selain hari yang diperuntukkan guna mengqadhai puasanya, atau memberi makan enam puluh orang miskin, yang setiap orangnya 1 mud dari makanan menurut kebiasaan yang di makan oleh orang yang dinegerinya.

Hari-Hari yang Diharamkan untuk Berpuasa:

Hari raya idul fitri.
Hari raya idul adha dan hari tasyrik, yaitu tiga hari sesudah idul adha.
Hari syak (hari yang meragukan yakni sehari sebelum masuknya bulan Ramadhan), hari pertengahan bulan sya’ban kecuali untuk menyempurnakan puasa yang dilakukan sebelumnya.

Hari-Hari Disunnahkan untuk Berpuasa, Yaitu hari senin dan kamis dari setiap pekan, hari-hari putih yaitu setiap tanggal 13-14-15 pada setiap bulan (menurut bulan Hijriyah) atau biasa yang disebut Hari Purnama, Enam hari yang berupa kelanjutan hari raya idul fitri (puasa enam syawal), Hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), demikian pula dari Asyura (tanggal 10 Muharram) pada setiap tahun.

Puasa untuk Orang yang Meninggal, Barangsiapa yang meninggal sedangkan ia masih menanggung hutang puasa yang belum diqadhai, dan bagi orang yang tidak ada alasan yang menyebabkan ia menunda qadha’nya, maka walinya wajib mengeluarkan 1 mud makanan untuk setiap hari yang ia tinggalkan, atau diperbolehkan bagi walinya untuk berpuasa sebagai pengganti atau salah seorang keluarga dari yang meninggal. Bagi orang lain (yang bukan keluarga) juga dibolehkan mengqadhai bila memperoleh wasiat sebelum meninggalnya atau setelah memperoleh izin dari wali yang meninggal.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/tata-cara-sholat-tahajud-niat-doa-dan-keutamaan-lengkap/

Berhaji dan Umroh Serta Rukun dan Sunnah-Sunnahnya

Berhaji dan Umroh Serta Rukun dan Sunnah-Sunnahnya

Berhaji dan Umroh Serta Rukun dan Sunnah-Sunnahnya

Berhaji dan Umroh Serta Rukun dan Sunnah-Sunnahnya
Berhaji dan Umroh Serta Rukun dan Sunnah-Sunnahnya

Fikih Imam Syafi’i

Berhaji dan umroh

Haji dan Umrah, Hukum keduanya adalh fardhu dan hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup. Keduanya wajib atas setiap orang islam, merdeka mukallaf serta kuat dan sehat, mampu untuk biaya pergi dan ada pula harta yang ditinggalkan, aman dalam perjalanan pulang perginya ke tanah suci.

Rukunnya Haji, yaitu :

Niat.
Wuquf di Arafah.
Thawaf.
Sa’i.
Mencukur dan memendekkan rambut. Yang tersebut diatas juga menjadi rukunnya umrah kecuali Wuquf di Arafah.

Yang Wajib Waktu Berhaji,

Ihram dari miqat (tempat ihram dimulai).
Bermalam di Muzdalifah.
Bermalam di Mina.
Melontarkan jumrah (jumrah ula, wushta, dan aqabah).
Thawaf wada’ (mohon diri) bagi orang yang hendak pulang ke negerinya.

Sunah Haji

Yang Disunnahkan Waktu Berhaji, yang menjadi sunnahnya haji itu banyak, antara lain ialah :

Mandi untuk berihram, berwuquf dan untuk melontar jumrah pada hari-hari tasyrik.
Memakai wangi-wangian sebelum berihram.
Memakai kain panjang (sebagai penutup tubuh bagian bawah) dan selendang (penutup bagian atas) yang baru dan berwarna putih.
Mengucapkan Talbiyah dan dzikir, juga diwaktu wuquf dan diwaktu berdo’a di Masjidil Haram.

Orang-Orang yang Meninggalkan Salah Satu Rukun dari Rukun-Rukunnya Haji. Barangsiapa yang meninggalkan salah satu rukun haji dan umrah, maka tidak diperkenankan melepasakan ihramnya sampai ia menunaikan apa yang ditinggalkan kecuali Wuquf. Bila orang itu terlambat dari saatnya wuquf, mak ia boleh tahallul (melepaskan) dengan jalan berumrah. Orang yang demikian berkewajiban mengqadhai hajinya dan wajib membayar fidyah dam (menyembelih kambing) di tanah suci.

Orang-Orang yang Meninggalkan Apa yang Diwajibkan atau Disunnahkan ketika Haji. Barang siapa yang meninggalkan kewajiban haji, maka ia wajib menyembelih seekor kambing di tanah suci, sedang kalau tidak mampu maka wajib mengganti dengan berpuasa tiga hari sebelum hari nahar (hari Adha) dan melanjutkan puasanya tujuh hari lagi setelah kembali ketanah airnya. Menggenai orang yang meninggalkan sunnah haji, maka orang itu tidak dikenai kewajiban apa-apa.

Hal-Hal yang Diharamkan Selama Berihram:

Memakai pakaian yang ada jahitannya.
Menutup kepala bagi lelaki, dan bagi perempuan menutup wajah dan kedua telapak tangan. 3
Memakai wangi-wangian.
Menyisir dan berminyak rambut.
Mencukur rambut.
Memotong kuku.
Berjima’.
Melaksanakan akad nikah.
Berburuh.
Memotong pahon di tanah suci.

Hal-Hal yang Menjadi Wajib Karena Pelanggara

Hal-Hal yang Menjadi Wajib Karena Pelanggaran Terhadap yang Diharamkan ketika Berihram. Dengan sebab pelanggaran terhadap yang diharamkan ketika ihram, maka wajiblah orang itu membayar fidyah dengan menyembelih kambing dan menyedekahkan di tanah suci, atau memberi makan 3 sha’ untuk orang miskin. Denda dari pelanggaran ini tidak termasuk mereka yang melaksanakan akad nikah (karena memang tidak terkena denda apa-apa). Adapun berjima’ dengan sengaja, maka batallah hajinya. Bagi yang berburu, maka berkewajiban menyembelih binatang yang serupa dengan binatang yang diburu (dalam hal besar dan kecilnya binatang) atau boleh juga dengan memberi makan yang harganya senilai dengan hewan buruannya, kalau menebang pohon, maka diwajibkan menyembelih lembu kalau yang ditebang itu pohon yang besar dan kambing kalau yang ditebang itu pohon kecil.

Syarat-Syarat Berthawaf:

Suci dari hadats dan khobats (najis).
Menutup aurat.
Mulainya dari hajar aswad dan menepatkan dengan bauhnya sebelah kiri.
Letak ka’bah supaya berada disisi kirinya orang yang thawaf.
Jangan ada maksud lain selain melakukan thawaf.
Melakukan sebanyak tujuh kali.
Niatnya selain untuk thawaf nusuk (sunnat).

Syarat-Syaratnya Sa’i:

Sa’i supaya dilakukan sesudah mengerjakan thawaf yang sah.
Memulainya dari bukit shafa dan diakhiri di bukit marwah.
Hendaklah dilakukan tujuh kali (empat kali dari shafa ke marwah, tiga kali dari marwah ke shafa).

Hal-Hal yang Membatalkan Haji

Hal-Hal yang Membatalkan Haji, Hal yang membatalkan haji adalah berjima’ dengan sengaja. Orang yang berbuat demikian wajib menIhshar (Terhalang),yempurnakan hajinya dan mengqadha’ serta menyembelih seekor onta. Jika tidak mendapatkan, maka menyembelih sapi, kalau masih juga belum diperoleh maka menyembelih 7 ekor kambing. Kalau 7 ekor kambing belum bisa didapatkan, maka wajib membuat penilaian untuk harga seekor onta dan dengan harga taksiran itu digunakan untuk membeli makanan. Kalau usaha terakhir tidak berhasil maka wajib atas orang itu berpuasa dan untuk setiap harinya senilai 1 mud.

Orang yang Tidak Kuasa Melakukan Ibadah Haji, Barangsiapa yang tidak kuasa disebutkan lanjutnya usia atau karena sakit yang tidak dapat diharapkan sembuhnya, maka wajiblah mewakilkan kepada orang lain (mengangkat seorang selaku pengganti dirinya).

Siapa yang Meninggal Sedang Ia Belum Berhaji, Maka wajiblah atas walinya untuk mengupah orang lain dan harta diwariskan. Orang yang di upah tadi supaya menyempurnakan haji dan umrahnya orang yang meninggal itu.
Ihshar ialah terhalang atau mencegah dari melaksanakan haji dan umrah. Orang yang demikian boleh bertahallul (lepas diri ihramnya) dengan membayar dam, yaitu menyembelih seekor kambing kemudian mencukur rambutnya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-ringkas-dan-lengkap-hadhorot/

Menelusuri Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid

Menelusuri Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid

Menelusuri Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid

Menelusuri Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid
Menelusuri Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid

Kapan Ilmu Tajwid Mulai Ada ? Pertanyaan inilah yang akan menjadi topik pembahasan kita kali ini. Kumpulan Sejarah akan mengulas dan menelusuri hal yang terkait dengan sejarah munculnya ilmu tajwid yang dirangkum dari beberapa sumber yang dapat dipercaya. Untuk itu mari simak informasi selengkapnya dibawah ini.

Menelusuri Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid

Jika ditanyakan kapan asal mula ilmu Tajwid, maka pada dasarnya ilmu tajwid ini sudah ada sejak Al-Quran diturunkan kepada Baginda Rasulullah SAW. Ini karena Rasulullah SAW sendiri diperintahkan untuk membaca al-Quran dengan tajwid dan tartil seperti yang disebut dalam

وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا

“Bacalah al-Quran itu dengan tartil (perlahan-lahan)”. (QS. Al-Muzammil 73 : 4)

Kemudian Rasulullah SAW mengajar ayat-ayat tersebut kepada para sahabat dengan bacaan yang tartil. Para sahabat menguasai semua itu seperti yang telah di ajarkan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Diantaranya seperti Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit dan lain sebagainya.

Semua ini menunjukkan bahwa pembacaan al-Quran bukanlah suatu ilmu hasil dari ijtihad (fatwa) para ulama yang di olah berdasarkan dalil-dalil dari al-Quran dan Sunnah, tetapi pembacaan al-Quran adalah suatu yang taufiqi (diambil terus) melalui riwayat dari sumbernya yang asal yaitu sebutan dan bacaan Rasulullah SAW.

Akan tetapi bagaimanapun, yang dianggap sebagai penulisan ilmu tajwid yang paling awal adalah ketika adanya kesadaran akan perlunya mushaf Utsmaniah yang ditulis oleh Sayyidina Utsman diberikan titik-titik pada huruf-hurufnya, kemudian baris-baris bagi setiap huruf dan pelafalannya. Gerakan ini diketuai oleh Abu Aswad Ad-Duali dan Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi, dimana ketika itu Khalifah umat Islam memiliki tugas  besar untuk hal ini disaat umat Islam mulai ada yang melakukan kekeliruan didalam bacaan.

Itu karena ketika masa Sayyidina Ustman, belum diberi titik-titik maupun harakat, sebab bertujuan memberi keleluasaan kepada para sahabat dan tabi’in pada masa itu untuk membacanya sebagaimana yang mereka telah ambil dari Rasulullah SAW, berdasarkan dengan dialek bangsa Arab yang beraneka ragam.

Tetapi setelah berkembang luasnya agama Islam ke seluruh tanah Arab serta takluknya Roma dan Persia ke tangan umat Islam pada tahun pertama dan kedua Hijrah, bahasa Arab mulai bercampur dengan bahasa penduduk-penduduk yang ditaklukkan umat Islam. Ini telah menyebabkan terjadinya beberapa kekeliruan didalam penggunaan bahasa Arab dan demikian juga dengan pembacaan al-Quran. Maka, al-Quran Mushaf Utsmaniah diberi tambahan titik-titik dan harakat pada huruf-hurufnya untuk menghidari kekeliruan-kekeliruan tersebut.

Awal Mula Pembukuan Ilmu Tajwid

Orang yang pertama kali menghimpun ilmu ini dalam bentuk kitab adalah Al-Imam al-‘Adhim Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam pada abad ke-3 Hijriyah didalam kitabnya “Kitabul Qiraa-at/  كتاب القراءات”. Sebagian ada yang mengatakan bahwa orang yang pertama mengarang dan menghimpun ilmu-ilmu qira-at adalah Hafsh bin Umar Ad-Duriy.

Adapun pada abad ke-4 Hijriyah, masyhur seorang imam bernama Al-Hafidz Abu Bakar bin Mujahid Al-Baghdadiy, ia merupakan orang yang pertama kali mengarang kitab mengenai bacaan 7 qira’at yang masyhur (Kitab al-Sab’ah). Ia wafat pada tahun 324 H.

Memasuki abad ke-5 Hijriyah, masyhur nama Al-Hafidz Al-Imam Abu ‘Amr Ustman bin Sa’id Ad-Dani, pengarang kitab Al-Taysir (التيسير) yang berisi tentang qira-at Sab’ah dan menjadi sandaran pada ahli Qurra’. Ia juga memiliki banyak karangan dalam bidang seni qiraat dan lainnya. Dimasa ini juga masyhur, seorang ulama bernama Al-Imam Makki bin Abi Thalib Al-Qaisi Al-Qairawani, ia mengarang bermacam-macam kitab tentang qira’at dan ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Pada abad ke-6 Hijriyah, tampil seorang ulama yang menjadi rujukan tokoh-tokoh ulama yang sezaman dengannya maupun datang setelahnya, dengan karangannya bernama “Hirzul Amani wa Wajhut Tahani” atau terkenal dengan “Matan Syathibiyah”, berisi 1173 bait tentang qira-at sab’ah. Ia adalah Abul Qasim bin Fairah bin Khalaf bin Ahmad Ar-Ru’aini Al-Syathibi al-Andalusi, wafat pada tahun 590 H.

Setelah itu, banyak ulama yang menekuni bidang ini disetiap masa, menegakkan panji-panji al-Qur’an baik dengan membaca dan mengaplikasikannya, hingga akhirnya muncul tokoh penting dalam bidang ilmu tajwid dan qira-at yaitu Imamul Muhaqqiqin wa Syaikhul Muqri-iin Muhammad Ibnu Al-Jazari Al-Syafi’I dengan karangannya Al-Nasyr fil Qiraa-atil ‘Asyr, Thayyibatun Nasyr dan Ad-Duratul Mudhiyyah yang mempolopori bahwa ilmu qira-at ada 10, yaitu sebagai pelengkap apa yang telah dinyatakan oleh Imam al-Syathibi didalam kitab Hirzul Amani.

Imam Al-Jazari juga telah mengarang karangan yang berasingan bagi ilmu Tajwid dalam kitabnya “At-Tamhid” dan puisi beliau yang lebih terkenal dengan nama “Matan Al-Jazariah”. Imam Al-Jazari telah mewariskan karangan-karangannya yang begitu banyak berserta bacaannya sekali yang kemudiannya telah menjadi ikutan dan panduan bagi karangan-karangan ilmu Tajwid dan Qiraat serta bacaan al-Quran hingga ke hari ini.

Tujuan Belajar Ilmu Tajwid

Tujuan ilmu tajwid yang paling utama adalah lancarnya seseorang dalam pengucapan lafal Al-Quran dengan ilmu yang telah disampaikan oleh ulama kita dengan memberikan sifat tarqiq (tipis), tebal, mendengung, panjang, serta pendeknya, dan seterusnya. Maka ilmu ini tidak akan bisa diketahui dengan sempurna kecuali harus berguru secara langsung kepada ulama yang ahli dalam ilmu ini.

Sekian informasi yang dapat Kumpulan Sejarah berikan buat Sobat semua mengenai Sejarah Munculnya Ilmu Tajwid, semoga artikel diatas dapat membantu Sobat dalam memahami sejarah ilmu tajwid sehingga dapat menambah wawasan keilmuan Sobat seputar dunia Islam pada umumnya.

Baca juga artikel:

Sejarah Kodifikasi Hadith

Sejarah Kodifikasi Hadith

Sejarah Kodifikasi Hadith

Sejarah Kodifikasi Hadith
Sejarah Kodifikasi Hadith

Hadith Pertama Kali

Ide penghimpunan hadith nabi secara tertulis untuk pertama kali dikemukakan oleh khalifah Umar bin al Khottab. Ide tersebut tidak dilaksanakan oleh umar karena Umar merasa khawatir umat islam akan terganggu perhatiannya dalam mempelajari al-Qur’an. Pembatasan niat Umar untuk menghimpun hadith nabi itu dikemukakan sesudah beliau melakaukan sholat istikharah selama satu bulan. Kebijaksanaan Umar dapat di mengerti karena pada zaman Umar daerah islam telah semakin meluas dan hal itu membawa akibat jumlah orang yang baru memeluk islam semakin bertambah banyak.

Periode Tabi’in

Memasuki periode tabi’in, sebenarnya kekhawatiran membukukan/ kodifikasi hadith tidak perlu terjadi, justru pada periode ini telah bertabur hadith-hadith palsu yang mulai bermunculan setelah umat islam terpecah belah menjadi golongan-golongan, yang semula berorientasi politik berubah menjadi faham keagamaan, seperti khawarij, syi’ah, murjji’ah dan lain-lain. Perpecahan innin terjadi sesaat setelah peristiwa tahkim yang merupakan rentetan peristiwa yang bersal dari terbunuhnya khalifah Umar bin Affan ra. Untuk mengukkuhkan eksistensi masing-masing golongan mereka merasa perlu menciptakan hadith palsu.

Kemudian semua karya tentang hadith dikumpulkan pada paruh akhir abad ke-2H/8M atau selama abad ke-3/9M. Berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa di seputar awal abad ke-2H,sejumlah kecil muhadditsun (ahli kitab) telah mulai menulis hadith,meskipun tidak dalam himpunan yang runtut. Belakangnan koleksi kecil ini menjadi sumber bagi karya-karya yag lebih besar. Meskipun begitu kebanyakan hadith yang ada dalam himpunan-himpunan disampaikan melalui tradisi lisan. Sebelum dicatat dalam himpunan-himpunan tersebut belum pernah dicatat ditempat manapun.

Ada beberapa pendapat yang berkembang mengenai kapan kodifikasi secara resmi dan serentak di mulai.

a. Kelomppok syi’ah

mendasarkan pendapat hasan al-sadr (1272-1354 H), yang menyatakan bahwa penullisan hadis telah ada sejak masa nabi dan kompilasi hadis telah ada sejak awal khalifah Ali bin Abi Thalib (35 H), terbukti adanya kitab Abu Rafi’, kitab al-Sunan wa al-Ahkam wa al-Qadaya.

b. Sejak abad 1 H

yakni atas prakasa seorang gubernur mesir ‘Abdul aziz bin marwan yang memerintahkan kepada kathir bin M urrah, seorang ulama hamsy untuk mengumpulkan haadis, yang kemmudian disanggah syuhudi ismail dengan alasan bahwa perintah Abdul Aziz bin M arwan bukan merupakan perintah resmi, Iegal dan kedinasaan terhadap ulama yang berada di luar wilayah kekuasaannya.

c. Sejak awal II H

yakni masa khalifah ke-5 dinasti Abbasiyyah, Umar ibn Abdul Aziz yang memerintahkan kepada semua gubernur dan ulama di daerah kekuasaannya untuk mengumpulkan hadith-hadith nabi. Kepada ibnu shihab al-Zuhri, belliau berkirim surat yang isinya “perhatikanlah hadith Rasulullah SAW, lalu tulislah. Karena aku mengkhawatirkan lenyapnya ilmu itu dan hilangnya para ahli” dan kepada Abu Bakar Muhammad ibn ‘Amr ibn hazm, beliau menyatakan: “tulislah kepadaku hadis Rasulillah SAW yang ad padamu dan hadis yang ada pada ‘Amrah (amrah binti Abdurrahman, w. 98 H ), karena aku mengkhawatirkan ilmu itu a.kan hilang dan lenyap”

Pendapat ketiga ini yang di anut jumhur ulama hadis, dengan pertimbangan jabatan khalilfah gaungnnya lebih besar daripada seorang gubernur, khalifah memerintah kepada para gubernur dan ulama dengan perintah resmi dan Iegal serta adanya tindak lanjut yang nyata dari par ulama masa itu untuk mewujudkannya dan kemudian menggandakan serta menyebarkan ke berbagai tempat.

Dengan demikian, penulisan hadith yang sudah ada dan marak tetapi belum selesai di tullis pada masa Nabi, baru diupayakan kodifikasinya secara serentak, rresmi dan massal pada awal abad II H yakni masa Umar bin Abdul A ziz, meskipun bisa jadi inisiatif tersebut berasal dari ayahnya, Gubernur mesir yang pernah mengisyaratkan hal yang sama sebelumnya.

Ada pun siapa kodifikator hadis pertama, muncul nama Ibnu Shihab al- Zuhri (w, 123H), karena beliaulah yang pertama kali mengkomplikasikan hadith dalam satu kitab dan menggandakannya untuk memberikan ke berbagai wilayah sebagaiman pernyataannya: “Umar bin Abdul Aziz memerintahkan kepada kami menghimpun sunnah, lalu kami menulisnya beberpa buku.” Kemudian belliau mengirimkan satu buku kepada setiap wilayah yang berada dalam kekuasaannya. Demikian pandangan yang diruntut sebagian sejarawan dan ahli hadith. Adapun yang berpandangan Muhammad abu Bakr ibn Amr ibn Hazm yang mengkodifikasikan hadith pertama, ditolak oleh banyak pihak, karena tidak menggandakannya hasil kodifikasi Ibn Amr Hazm untuk disebarluaskan ke berbagai wilayah.

Meski demikian, ada juga yang berpendapat bahwa kodifikator hadith sebelum adanya instruksi kodifikasi dari khalifah Umar ibn ‘Abdul Aziz telah dilakukan, yakni oleh khalid bin Ma’dan (w, 103 H). Rasyid Ridha (1282-1354 H) berpendapat seprti itu, berdasarkan periwayatan, khalid telah menyusun kitab pada masa itu yang diberi kancing agar tidak terlepas lembaran-lembarannya. Namun pendapat inni ditolak ‘Ajjaj al-Khatib, karena penulisan tersebut bersifat individual, dan hal tersebut telah dilakukan jauh sebelumnya oleh para sahabat. Terbukti adanya naskah kompilasi hadis dari abad 1H, yang sampai pada kita, yakni al-Sahafiah al-Sahihah.

Tulisan-tulisan hadis pada abad masa awal sangat penting sebagai dokumentasi ilmiah dalam sejarah, sebagai bukti adanya penulisan hadis sejak zaman Rasulullah, sampai dengan masa pengkodifikasian resmi dari Umar bin abdul Aziz. Bahkan sampai masa sekarang.

Baca Juga: 

Pembukuan hadith Lengkap

Pembukuan hadith Lengkap

Pembukuan hadith Lengkap

Pembukuan hadith Lengkap
Pembukuan hadith Lengkap

Penjelasan

Sebagain jawaban terhadap pemalsuan hadith maupu tuduhan ahli hadith telah menyabarkan riwayat yang bertentangan, musykil dan penuh kufarat, kalangan ahli hadith melakukan beberapa cara untuk memelihara hadith.
Pertama, dengan menginvestarisasi kritik yang di lintarkan oleh kelompok mutakallimin, kemudian memberikan penjelasan dan jawabannya. Hal ini di lakukan oleh Muhammad Abdullah bin Muslim bin qataybah al-dinuri (w. 276 H ) dalam kitabnya ta’wil mukhtalaf al hadith.

Kandungan Hadith

Kandungan hadith ini mengandung tiga pokok pembicaraan:
1. Tantangan terhadap kritik dari kelompok penantang hadith.
2. Mengkompromikan yang nilai bertentangan
3. Jawaban terhadapa tuduhan bahwa hadith dipenuhi oleh msykilat dan shubhat.
Kedua, menghimpun hadith dengan system musnad, yakni pengelompokkan yang didasarkan kepada nama seorang sahabat, tidak dibedakan apakah riwayatnya sama atau tidak. Jadi tidak disusun menurut sistematika fiqh.

Musnad Abad ke-3

Di antara musnad yang disusun pada abad ketiga adalah:
a. Musnad ubaydillah bin musa (w. 213 H)
b. Musnad al-humaydi (w. 219 H)
c. Musnad musaddad (w. 237 H)
d. Musnad ishaq bin rahawayh (w. 237 H)
e. Musnad usman bin shaybah (w. 239 H)
f. Musnad ahmad bin hanbal (w. 241 H)

Ketiga, menyusun riwayat dengan basis fiqh, yaitu dengan pengelompokkan berdasarkan kitab fiqh, dalam hal ini ada yang menghimpun semua hadis, tetapi ada pula membatasi pada shahih saja. Perintis metode ketiga ini adalah Muhammad bin isma’il al bukhari (w. dawud dan al-tirmidzi. Metode yang terakhir inilah yang memberi kemudian pada pengkaji hadith.
Literature hadith yang berhasil disusun pada abad ketiga yang sampai saat ini dapat di temukan:
1. Al-musnad, imam ahmad
2. Al-jami’ al shahih,imam al-bukhari
3. Shahih muslim, imam muslim
4. Al-sunnah al-kubra dan mujtaba, imam al-nawawi
5. Al-sunnah, imam abu dawud
6. Al-jami’ al-shahih atau sunan, imam tirmidzi
7. Al-sunnah, imam ibnu majjah al-qazwayni.

Menurut perkiraan ahli hadith literature tersebut telah mengakar sebagian besar riwayat dari Rasulullah SAW, sehinggah sepakat tujuh kitab tersebut sebagai induk kitab hadith (ummahat kutub al-hadis).

Tujuh Literature Hadith

Dari tujuh literature hadith di atas dapat di bedakan menjadi tiga istilah, yaitu:

a. Al-musnad, yang disusun berdasarkan entri nama sahabat.
b. Al-jami’ al-shahih, yang dimaksud oleh penyusunnya untuk menghimpun hadith yang shahih saja.
c. Al-sunnah, yang di maksud oleh penyusunya menghimpun semua kategori hadith, shahih, hasan atau dha’if.

Kemudian timbul juga peristilah untuk memudahkan penyebutan literature secara bersama yaitu:

1. Al-shahihaini, untuk kitab Bukhari dan Muslim.
2. Al-thalatha’, untuk kitab Abu Dawud, Tirmidzi, nsa’i.
3. Al-arba’ah, untuk Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan ibnu Majjah.
4. Al-sittah, untuk kitab Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan ibnu majjah.
5. Al-sab’ah, untuk kitab Al-Bukhari, Muslim,Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majjah, dan Ahmad.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/

Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya

Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya

Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya

Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya
Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya

A. Pengertian kodifikasi hadith

Secara etimologi kata kodifikasi berasal dari kata codification yang berarti penyusunan menurut aturan/sistem tertentu. Atau dari kata tadwin dapat berarti perekaman (recording), penulisan (writing down), pembukuan (booking), pendaftaran (listing, registration). Lebih dari itu, kata tadwin juga berarti pendokumentasia, penghimpunan atau pengumpulan serta penyusunan. Maka kata tadwin tidak semata-mata berarti penulisan, namun ia mencakup penghimpunan, pembukuan dan pendokumentasian.
Jadi yang dimaksud dengan kodifikasi hadith secara resmi adalah penulisan hadith nabi yang dilakukan oleh pemerintah yang di susun menurut aturan dan sistem tertentu yang diakui oleh masyrakat.

Perbedaannya

Ada pun perbedaan antara kodifikasi hadith secara resmi dan penulisan hadith adalah:

1. Kodifikasi hadith secara resmi dilakukan oleh suatu lembaga adminstratif yang diakui oleh masyarakat, sedanng penulisan hadith dilakukan perorangan.
2. Kegiatan kodifikasi hadith tidak hanya menulis, tapi juga mengumpulkan, menghimpun dan mendokumntasiannya.
3. Tadwin hadith dilakukan secra umum yang mellibatkan segala perangkat yang dianggap kompeten teradapnya, sedang penulisan hadith dilakukan oleh orang-orang tertentu.

B. Latar Belakang

Hadith sebagai salah satu sumber hukum dalam islam memiliki sejarah perkembangan dan penyebaran yang kompleks. Sejak dari masa pra-kodifikasi, zaman Nabi, Sahabat, dan Tabi’in hingga setelah pembukuan pada abad ke-2 H. Perkembangan hadits pada masa awal lebih banyak menggunakan lisan, dikarenakan larangan Nabi untuk menulis hadits. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran Nabi akan tercampurnya nash al-Qur’an dengan hadits. Selain itu, juga disebabkan fokus Nabi pada para sahabat yang bisa menulis untuk menulis al-Qur’an. Larangan tersebut berlanjut sampai pada masa Tabi’in Besar. Bahkan Khalifah Umar ibn Khattab sangat menentang penulisan hadits, begitu juga dengan Khalifah yang lain. Periodisasi penulisan dan pembukuan hadits secara resmi dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (abad 2 H). Terlepas dari naik-turunnya perkembangan hadits, tak dapat dinafikan bahwa sejarah perkembangan hadits memberikan pengaruh yang besar dalam sejarah peradaban Islam.

Faktor-faktor pendorong kodifikasi hadith

Ada beberapa hal yang mendorong ‘Umar bin Abdul al- Aziz’ mengambil inisiatif untuk memerintahkan para gubernur dan pembantunya untuk mengumpulkan dan menullis hadis, diantaranya adalah:
1. Tidak ada khawatiran bercampurnya hadis dan al-Qur’an, karena al-Qur’an ketika itu telah di buktikan dan disebarluaskan.
2. Munculnya kekhawatiran akan hilang dan lenyapnya hadis karena banyak sahabat yang meninggal dunia akibat usia atau sering terjadinya peperangan.
3. Semakin maraknya pemalsuan hadis yang dilatar belakangi perpecahan politik dan perbedaan mazhab dikalangan umat islam. Hal ini upaya untuk menyelamatkan hadis dengan cara pembukuannya setelah melalui seleksi yang ketat harus segera dilakukan.
4. Karena telah semakin luasnya daerah kekuasaan islam disertai dengan semakin banyak dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi umat islam, maka hal tersebut menurut mereka untuk mendapat petunjuk dari hadis nabi SAW, selain petunjuk al-Qur’an. Senada dengan beberapa faktor-faktor yang telah dijelaskan.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/

Tata cara shalat Idain

Tata cara shalat Idain

Tata cara shalat Idain

Tata cara shalat Idain
Tata cara shalat Idain

 

Shalat Idain

Shalat Idain dapat dikerjakan di tanah lapang yang bersih atau di dalam masjid. Sebelum melaksanakan Shalat terlebih dahulu harus suci dari hadas dan najis baik tempat dan badan kita. Selain itu kita harus menutup aurat dan berpakaian yang suci. Jadi syarat dan rukun Shalat id sama dengan Shalat fardhu yang kita kerjakan 5 kali sehari semalam, yang membedakan adalah niat, jumlah takbir dan waktu pelaksanaannya.

Cara Mengerjakannya

Adapun cara mengerjakannya adalah :
a. Shalat Id terdiri dari dua rakaat
b. Shalat Id sebaiknya dilakukan dengan berjamah,
c. Setelah para jamaah sudah siap, barulah salat dengan aba-aba: ashalaatul jaamia’ah yang artinya marilah kita salat.
d. Niat shalat Id.

اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ اِمَامًا/مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى (sholat idul fitri)
“Ushalli sunnatal li’iidil fitri rak’ataini (imamam/makmumam) lillahita’aalaa”

Artinya : “saya niat sholat sunat Idul Fitri 2 rakaat menjadi imam/makmum karena Allah Ta’ala”
اصلى سنة لعىد الدح ركعتىن امام/امامومالله تعالالى
“Ushalli sunnatal li’iidil Adha rak’ataini (imamam/makmumam) lillahita’aalaa”

Artinya : “saya niat sholat sunat Idul Adha 2 rakaat menjadi imam/makmum karena Allah Ta’ala”
e. Takbiratul ihkram.
f. Membaca do’a iftitah.
g.Pada rakaat pertama sesudah niat, takbiratul ihram kemudian membaca do’a iftitah, selanjutnya takbir 7 kali dan setiap habis takbir disunatkan membaca tasbih.

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
“Subhaanallaah wal hamdulillaahi wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar.”

Artinya : “Maha Suci dan segala puji bagi allah serta tiada tuhan selain allah, allah maha besar”

Setelah takbir

h.Setelah takbir 7 kali dan membaca tasbih tersebut, kemudian membaca al-Fatihah dan disambung dengan membaca surat yang yang disukai, yang lebih utama ialah membaca surat al-Qof atau surat al-A’la (Sabbihisma Rabbikal a’la)
i.Setelah membaca surat dilanjutkan ruku’, I’tidal dan diteruskan sujud dua kali seperti dalam shalat wajib hingga selesai reka’at pertama.
j.Pada reka’at kedua, sesudah berdiri untuk reka’at kedua membaca takbir 5 kali dan setiap takbir disunatkan membaca tasbih. Kemudian membaca al-Fatihah dan dituskan dengan bacaan surat yang kita sukai, yang lebih utama surat al-Ghosyiyah.
k.Dilanjutkan dengan ruku, i’tidal, sujud dua kali, tahiyat akhir dan salam.
l.Setelah selesai shalat Id, khotib melaksanakan khutbah dua kali, pada khutbah pertama membaca takbir 9 kali dan pada khutbah kedua membaca takbir 7 kali.
m.Hendaknya dalam khutbah Idul fitri berisi penerangan zakat fitrah dan pada hari raya Idul Adha berisi penerangan tentang ibadah haji dan hukum kurban. Semua jamaah harus mendengarkan dengan tenang.

Baca Juga: 

Macam-Macam Shalat ID 

Macam-Macam Shalat ID 

Macam-Macam Shalat ID

Macam-Macam Shalat ID 
Macam-Macam Shalat ID

Shalat Id

Sholat id siapa yang tidak tau tentang sholat ini yaitu sholat dimana kita melakukannya pada saat bulan syawal dan dzhulhijjah 1 kali dalam 1 tahun hukum sholat ini adalah sunnah muakad dan sangat diaanjurkan oleh rasulullah.

Macam- macam shalat Id

Shalat Id dibedakan menjadi dua, yaitu :

a.Shalat Idul Fitri

Shalat Idul Fitri adalah shalah shalat sunnah dua rekaat yang dilakasanakan oleh seluruh umat Islam pada tiap tanggal 1 Syawal. Shalat sunnah dilaksanakan setelah kaum muslimin melaksanakan puasa Ramadhan selama sebulan penuh. Idul Fitri berasal bahasa Arab yaitu dari kata Id dan Fitri. Kata Id berarti kembali dan kata Fitri berarti suci atau bersih. Jadi kata Idul Fitri berarti kembali menjadi suci.

Di Indonesia Hari raya Idul Fitri sudah begitu populer, dan hampir seluruh umat Islam melaksanakan shalat ini, karena Hari Raya idul Fitri dijadikan moment untuk dapat berkumpul dan bersilatur rahmi bersama keluarga dan seluruh warga kampung. Hari raya ini begitu istimewa karena juga sebagai hari kemenangan umat Islam setelah melaksanakan puasa satu Ramadlan penuh yang diakhiri dengan pembagian Zakat Fitrah.

Kegiatan beribadah yang berupa shalat Idul Fitri ini oleh umat Islam di Indonesia kebanyakan di laksanakan di tanah lapang seperti lapangan olah raga, jalan raya dan tanah lapang lainnya. Tetapi kadang-kadang karena hujan ataupun tanah lapang yang tidak memungkinkan umat Islam melaksankannya di Masjid-masjid.

b.Shalat Idul Adha

Shalat Idul Adha adalah shalat sunnah 2 rekaat yang dilaksanakan ummat Islam setiap tanggal 10 Zulhijjah. Idul Adha berasal dari kata Id dan Adha. Id berarti kembali dan Adha berarti qurban. Jadi kata Idul Adha berarti kembali berqurban, maksudnya kembali melakukan penyembelihan hewan qurban, sehingga dapat disebut juga dengan istilah Idul Qurban. Idul Adha dapat disebut juga dengan istilah Idul Haji karena pada tanggal 10 Zulhijjah tersebut umat Islam yang menunaikan ibadah haji telah menyelesaikan rangkaian ibadah haji. Demikianlah penjelasannya semoga bermanfaat.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/5-rukun-nikah-dalam-islam-yang-harus-diketahui/

Inilah yang dilakukan parasahabat nabi keti masuk masjid

Inilah yang dilakukan parasahabat nabi keti masuk masjid

Inilah yang dilakukan parasahabat nabi keti masuk masjid

Inilah yang dilakukan parasahabat nabi keti masuk masjid
Inilah yang dilakukan parasahabat nabi keti masuk masjid

 

Shalat Tahiyatul Masjid

sholat sunnah tahiyatul masjid ya itu adalah sholat yang dimana sahabat rasulullah selalu melakukannya ketika berada didalam masjid sholat ini memiliki hukum sunnah muakkad yang dianjurkan oleh baginda nabi Muhamad SAW.

Waktu mengerjakannya

Shalat sunnah tahiyatul masjid di kerjakan pada setiap waktu ketika seseorang masuk masjid dan ingin duduk di dalamnya. Termasuk di dalamnya waktu waktu yang terlarang untuk shalat. Menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan lainnya, yang dikuatkan juga oleh Ibnu Taimiyah.

Cara mengerjakannya

Cara mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid sama seperti mengerjakan shalat sunnah lainnya hanya niatnya yang berbeda.

Niat shalat sunnah tahiyatul masjid

اُصَلِّى سُنَّةً تَحِيَّةُ الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالَى
USHOLLI SUNNATAN TAHIYYATUL MASJIDI ROK’ATAINI LILLAAHI TA’AALAA
Artinya :
Saya niat shalat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat karena allah ta’ala.

Niat cukup dalam hati karena niat sendiri berarti ilmu atau mengetahui. Maka setiap orang yang mengetahui melakukan ibadah shalat, maka ia sudah disebut berniat. Tidak perlu ada lafazh niat di lisan karena tidak ada satu dalil dari Al Qur’an dan hadits pun yang membicarakan anjuran tersebut. Masalah niat ini berlaku bagi shalat dan ibadah lainnya.

Jumlah rakaat shalat sunnah tahiyatul masjid

Shalat sunnah tahiyatul masjid itu 2 rakaat bagi siapa saja yang masuk masjid dan mau duduk di dalamnya.

Anjuran mengerjakannya

Dari Abu Qatadah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

“Jika salah seorang dari kalian. Masuk masjid , maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum duduk. ” ( Hr Al bukhari dan Muslim)

Dari jJbir bin Abdullah Ra , dia berkata bahwa Sulaik Al Ghatafani datang pada hari jumat , Sementara Rasulullah SAW sedang berkhutbah , dia pun duduk,
Maka beliau bertanya.

” Wahai Sulaik, Bangun dan sholat sunah 2 rakaat kerjakanlah dengan ringan.”
Kemudian beliau bersabda.
“Jika salah seorang dari kalian datang pada hari jumat imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia shalat dua rakaat dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan.” (HR Muslim )

Hikmah disyariatkan shalat tahiyatul masjid

Tahiyatul masjid tergolong sebagai penghormatan terhadap masjid. Seolah memberi ucapan salam ketika masuk ke suatu tempat sebagaimana orang yang memberi salam kepada sahabatnya ketika bertemu.

Imam an nawawi berkata bahwa sebagian yang lain mengibaratkannya dengan memberi. Salam kepada pemilik masjid. Karena maksud dilakukannya shalat tahiyatul masjid adalah mendekatkan diri kepada Allah bukan kepada masjid. Sebab seseorang yang masuk ke rumah orang lain yang diberi salam adalah pemilik bukan rumahnya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-teks-khutbah-nikah-bahasa-arab-latin-dan-terjemahannya/