Perintah Berdoa dalam Islam

Perintah Berdoa dalam Islam

Kata prayer (doa) diartikan sebagai kegiatan yang menggunakan kata-kata baik secara terbuka bersama-sama atau secara pribadi untuk mengajukan tuntunan-tuntunan kepada Tuhan. Ibnu Arabi memandang doa sebagai bentuk komunikasi dengan Tuhan sebagai satu upaya untuk membersihkan dan menghilangkan nilai-nilai kemusyrikan dalam diri.

Sebagian filsuf mengatakan bahwa doa merupakan buah dari pengalaman spiritual ilmiah dan menjadi satu kajian yang berkaitan dengan otentisitas wahyu dan Tuhan. Doa merupakan pemujaan universal, baik tanpa suara maupun bersuara, yang dilakukan baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umum, baik secara spontan maupun dilakukan secara rutin.

Doa adalah permohonan kepada Allah yang disertai kerendahan hati untuk mendapatkan suatu kebaikan dan kemaslahatan yang berada di sisi-Nya. Sedangkan sikap khusyuk dan tadharru’ dalam menghadapkan diri kepadanya merupakan hakikat pernyataan seorang hamba yang sedanga mengharapkan tercapainya sesuatu yang dimohonkan.

Dengan  tadharru’ dapat menambah kemantapan jiwa, sehngga doa kepada Allah akan senantiasa dipanjatkan, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, dalam penderitaan maupun dalam kebahagiaan, dalam kesulitan maupun dalam kelapangan.[5] Dalam Al-qur’an Allah telah menegaskan QS. Al-Kahfi: 28:

÷ŽÉ9ô¹$#ur y7|¡øÿtR yìtB tûïÏ%©!$# šcqããô‰tƒ Næh­/u‘ Ío4ry‰tóø9$$Î/ ÄcÓÅ´yèø9$#ur tbr߉ƒÌãƒ ¼çmygô_ur ( Ÿwur ß‰÷ès? x8$uZøŠtã öNåk÷]tã ß‰ƒÌè? spoYƒÎ— Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# ( Ÿwur ôìÏÜè? ô`tB $uZù=xÿøîr& ¼çmt7ù=s% `tã $tR̍ø.ÏŒ yìt7¨?$#ur çm1uqyd šc%x.ur ¼çnãøBr& $WÛãèù ÇËÑÈ

Artinya: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan di dunia, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”.

tA$s%ur ãNà6š/u‘ þ’ÎTqãã÷Š$# ó=ÉftGó™r& ö/ä3s9 4 ¨bÎ) šúïÏ%©!$# tbrçŽÉ9õ3tGó¡o„ ô`tã ’ÎAyŠ$t6Ïã tbqè=äzô‰u‹y™ tL©èygy_ šúï̍Åz#yŠ ÇÏÉÈ

  1. dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”(QS. Al-Mu’min, ayat 60)
  2. Aspek-Aspek Psikologis dalam Ibadah Dzikir

Selain sebagai sarana ibadah kepada Allah Swt, dzikir juga ternyata memiliki manfaat secara psikologis aspek-aspek tersebut yaitu:

  1. Aspek menghilangkan segala kerisauan dan kegelisahan serta mendatangkan kegembiraan dan kesenangan.
  2. Aspek mendatangkan wibawa dan ketenangan bagi pelakunya.
  3. Aspek mengilhamkan kebenaran dan sikap istiqamah dalam setiap urusan.
  4. Aspek mendatangkan sesuatu yang paling mulia dan paling agung yang dengan itu kalbu manusia menjadi hidup seperti hidupnya tanaman karena hujan. Dzikir adalah makanan rohani sebagaimana nutrisi bagi tubuh manusia, dzikir juga merupakan perangkat yang membuat kalbu bersih dari karat yang berupa lalai dan mengikuti hawa nafsu.
  5. Aspek dzikir juga menjadi penyebab turunnya sakinah (ketenangan), penyebab adanya naungan para malaikat, penyebab turunnya mereka ata seorang hamba, serta penyebab datangnya limpahan rahmat dan itulah nikmat yang paling besar bagi seorang hamba.

sumber :

https://nashatakram.net/layanan-otomotif-seva-id/

Perintah Berdzikir dalam Islam

Perintah Berdzikir dalam Islam

Secara etimologi, perkataan dzikir berakar pada kata dzakaro, yazkuru, zikran artinya mengingat, memperhatikan, mengenang, mengambil pelajaran, mengenal atau mengerti dan ingatan. Dalam kehidupan manusia unsur “ingat” ini sangat dominan adanya, karena merupakan salah satu fungsi intelektual. Menurut pengertian psikologi, dzikir (ingatan) sebagai suatu “daya jiwa kita yang dapat menerima, menyimpan dan memproduksi kembali pengertian atau tanggapan-tanggapan kita”.[1]

Sedangkan dzikir dalam arti menyebut Nama Allah yang diamalkan secara rutin, biasanya disebut wirid dan amalan ini termasuk ibadah murni yaitu ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah SWT. Sebagai ibadah maka dzikir jenis ini terikat dengan norma-norma ibadah langsung kepada Allah, yaitu harus mat’tsur (ada contoh atau perintah dari Rasulullah Saw).

Secara terminologi defenisi dzikir banyak sekali. Ensiklopedia Nasional Indonesia menjelaskan dzikir adalah ingat kepada Allah dengan menghayati kehadiran-Nya, ke-Maha Suciannya, ke-Maha Terpujiannya, dan ke-Maha Besarannya.[2] Dzikir sebagai fungsi intelektual, ingatan kita akan apa yang telah dipelajari, informasi dan pengalaman sebelumnya, memungkinkan kita untuk memecahkan masalah-masalah baru yang kita hadap juga sangat membantu kita dalam melangkah maju untuk memperoleh informasi dan menerima realitas baru. Namun dalam pengertian disini pengertian yang dimaksud adalah “Dzikir Allah” atau mengingat Allah.[3]

Dalam sebuah riwayat Shahih Muslim juga dikatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda yang artinya:

Tidak ada suatu kaum yang duduk dan berdzikir kepada Allah SWT, kecuali malaikat mengelilingi mereka dan memberi rahmat dan menurunkan ketenangan kepada mereka, serta Allah Swt, akan menyebut mereka termasuk dalam orang-orang yang ada disisi Allah Swt”.

sumber :

https://solopellico3p.com/beli-mobil-bekas/

 KOMUNIKASI ANTAR PERSONAL

 KOMUNIKASI ANTAR PERSONAL

Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal Communication)

Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun nonverbal. Menurut sifatnya, komunikasi antarpribadi dibedakan menjadi dua, yakni komunikasi diadik (dyadic communication) dan komunikasi kelompok kecil (small group communication). Komunikasi diadik melibatkan hanya dua orang, seperti suami-istri,  dua sahabat, guru-murid, dan sebagainya. Sedangkan komunikasi kelompok kecil ialah proses komunikasi yang berlangsung antara tiga orang atau lebih secara tatap muka, di mana anggota-anggotanya saling berinteraksi satu sama lain.

sebagai sebuah komunikasi tatap muka, tujuan komunikasi antarpribadi adalah sebagai berikut:

  1. Mengenal diri sendiri dan orang lain.
  2. Mengetahui dunia luar .
  3. Menciptakan dan memelihara hubungan menjadi lebih bermakna.
  4. Mengubah sikap dan perilaku.
  5. Bermain dan mencari hiburan.
  6. Membantu orang lain.
  1. KOMUNIKASI PUBLIK DAN MEDIA

Komunikasi publik (Public Communication)Komunikasi ini menunjukkan suatu proses dimana pesan-pesan yang disampaikan oleh pembicara dalam situasi tatap muka di depan khlayak yang lebih besar. Ciri-ciri tipe komunikasi publik :

  1. Penyampaian pesan berlangsung secara kontinyu
  2. Dapat diidentifikasikan siapa sumber dan siapa penerima
  3. Interaksi terbatas sehingga tanggapan balik juga terbatas
  4. Sumber sering tidak dapat mgnidentifikasikan pendengarnya satu-persatu
  5. Pesan yang disampaikan tidak terjadi secara spontan melainkan sudah dipersiapkan dalam bentuk konsep/teks
  6. Tipe ini sering ditemui dalam kegiatan seperti kuliah umum, khotbah, rapat akbar, dll
  7. Pesan yang disampaikan juga terbatas pada khalayak tertentu seprti dalam pengarahan, ceramah, santiaji, seminar, dan rapat anggota.

Komunikasi massa (Mass Communication)Tipe komunikasi ini berlangsung secara massal, dimana sumbernya biasanya berasal dari suatu lembaga tertentu dan ditujukan kepada khalayak umum secara massal, dan biasanya menggunakan alat-alat tertentu misalnya radio, televisi, maupun surat kabar. Ciri-ciri tipe ini adalah :

  1. Sifat pesan terbuka untuk khalayak umum yang variatif, tidak terbatas pada suku, usia, maupun golongan tertentu
  2. Proses peyampaian pesannya lebih formal dan terencana, karena itu lebih rumit dari tipe sebelumnya
  3. Komunikasi berlangsung satu arah, karena itu tanggapan balik sangat terbatas dilakukan
  4. Penyampaian pesan berlangung secara cepat, serempak, dan meluas.

sumber :

HAKIKAT SISTEM KOMUNIKASI

HAKIKAT SISTEM KOMUNIKASI

Pembahasan tentang sistem komunikasi tidak akan terlepas dari sistem sosial. Sehubungan dengan itu, apa yang menjadi prosedur dan ‘perilaku’ dalam sistem sosial juga sangat mempengaruhi prosedur dan ‘perilaku’ yang terjadi dalam sistem komunikasi. Sebab komunikasi merupakan bagian dari dimensi dalam ilmu sosial, lantaran komunikasi bagian dari pola interaksi unsur-unsur dalam sistem sosial.

Singkatnya, komunikasi adalah bagian dari dimensi sosial yang khusus membahas pola interaksi antarmanusia (human communications) dengan menggunakan ide atau gagasan lewat lambang atau bunyi ujaran.

Sebagai sebuah hakikat, komunikasi (atau tepatnya sistem komunikasi) perlu dikaji  pula tentang proses pertukaran pesan dan hubungan antarsistem dalam sistem komunikasi itu sendiri.

Untuk membahas tentang sistem komunikasi ini perlu dibahas pendapat Talcott Parson tentang hierarki sibernetis untuk menganalisis proses pertukaran pesan dan hubungan antarsistem.

Hierarki Sibernetis adalah sebuah sistem yang tarafnya tinggi membatasi penggunaan energi sistem yang lebih rendah, sedangkan sistem yang lebih rendah memberikan fasilitas dan menciptakan kondisi yang diperlukan oleh sistem yang lebih tinggi.

Dalam proses pertukaran (hubungan timbal balik) media tertentu dipakai, misalnya uang (sebagai media) dipergunakan untuk jual beli barang dalam proses ekonomi. Media (dalam hal ini uang) sebenarnya merupakan cara pengadaan komunikasi secara simbolis. Dengan demikian, hubungan antarunsur atau komponen bersifat informasional. Artinya, hubungan tersebut terjadi melalui lambang-lambang.

Hakikat sistem komunikasi (meminjam analog dari Person) adalah suatu pola hubungan yang saling melengkapi antarsistem dalam sistem komunikasi. Hubungan antarunsur bersifat satu dan tak terpisahkan satu sama lain. Ini berarti unsur yang lebih rendah memberikan andil  yang sangat besar bagi berjalannya sistem yang lebih besar.

Contohnya, sistem komunikasi yang lebih khusus adalah sistem pers. Dalam sistem pers ada sistem manajemen redaksional; di bawahnya ada sistem berita; di bawahnya lagi ada sistem yang berhubungan dengan reporter di lapangan. Semua sistem yang lebih rendah tersebut mempunyai andil  yang besar dalam memberikan fasilitas dan menciptakan kondisi  yang diperlukan oleh sistem yang lebih tinggi. Bagaimana sistem redaksional akan berjalan baik bila tidak ada berita yang dibuat wartawan (sistem kewartawanan)?

Sistem komunikasi juga tidak akan berjalan dengan baik manakala tidak menggunakan media tertentu. Layaknya sebuah jual beli yang menggunakan uang sebagai alat pembayaran, dalam sistem komunikasi yang semakin rumit dan kompleks saat ini peran media menjadi penting. Perkembangan teknologi modern membuat komunikasi mudah dilaksanakan sekalipun ada hambatan geografis. Anda cukup mengangkat gagang telepon, menekan nomor yang dituju, selang beberapa detik kemudian akan terhubung dengan orang yang dituju di wilayah lain dengan perantaraan media telepon.[1]

  1. MAKNA SISTEM KOMUNIKASI

  2. Pengertian Sistem

            Sistem berasal dari bahasa Yunani, sistema, yang berarti suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian (Shrode dan Voich, dalam Nurudin, 2004). Little John (1999) mengartikan sistem sebagai seperangkat hal-hal yang saling mempengaruhi dalam suatu lingkungan dan membentuk suatu keseluruhan (sebuah pola yang lebih besar yang berbeda dari setiap bagian-bagiannya).

sumber

https://solopellico3p.com/beli-mobil-bekas/

 Solusi Eksploitasi Anak

 Solusi Eksploitasi Anak

Solusi untuk mengatasi masalah anak yaitu:

a         Keluarga

ü  Lebih memahami dan mengerti bahwa anak bukanlah milik pribadi karena pada dasarnya setiap anak adalah sebuah pribadi yang utuh yang juga memiliki hak sebagaimana individu lainnya, sehingga anak tidak dapat dijadikan tumpuan amarah atas semua permasalahan yang dialami orangtua (Domestic Based Violence).

ü  Lebih berhati-hati dan memberikan perhatian serta menjaga anak-anak dari kemungkinan menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita (Community Based Violence).

b        Masyarakat

ü  Lebih peka dan tidak menutup mata terhadap keadaan sekitar sehingga apabila terjadi kekerasan terhadap anak di lingkungan sekitar penanganannya dapat lebih cepat guna menghindari kemungkinan yang lebih buruk pada anak yang bersangkutan.

ü  Aparat hukum seharusnya dapat lebih peka anak pada setiap proses penanganan perkara anak baik dalam hal anak sebagai korban tindak pidana maupun anak sebagai pelaku dengan mengedepankan prinsip demi kepentingan terbaik bagi anak (the best interest for the child).

ü  Pihak sekolah dan orang tua asuh sebagai pendidik kedua setelah orang tua kandung, diharapkan dapat lebih sensitif anak dalam mendidik anak-anak yang berada dibawah pengasuhan mereka.

ü  Mensosialisasikan kepada masyarakat tentang adanya undang-undang perlindungan anak, terutama pada ancman pidana/hukuman pada tindakan tersebut secara menyeluruh

c         Negara

ü  Menyelesaikan dengan segera konflik-konflik sosial dan politik yang berkepanjangan di berbagai daerah.

ü  Memperbaiki seluruh pelayanan publik baik itu pelayanan kesehatan, pendidikan.

ü  Mengajak kembali pekerja anak yang putus sekolah ke bangku sekolah dengan memberikan bantuan beasiswa.

ü  Memberikan pendidikan nonformal.

ü  Mengadakan keterampilan bagi anak, pembiayaan atau penanggulangan pekerja anak bisa dilakukan oleh masyarakat yang peduli terhadap kesejahteraan anak

baa juga :

 Faktor Kurangnya Pencatatan Kelahiran

 Faktor Kurangnya Pencatatan Kelahiran

Orang tanpa pengenal yang memadai lebih mudah menjadi mangsa trafiking karena usia dan kewarganegaraan mereka tidak terdokumentasi. Anak-anak yang dipekerjakan, biasanya lebih mudah diwalikan ke orang dewasa manapun yang memintanya. Dalam hal ini, ketidakmampuan Sistem Pendidikan Nasional yang ada maupun dalam masyarakat untuk mempertahankan agar anak tidak putus sekolah dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi sangat besar. Sehingga anak-anak dilibatkan dalam hal kesempatan kerja dengan bermigrasi terlebih dahulu atau langsung terjun mencari pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian.

  1. Faktor Kontrol Sosial

Lemahnya kontrol sosial Pejabat penegak hukum dan imigrasi yang korupsi dapat disuap untuk tidak mempedulikan kegiatan-kegiatan yang bersifat kriminal. Para pejabat pemerintah juga disuap agar memberikan informasi yang tidak benar pada kartu tanda pengenal (KTP), akte kelahiran, dan paspor khususnya anak-anak dapt denagn mudah diwalikan atau bahkan diubah kewarganegaraannya.. Kurangnya budget/anggaran dana negara untuk menanggulangi usaha-usaha trafiking menghalangi kemampuan para penegak hukum untuk secara efektif menjerakan dan menuntut pelaku- pelakunya.

2.4           Akibat Eksploitasi Anak

Akibat dari eksploitasi anak antara lain:

a         Anak kehilangan haknya untuk belajar. Sebagian besar anak jalanan adalah anak-anak yang putus sekolah dan bahkan tidak pernah merasakan bangku pendidikan.

b        Perilaku anak banyak yang menyimpang. Hidup di jalanan bukan lah hal mudah terlebih bagi anak dibawah umur.  Mereka harus berjuang mencari uang dan besar kemungkinan terpengaruh hal-hal buruk, seperti merokok di usia anak-anak, berbahasa kasar, terkadang bertengkar dengan anak-anak lainnya, dsb

c         Anak kekurangan kasih sayang. Poin ini juga merupakan faktor penyebab eksploitasi anak. Mereka dipaksa bekerja dan lebih banyak menghabiskan waktunya di jalanan mencari uang daripada merasakan kasih sayang dari orang tuanya.

sumber :

https://nashatakram.net/layanan-otomotif-seva-id/

Perkembangan penduduk pesat

Perkembangan penduduk pesat

Mengenai sifat penduduk negara-negara berkembang, terdapat dua ciri penting yang menimbulkan efek yang buruk kepada usaha pembangunan, yaitu: (i) dibeberapa negara jumlah penduduknya relatif besar dan (ii) tingkat perkembangan penduduk sangat cepat.

Hal yang dinyatakan dalam (i) tidak sukar untuk melihatnya. India dan China adalah dua negara yang terbanyak penduduknya di dunia. Kedua negara ini meliputi sebanyak hampir 40% dari penduduk dunia. Negara-negara lain seperti Indonesia, Vietnam, Pakistan dan Bangladesh merupakan contoh lain negara yang mempunyai jumlah penduduk yang besar. Negara-negara seperti itu menghadapi masalah pembangunan yang lebih serius dari negara-negara berkembang yang relatif kecil penduduknya.

Ciri yang dinyatakan dalam (ii) memperburuk akibat negatif penduduk terhadap pembangunan ekonomi. Perkembangan penduduk sejak perang dunia kedua yang lalu menunjukkan pertambahan dalam tingkat pertumbuhannya. Sebelum perang dunia kedua, tingkat pertambahan penduduk diberbagai negara-negara maju dan berkembang, mencapai tingkat disekitar 1%. Tetapi sejak perang dunia kedua tingkat pertumbuhan penduduk mencapai rata-rata lebih dari 2%, hal ini menimbulkan masalah eksplosi atau perledakan penduduk dinegara-negara berkembang.

  1. Masalah institusi, sosial, kebudayaan dan politik

Aspek diatas dalam mempengaruhi pertumbuhan tidaklah dipersoalkan dalam analisis-analisis ekonomi negara maju. Sistem politik mereka sudah berkembang dengan sempurna, institusi ekonomi dan sosial juga telah berkembang, sistem sosial dan kebudayaan tidak menimbulkan hambatan yang serius kedapa perkembangan kegiatan ekonomi. Oleh sebab itu dalam analisis pertumbuhan ekonomi dinegara maju faktor itu tidak dipertimbangkan dan didiskusikan. Di negara berkembang hal itu tidak dapat dilakukan oleh karena faktor institusional, sosial, kebudayaan dan politik seringkali sangat penting pengaruhnya keatas kepesatan pembangunan ekonomi.

sumber :

Kekurangan dana modal dan modal fisikal

Kekurangan dana modal dan modal fisikal

Kekurangan modal adalah satu ciri penting dari setiap negara yang memulai pembangunannya dan kekurangan ini bukan saja mengurangi kepesatan pembangunan perekonomian yang dapat dilaksanakan, tetapi juga menyebakan kesukaran kepada negara tersebut untuk keluar dari keadaan kemiskinan. Perkembangan dan midernisasi suatu perekonomian memerlukan modal yang sangat banyak. Infrastruktur harus dibangun, sistem pendidikan harus dikembangkan dan kegiatan pemerintah harus diperluas. Dan yang lebih penting lagi berbagai jenis kegiatan perusahaan dan industri modern harus dikembangkan. Ini berarti pihak pemerintah dan swasta memerlukan modal yang banyak untuk mewujudkan modernisasi di berbagai kegiatan ekonomi. [10]

  1. Peranan tenaga terampil dan berpendidikan

tersedianya modal saja tidak cukup untuk memodernkan suatu perekonomian. Pelaksanaan pemodernan harus ada dengan kata lain, diperlukan berbagai golongan tenaga kerja yang terdidik seperti ahli-ahli teknik diberbagai bidang, akuntan dan manajer untuk melaksanakan proyek-proyek pembangunan. Disamping itu diperlukan tenaga terampil yang akan menjadi pengawas dan pelaksana dalam berbagai kegiatan industri.

 

sumber :

https://nashatakram.net/layanan-otomotif-seva-id/

Masalah pembangunan di negara berkembang

Masalah pembangunan di negara berkembang

Ali-ahli ekonomi telah banyak membuat analisis untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penghambat penting kepada usaha mempercepat pembangunan dinegara-negara tersebut. Kegiatan pertanian yang tradisional, kekurangan modal dan tenaga ahli, perkembangan penduduk yang pesat merupakan beberapa faktor yang penting yang menghalangi berbagai negara untuk berkembang lebih cepat. Bentuk maslah-masalah tersebut diterangkan dalam uraian dibawah ini:

  1. Pertanian tradisional

Kekurangan modal, pengetahuan, infrastruktur pertanian dan aplikasi teknologi modern dalam kegiatan pertanian menyebabkan sektor ini produktivitasnya sangat rendah dan seterusnya mengakibatkan pendapatan petani yang tidak banyak bedanya dengan pendapatan pada tingkat subsisten.

Di negara-negara maju, sumbangan relatif sektor pertanian kepada pendapatan nasional adalah kecil, tetapi pada waktu yang sama jumlah penduduk yang bekerja disektor ini juga relatif kecil. Walaupun demikian mereka mampu mengeluarkan hasil-hasil pertanian yang melebihi kebutuhan keseluruhan penduduknya. Juga sektor tersebut dapat mewujudkan pendapatan yang tinggi kepada para petani. Salah satu faktor penting yang menimbulkan keadaan ini adalah penggunaan teknologi modern disektor pertanian yang meliputi penggunaan alat-alat pertanian modern dan input-input pertanian yang lain seperti pupuk, insectisida, fungisida dan penggunan bibit yang baik yang sudah secara luas dilakukan.

sumber :
https://solopellico3p.com/beli-mobil-bekas/

Evaluasi Implementasi kebijakan

Evaluasi Implementasi kebijakan

Evaluasi Implementasi kebijakan

Evaluasi Implementasi kebijakan

Evaluasi kebijakan pada dasarnya adalah

suatu proses untuk menilai seberapa jauh suatu kebijakan membuahkan hasil yaitu dengan membandingkan antara hasil yang diperoleh dengan tujuan atau target kebijakan yang ditentukan (Darwin, 1994: 34). Evaluasi merupakan penilaian terhadap suatu persoalan yang umumnya menunjuk baik buruknya persoalan tersebut. Dalam kaitannya dengan suatu program biasanya evaluasi dilakukan dalam rangka mengukur efek suatu program dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. (Hanafi & Guntur, 1984: 16).
Evaluasi kebijakan dilakukan untuk mengetahui 4 aspek yaitu: 1) Proses pembuatan kebijakan, 2) Proses implementasi kebijakan, 3) Konsekuensi kebijakan, 4) Efektivitas dampak kebijakan (Wibowo, 1994: 9). Sementara itu Pall (1987: 52) membagi evaluasi kebijakan kedalam empat kategori, yaitu: 1) Planning and need evaluations, 2) Process evaluations, 3) Impact evaluations, 4) Efficiency evaluations, Menurut Ripley (Riyanto, 1997: 35), evaluasi implementasi kebijakan adalah evaluasi yang dirumuskan sebagai berikut :
1. Ditujukan untuk melakukan evaluasi terhadap proses
2. Dilaksanakan dengan menambah pada perspektif apa yang terjadi selain kepatuhan
3. Dilakukan untuk mengevaluasi dampak jangka pendek.
Mengenai konsep implementasi sendiri, Presman dan Wildavsky (dalam Wahab (2002: 60) mengartikannya, sebagai “to carry out, accomplish, fulfill, produce, complete”. Sedangkan Van Horn dan Van Meter (1975: 447) mengartikan sebagai ”Those action by public an private individual (or groups) that are directed at the achiefment of objectives set fort in prior policy decisions”.
Dalam proses kebijakan publik, implementasi kebijakan adalah sesuatu yang penting, bahkan jauh lebih penting daripada pembuatan kebijakan Udoji (dalam Abdul Wahab, 1991: 45). Implementasi kebijakan merupakan jembatan yang menghubungkan formulasi kebijakan dengan hasil (outcome) kebijakan yang diharapkan. Menurut Anderson (1979: 68), ada 4 aspek yang perlu dikaji dalam implementasi kebijakan yaitu: 1) siapa yang mengimplementasikan, 2) hakekat dari proses administrasi, 3) kepatuhan, dan 4) dampak dari pelaksanaan kebijakan.
Sementara itu menurut Ripley & Franklin(1986,54) ada dua hal yang menjadi fokus perhatian dalam implementasi, yaitu compliance (kepatuhan) dan What”s happening ? (Apa yang terjadi ). Kepatuhan menunjuk pada apakah para implementor patuh terhadap prosedur atau standard aturan yang telah ditetapkan. Sementara untuk “what’s happening” mempertanyakan bagaimana proses implementasi itu dilakukan, hambatan apa yang muncul, apa yang berhasil dicapai, mengapa dan sebagainya.
Guna melihat keberhasilan implementasi, dikenal beberapa model implementasi, antara lain model yang dikembangkan Mazmanian dan Sabatier yang menyatakan bahwa Implementasi kebijakan merupakan fungsi dari tiga variabel, yaitu 1) Karakteristik masalah, 2) Struktur manajemen program yang tercermin dalam berbagai macam peraturan yang mengoperasionalkan kebijakan, 3) Faktor-faktor di luar peraturan.(Wibowo dkk, 1994: 25) Karakterisitik masalah berkaitan dengan mudah tidaknya masalah yang akan digarap dikendalikan. Semakin mudah suatu masalah digarap dan dikendalikan maka akan diharapkan dengan mudah tercapai efektivitas dalam implementasinya. Struktur manajemen program tercermin dalam kemampuan keputusan kebijakan untuk menstrukturkan secara tepat proses implementasinya.
Sementara itu sejumlah variabel diluar peraturan yang mempengaruhi proses implementasi, antara lain: 1) Kondisi sosial, ekonomi dan teknologi, 2) Dukungan publik, 3) Sikap dan sumber-sumber yang dimiliki kelompok-kelompok, 4) Dukungan dari pejabat atasan, 5) Komitmen dan kemampuan kepemimpinan pejabat-pejabat pelaksana.
Pemikiran Sabatier dan Mazmanian ini menganggap bahwa suatu Implementasi akan efektif apabila birokrasi pelaksananya mematuhi apa yang telah digariskan oleh peraturan (petunjuk pelaksanaan, petunjuk teknis). Oleh karena itu model ini disebut top down.
Sementara itu Van Horn dan Van Meter (1975: 447), dengan modelnya merumuskan sejumlah faktor yang mempengaruhi kinerja kebijakan adalah; 1) standar dan sasaran tertentu yang harus dicapai oleh para pelaksana kebijakan, 2) tersedianya sumber daya, baik yang berupa dana, tehnologi, sarana maupun prasarana lainnya, 3) komunikasi antara organisasi yang baik ,4) karakteristik birokrasi pelaksana, 5) kondisi sosial, ekonomi, dan politik Sementara itu menurut Grindle (1980), implementasi ditentukan oleh isi (content) kebijakan dan konteks implementasinya. Dalam hal ini, Isi kebijakan mencakup: 1) Kepentingan yang terpengaruhi oleh kebijakan, 2) Jenis manfaat yang akan dihasilkan, 3) Derajat perubahan yang diinginkan, 4) Kedudukan pembuat kebijakan, 5) Siapa pelaksana program, 6) Sumber daya yang dikerahkan. Sementara itu Konteks kebijakan meliputi: 1)Kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor yang terlibat, 2) Karakteristik lembaga dan penguasa, 3) Kepatuhan serta daya tanggap pelaksana.

Dalam penelitian ini tidak mencoba mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi akan tetapi lebih mengacu bagaimana proses itu berlangsung, apakah telah sesuai dengan aturan pelaksanaannya, hasil apa yang telah diperoleh selama proses implementasi, bagaimana sikap pelaksananya, bagaimana sejumlah sumber digunakan untuk proses implementasi. Dengan demikian evaluasi implementasi dititikberatkan pada evalusi kinerja proses implementasi kebijakannya. Konsep yang dipilih adalah dari Ripley (1985).


Baca Juga :