Keragaman Agama Di Indonesia

Keragaman Agama Di Indonesia

Keragaman Agama Di Indonesia

Keragaman Agama Di Indonesia
Keragaman Agama Di Indonesia

Fungsi dan peran keragaman agama dalam pembangunan nasional adalah sebagai berikut :

Ø  Agama sebagai penyelamat

Contoh : Islam memiliki kitab suci Al –Qur’an dan umat nasrani memiliki kitab Injil dan Al Kitab. Kitabsuci ini sebagai pedoman hidup kita agar lebih baik dan berjalan di jalan yang benar. Semua agama memiliki kitab suci, dan yang tidak memiliki kitab suci di anggap sebagai aliran kepercayaan seperti konghuchu dan kejawen. Semua agama dan kepercayaan memiliki panduan hidup agar selamat didunia dan di akhirat.

Ø  Agama sebagai sarana pendidikan

Pendidikan sangat berpengaruh dalam agama, sebagai contoh :jika kita tidak mengetahui larangan, sunah – sunah dan anjuran dalam sholat, serta bacaan – bacaan sholat, sholat kita di anggap tidak sah. Karena itu pendidikan juga diperlukan dalam pelaksanaan ibadah kita, agar ibidah kita dapat di terima dan dilaksanakan dengan baik sesuai dengan aturan – aturannya.

Ø  Kontrol masyarakat dalam berperilaku

Contoh: setiap agama melarang umatnya untuk mencuri, membunuh, dan perbuatan tercelalainnya.Agama Islam juga mengatur bagaimana berpakaian sesuai dengan syariat Islam. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/pancasila-sebagai-dasar-negara/)

Ø  Agama sebagai spirit pembangunan

Contoh:calon-calon pemimpin daerah mempunyai banyak janji dan program kerja untuk memajukan daerahnya, untuk yang beragama Islama dan pengambilan sumpah dalam Al –Qur’an jika dirinya sudah terpilih menjadi pemimpin daerah. Sumpah tersebut di ambil agar mereka berkomitmen dan bertanggungjawab untuk semua program yang mereka rencanakan.

Corporate Social Responsibility

Corporate Social Responsibility

Corporate Social Responsibility

 

Corporate Social Responsibility

Corporate Social Responsibility atau yang biasa disebut dengan tanggung jawab sosial perusahaan adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya perusahaan memiliki tanggug jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas, dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan. Csr memiliki hubungan erat dengan pembangunan berkelanjutan di mana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktifitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata-mata berdasarkan faktor keuangan.
Contoh dari tanggung jawab itu bemacam-macam, mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meiningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dan untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan fasilitas untuk masyarakat yang letaknya berada dekat dengan perusahaan tersebut.

Manfaat bagi Masyarakat & Keuntungan Bagi perusahaan

CSR akan lebih berdampak positif bagi masyarakat; ini akan sangat tergantung dari orientasi dan kapasitas lembaga dan organisasi lain, terutama pemerintah. Studi Bank Dunia (Howard Fox, 2002) menunjukkan, peran pemerintah yang terkait dengan CSR meliputi pengembangan kebijakan yang menyehatkan pasar, keikutsertaan sumber daya, dukungan politik bagi pelaku CSR, menciptakan insentif dan peningkatan kemampuan organisasi. Untuk Indonesia, bisa dibayangkan, pelaksanaan CSR membutuhkan dukungan pemerintah daerah, kepastian hukum, dan jaminan ketertiban sosial. Pemerintah dapat mengambil peran penting tanpa harus melakukan regulasi di tengah situasi hukum dan politik saat ini. Di tengah persoalan kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami Indonesia, pemerintah harus berperan sebagai koordinator penanganan krisis melalui CSR (Corporate Social Responsibilty).
 Pemerintah bisa menetapkan bidang-bidang penanganan yang menjadi fokus, dengan masukan pihak yang kompeten. Setelah itu, pemerintah memfasilitasi, mendukung, dan memberi penghargaan pada kalangan bisnis yang mau terlibat dalam upaya besar ini. Pemerintah juga dapat mengawasi proses interaksi antara pelaku bisnis dan kelompok-kelompok lain agar terjadi proses interaksi yang lebih adil dan menghindarkan proses manipulasi atau pengancaman satu pihak terhadap yang lain.

Contoh perusahaan yg telah menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR)

PT Bank Internasional Indonesia Tbk menyelenggarakan program tanggung jawab sosial (CSR) bernama ‘BII Berbagi’. Vice President Corporate CommunicationsBII, Esti Nugraheni menjelaskan, visi dari program ini membantu masyarakat membangun masa depan yang lebih cerah.
BII Berbagi fokus pada tiga bidang utama, yakni pendidikan \, kegiatan untuk mendukung hidup yang sehat , serta lingkungan dan kemasyarakatan  dengan tetap memiliki kepekaan terhadap situasi yang terjadi di Tanah Air, seperti jika terjadi bencana alam.
Di bidang pendidikan, BII menyadari tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-citanya. Itulah mengapa bank ini fokus di bidang pendidikan guna membantu mereka yang kurang mampu dalam mencapai masa depan yang lebih cerah.

Program pendidikan yang di antaranya

beasiswa untuk siswa dan mahasiswa berprestasi dan kurang mampu. Selain itu, juga ada program pengembangan kompetensi perilaku . BII juga, lanjut Esti, aktif mengunjungi sekolah. ”Dalam pelaksanaan program ini akan dilakukan serangkaian kegiatan, seperti pengajaran pengetahuan umum, ilmu perbankan dasar, dan komputer,” paparnya.

Program CSR lainnya

adalah mendukung pola hidup sehat melalui kegiatan olahraga, seperti pembentukan spirit dan kultur untuk menjadi juara dan mewujudkan gaya hidup sehat, serta peduli terhadap peningkatan gizi 5.000 anak di 20 kota di Indonesia yang bekerja sama dengan World Food Programme (WFP). Peduli lingkungan, seperti penanaman pohon juga menjadi salah satu poin penting program CSR bank ini.
Baca Juga Artikel Lainnya : 

Sosialisasi Politik

Sosialisasi Politik

Sosialisasi Politik

1. Pengertian Sosialisasi Politik

Menurut Rachman ( 2006) menjelaskan dari pengertian sosialisasi Politik berasal dari dua kata yaitu Sosialisasi dan Politik. Sosialisasi berarti pemasyarakatan dan Politik berarti urusan negara. Jadi secara etimologis Sosialisasi Politik adalah pemasyarakatan urusan negara. Urusan Negara yang dimaksud adalah semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sedangkan menurut Michael Rush dan Phillip Althoff yang dikutip dari  menjelaskan Sosialisasi politik adalah proses oleh pengaruh mana seorang individu bisa mengenali sistem politik yang kemudian menentukan persepsi serta reaksinya terhadap gejala-gejala politik. Sosialisasi politik juga sarana bagi suatu suatu generasi untuk mewariskan keyakinan-keyakinan politiknya kepada generasi sesudahnya. Sosialisasi politik ini merupakan proses yang berlangsung lama dan rumit yang dihasilkan dari usaha saling mempengaruhi di antara kepribadian individu dan pengalaman-pengalaman politiknya yang relevan dan memberi bentuk terhadap tingkah laku politiknya.

Sosialisasi politik mempunyai tujuan menumbuh kembangkan serta menguatkan sikap politik dikalangan masyarakat (penduduk) secara umum (menyeluruh), atau bagian-bagian dari penduduk, atau melatih rakyat untuk menjalankan peranan-peranan politik, administrative, judicial tertentu.

Menurut Hyman dalam buku panduan Rusnaini ( 2008) sosialisasi politik merupakan suatu proses belajar yang kontinyu yang melibatkan baik belajar secara emosional (emotional learning) maupun indoktrinasi politik yang manifes dan dimediai oleh segala partisipasi dan pengalaman si individu yang menjalaninya. Sosialisasi politik melatih individu dalam memasukkan nilai-nilai politik yang berlaku di dalam sebuah sistem politik.

2. Agen-agen Sosialisasi Politik

Menurut Tischler (1999) yang dikutip dari  yang menjadi agen atau perantara dalam proses sosialisasi meliputi :

1. Keluarga

Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi seorang anak untuk tumbuh dan berkembang.keluarga merupakan dasar pembantu utama struktur social yang lebih luas, dengan pengertian bahwa lembaga lainya tergantung pada eksistensinya. Bagi keluarga inti (nuclear family) agen sosialisasi meliputi ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara angkat yang belum menikah dan tinggal secara bersama-sama dalam suatu rumah. Sedangkan pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan diperluas (extended family), agen sosialisasinya menjadi lebih luas karena dalam satu rumah dapat saja terdiri atas beberapa keluarga yang meliputi kakek, nenek, paman, dan bibi di samping anggota keluarga inti. Fungsi keluarga antara lain:

  1. Pengaturan seksual

  2. Reproduksi

  3. Sosialisasi

  4. Pemeliharaan

  5. Penempatan anak di dalam masyarakat

  6. Pemuas kebutuhan perseorangan

  7. Kontrol sosial

( Munandar (1989)

2. Teman Pergaulan

Teman pergaulan (sering juga disebut teman bermain) pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang bersifat rekreatif, namun dapat pula memberikan pengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja. Kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang individu.

3. Lembaga pendidikan formal (sekolah)

Lembaga pendidikan formal seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan (specificity). Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab. Sehingga sekolah dirasa sebagai tempat yang cukup efektif dalam mendidik seorang anak untuk memupuk rasa tanggung jawab untuk kewajiban dan haknya.

4. Media massa

Yang termasuk kelompok media massa di sini adalah media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), media elektronik (radio, televisi, video, film). Besarnya pengaruh media sangat tergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang disampaikan.

5. Pemerintah

Pemerintah merupakan agen sosialisasi politik secondary group. Pemerintah merupakan agen yang punya kepentingan langsung atas sosialisasi politik. Pemerintah yang menjalankan sistem politik dan stabilitasnya. Pemerintah biasanya melibatkan diri dalam politik pendidikan, di mana beberapa mata pelajaran ditujukan untuk memperkenalkan siswa kepada sistem politik negara, pemimpin, lagu kebangsaan, dan sejenisnya. Pemerintah juga, secara tidak langsung, melakukan sosialisasi politik melalui tindakan-tindakannya. Melalui tindakan pemerintah, orientasi afektif individu bisa terpengaruh dan ini mempengaruhi budaya politiknya.

6. Partai Politik

Partai politik adalah agen sosialisasi politik secondary group. Partai politik biasanya membawakan kepentingan nilai spesifik dari warga negara, seperti agama, kebudayaan, keadilan, nasionalisme, dan sejenisnya. Melalui partai politik dan kegiatannya, individu dapat mengetahui kegiatan politik di negara, pemimpin-pemimpin baru, dan kebijakan-kebijakan yang ada.

7. Agen-agen lain

Selain keluarga, sekolah, kelompok bermain dan media massa, sosialisasi juga dilakukan oleh institusi agama, tetangga, organisasi rekreasional, masyarakat, dan lingkungan pekerjaan. Semuanya membantu seseorang membentuk pandangannya sendiri tentang dunianya dan membuat presepsi mengenai tindakan-tindakan yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Dalam beberapa kasus, pengaruh-pengaruh agen-agen ini sangat besar.

Selain itu, sosialisasi politik juga ditentukan oleh faktor interaksi pengalaman-pengalaman seseorang dalam keluarga, tempat tinggal, pendidikan dan pergaulannya. Karena hal ini yang sangat berperan membentuk karakter anak untuk dewasa nantinya.

3. Sosialisasi Politik di berbagai Negara

a. Di Negara Liberal

Sosialisasi politik di negara liberal merupakan salah satu sebagai pendidikan politik. Pendidikan politik adalah proses dialogik diantara pemberi dan penerima pesan. Melalui proses ini, para anggota masyarakat mengenal dan mempelajari nilai-nilai, norma-norma, dan simbol-simbol politik negaranya dari berbagai pihak seperti sekolah, pemerintah, dan partai politik. Pendidikan politik dipandang sebagai proses dialog antara pendidik, seperti sekolah, pemerintah, partai politik dan peserta didik dalam rangka pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai, norma dan simbol politik yang dianggap ideal dan baik.

b. Di Negara Totaliter

Sosialisasi politik di negara totaliter merupakan indoktrinasi politik. Indoktrinasi politik ialah proses sepihak ketika penguasa memobilisasi dan memanipulasi warga masyarakat untuk menerima nilai, norma, dan simbol yang dianggap pihak yang berkuasa sebagai ideal dan baik. Melalui berbagai forum pengarahan yang penuh paksaaan psikologis, dan latihan penuh disiplin, partai politik dalam sistem politik totaliter melaksanakan fungsi indoktinasi politik.

c. Di Negara Berkembang

Menurut Robert Le Vine dalam handout perkuliahan Rusnaini ( 2008:17) berpendapat bahwa “sosialisasi politik pada negara berkembang cenderung mempunyai relasi lebih dekat pada sistem-sistem lokal, kesukuan, etnis, dan regional daripada dengan sistem-sistem politik nasional”. Ada 3 faktor penting dalm sosialisasi politik pada masyarakat berkembang, yaitu :

  1. Pertumbuhan pendidikan di negara-negara berkembang dapat melampui kapasitas mereka untuk memodernisasi kelompok tradisional lewat industrinalisasi dan pendidikan.

  2. Sering terdapat perbedaan yang besar dalam pendidikan dan nilai-nilai tradisional antara jenis kelamin, sehingga kaum wanita lebih erat terikat pada nilai tradisional.

  3. Mungkin pengaruh urbanisasi yang selalu dianggap sebgai saru kekuatan perkasa untuk mengembangkan nilai-nilai tradisional.

d. Di Masyarakat Primitif

Proses sosialisasi politik pada masyarakat primitif sangat bergantung pada kebiasaan dan tradisi masyarakatnya, dan berbeda pada tiap suku. Sosialisasi politik pada masyarakat primitif sangat tergantung pada kebiasaan dan tradisi masyarakatnya, dan berbeda pada tiap suku.

4. Metode Sosialisasi Politik yang dikemukakan oleh Rush dan Althof

a. Imitasi

Peniruan terhadap tingkah laku individu-individu lain. Imitasi penting dalam sosialisasi masa kanak-kanak. Pada remaja dan dewasa, imitasi lebih banyakbercampur dengan kedua mekanisme lainnya, sehingga satu derajat peniruannya terdapat pula pada instruksi mupun motivasi.

b. Instruksi

Peristiwa penjelasan diri seseornag dengan sengaja dapat ditempatkan dalam suatu situasi yang intruktif sifatnya.

c. Motivasi

Sebagaimana dijelaskan Le Vine merupakan tingkah laku yang tepat yang cocok yang dipelajari melalui proses coba-coba dan gagal (trial and error).

Jika imitasi dan instruksi merupakan tipe khusus dari pengalaman, sementara motivasi lebih banyak diidentifikasikan dengan pengalaman pada umumnya.
Sosialisasi politik yang selanjutnya akan mempengaruhi pembentukan jati diri politik pada seseorang dapat terjadi melalui cara langsung dan tidak langsung. Proses tidak langsung meliputi berbagai bentuk proses sosialisasi yang pada dasarnya tidak bersifat politik tetapi dikemudian hari berpengatuh terhadap pembentukan jati diri atau kepribadian politik. Sosialisasi politik lnagsung menunjuk pada proses-proses pengoperan atau pembnetukan orientasi-orientasi yang di dalam bentuk dan isinya bersifat politik.

Sumber : https://materi.co.id/

Pengertian dari Hutan Alam

Pengertian dari Hutan Alam

Pengertian dari Hutan Alam

Pengertian dari Hutan Alam
Pengertian dari Hutan Alam

Pengertian dari Hutan Alam adalah

Hutan yang ditumbuhi pohon-pohon secara alami dan sudah ada sejak dulu kala. Hutan alam yang dapat bertahan tanpa ada campur tangan manusia atau pun tidak terjadi eksploitasi hutan disebut hutan primer. Hutan Primer terpelihara dengan baik sering disebut Hutan Perawan atau Virgin Forest. Sedangkan hutan yang telah terdapat intervensi manusia didalamnya atau juga faktor bencana alam dapat terbentuk hutan alam sekunder.
Indonesia mempunyai hutan alam yang sangat luas, tetapi semakin hari luasan hutan alam ini terus berkurang. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Indonesia kehilangan 1,6 – 2 juta hektar hutan alam setiap tahun. Hutan alam Indonesia pada umumnya ditumbuhi oleh jenis-jenis Dipterocarpaceae, yang merupakan jenis kayu yang laku di pasaran, sehingga hutan alam ini merupakan sasaran eksploitasi.

Komposisi jenis penyusun hutan alam di Indonesia

Berbeda-beda tergantung lokasi tempat tumbuhnya hutan tersebut. Jenis-jenis pohon di hutan alam Indonesia bagian barat berbeda dengan Indonesia bagian timur walaupun ada juga jenis yang menyebar luas dari barat sampai ke timur. Ada beberapa zone tumbuhan hutan alam di Indonesia yaitu zone hutan alam bagian barat, zone hutan alam bagian timur dan zone peralihan.

Pelestarian Hutan Alam Indonesia Berbasis Masyarakat

Menurut Awang (2004) yang dikutip Aryadi (2012), konsep dan pelaksanaan pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM) di Indonesia, terutama di Jawa dipengaruhi oleh situasi dinamika social ekonomi politik dan budaya.  PHBM merupakan system pengelolaan sumberdaya hutan yang dilakukan bersama Perum Perhutani dan masyarakat desa atau Perum Perhutani dan masyarakat desa hutan dengan pihak yang berkepentingan bersama untuk mencapai keberlanjutan fungsi dan manfaat sumberdaya hutan dapat diwujudkan secara optimal dan proporsional.  Dalam hal ini terjadi interaksi antara Instansi pemerintah dengan masyarakat dalam system pengelolaan hutan, yang mana dalam hal ini masyarakat diikut sertakan dalam melakukan pengelolaan hutan dan pemerintah dalam hal ini instansi pemerintah menjadi pendukung dengan cara penyediaan bibit atau pun memberikan penyuluhan kepada masyarakat tersebut.  Dengan cara tersebut maka akan didapatkan hasil yang optimal terhadap kehutanan kita.

Masih menurut Aryadi (2012) yang mengutip Awang (2004)

Bentuk PHBM untuk luar Jawa dikenal dengan nama social forestry (sebagai terjemahan dari Social Forestry), yaitu berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.01/Menhut-11/2004 tentang Pemberdayaan Masyarakat setempat di dalam dan atau sekitar hutan dalam rangka social forestry.  Sosial Forestry merupakan suatu system pengelolaan sumberdaya hutan pada kawasan hutan negara dan hutan hak, yang member kesempatan pada masyarakat setempat sebagai pelaku dan mitra utama dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan mewujudkan kelestarian hutan.  Hal ini penting dari terbitnya peraturan di atas adalah pengakuan Departemen Kehutanan tentang perlunya mewujudkan hutan lestari melalui system pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

Dari peraturan pemerintah di atas maka masyarakat

Di dalam atau sekitar hutan, masyarakat diberi kesempatan untuk menjadi pelaku atau mitra utama da;am rangka untuk meningkatkan kesejahteraan terhadap masyarakat tersebut, selain itu juga dari kegiatan tersebut diharapkan hutan yang dikelola menjadi lestari.  Dari itu juga diketahui adanya pengakuan dari Departemen Kehutanan dalam perlunya untuk mewujudkan hutan yang lestari dengan system pengelolaan hutan yang berbasis masyarakat.  Dari hal tersebut maka pengelolaan hutan berbasis masyarakat sangat diperlukan sekali untuk lestarinya hutan kita.

Berdasarkan premis kemasyarakatan yang penting bagi strategi pelestarian hutan atau pengelolaan sumberdaya hutan yang berkelanjutan, seperti yang dikemukakan oleh Sardjono (2004) dalam Aryadi (2012), yaitu masyarakat perlu mengelompokkan dirinya dalam suatu komunitas yang memiliki nilai-nilai bersama atau saling komplementer dalam merealisasikan tujuan-tujuan masing-masing anggota komunitas.  Dalam hal ini masyarakat dituntut untuk bisa mengelompokkan diri mereka dalam suatu komunitas untuk melakukan pelestarian hutan atau dalam pengelolaan sumberdaya hutan yang berkelanjutan atau lestari.

Kegiatan hutan rakyat, terutama di luar Jawa

Sebagai bagian dari program social forestry yang pengelolaannya berbasis masyarakat, merupakan kegiatan pemerintah (Departemen Kehutanan) untuk merespon keadaan social politik dan budaya yang sudah berubah.  Terbitnya peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.04/Menhut-v/2004 Tentang Penyusunan Kegiatan Rahabilitasi Hutan dan Lahan melalui DAK-DR, terutama untuk kegiatan penghijauan (Hutan Rakyat) untuk luar kawasan hutan dan kegiatan reboisasi untuk dalam kawasan hutan merupakan dorongan yang signifikan dalam mengatasi permasalahan lahan kritis dan kemisikinan masyarakat pedesaan kawasan hutan (Aryadi, 2012).  Dari kegiatan hutan rakyat yang dicanangkan pemerintah dalam peraturan menteri kehutanan di atas ditujukan untuk mengatasi permasalahan lahan kritis yang ada di sekitar masyarakat sekitar hutan, yang mana dari hutan rakyat tersebut masyarakat disuruh untuk menanam berbagai macam tumbuhan yang berguna untuk kehidupan mereka baik ekonomis maupun ekologis.

Menurut Suhardjito, dkk (2000) dalam Aryadi (2012)

Dikatakan bahwa beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman pelaksanaan pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang telah berkembang di beberapa daerah di Indonesia, antara lain adalah : (1) hampir seluruh kasus yang dikaji system penguasaan sumberdaya lahan dan hasilnya ada pada individu atau keluarga.  Masyarakat lebih memberikan kebebasan kepada anggotanya untuk berusaha memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, pendapatan, dan kebutuhan lainnya; (2) ada kecendrungan system penguasaan lahan yang individual relative lebih berorientasi subsisten; (3) pola struktur  dan komposisi hutan lebih banyak berbentuk

agroforest atau beragam lapisan tajuk dan jenis produk.  Masyarakat pedesaan lebih cenderung memilih aman (safety first), baik dari dimensi waktu maupun besaran resiko.  Mereka dapat memperoleh produk untuk konsumsi sendiri, untuk kepentingan social, untuk pendapatan tunai, untuk tabungan atau pendapatan jangka panjang; (4) system pengelolaan hutan oleh masyarakat bukan hanya mewujudkan orientasi keuntungan individu pengelola, melainkan juga memperhatikan masyarakatnya.

Dari pengalaman-pengalaman di atas

Ternyata pengelolaan hutan berbasis masyarakat memberikan kelapangan kepada masyarakat dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan.  System yang digunakan juga  menggunakan system agroforest, yakni penggabungan tanaman pertanian dengan tanaman kehutanan.  Yang mana diantara tanaman kehutanan yang mereka tanam, mereka juga menanam tanaman pertanian seperti jagung, dan tanaman pertanian lainnya.

Baca Juga : 

Peranan Atmosfer

Peranan Atmosfer

Peranan Atmosfer

Peranan Atmosfer
Peranan Atmosfer

Secara keseluruhan atmosfer memegang peranan penting

Dalam system bumi – atmosfer.  4 (empat) peranan utama dari atmosfer pada proses fisika maupun pada kehidupan makhluk hidup di dalamnya dapat dikemukakan sebagai berikut :

 

  • Atmosfer merupakan sumber gas dan uap air presipitasi
  • Atmosfer merupakan penyaring (filter) radiasi surya sehingga kualitas spectrum yang sampai ke permukaan bumi tidak bersifat merusak organ tubuh makhluk hidup
  • Pada system neraca energy radiasi, atmosfer merupakan penyangga (buffer) sehingga permukaan bumi terhindar dari pemanasan dan pendinginan yang berlebihan
  • Pada proses fisika di permukaan bumi, atmosfer pengatur kelestarian mekanisme cuaca dan iklim.

Untuk memenuhi keperluan metabolisme

Makhluk hidup, atmosfer merupakan  sumber gas CO2 dan O2 yang berlimpah.  Proses fotosintesis pada tumbuhan di seluruh permukaan bumi akan mengurangi CO2 dan menambah kandungan O2.  Sedangkan respirasi akan mengakibatkan hal yang sebaliknya.

Radiasi surya yang memasuki atmosfer mengalami penyaringan terutama pada spectrum uv.  Proses tersebut berlangsung pada lapisan stratosfer, mesosfer, dan termosfer.  Spectrum uv diserap oksigen dalam pemecahannya menjadi atom O, serta oleh gas ozon setelah terbentuk.  Dalam proses tersebut, terjadi pengurangan energy radiasi surya sekitar 3 %. Penyerapan radiasi surya pada berbagai spectrum oleh oksigen ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Penyerapan radiasi surya oleh oksigen

Gas penyerapSpectrum terserapKeterangan
O20,18 µmPada ketinggian > 85 km
0,20 µmPemecahan O2 pada ketinggian < 85 km
O30,20 – 0,30 µmDi stratosfer

Pada lapisan bawah (troposfer)

Berlangsung penyerapan berbagai spectrum radiasi gelombang panjang, baik yang datang dari atas maupun yang berasal dari pancaran radiasi permukaan bumi.  Gas penyerap radiasi gelombang panjang terdiri dari uap (air serta es), CO2, O2 seperti tertera pada tabel 2 di bawah ini :

Gas penyerapSpectrum terserapKeterangan
H2O5 – 8 µmBerlangsung di awan dan sekitarnya
17 – 24 µm
CO24 – 5 µmMenyebabkan kenaikan suhu atmosfer
11 – 17 µm
O39 – 10 µmBerlangsung di stratosfer

Tanpa ada proses penyanggaan

(penyerapan, penerusan dan pemantulan) radiasi oleh atmosfer, suhu bumi pada waktu siang hari akan mencapai lebih dari 93 oC dan malam hari akan mencapai – 184 oC.  Sejak 10 tahun terakhir timbul kekhawatiran terjadi gangguan terhadap lingkungan. Penggunaan gas ringan khususnya CFC (Chloro Flouro Carbon) pada system mesin pendingin dan alat sprayer untuk kosmetika sangat dikhawatirkan akan mengurangi lapisan ozon.  Kekhawatiran lain timbul sehubungan dengan semakin menurunnya populasi tumbuh-tumbuhan (pohon-pohon hutan, red) tropika yang diperkirakan akan menambah kanndungan CO2 di atmosfer.

 Penambahan gas CO2 semakin dikhawatirkan dengan meluasnya penggunaan bahan bakar untuk berbagai keperluan dan juga semakin intensifnya peristiwa kebakaran hutan  di dunia.  Apabila gangguan terhadap kesetimbangan alamiah pada lingkungan ini tidak diatasi, diperkirakan suhu udara akan semakin meningkat yang diikuti peruibahan iklim beserta dampak-dampak lainnya.  Peningkatan kandungan CO2 di atmosfer dari 320 ppm menjadi 370 ppm diperkirakan akan menyebabkan kenaikan suhu udara sekitar 0,5 oC. Diduga peningkatan COini akan terus berlangsung apabila tidak dilakukan pencegahan dan tidak ada factor yang menghambat.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/contoh-teks-editorial-jenis-dan-isi-serta-unsur-kebahasaan/

Atmosfer Adalah

Atmosfer Adalah

Atmosfer Adalah

Atmosfer Adalah
Atmosfer Adalah

Atmosfer terisi partikel-partikel

Halus dari tiga kelompok bahan yakni gas (udara kering dan uap air), cairan (butir-butir air atau awan) dan aerosol (bahan padatan, ex. Debu).  Bahan-bahan tersebut memiliki ukuran massa yang berbeda dan tersebar pada berbagai ketinggian yang membentuk susunan yang mirip pengendapan di atmosfer.  Partikel yang ringan berada di atas yang berat sehingga semakin mendekati permukaan bumi kerapatan partikel di atmosfer meningkat.

Proses pendinginan dan pemanasan permukaan bumi berubah menurut waktu dan tempat sehingga keadaan keadaan atmosfer pun akan berubah secara demikian.  Akibatnya, tekanan dan kerapatan serta ketebalan lapisan atmosfer berbeda-beda antara siang dan malam, musim dingin dan musim panas, di atas benua dan di atas lautan serta antara daerah lintang tinggi dan lintang rendah.

Udara kering

Udara kering (gas tanpa air dan aerosol) mencakup 96% dari volume atmosfer, yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok gas utama yang meliputi 99,99 % volume udara kering dan sisanya 0,01 % berupa kelompok gas penyerta.  Sebagian dari gas penyerta bersifat permanen karena tidak mudah mengurai.  Sebagian dari gas penyerta bersifat permanen karena mudah bereaksi dengan gas lainnya.

Tabel 1.  Komponen normal udara kering

KelompokNama

Gas

Lambang

Kimia

KonsentrasiBerat

molekul

A.      Gas UtamaNitrogenN278,08 %28,02
OksigenO220,94 %32,00
ArgonAr0,93 %39,88
Karbon dioksidaCO20,03 % (bervariasi)44,00
B.       Gas Penyerta
1.        Gas PermanenNeonNe18,00 ppm20,18
HeliumHe5,20 ppm4,06
KryptonKr1,10 ppm
XenonXe0,086 ppm
HydrogenH20,52 ppm2,02
Nitrous oksida2O0,25 ppm
2.        Gas tidak permanen (reaktif)
Karbon MonoksidaCO0,1 ppm
MethaneCH41,4 ppm
Hydro carbonHC0,02 ppm
Nitric OksidaNO(0,2 – 2,0) x 10-3 ppm
Nitrogen dioksidaNO2(0,5 – 4,0) x 10-3 ppm
AmoniakNH3(6,0 – 20) x 10-3 ppm
Sulfur dioksidaSO2(0,03 – 1,2) x 10-3 ppm
OzoneO3(0,0 – 05) ppm48,00

Sumber : Straus & Meinwaring (1984)

            Secara umum atau sebagian besar gas atmosfer hanya mengalami percampuran secara mekanik dan sangat jarang yang mengalami reaksi kimia. Perincian susunan bahan atmosfer dapat dilihat pada tabel 1 di atas.

Uap Air

Kandungan uap air di atmosfer mudah berubah menurut arah (horizontal & vertical) maupun menurut waktu.  Di daerah subtropika atau daerah temperate kandungannya bervariasi dari 0 pada saat angin kering bertiup hingga 3 % dari volume atmosfer pada saat angin laut bertiup pada musim panas (summer).  Di atas wilayah tropika kandungan uap air di atmosfer merupakan nilai tertinggi di dunia yakni sekitar 4 % dari volume atmosfer 3%  dari massa atmofer.

Tabel 2.  Susunan 3 (tiga) macam gas utama pada berbagai kandungan uap air

Uap airNitrogen (N2)Oksigen (O2)Argon (Ar)
———-dalam % volume atmosfer———-
078,0820,950,93
177,3020,740,92
276,5220,500,91
375,5220,300,90
474,9620,110,89

            Adanya uap air akan mengubah komposisi atmosfer.  Perubahan kandungan uap air (kelembaban udara) mudah terjadi.  Kelembaban tinggi dapat mengurangi presentase tiga macam gas utama lainnya (tabel 2).

            Tabel 2. Terlihat besarnya pengaruh kadar uap air terhadap perubahan kadar gas utama.  Disamping itu, perubahan kelembaban udara menimbulkan perubahan unsure-unsur cuaca lainnya, seperti terbentuknya awan dan hujan.

            Di atmosfer, uap air terdapat pada lapisan troposfer yang merupakan lapisan terbawah atmosfer.  Lapisan ini mencakup 8 km di kutub dan 16 km di ekuator, atau rata-rata 12 km.  Jumlah uap air selalu berubah karena terjadinya penguapan dan kondensasi secara terus menerus.  Sumber uap air utama adalah lautan.  Hasil kondensasi berupa awan merupakan sumber berbagai peristiwa seperti hujan, hujan es, salju dan badai dengan berbagai macam akibatnya.

Aerosol

            Berbagai partikel halus dari bahan padat di bumi sebagian terangkat ke atmosfer dan membentuk aerosol.  Bahan tersebut diantaranya adalah garam laut, debu, abu, asap dan mikro organism (virus, bakteri, spora).  Komposisi normal aerosol di atmosfer terdiri dari :

Ø  Debu               : 20 % (terutama daerah kering)

Ø  Kristal garam   : 40 % (pecahan ombak lautan)

Ø  Abu                 : 10 % (dari gunung berapi, pembakaran)

Ø  Asap                : 5 % (dari cerobong pabrik, pembakaran)

Ø  Lain-lain          : 25 % (mikro organisme)

Ketinggian jelajah aerosol dan periode keberadaanya di atmosfer tergantung pada massanya, pemanasan dan pendinginan di permukaan bumi serta angin.

Struktur Lapisan Atmosfer

            Sebagian besar bahan pengisi atmosfer adalah gas yang mudah mampat dan mengembang.  Medan gravitasi bumi cenderung menarik seluruh bahan atmosfer ke permukaan bumi.  Akibatnya, kerapatan partikel atmosfer meningkat dengan makin berkurangnya ketinggian.  Massa dan tekanannya pun meningkat semakin dekat dengan permukaan bumi.  Karena bagian terbesar bahan pengisi atmosfer berada di bagian bawah, maka perubahan massa atmosfer terhadap ketinggian pada bagian bawah relative cepat. Atmosfer setinggi 5,5 – 5,6 km telah mencakup 50% dari massa total dan pada ketinggian 40 km telah tercakup 99,99%.

            Batas bawah atmosfer relative mudah ditentukan berdasarkan ketinggian dari permukaan laut.  Sedangkan puncaknya sulit diketahui karena disamping besarnya keragaman ukuran dan massa partikel, terdapat pula keragaman suhu permukaan bumi dan kekuatan angin yang mempengaruhi pengangkutan bahan.

            Pelapisan atmosfer juga dapat digambarkan dengan perubahan tekanan udara pada berbagai ketinggian, dinyatakan dalam persen (%) terhadap tekanan udara normal di permukaan bumi.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/bpupki-sejarah-anggota-tugas-dan-pembentukannya/

Kualitas Penduduk Indonesia

Kualitas Penduduk Indonesia

Kualitas Penduduk Indonesia

Kualitas Penduduk Indonesia
Kualitas Penduduk Indonesia

Kualitas penduduk atau mutu sumber daya manusia sangat berpengaruh terhadap tingkat kemajuan suatu negara. Hal ini terkait dengan kemampuan penduduk untuk mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kualitas penduduk suatu negara dapat diketahui dari faktor – faktor yang memengaruhinya, yaitu tingkat pendapatan penduduk, tingkat pendidikan, dan tingkat kesehatan.

  1. Tingkat Pendapatan Penduduk

Tingkat pendapatan penduduk diukur dari besarnya pendapatan per – kapita. Pendapatan per kapita adalah pendapatan yang diperoleh rata-rata penduduk dalam waktu satu tahun. Pendapatan per kapita dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan dan kemajuan perekonomian suatu negara. Semakin tinggi pendapatan per-kapita, semakin tinggi kesejahteraan penduduknya karena dapat memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan yang lain secara layak.

Menurut BPS, pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada tahun 2005 adalah 1,308 dolar Amerika Serikat, mengalami kenaikan dari tahun 2004 yang berjumlah 1,066 dolar Amerika Serikat. Berdasarkan World Bank, pendapatan per kapita Indonesia masuk dalam kriteria  lower middle economies atau kelompok negara berpendapatan menengah ke bawah. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Sampai saat ini sumber daya alam tersebut belum sepenuhnya dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. Sumber-sumber kekayaan negara masih banyak yang dikelola oleh pihak asing sehingga pendapatan negara masih rendah. Selain itu, jumlah penduduk yang besar dan pertambahan penduduk yang tinggi merupakan permasalahan tersendiri bagi pemerataan pembangunan dan peningkatan pendapatan perkapita.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pendapatan per kapita, antara lain dengan meningkatkan keterampilan penduduk agar dapat membuka lapangan kerja sendiri, sehingga tidak bergantung pada orang lain. Selain itu, penyediaan lapangan kerja baru untuk mengurangi jumlah pengangguran, serta menekan laju pertumbuhan penduduk dengan pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB). Dengan usaha-usaha tersebut diharapkan pendapatan nasional akan meningkat dan kesejahteraan juga akan meningkat.

  1. Tingkat Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu kunci utama untuk mencapai kemajuan suatu negara. Cepat atau lambatnya suatu negara dalam meningkatkan kemajuan ekonominya sangat tergantung pada keberhasilan negara tersebut memberikan pendidikan kepada penduduknya. Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk, menunjukkan semakin tingginya kualitas penduduk di negara tersebut. Pendidikan akan meningkatkan kemampuan penduduk untuk mengolah sumber daya alam yang dimiliki sehingga akan meningkatkan kesejahteraan penduduk.

  1. Tingkat Kesehatan

Kualitas penduduk dalam hal kesehatan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kinerja dan produktivitas seseorang. Tinggi rendahnya tingkat kesehatan penduduk suatu negara dapat dilihat dari besarnya angka kematian bayi dan ibu pada saat melahirkan. Semakin rendah angka kematian bayi dan ibu pada saat melahirkan, berarti semakin baik tingkat kesehatan penduduk. Menurut BPS, pada tahun 2005 tingkat kematian bayi di Indonesia masih tergolong tinggi, yaitu 35 per 1.000 kelahiran hidup. Angka tersebut telah mengalami penurunan dari 51 per 1.000 pada tahun 1990. Begitu pula angka kematian ibu saat melahirkan juga mengalami penurunan dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1990 menjadi 307 pada tahun 2005. Angka kematian bayi dan ibu pada saat melahirkan tersebut menunjukkan tingkat kesehatan penduduk yang masih rendah.

Rendahnya tingkat kesehatan penduduk ini, antara lain disebabkan masih banyaknya lingkungan yang kurang sehat yang memudahkan penyebaran berbagai penyakit menular. Untuk itu diperlukan kesadaran penduduk untuk selalu menjaga kesehatan diri dan lingkungannya. Selain itu, rendahnya tingkat kesehatan penduduk juga disebabkan oleh terbatasnya layanan kesehatan oleh tenaga medis terutama di daerah-daerah pedesaan yang terpencil. Di Indonesia penduduk yang mendapatkan pelayanan kesehatan baru sekitar 43%. Sedangkan sisanya belum mendapatkan pelayanan kesehatan secara optimal.

Untuk meningkatkan tingkat kesehatan penduduk, pemerintah melakukan berbagai upaya di antaranya melaksanakan program perbaikan gizi, khususnya untuk anak-anak balita. Program ini dilaksanakan bersamaan dengan posyandu yang telah digalakkan di daerah pedesaan. Di Indonesia, anak balita gizi buruk tahun 2004/2005 berjumlah 1,8 juta jiwa dan meningkat menjadi 2,3 juta jiwa pada periode 2005/2006. Hal ini memerlukan perhatian khusus dari pemerintah agar permasalahan tersebut dapat diatasi dan generasi yang akan datang menjadi generasi yang berkualitas. Upaya lain yang dilakukan dengan peningkatan kesadaran penduduk untuk berperilaku hidup sehat. Selain itu, penambahan sarana dan prasarana kesehatan juga diperlukan untuk meratakan pelayanan kesehatan di seluruh lapisan masyarakat. Upaya nonmedis juga harus dilakukan melalui program penyediaan air bersih dan perbaikan sanitasi lingkungan, berupa pembangunan jamban keluarga, pembuatan sumur, penyediaan tempat pembuangan sampah, dan lain sebagainya.

 

Baca Artikel Lainnya:

Kematian atau Mortalitas

Kematian atau Mortalitas

Kematian atau Mortalitas

Kematian atau Mortalitas
Kematian atau Mortalitas

Kematian atau mortalitas adalah hilangnya tanda-tanda kehidupan manusia secara permanen. Secara otomatis, kematian akan menyebabkan jumlah penduduk berkurang. Seseorang tidak akan mengetahui kapan ia mati. Kadang kematian terjadi saat manusia masih bayi, ketika umur dewasa, atau sudah tua. Tinggi rendahnya tingkat kematian ditunjukkan oleh jumlah kematian penduduk dalam setahun. (http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/contoh-teks-editorial/)

Tingkat kematian penduduk di suatu wilayah dapat dibedakan sebagai berikut;

  1. Angka Kematian Kasar atau Crude Death Rate (CDR)

Angka kematian kasar (CDR) menunjukkan jumlah orang yang mati dalam setiap 1.000 penduduk di suatu wilayah.

  1. Angka Kematian Bayi atauInfant Mortality Rate(IMR)

Angka kematian bayi menunjukkan jumlah kematian bayi dari setiap 1.000 kelahiran.

  1. Angka Kematian Menurut Umur atau Age Specific Death Rate (ASDR)

Angka kematian khusus (ASDR) menunjukkan jumlah kematian penduduk usia tertentu dari setiap 1.000 jiwa penduduk dalam satu tahun.

Tinggi rendahnya tingkat kematian dipengaruhi oleh faktor pendukung dan penghambat kematian;

  1. Faktor pendukung kematian (promortalitas)

Promortalitas merupakan faktor yang menyebabkan meningkatnya jumlah kematian. Tingginya kematian bisa saja terjadi secara natural maupun karena kurangnya perhatian pada kesehatan dan prasarana pendukungnya.

  1. Faktor penghambat kematian (antimortalitas)

Antimortalitas merupakan faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat kematian. Faktor penghambat kematian bisa kamu temukan jika kamu telah menyimpulkan faktor-faktor yang mendukung kematian. Karena faktor penghambat kematian berbanding terbalik dengan pendukung kematian.

Dampak yang Timbul dari Laju Penduduk

Dampak yang Timbul dari Laju Penduduk

Dampak yang Timbul dari Laju Penduduk

Dampak yang Timbul dari Laju Penduduk
Dampak yang Timbul dari Laju Penduduk
  1. Peningkatan Pengangguran

Peningkatan pengangguran yang pesat disebabkan adanya pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang mampu menampung jumlah pencari kerja yang meningkat. Pertumbuhan penduduk berarti juga peningkatan jumlah tenaga kerja.

  1. Meningkatnya Kemiskinan

Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan sumber daya menyebabkan terjadinya kelangkaan sumber daya. Akibatnya, dalam upaya pemenuhannya terjadi kompetisi hingga pada akhirnya terjadi kenaikan harga kebutuhan. Kondisi ini mengakibatkan daya beli masyarakat berkurang. (http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/contoh-teks-laporan-hasil-observasi/)

  1. Penurunan Tingkat Kesehatan

Jangankan untuk membiayai pemeliharaan kesehatan, untuk pemenuhan kebutuhan pokok saja menjadi sulit apabila terjadi ledakan penduduk. Akibatnya, akan terjadi penurunan tingkat kesehatan seperti gizi buruk, terjangkitnya penyakit busung lapar di masyarakat dan permasalahan kesehatan lainnya.

  1. Menurunnya Tingkat Pendidikan

Pesatnya peningkatan penduduk mengakibatkan tingginya jumlah anak usia sekolah. Peningkatan ini akan menimbulkan masalah seperti kesempatan memperoleh pendidikan yang makin sempit dan tingginya biaya pendidikan yang akan membebani masyarakat.

  1. Penurunan Kesejahteraan

Peningkatan penduduk diiringi dengan peningkatan kebutuhan hidup yang menuntut untuk terpenuhi. Banyaknya kebutuhan tentunya akan mengurangi pendapatan, hingga pada akhirnya terjadi penurunan kesejahteraan secara umum.

  1. Peningkatan Kebutuhan Pangan dan Tempat Tinggal

Untuk bertahan hidup manusia perlu makan dan tempat tinggal. Ledakan penduduk secara langsung memberikan dampak meningkatnya kebutuhan akan dua hal tersebut. Banyak dampak yang kita lihat akibat meningkatnya kebutuhan tersebut. Pembukaan lahan baru untuk permukiman marak dilakukan. Ketersediaan tempat tinggal yang terbatas juga mengakibatkan banyaknya perumahan liar dan kumuh.

Kesadaran Dalam Budaya

Kesadaran Dalam Budaya

Kesadaran Dalam Budaya

Kesadaran Dalam Budaya
Kesadaran Dalam Budaya

 

Budaya adalah sebuah sistem yang mempunyai koherensi

Bentuk-bentuk simbolis yang berupa kata, benda, laku, mite, sastra, lukisan, nyanyian, musik, kepercayaan mempunyai kaitan erat dengan konsep-konsep epistemologis dari sistem pengetahuan masyarakatnya. Sistem simbol dan epistemologi juga tidak terpisahkan dari sistem sosial, organisasi kenegaraan, dan seluruh perilaku sosial.

Melalui pengertian kebudayaan, kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki beraneka ragam kebudayaan yang ada. Adanya keberagaman tersebut terkadang memunculkan sikap etnosentrisme yang yang berlebihan terhadap kebudayaannya. Adanya sikap etnosentisme akan dengan mudah  menimbulkan terjadinya suatu konflik di tengah-tengah masyarakat.  Untuk mencegah terjadinya sebuah konflik yang ada perlu adanya kesadaran masyarakat di tengah-tengah kehidupan yang memiliki banyak perbedaan.

Kesadaran Dan Budaya

Secara harfiah kata “kesadaran” berasal dari kata sadar, yang berarti insyaf, merasa tahu dan mengerti. Jadi kesadaran adalah keinsyafan atau merasa mengerti atau memahami segala sesuatu. Hal tersebut sebagimana dikemukakan A.W Widjaja (1984:46) yang menyatakan bahwa “kita sadar jika kita tahu,  mengerti, insyaf, dan yakin tentang kondisi tertentu”. Dengan demikian kesadaran adalah keinsyafan , merasa mengerti atau memahami sesuatu.

Sedangkan dalam istilah psikologi, kesadaran didefinisikan sebagai tingkat kesiagaan individu terhadap rangsangan eksternal dan internal, dengan kata lain kesiagaan terhadap persitiwa-peristiwa lingkungan, suasana tubuh, memori dan pikiran. Berdasarkan definisi itu, dapat diketahui bahwa kunci penting kesadaran terletak pada kesiagaan dan stimulus.

Selanjutnya dalam kaitannya dengan segi mental, Kesadaran diartikan sebagai proses penghayatan atau pengetahuan yang penuh dari individu terkait dirinya sendiri dan lingkungannya yang memerlukan suatu persepsi dari dalam diri dan persepsi dari luar (lingkungan).

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kesadaran adalah suatu proses kesiapan diri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, menanggapi hal tertentu dengan didasari atas pengertian, pemahaman, penghayatan, dan pertimbangan-pertimbangan nalar dan moral dengan disertai kebebasan sehingga ia dapat  mempertangungjawabkannya secara sadar.

Pemakaian sebagian besar masyarakat sehari-hari, arti kebudayaan seringkali terbatas pada sesuatu yang indah-indah seperti misalnya candi, tarian, seni rupa, seni suara, sastra, dan filsafat.

Menurut Koentjoroningrat (1986)

Kebudayaan dibagi ke dalam tiga sistem, pertama sistem budaya yang lazim disebut adat-istiadat, kedua sistem sosial di mana merupakan suatu rangkaian tindakan yang berpola dari manusia, ketiga, sistem teknologi sebagai modal peralatan manusia untuk menyambung keterbatasan jasmaniahnya.

Ki Hajar Dewantara, menyatakan bahwa kebudayaan adalah buah dari manusia, yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, alam dan jaman (kodrat dan masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di alam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya besifat tertib dan damai.

Berdasarkan konteks budaya, ragam kesenian terjadi disebabkan adanya sejarah dari zaman ke zaman. Jenis-jenis kesenian tertentu mempunyai kelompok pendukung yang memiliki fungsi berbeda. Adanya perubahan fungsi dapat menimbulkan perubahan yang hasil-hasil seninya disebabkan oleh dinamika masyarakat, kreativitas, dan pola tingkah laku dalam konteks kemasyarakatan.

Kebudayaan menurut ilmu antropologi pada hakikatnya adalah

Keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1996). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan, karena hanya sebagian kecil dari tindakan manusia yang tidak dibiasakan dengan belajar seperi naluri, refleks, atau tindakan yang dilakukan akibat sesuatu proses fisiologis. Bahkan beberapa tindakan yang didasari atas naluri (makan, minum, dan berjalan) sudah dapat banyak dikembangakan manusia sehingga menjadi suatu tindakan yang berkebudayaan.

Menurut Koentjaraningrat bahwa setiap kebudayaan memiliki wujud dan unsur kebudayaan. Menurutnya kebudayaan itu terdiri dari tiga wujud yaitu :

  • Wujud sebagai suatu kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia, atau sistem budaya.
  •  Wujud sebagai kompleks aktivitas atau system sosial.
  •  Wujud sebagai benda atau kebudayaan fisik.

Menurut C. Kluckhohn dinyatakan bahwa setiap kebudayaan memiliki tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu :

  • Sistem religi dan upacara keagamaan merupakan produk manusia sebagai homo religius.
  • Sistem organisasi kemasyarakatan merupakan produk dari manusia sebagai homo socius.
  • Sistem pengetahuan merupakan produk manusia sebagai homo sapiens.
  • Sistem mata pencaharian hidup yang merupakan produk dari manusia sebagai homo economicus.
  • Sistem teknologi dan perlengkapan hidup manusia merupakan produk manusia sebagai homo faber.
  • Bahasa merupakan produk manusia sebagai homo languens.
  • Kesenian merupakan hasil dari manusia dalam keberadaannya sebagai homo esteticus.

Kebudayaan juga mengalami suatu perubahan

Hal ini secara umum dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Proses perubahan kebudayaan dapat terjadi secara evolusi dan revolusi. Dalam perubahan kebudayaan tersebut diatas tidak jarang terjadi cultural lag, yaitu suatu keadaan masyarakat yang mengalami kesenjangan antara budaya material dengan budaya non material. Hal ini misalnya dapat dilihat dengan semakin jauhnya jarak antara kebudayaan ideal dengan kebudayaan real. Kesenjangan budaya yang berlarut-larut dapat menimbulkan berbagai masalah sosial atau kerawanan sosial, perilaku menyimpang, munculnya subculture dalam masyarakat (Horton, dan Hunt, 1991).

Sehubungan dengan hal itulah maka terus diupayakan adanya berbagai system pengendalian sosial, dengan nuansa sosiokultural atau kearifan local masyarakat setempat. Baik yang bersifat formal maupun nonformal, skala dan niskala (Mudana,2000). Hal itu terefleksikan dalam berbagai model manajemen konflik. Sehingga tujuan kehidupan masyarakat dapat diwujudkan.

Baca Juga :