Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dakwah serta istilah-istilah dalam dakwah

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dakwah serta istilah-istilah dalam dakwah

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dakwah serta istilah-istilah dalam dakwah

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dakwah serta istilah-istilah dalam dakwah
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dakwah serta istilah-istilah dalam dakwah

Hal-hal yang harus diperhatikan dan disiapkan sebelum berdakwah yaitu :

Bersikap lemah lembut, tidak berhati kasar, dan tidak merusak
Menggunakan akal dan selalu dalam koridor mengingat allah
Mengunakan bahasa yangmudah dimengerti
Materi harus bersumber dari al-qur’an dan hadis
Mengutamakan musyawarah dan diskusi untuk memperoleh kesepakatan
Menyampaikan dengan ikhlas dan sabar dan tidak menghasut orang lain.
Dalam penyampaian dakwah seorang dai harus memiliki sifat-sifat yang khas, dengna sifat yang khas ini maka materi dakwah dapat tersampaikan dengan mudah dan dapat menarik perhatian bagi umat manusia.

sifat-sifat yang harus dimiliki oleh para da’i

Adapun sifat-sifat yang harus dimiliki oleh para da’i adalah :

Berakhlak mulia

berakhlak mulia yaitu perbuatannya selalu mengikuti tuntunan ajaran islam dan tidak selalu menyimpang

Amanah

amanah yaitu segala perbuatannya maupun tindakannya dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan

Sidik

sidik yaitu mempunyai sikap jujur dalam kehidupan sehari-hari

Ikhlas

ikhlas yaitu melakukan dakwah dipakai untuk seluruh umat manusia di dunia

Sabar

sabar yaitu selalu siap dalam medapatkan halangan maupaun rintangan

Siqah

siqah yaitu memiliki iman dan takwa kepada allah.Swt

Wai’yi

wai’yi (peka)  yaitu meiliki kepekaan kepada agama, sosial, budaya, dan politik sehingga tidak ketinggalan perkembagan dan ilmu pengetahuan.

istilah – istilah dalam dakwah

Dalam dakwah kita akan mengenal beberapa istilah yang memiliki sesuatu yang sama. Adapun istilah-istilah sebagaiberikut :

Tarbiyah – tarbiyah yaitu usaha menumbuhkan dan mengambangkan potensi yang dimiliki oleh umat muslim

Mauziah – mauziah yaitu memberikan pelajaran islamiyah kepada seseorang yang masih berbuat dosa agar mau bertobat dijalan-nya dengan menggunakan cara-cara yang baik (Q.S An-nahl (16) : 125)

Tauziah – tauziah yaitu wasiat atau saran yang diberikan kepada orang lain agar dapat mau menjalankan perintah – perintah allah sawt dan menjauhi larangan-nya (Q.S Al-Asr (103) : 1-3)

Tazkir – tazkir yaitu mengigatkan keluarganya agar dapat menghindarkan diri dari api neraka dengan senantiasa dapat berintropeksi diri dan ingat kepada allah. Swt dengan jalan bertaubat kepadanya (Q.S Al-ala (87) : 9)

Amal maruf nahi munkar – amal maruf nahi munkar yaitu menyerupakan yang baik danmencegah akan keburukan dan kemunkaran (Q.S Ali-imran (3) : 104)

Tabsyir – tabsyir yaitu kabar yang gembira yang diberikan kepada umat manusia yang beriman kepada allah swt.

Tanzir – tanzir yaitu peringatan atau ancaman bagi mereka yang durhaka ( Q.S Al-baqarah (2) : 119)

Semoga artikel yang singkat ini dapat menambah pengetahuan anda serta memberikan pemahan kepada sesama umat muslim dan muslimah untuk saling memberi nasehat untuk berada di jalan yang benar, salah satu metodenya adalah dakwah.

Baca juga: 

Usaha-usaha khalifah umar bin abdul aziz dan jasa-jasanya

Usaha-usaha khalifah umar bin abdul aziz dan jasa-jasanya

Usaha-usaha khalifah umar bin abdul aziz dan jasa-jasanya

Usaha-usaha khalifah umar bin abdul aziz dan jasa-jasanya
Usaha-usaha khalifah umar bin abdul aziz dan jasa-jasanya

Seiring dengan pola hidup dan gaya kepemimpinannya, khalifah umar bin abdul aziz banyak meninggalkan hasil dari usaha-usahanya baik dalam bidang agama, ilmu pengetahuan, sosial politik, ekonomi, militer, serta dakwah dan perluasan wilayah.

Nah, dalam artikel kali ini saya ingin megupas sekilas tentang Usaha-usaha khalifah umar bin abdul aziz serta jasa-jasa khlalifah umar bin abdul aziz, apa saja itu? Untuk lebih jelasnya simak uraian berikut ini.

Bidang agama

Berikut usaha khalifah umar bin abdul aziz dalam bidang agama :
Menghidupkan kembali ajaran al-qur’an dan sunah nabi
Mengadakan kerja sama dengan ulama-ulama besar, seperti hasan al basri dan sulaiman bin umar
Menerapkan hukum berdasarkan syariah islam dengan tegas
Mengupayakan pegumpulan hadis-hadis untuk dipilih antra hadis sahih dan palsu yang dikerjakan oleh imam muhammad bin muslim bin syihab az zuhr

Bidang pengetahuan

Di bidang ilmu pengetahuan, khalifah umar bin abdul aziz serius mengadakan pendalaman berbagai ilmu pengetahuan. Dia memindahkan sekolah kedokteran iskadariyah (mesir) ke antioksa dan harran (turki)

Bidang sosial Politik

Di bidang sosial politk, khalifah umar bin abdul aziz melaksanakan gebrekaan besar-besaran antara lain:
Mengutamakan perilaku politk yang berlandasakan nilai kebenaran dan keadilan
Mengutus delegasi untuk mengawasi kinerja para gebernur di berbagai daerah agar tetap menerapkan kebenaran dan keadilan dalam memimpin
Menggeser kedudukan gebernur yang tidak melaksanakan perintah agama dengan kaaffah dan menzalimi rakyad

Bidang ekonomi

Upaya yang dilakukan khalifah umar bin abdul aziz di bidang ekonomi antara lain:

Meringankan pajak bagi rakyat
Menerbitkan aturan tentang pelaksanaan timbangan dan takaran
Memberantas model kerja paksa
Memberdayakan lahan pertanian, irigasi , membangun sumur-sumur dan jalan raya
Memperhatikan fakir miskin dan anak yatim

Bidang militer

Khlalifah umar bin abdul aziz tidak mengutamakan bidang militer dalam kepemimpinannya, artinya ia tidak memiliki angkatan perang yang kuat. hal itu disebabkan kepemimpinannya berorintasi pada upaya menciptakan kesejahteraan rakyat. Sehingga ia lebih cendrung memprioritas pembangunan dalam negeri.

Bidang dakwah dan perluasan wilyah

Sebagaimana orientasi kepemimpinannya, maka khalifah umar bin abdul aziz berkeyakinan bahwa untuk memperluas wilyah lebih efektif bila dilakukan melalui dakwah dan penekanan pada amar ma’ruf nahi munkar, bukan menggunakan militer.

Tradisi lama yang mencela ali bin abi thalib beserta keluarganya pada setiap khutbah shalat jum’at atau tidak lagi dilakukan oleh khalifah umar bin abdul aziz karena menurutnya hal ini tidak baik. Ia lebih suka membacakan firman allah.swt yang tercantum dalam al-quran suah An-nahl/16 ayat 90 artinya :

“sesungguhnya allah menyuruh ( kamu ) berlaku adil berbuat kebajikan, memberi kepada kerabat, dan allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan, dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”

Jasa-jasa khalifah umar bin abdul aziz

Khalifah umar bin abdul aziz benyak sekali meninggalkan jasa, antara lain:
Menumbuhkan rasa perdamaian berdasarkan pada syariat islam
Menciptakan kesejahteraan rakyat
Menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia
Menerbitkan undang-undang tentang pertahanan berdasarkan keadilan
Membuka lahan pertanian yang diserta dengan sistem irigasi
Mendirikan masjid-masjid sebagai sarana dakwah
Menganggarkan dana bagi masyarakat yang kurang mampu
Membukukan banyak sekali hadist-hadist rasulullah saw
Demikianlah uraian singakat tentang umar bin abdul aziz yang menjadi khalifah dalam waktu singkat yaitu dua setangah tahun, tetepi prestasi yang telah dilakukan sangat luar biasa. Pembangunan di segala bidang telah dia hasilkan, terutama kesejahteraan rakyad. Dalam memimpin ia selalu memberi contoh : misalnya menerapkan gaya hidup sederhana sebagimana khulafaur rasyidin , tidak memperkaya diri ataupun korupsi

Segera setalah menjadi khalifah, umar bin abdul aziz meninggalkan kesukaanya yaitu mengenakan pakaian dari bahan sutera barganti lebih suka mengenakan pakaian dari bahan yang sederhana.

Ia juga meninggalkan kesukaanya memakai wewangian. Seluruh harta kekayaan miliknya dan milik istrinya yang berupa tanah perkebunan dan perhiasan di jual kemudian uangnya diserahkan ke baitul mal. Khalifah umar bin abdul aziz juga mengharmkan dirinya untuk menggunakan kekayaan negera bagi diri dan keluarganya

Sifat dan sikap kepribadiannya tidak lepas dari kehidupannya pada masa mudanya yang banyak mempelajari AL-Qur’an dan sunnah nabi saw. Serta dekat dengan para ulama.

Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/2018/09/kumpulan-bacaan-sholawat-nabi-muhammad-saw.html

Pengertian dakwah, tujuan, sifat-sifat dan materi dakwah

Pengertian dakwah, tujuan, sifat-sifat dan materi dakwah

Pengertian dakwah, tujuan, sifat-sifat dan materi dakwah

Pengertian dakwah, tujuan, sifat-sifat dan materi dakwah
Pengertian dakwah, tujuan, sifat-sifat dan materi dakwah

Pengertian dakwah

Secara bahasa (etimologi) dakwah berasal dari kota do’a yadu’u-da’watan yang artinya mengajak, Menyeru atau memanggil.

Adapun menurut istilah dakwah yaitu menyeru seorang atau masyarakat untuk mengikuti jalan yang sudah ditentukan oleh islam berdasarkan al-qur’an dan hadis untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Secara umum pengertian dakwah dan tablig tidak memiliki perbedaan yang signifikan, keduanya sama –sama sebagai tindakan manusia dalam menyampaikan maupun menyeberkan ajaran islamiah kepada orang lain.

Tujuan dakwah

Setiap orang yang berdakwah memiliki tujuan-tujuan tertentu dalam meyampaikan pesan-pesan dakwahnya, berikut ini tujuan dakwah :

Menyampaikan tentang syariat islam
malaksanakan amar ma’ruf nahi munkar
Melaksanakan perintah allah untuk berdakwah
Menyerukan semua umat manusia di dunia agar sanantiasa mengikuti ajaran allah swt. danjuga dapat menjauhi larangan-nya (tujuan umum).
Menambah ketakwaan dankeimanan dari setiap manusia
Mendidk umat muslim ke jalan yang benar
Memberi pentunjuk yang benar di jalan allah.swtMenambah keimanan bagi umat muslim
Memotivasi manusia agar tidak menyimpang dari ajaran islam

Sifat-sifat dakwah

Adapaun sifat-sifat dakwah diantaranya :
Jelas dan tegas
Luas
Humanisme
Luwes
Tadrij (berangsur-angsur)
Tidak memberatkan
Seirama dengan fitrah manusia
Istiqamah

Materi dakwah

Materi-materi dakwah sebagai berikut :

Fikih ibadah – meteri yang berkaitan dengan ibadah kepada allah. Seperti wudhu, shalat, puasa, haji dan yang lainnya.

Fikih al ahwal as sakhsiyah – meteri yang berkaitan dengan masalah kekeluargaan. Seperti pernikahan, talak ,nasab, persusuan, nafkah, warisan dan yang lainnya.

Fikih mu’amalah – materi yang berkaitan denganperbuatan manusia dan hubungan diantara mereka, seperti jual beli , jaminan , sewa menyewa, pengadilan dan yang lainnya.

Fikih siasah syar’iah – meteri yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban pemimpin (kepada negara ). Seperti menegakan keadilan, memberatas kedzaliman dan menerapkan hukum-hukum syari’at, serta yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban rakyat yang dipimpin, seperti kewajiban taat dalam hal yang bukan maksiat dan yang lainnya.

Fikih al ukubat – meteri yang berkaitan dengan hukuman terhadap pelaku –pelaku kejahatan, serta penjagaan keamanan dan ketertiban seperti hukuman terhadap pembunuh, pencuri , pemabuk dan yang lainnya.

Fiqih as siyar – materi yang mengatur hubungan negeri islam dengan negari lainnya. Yang berkaitan dengan pembahasan tentang perang atau damai dan yang lainnya.

Adab dan akhlak – meteri yang berkaitan dengan akhlak dan prilaku yang baik maupun yang buruk.

Nah, sekarang kamu sudah tahu bukan Pengertian dakwah, tujuan dakwah, sifat-sifat dakwah serta materi dakwah

Dakwah berarti mengjak kepad orang lian untuk menjadi orang yang yang lebih baik dari segi agama dan ahlak.

Dakwah secara lebihluas bukan berarti hanya menyeru saja, namun dapat dilakukan dimana saja.

Dakwah bisa menggunakan tingkah laku yang baik yang mengajarkan seseorang tentang akhlak karimah.

Dakwah dapat dilakukan dengan media internet, dalam abad 20 ini perkembagan teknologi dapat dijadikan metode dakwah yang lebih efektif dan efesien, selama niat dan tujuannya sama insyaallah semua yang menyampaikan dakwah dan yang mempelajari ilmu agama sama-sama mendapatkan pahala sesuai apa yang ia niatkan.

Semoga artikel yang singkat ini dapat menambah pengatahuan anda, serta dapat menambah ketakwaan kita kepada allah. Swt.

Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/2016/05/30-doa-doa-harian-terlengkap-beserta-artinya.html

Biografi Ibnu Katsir

Biografi Ibnu Katsir

Biografi Ibnu Katsir

Biografi Ibnu Katsir
Biografi Ibnu Katsir

Ibnu Katsir adalah seorang yang ahli tentang ilmu-ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah, sejarah umat-umat terdahulu dan yang akan datang. Allah memberinya karunia berupa pandangan yang tajam dan mendalam tentang sunnatullah yang terjadi berkaitan dengan kemaslahatan, kerusakan, kemajuan, kemunduran serta kehancuran umat ini. Kitabnya, Tafsir Ibnu Katsir, merupakan kitab paling penting yang ditulis dalam masalah tafsir al-Qur’anul ‘Adziim, paling agung, paling banyak diterima dan tersebar di tengah umat ini.

Nama Lengkap

Nama lengkap beliau adalah Abul Fida’, Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi ad-Dimasyqi, lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Beliau lahir pada tahun 701 H di sebuah desa yang menjadi bagian dari kota Bashra di negeri Syam. Pada usia 4 tahun, ayah beliau meninggal sehingga kemudian Ibnu Katsir diasuh oleh pamannya. Pada tahun 706 H, beliau pindah dan menetap di kota Damaskus.

Riwayat Pendidikan

Ibnu Katsir tumbuh besar di kota Damaskus. Di sana, beliau banyak menimba ilmu dari para ulama di kota tersebut, salah satunya adalah Syaikh Burhanuddin Ibrahim al-Fazari. Beliau juga menimba ilmu dari Isa bin Muth’im, Ibn Asyakir, Ibn Syairazi, Ishaq bin Yahya bin al-Amidi, Ibn Zarrad, al-Hafizh adz-Dzahabi serta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Selain itu, beliau juga belajar kepada Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mizzi, salah seorang ahli hadits di Syam. Syaikh al-Mizzi ini kemudian menikahkan Ibn Katsir dengan putrinya.

Selain Damaskus, beliau juga belajar di Mesir dan mendapat ijazah dari para ulama di sana.

Prestasi Keilmuan

Berkat kegigihan belajarnya, akhirnya beliau menjadi ahli tafsir ternama, ahli hadits, sejarawan serta ahli fiqih besar abad ke-8 H. Kitab beliau dalam bidang tafsir yaitu Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjadi kitab tafsir terbesar dan tershahih hingga saat ini, di samping kitab tafsir Muhammad bin Jarir ath-Thabari.

Para ulama mengatakan bahwa tafsir Ibnu Katsir adalah sebaik-baik tafsir yang ada di zaman ini, karena ia memiliki berbagai keistimewaan. Keistimewaan yang terpenting adalah menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an (ayat dengan ayat yang lain), menafsirkan al-Qur’an dengan as-Sunnah (Hadits), kemudian dengan perkataan para salafush shalih (pendahulu kita yang sholih, yakni para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in), kemudian dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.

Karya Ibnu Katsir

Selain Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, beliau juga menulis kitab-kitab lain yang sangat berkualitas dan menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya, di antaranya adalah al-Bidayah Wa an-Nihayah yang berisi kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, Jami’ Al Masanid yang berisi kumpulan hadits, Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits tentang ilmu hadits, Risalah Fi al-Jihad tentang jihad dan masih banyak lagi.

Kesaksian Para Ulama

Kealiman dan keshalihan sosok Ibnu Katsir telah diakui para ulama di zamannya mau pun ulama sesudahnya. Adz-Dzahabi berkata bahwa Ibnu Katsir adalah seorang Mufti (pemberi fatwa), Muhaddits (ahli hadits), ilmuan, ahli fiqih, ahli tafsir dan beliau mempunyai karangan yang banyak dan bermanfa’at.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata bahwa beliau adalah seorang yang disibukkan dengan hadits, menelaah matan-matan dan rijal-rijal (perawinya), ingatannya sangat kuat, pandai membahas, kehidupannya dipenuhi dengan menulis kitab, dan setelah wafatnya manusia masih dapat mengambil manfa’at yang sangat banyak dari karya-karyanya.

Salah seorang muridnya, Syihabuddin bin Hajji berkata, “Beliau adalah seorang yang plaing kuat hafalannya yang pernah aku temui tentang matan (isi) hadits, dan paling mengetahui cacat hadits serta keadaan para perawinya. Para sahahabat dan gurunya pun mengakui hal itu. Ketika bergaul dengannya, aku selalu mendapat manfaat (kebaikan) darinya.

Akhir Hayat

Ibnu Katsir meninggal dunia pada tahun 774 H di Damaskus dan dikuburkan bersebelahan dengan makam gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Meski kini beliau telah lama tiada, tapi peninggalannya akan tetap berada di tengah umat, menjadi rujukan terpercaya dalam memahami Al Qur’an serta Islam secara umum. Umat masih akan terus mengambil manfaat dari karya-karyanya yang sangat berharga.

Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/

STUDI KOMPARATIF ZAKAT DAN PAJAK

STUDI KOMPARATIF ZAKAT DAN PAJAK

STUDI KOMPARATIF ZAKAT DAN PAJAK

STUDI KOMPARATIF ZAKAT DAN PAJAK
STUDI KOMPARATIF ZAKAT DAN PAJAK

Secara bahasa zakat berarti timbul (numuww) dan bertambah (ziyadah). Jika diucapkan, zak al-zar’. Artinya adalah tanaman itu tumbuh dan bertambah. Jika diucapkan zakat al-nafakah, artinya nafkah tumbuh dan tambah jka diberkati. Kata ini juga sering di gunakan untuk makna thaharah.

Adapun zakat menurut syara’ adalah hak yang wajib dikeluarkan dari harta. Mazhab maliki mendefinisikan dengan, “merngeluarkan sebagian yang khusus dari harta yang khusus pula yan telah mencapai nisab (batas kuantitas yang melebihi mewajiban zakat ) kepada orang-orang yang wajib menerimanya. Dengqan catatan, kepemilikan itu penuh dan mencapai setahun, bukan barang tambang atau pertanian.

Mazhab hanafi mendefinisikan zakat dengan “menjadikan sebagian harta yang khusus dari harta yang khusus sebagai milik orang yang khusus, yan d ditentukan oleh syariat karna Allah SWT.” Kata “ menjadikan sebagian harta sebagai milik” (tamlik) dalam definisi diatas dimaksudkansebagai penghindaran dari kata ibahah (pembolehan).

Ibadah zakat merupakan ibadah yang melibatkan setidaknya tiga pihak. Zakat dari muzaki, oleh amil untuk mustahik. Begitu zakat ditunaikan, tugas muzaki berakhir. Peran pengelolahan selanjutnya diambilalih amil. Maka sukses tidanya zakat, kini tergantung amil. Rumah sakit Cuma-Cuma dan penyelenggaraan pendidikan tanpa biaya, bukan hanya amat bermanfaat bagi mustahik. Bagi amil sendiri, kegiatan itu bisa langsung dipantau seksama dengan target-target keberhasilan yang dapat diukur. Kegiatan itu bukan lagi asal menyantuni tanpa pengembangan sebuah sistem terpadu.

Persamaan Zakat dan Pajak

Terdapat beberapa persamaan pokok antara zakat dan pajak, antara lain sebagai berikut:
Unsur Paksaan.

Seorang muslim yang memiliki harta yang telah memenuhi persyaratan zakat, jika melalaikan atau tidak mau menunaikannya, penguasa yang diwakili oleh para petugas zakat, wajib memaksanya. Hal ini sejalan dengan firman-Nya dalam surat At-Taubah: 103:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dalam sebuah riwayat Abu Dawud dikemukakan bahwa ketika banyak orang mengingkari kewajiban zakat, di zaman Abu Bakar As-siddiq, beliau bersabda:

Artinya:
“ …Demi Allah, saya akan memerangi orang yang memisahkan kewajban sholat dengan dengan kewajiban zakat. Sesungguhnya zakat itu hak yang terkait dengan harta. Demi Allah, jika mereka menolak mengeluarkan zakat unta yang biasa mereka tunaikan kepada Rasullah saw, pastiaku akan memeranginya, karena penolakan tersebut.”

Demikian pula halnya seorang yang sudah termasuk kategori wajib pajak, dapat dikenakan tindakan paksa padanya, baik secara langsung maupun tidak langsung, jika wajib ajak melalaikan kewajibannya. Tindakan paksa tersebut dilakukan secara bertingkat mulai dari peringatan, teguran, surat paksa, sampai dengan penyitaan.

Unsur Pengelola.

Asas pelaksanaan pengelolaan zakat didasarkan pada firman Allah SWT yang terdapat dalam surat at-taubah : 60.
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[647].

[647] yang berhak menerima zakat ialah: 1. orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya. 2. orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan. 3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. 4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. 5. memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. 6. orang berhutang: orang yang berhutang Karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7. pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain. 8. orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

Berdasarkan ayat tersebut, dapatlah diketahui bahwasanya pengelolaan zakat bukanlah semata-mata dilakukan secara individual, dari muzakki diserahkan langsung kepada mustahik, akan tetapi dilakukan oleh sebuah lembaga yang khusus menangani zakat, yang memenuhi persaratan tertentu yang disebut dengan amil zakat. Amil zakat inilah yang memiliki tugas melakukan sosialisasi kepada masyarakat, melakukan penagihan, pengambilan, dan mendistribusikannya secara tepat dan benar.

Disamping berkaitan dengan perintah Al-Qur’an, pengelolaan zakat oleh amil zakat ini mempunyai beberapa kelebihan atau keunggulan, antara lain sebagai berikut:

  1. Untuk menjamin kepastian dan disiplin pembayaran zakat.
  2. Menjaga perasaan rendah hati para mustahik zakat apabila berhadapan langsung menerima haknya dari para wajib zakat ( muzakki ).
  3. Untuk mencapai efisiensi, efektivitas, dan sasaran yang tepat dalam penggunaan harta, zakat menurut prioritas yang ada pada suatu tempat.
  4. Untuk memperlihatkan syi’ar islam dalam semangat penyelenggaraan negara dan pemerintah yang islami.Sementara itu dalam bab II pasal
  5. Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 dikemukakan bahwa pengelolaan zakat, melalui amil zakat, bertujuan:Meningkatkan pelayanan bagi masyarakat dalam menunaikan zakat sesuai dengan ketentuan agama.

Meningkatkan fungsi peranan pranata keagamaan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial. Meningkatkan hasil guna dan daya guna zakat.

Adapun pengelolaan pajak, jelas harus diatur oleh negara. Hal ini sejalan dengan pengertian pajak itu sendiri, yaitu iuran kepada negara ( yang dapat dipaksakan ) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali,yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum, berhubung dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.

Dari Sudut Tujuan.

Dari sudut pembangunan kesejahteraan masyarakat, zakat memiliki tujuan yang sangat mulia, seperti digambarkan oleh Muhammad Said Wahbah yaitu sebagai berikut: Menggalang jiwa dan semangat saling menunjang dan solidaritas sosial di kalangan masyarakat islam. Merapatkan dan mendekatkan jarak dan kesenjangan sosial ekonomi dalam masyarakat. Menanggulangi pembiayaan yang mungkin timbul akibat berbagai bencana, seperti bencana alam maupun bencana lainnya.

Pada akhirnya, zakat bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan, keamanan, dan ketentraman. Demikian pula pajak, dalam beberapa tujuan relatif sama dengan tujuan tersebut diatas, terutama dalam hal pemebiayaan pembangunan negara untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat banyak. Sementara itu, Sjechul Hadi Purnomo mengemukakan bahwa terdapat kesamaan dalam tujuan zakat dengan pajak, yaitu sebagai sumber dana untuk mewujudkan suatu masyarakat adil makmur yang merata dan berkesinambungan antara kebutuhan material dan spiritual.

Perbedaan Zakat dan Pajak

Terdapat beberapa perbedaan pokok antara zakat dan pajak, yang menyebabkan keduanya tidak mungkin secara mutlak dianggap sama, meskipun dalam beberapa hal terdapat beberapa persaman di antara keduanya. Beberapa perbedaan mendasar tersebut, antara lain sebagai berikut:

Dari Segi Nama.

Secara etimologis, zakat berarti bersih, suci, bekah, tunbuh, maslahat, dan berkembang. Artinya setiap harta yang dikeluarkan zakatnya akan bersih, tumbuh, berkah, dan berkembang. Demikian pula pada muzakki (orang yang menerima zakat) Hal ini sejalan dengan firman Allah swt dalam Surah At-taubah: 103.

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[658] dan mensucikan[659] mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

[658] Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda

[659] Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.

Sedangkan pajak, berasal dari kata al-dhoribah yang secara etimologis berarti beban, seperti dalam kalimat:

“ ia telah membebankan kepadanya upeti untuk dibayarkan”

Kadangkala diartikan pula dengan Al-jizyah yang berarti pajak tanah ( upeti ), yang diserahkan oleh ahli dzimmah (orang yang tetap dalam kekafiran, tetapi tunduk pada aturan pemerintah islami).

Dari Segi Dasar Hukum dan Sifat Kewajiban.

Zakat ditetapkan berdasarkan nash-nash Al-Qur’an dan Hadist Nabi yang bersifat qothi, sehingga kewajibannya bersifat mutlak atau absolut dan sepanjang masa. Menurut Yusuf Al-Qordhowi menyatakan bahwa zakat adalah kewajiban yang bersifat tetap dan terus-menerus. Ia akan berjalan terus selama islam dan kaum muslimin ada di muka bumi ini. Kewajiban tersebut tidak akan dapat dihapuskan oleh siapapun. Seperti halnya sholat, zakat merupakan tiang agama dan pokok ajaran islam. Ia merupakan ibadah dalam rangka taqarrub kepada Allah SWT, karenanya memerlukan keikhlasan ketika menunaikannya, di samping sebagai ibadah yang mengandung berbagai hikmah yang sangat penting dalam rangka meningkatkan kesejahteraan umat. Karena itu, dalam pembahasan fiqhiyah, kajian zakat dimasukkan ke dalam bagian ibadah, bersama kajian tentang thaharah ( bersuci ), shalat, shaum, dan haji.

Sedangkan pajak, keberadaannya sangat bergantung pada kebijakan pemerintah yang dituangkan dalam bentuk undang-undang. Di Indonesia, misalnya, hukum pajak bersumber dan berdasarkan pada pasal 23 ayat 2 Undang-undang Dasar 1945 bahwa segala pajak untuk keperluan negara bersadarkan undang-undang

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/