Sarana Pewarisan Budaya

Sarana Pewarisan Budaya

Sarana Pewarisan Budaya

 

Sarana Pewarisan Budaya

 

1. Keluarga

Dalam masyarakat tradisional maupun modern, keluarga adalah kelompok perantara pertama yang mengenalkan nilai-nilai subbudaya kepada si anak, itulah sebabnya disebut sebagai sarana pewarisan budaya.  Di sinilah anak mengalami hubungan sosial pertama dalam kehidupan. Ada keluarga besar dan kecil, juga ada keluarga harmonis dan kurang harmonis.
Contoh:
Seorang anak dapat dikatakan telah belajar kekejaman ketika ia melihat ibunya dipukul ayahnya. Si
anak kemungkinan cenderung mewarisi perilaku seperti itu. Jika si anak mempunyai orang tua otoriter maka perilaku itu membuat anak tidak betah di rumah. Akibatnya si anak menjadi pengguna obat-obatan terlarang, tawuran, atau tindakan kejahatan lainnya.
Apalagi pada masyarakat modern saat ini, media elektronik seperti televisi telah mempercepat proses pewarisan budaya. Oleh karena itu, orang tua harus selalu mengawasi perilaku anak-anaknya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keluarga merupakan sarana pewarisan budaya bagi individu seperti: cara-cara pelamaran, pola anak menetap, atau kekerabatan.
Hal-hal yang didapat oleh seorang anak sebagai anggota keluarga sebagai berikut.
  • Keagamaan : Keluarga harus mampu menjadi wahana yang pertama dan utama dalam melaksanakan Ketuhanan Yang Maha Esa.
  • Kebudayaan : Keluarga dikembangkan menjadi wahana menumbuhkan dan melestarikan budaya nasional.
  • Perlindungan : Keluarga menjadi pelindung yang utama dalam memberikan keteladanan kepada anak-anaknya.
  • Pendidikan : Keluarga sebagai sekolah dan guru yang pertama dan utama dalam mengantarkan anak menjadi mandiri.
  • Pemeliharaan lingkungan : Keluarga harus siap memberi dan memelihara kelestarian lingkungannya yang terbaik kepada anak cucunya.

2. Masyarakat

Dalam masyarakat, pewarisan budaya terjadi melalui sosialisasi. Individu sebagai anggota masyarakat mendapat pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan perilaku masyarakat. Dalam masyarakat tradisional, norma-norma diwariskan kepada generasi berikutnya tetap terjaga. Lain halnya dalam masyarakat modern saat ini, norma-norma luhur dalam masyarakat cenderung ditinggalkan.
Contoh:
Di kalangan masyarakat Indonesia dan sebagian masyarakat di dunia, perbuatan meludah dianggap perbuatan yang tidak sopan, tetapi masyarakat Masai di Afrika menganggap perbuatan meludah sebagai tanda terima kasih kepada seseorang.

3. Sekolah

Dalam masyarakat modern, sekolah merupakan sarana pewarisan budaya yang sangat efektif. Berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi serta norma-norma/aturan secara langsung diberikan kepada siswa. Budaya yang diwariskan melalui sekolah, antara lain sebagai berikut.
  • Memperkenalkan, memelihara, mengelola, memilih, dan mengembangkan unsur-unsur budaya.
  • Mengembangkan kekuatan penalaran (the power of reasoning).
  • Mempertinggi budi pekerti.
  • Memperkuat kepribadian.
  • Menumbuhkan manusia pembangunan.

Pada sekolah-sekolah yang menyelenggarakan pendidikan TK, SD, dan SLTP, peranan guru sangat besar dalam membentuk dan mengubah perilaku anak didik. Keadaan berubah setelah anak memasuki SMU. Anak didik mulai membentuk dan mengubah perilakunya sendiri.

4. Lembaga Pemerintahan

Lembaga pemerintahan sangat dibutuhkan dalam pewarisan budaya, terutama dalam masyarakat modern saat ini. Melalui lembaga pemerintahan, peraturanperaturan yang dibuat oleh pemerintah bisa disosialisasikan kepada masyarakat luas.
Setiap warga dapat berhubungan dengan lembaga pemerintahan, jika ada urusan sesuai dengan haknya sebagai warga. Misalnya: meminta surat keterangan bepergian, mencari Kartu Tanda Penduduk, atau mencari Kartu Keluarga.
Fungsi lembaga pemerintahan sebagai berikut.
  • Pelambang norma melalui undang-undang yang disampaikan oleh badan legislatif.
  • Melaksanakan undang-undang yang telah disetujui.
  • Penyelesaian konflik yang terjadi di antara para anggota masyarakat.
  • Melindungi warga dari serangan negara lain dan pemelihara kesiapsiagaan menghadapi bahaya.

5. Perkumpulan

Dalam masyarakat modern, banyak dijumpai perkumpulan atau asosiasi yang dibentuk secara sadar untuk tujuan-tujuan khusus. Terbentuknya perkumpulan dilandasai oleh kesamaan minat, tujuan, kepentingan, dan agama. Perkumpulan atau asosiasi dapat menjadi sarana pewarisan budaya, jika para anggota menyadari hak dan kewajiban yang berlaku dalam anggaran dasarnya.
Para anggota dapat menyumbangkan peranannya terhadap negara. Misalnya dengan mengikuti perkumpulan PSSI atau PBSI, organisasi tersebut merupakan contoh perkumpulan yang bergerak dalam bidang olah raga.

6. Institusi Resmi Lain

Dalam suatu masyarakat modern yang sedang berkembang, jumlah institusi selalu bertambah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang makin kompleks. Pengertian institusi dalam bahasa Indonesia belum ada keseragaman. Prof. Dr. Koentjaraningrat mengatakan institusi sesuai dengan pranata, sedangkan Soerjono Soekanto mengartikan sebagai lembaga. Di negara kita banyak bermunculan lembaga resmi sebagai sarana pewarisan budaya bagi individu.
Contoh:
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) merupakan suatu lembaga resmi pemerintahan yang dibentuk dengan tujuan agar setiap individu dapat menyampaikan keluhan melalui wakilwakilnya yang duduk di DPR. Begitu juga wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR tersebut berusaha memperjuangkan aspirasi rakyat kepada pemerintah melalui program kerjanya.

7.  Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja mempunyai pengaruh yang besar dalam pewarisan budaya. Pengaruh dari lingkungan kerja sangat besar dalam pembentukan kepribadian seseorang. Lingkungan kerja termasuk sarana pewarisan budaya dalam masyarakat modern saat ini.
Contoh:
Seorang tukang sapu sebuah rumah sakit, sudah berpuluh-puluh tahun bekerja di lingkungan rumah sakit. Walaupun tukang sapu hanya lulus SD, tetapi tentang kebersihan, kedisiplinan, pengabdian, dan bahkan mungkin pengetahuan tentang obat-obatan dia pahami. Mengapa? Karena setiap hari ia berada di lingkungan rumah sakit yang di dalamnya ada dokter, perawat, dan petugas kesehatan lainnya.

8. Media Massa

Media massa baik berupa cetak maupun elektronik merupakan sarana pewarisan budaya dalam masyarakat modern. Rantai Makanan Bahkan buku, majalah, TV, dan surat kabar dapat membentuk kepribadian seseorang. Seorang antropolog Margaret Mead berpendapat bahwa pengaruh televisi sudah melebihi sarana lain dalam pewarisan budaya. Oleh karena itu, film-film yang disajikan di televisi harus diseleksi mana yang pantas dan mana yang tidak pantas ditonton oleh anakanak. Dalam hal ini orang tua berperan dalam memberikan penjelasan.

Pembentukan Kepribadian

Pembentukan Kepribadian

 

Perkembangan Manusia

Dalam proses perkembangannya manusia sebagai makhluk yang berkepribadian atau makhluk sosial dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dalam hal ini menurut F.G. Robbins ada lima faktor yang menjadi dasar pembentukan kepribadian itu, antara lain:

a. Sifat Dasar

Sifat dasar, merupakan keseluruhan potensi-potensi yang diwarisi oleh seseorang dari ayah dan ibunya. Sifat dasar tersebut terbentuk pada saat konsepsi, yaitu saat terjadi hubungan suami/istri. Sifat dasar yang masih merupakan potensi-potensi juga dipengaruhi faktor-faktor lainnya.

b. Lingkungan Prenatal

Lingkungan prenatal, merupakan lingkungan dalam kandungan ibu. Sel telur yang telah dibuahi pada saat terjadi hubungan suami/istri itu berkembang sebagai embrio dalam lingkungan prenatal. Pada periode prenatal ini individu mendapatkan pengaruh-pengaruh tidak langsung dari ibu. Pengaruh-pengaruh itu antara lain:
  • struktur tubuh ibu (daerah panggul), merupakan kondisi yang mempengaruhi pertumbuhan bayi dalam kandungan;
  • beberapa jenis penyakit, seperti: kanker, diabetes, siphilis, hepatitis, berpengaruh tidak langsung terhadap pertumbuhan bayi dalam kandungan.
  • gangguan endoktrin, dapat mengakibatkan keterbelakangan perkembangan anak; dan
  • shock pada saat melahirkan, dapat mempengaruhi kondisi menyebabkan berbagai kelainan seperti: cerebral, palsy, dan lemah pikiran.

 

 

c. Perbedaan Individual Atau Perbedaan Perorangan

Perbedaan individual merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses sosialisasi. Sejak saat anak dilahirkan oleh ibunya, anak tumbuh dan berkembang sebagai individu yang unik dan berbeda dengan individu lainnya. Dia bersikap selektif terhadap pengaruh dari lingkungan. Perbedaan perorangan ini meliputi perbedaan-perbedaan ciri-ciri fisik seperti warna kulit, warna mata, rambut, dan bentuk badan, serta ciriciri personal dan sosial.

d. Lingkungan

Lingkungan di sekitarnya, yaitu kondisi-kondisi di sekeliling individu yang mempengaruhi proses sosialisasinya. Lingkungan itu dapat dibedakan menjadi 3 sebagai berikut.
  • Lingkungan alam, yaitu keadaan iklim, tanah, flora, fauna, dan sumber daya di sekitar individu.
  • Lingkungan kebudayaan, yaitu cara hidup masyarakat tempat individu itu hidup. Kebudayaan ini mempunyai aspek material (rumah, perlengkapan hidup, hasil-hasil teknologi lainnya), dan aspek non materiil (nilai-nilai pandangan hidup, adat istiadat, dan sebagainya).
  • Lingkungan manusia lain dan masyarakat di sekitar individu. Pengaruh manusia lain dan masyarakat di sekitarnya dapat membatasi proses sosialisasi dan memberi stimulasi terhadap perkembangannya.

Peranan kondisi lingkungan tersebut tidak menentukan mutlak, tetapi membatasi dan mempengaruhi proses sosialisasi manusia. Dalam hal ini kita juga menolak kebenaran paham determinisme geografis dan determinisme ekonomi mengenai peranan kondisi-kondisi geografis dan ekonomis terhadap proses sosialisasi individu.

e. Motivasi

Motivasi adalah kekuatan-kekuatan dari dalam individu yang menggerakkan individu untuk berbuat. Motivasi ini dibedakan menjadi dorongan dan kebutuhan.
1. Dorongan
Dorongan adalah keadaan ketidakseimbangan dalam diri individu karena pengaruh dari dalam dan luar dirinya yang mempengaruhi dan mengarahkan perbuatan individu dalam rangka mencapai adaptasi atau keseimbangan lagi. Pada diri manusia terdapat dorongan makan, minum, dan menghindarkan diri dari bahaya yang mengancamnya.
2. Kebutuhan
Kebutuhan adalah dorongan yang telah ditentukan secara personal, sosial, dan kultural. Teks Eksposisi Kebutuhan-kebutuhan manusia yang penting, antara lain:
  • kebutuhan bebas dari rasa takut;
  • kebutuhan bebas dari rasa bersalah;
  • kebutuhan untuk bersama dengan orang lain;
  • kebutuhan untuk berprestasi;
  • kebutuhan akan afeksi;
  • kebutuhan untuk turut serta mengambil keputusan mengenai persoalan-persoalan yang menyangkut mengenai dirinya;
  • kebutuhan akan kepastian ekonomis; dan
  • kebutuhan akan terintegrasikannya sikap, keyakinan, dan nilai-nilai.

Pengertian dan Proses Pewarisan Budaya

Pengertian dan Proses Pewarisan Budaya

 

Pengertian Pewarisan Budaya

Pewarisan budaya adalah suatu proses, perbuatan atau cara mewarisi budaya di dalam masyarakat. Proses tersebut dinamakan juga socialitation. Dalam proses tersebut seorang individu mengalami pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan kelompoknya.

Budaya diwariskan dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya.

Hanya saja dalam proses pewarisan budaya menghendaki adanya penyempurnaan sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Malinowski menyebutnya Cultural Determinism artinya segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan oleh budaya yang dimiliki masyarakat.

Proses Pewarisan Budaya

secara umum proses pewarisan budaya terjadi melalui dua proses yaitu proses enkulturasi dan proses sosialisasi, untuk lebih jelasnya kita simak penjelasan beikut ini :

a. Enkulturasi

Proses enkulturasi sudah dimulai dalam alam pikiran individu sejak masa kanak-kanak. Mula-mula dari keluarga, kemudian dari teman-teman bermainnya. Seringkali ia belajar meniru tingkah laku, ucapan dari individu yang berpengalaman. Misalnya adanya jam berpengaruh pada penghargaan waktu. Hal itu menjadi pola yang mantap, norma yang mengatur tindakannya “dibudayakan”.
Contoh:
Norma yang mengharuskan seseorang membawa oleholeh kepada kerabat/tetangga jika bepergian ke tempat lain, menerima atau memberi sesuatu dengan tangan kanan.

b. Sosialisasi

Dalam proses sosialisasi, seorang individu dari masa kanak-kanak hingga masa tua belajar pola-pola tindakan berinteraksi dengan segala macam individu dalam berbagai macam peranan sosial. Apabila kita ingin menyelami dan memahami pengertian tentang suatu kebudayaan, kita bisa belajar banyak dari jalannya proses sosialisasi yang dialami individu dalam kebudayaan yang bersangkutan.
Contoh:
Pada awal hidupnya, seorang bayi sudah harus menghadapi beberapa individu dalam lingkungan keluarga yang kecil, yaitu ibunya dan bidan yang membantu ibunya semenjak lahir sampai kira-kira seminggu. Selama berhubungan dengan orang tadi ia mengalami tingkah laku berdasarkan perhatian dan cinta. Ia juga belajar kebiasaan, makan, dan tidur pada saat tertentu. Juga ketika mulai sekolah ia juga belajar mengenal perbedaan jenis kelamin dan mengenal lingkungan sekolahnya.

REKOR TRANSFER PEMAIN SEPAK BOLA TERMAHAL DI DUNIA

REKOR TRANSFER PEMAIN SEPAK BOLA TERMAHAL DI DUNIA

REKOR TRANSFER PEMAIN SEPAK BOLA TERMAHAL DI DUNIA

Dalam sepak bola , pasti ada istilah Transfer… yaitu pembelian antar pemain sepak bola. di sini, saya akan membahas tentang transfer pemain sepak bola termahal di dunia.

yang paling mahal adalah Zinedine Zidane. rekor ini belum ada yang memecahkan… Katanya, jika Cristiano Ronaldo jadi pindah ke Real Madrid musim 2009-2010, itu merupakan rekor transfer pemain sepak bola termahal.

Daftar pemain termahal adalah sebagai berikut :

1. Zinedine Zidane (Perancis), dari Juventus ke Real Madrid tahun 2001 seharga 46 juta poundsterling.

2. Luis Figo (Portugal), dari Barcelona ke Real Madrid tahun 2000 seharga 38,7 juta poundsterling.

3. Hernan Crespo (Argentina), dari Parma ke Lazio tahun 2000 seharga 35,5 juta poundsterling.

4. Gianluigi Buffon (Italy), dari Parma ke Juventus tahun 2001 seharga 32,6 juta poundsterling.

5. Robinho (Brazil), dari Real Madrid ke Manchester City tahun 2008 seharga 32,5 juta poundsterling.

6. Christian Vieri (Italy), dari Lazio ke Inter Milan tahun 1999 seharga 32 juta poundsterling.

7. Andriy Shevchenko (Ukraina), dari AC Milan ke Chelsea tahun 2006 seharga 30,8 juta poundsterling.

8. Dimitar Berbatov (Bulgaria), dari Tottenham Hotspurs ke MU tahun 2008 seharga 30,75 juta poundsterling.

9. Pavel Nedved (Ceko), dari Lazio ke Juventus tahun 2001 seharga 30,6 juta poundsterling.

10. Rio Ferdinand (Inggris), dari Leeds United ke MU tahun 2002 seharga 29,1 juta poundsterling.

Baca Juga :

Perbedaan Konsep IPL Vs ISL

Perbedaan Konsep IPL Vs ISL

Perbedaan Konsep IPL Vs ISL
Ini yang mendasari kenapa saham 70% ke Djohar, 30% ke Faried. Hal ini sudah berjalan pada kompetisi LPI musim lalu, namun bisa dikatakan musim lalu adalah proyek rugi, kenapa?

Dengan jumlah uang miliaran rupiah yang telah dibagikan konsorsium ke 20 klub LPI musim lalu, kontrak marquee player, gaji untuk wasit asing, ternyata animo penonton untuk LPI sangat kurang. Karena sebagian besar adalah klub2 baru tanpa basis supporter yang kuat, sepi penonton, akhirnya tak laku dijual ke sponsor.

Konsep ini coba diterapkan pada musim ini, dengan kursi kepemimpinan PSSI yang sudah berada di tangan mereka, konsorsium mencoba menerapkan konsep tersebut di kompetisi musim ini, tapi terbentur dengan keberadaan klub-klub besar yang sudah berpuluh tahun berdiri.

Kenapa? Karena klub-klub itu sudah bisa mendapatkan sponsor sendiri, tanpa perlu bantuan konsorsium. Akhirnya segala cara coba ditempuh PSSI di antaranya,
1. Menggemukan kompetisi menjadi 36 dan setelah banyak mendapat protes menjadi 24, kenapa kok gak 18 tim aja, sesuai statuta? Ya karena dari 18 tim ISL musim lalu, sebagian besar bukan ‘tim nya konsorsium’ artinya nggak balik modal. Akhirnya ditambahlah 6 tim siluman itu, yang notabene ‘timnya konsorsium’, atau pesan sponsor.
2. Memergerkan tim-tim LPI dengan ISL, contoh Jakarta FC dengan Persija, ini bisa dikatakan take over secara halus, karena kita tahu potensi besar Persija dengan The Jak Mania nya.

Beberapa klub berhasil melawan, hasilnya apa? Timbulah dualisme, Persebaya 1927-Persebaya Wisnu, Arema M Nuh-Arema Rendra, Persija (Jakarta FC)-Persija Paulus, PSMS IPL-PSMS ISL dan hampir saja timbul Persib 1933. Klub2 di atas adalah klub-klub besar dengan basis supporter yang kuat, bisa dibayangkan keuntungan yang didapat oleh konsorsium?

Tidak ada yang salah dengan konsep konsorsium tersebut, dengan syarat seluruh tim adalah timnya konsorsium, seluruh biaya dari konsorsium, dengan timbal balik, hasil tiket tidak sepenuhnya untuk klub, sebagian ke konsorsium, pembagian hak siar, sponsor dan keuntungan ke konsorsium. Tapi hal ini tidak akan bisa berjalan jika di liga tersebut hanya sebagian kecil yang mau jadi timnya konsorsium.

Sedangkan konsep ISL, klub cari uang sendiri, cari sponsor sendiri, tapi keuntungan kompetisi ya balik ke klub (99% klub, 1% PSSI) karena pada konsep ini klub lah yang berdarah-darah membiayai diri mereka sendiri. Konsep ini yang dianut sebagian besar kompetisi-kompetisi eropa.
Tidak ada yang salah dengan duakonsep itu, yang menjadi masalah adalah ketika klub-klub dengan dua konsep tersebut digabung menjadi satu kompetisi. Klub konsorsium tentu tidak masalah ketika hak siar, uang tiket, sponsor masuk ke konsorsium, karena toh mereka tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya kontrak dan operasional klub.
Tapi bagi klub-klub yang membiayai diri sendiri tentu keberatan, karena mereka membiayai diri mereka sendiri. Mau rapat 7 hari 7malam pun tidak akan ketemu titik temu.
Seandainya pun IPL dengan 24 tim berjalan, ada kemungkinan konsorsium akan berusaha membela dan mempertahankan eksistensi klub-klubnya di IPL, dan mendegradasikan klub-klub nonkonsorsium. Suatu bahaya laten.
Menurut pendapat saya pribadi, konsep ini tidak dikemukakan oleh PSSI sejak awal, sehingga timbul saling curiga. Seharusnya mereka dari awal menawarkan ide mereka kepada 18 tim yang berhak tampil di ISL.
Kalau mereka setuju maka jalanilah, Jika tidak, ya jangan dipaksakan, karena mereka duduk di kursi itu karena dipilih oleh klub-klub anggota PSSI. Yang terjadi sekarang PSSI seperti memaksakan kehendaknya, menghalalkan segala cara, tanpa menghiraukan aspirasi klub-klub anggota, akhirnya segala keputusan main tabrak sana tabrak sini.
Timbul yang namanya PSMS ke IPL karena pesan sponsor, Bontang FC ke IPL karena kasihan dikerjain wasit, dan alasan-alasan lainnya yang terlalu dibuat-buat.

Generasi Muda Harus Lestarikan Budaya Lokal

Generasi Muda Harus Lestarikan Budaya Lokal

 

 

Ketua Lembaga Adat Melayu Kabupaten Bangka

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Syarnubi mengatakan generasi muda harus melestarikan budaya lokal karena sudah mulai kurang diminati masyarakat.

“Melestarikan budaya lokal harus dilakukan oleh generasi muda sebagai warisan kekayaan bangsa,” katanya di Sungailiat, Sabtu (1/11).

 

Pelestarian Budaya

Menurut dia, pelestarian budaya lokal merupakan bagian dari penyelemataan kekayaan bangsa yang mulai kurang diminati akibat zaman yang terus maju dan berkembang.

“Sangat disayangkan kalau kekayaan bangsa ini harus punah akibat kurangnya kepedulian kita menjaganya, apalagi budaya lokal yang dimiliki merupakan simbol bagi daerah itu,” katanya.

 

Masyarakat harus bangga

Dia menyebutkan, semua lapisan masyarakat harus bangga menjadi anak bangsa Indonesia yang memiliki kekayaan budaya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Baca Juga: Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan  Kekayaan budaya lokal masing-masing suku di daerah Indonesia tidak dimiliki bangsa lain.

“Masing-masing daerah di Indonesia memiliki budaya lokal yang cukup bagus dan menjadi perhatian dunia, serta mampu memberikan konstribusi terhadap daerah itu bila dijaga dan dilestarikan dengan baik,” ujarnya.

 

Mengembangkan Budaya Lokal

Dikatakan, pihaknya akan berusaha maksimal mengembangkan budaya lokal sebagai warisan dari pendahulu yang nantinya dapat dijadikan ciri khusus atau ikon bagi daerah Kabupaten Bangka.

“Saya menginginkan agar pakaian adat Kabupaten Bangka disahkan dalam bentuk peraturan daerah sehingga menjadi pakaian resmi,” katanya.

Dia mengakui personel lembaga adat Melayu di Kabupaten Bangka sebagian besar beranggotakan masyarakat usia tua dan hanya beberapa orang saja yang masih muda.

“Saya imbau kepada generasi muda untuk mencintai budaya kita, jangan mudah terpengaruh oleh budaya asing sementara budaya sendiri ditinggalkan,” katanya.

Gondjang-Gandjing Cisitu 2014: Kobarkan Semangat Budaya Nusantara

Gondjang-Gandjing Cisitu 2014: Kobarkan Semangat Budaya Nusantara

Gondjang-Gandjing Cisitu 2014: Kobarkan Semangat Budaya Nusantara

 

Acara Kementrian Seni dan Budaya

Pada Minggu (26/10/14) Kementrian Seni dan Budaya Kabinet Keluarga Mahasiswa (Kemensenbud KM) ITB menggelar acara kesenian yang bertajuk “Gondjang-Gandjing Cisitu”. Acara ini dilangsungkan di kawasan Asrama Bumi Ganesha, RW 10, Cisitu. Berbagai penampilan kebudayaan Indonesia disugguhkan dalam acara ini yang memang mengangkat tema “Nusantara Membara”. Tidak hanya mahasiswa yang menjadi penikmat pentas kebudayaan Gondjang-Gandjing Cisitu ini, melainkan para warga Cisitu juga turut antusisas dengan acara ini.

 

Pengertian Gondjang-Gandjing

Gondjang-Gandjing Cisitu adalah program kerja tahunan yang dibawa oleh Kemensenbud KM-ITB. “Setiap tahun kami membawa semangat yang berbeda-beda. Pada tahun ini semangat yang dibawa adalah untuk mengenalkan kembali identitas bangsa Indonesia melalui pementassan seni dan kebudayaan tradisional,” tutur Lutfan Qasmal (Teknik Mesin 2011) selaku Menteri Kemensenbud KM-ITB. Terdapat satu hal berbeda pada Gondjang-Gandjing Cisitu tahun ini, yakni Kemensenbud bekerja sama dengan Kementrian Manajemen Lingkungan untuk turut memamerkan hasil panen dari program Cisitu Berkebun di daerah Cisitu RW 12.

 

Acara dibuka dengan sambutan dan penampilan-penampilan dari warga setempat.

“Hal ini juga merupakan salah satu tujuan dari Gondjang-Gandjing Cisitu ini, yakni membentuk interaksi antara warga setempat dengan mahasiswa,” jelas Lutfan. Suguhan yang ditampilkan oleh para warga Cisitu adalah kebudayaan-kebudayaan sunda, yakni pencak silat, kuda lumping, jaipong, dan lain-lain. Setelah itu dilanjutkan dengan acara utama yang ditampilkan oleh kolaborasi unit-unit kebudayaan yang terdapat di ITB.
“Masing-masing penampilan unit tersebut memiliki ceritanya masing-masing, namun tetap didalam satu alur, yakni menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia yang sudah mulai mengabaikan kebudayaan tradisional,” ungkap Lutfan. Luthfan menambahkan bahwa  adanya kolaborasi antar unit di ITB ini diharapkan dapat mempererat hubungan antarlembaga di ITB. Salah satu unit yang tampil dalam acara Gondjang-Gandjing Cisitu adalah Lingkung Seni Sunda (LSS). LSS bekerja sama dengan ITB Student Orchestra (ISO) untuk menyuguhkan kolaborasi musik yang menarik, yakni alunan melodi tradisional jawa barat disandingkan dengan budaya musik modern.

 

Tujuan Gondjang-Gandjing

Tujuan awal dari Gondjang-Gandjing Cisitu ini adalah untuk membentuk kerjasama antar lembaga di ITB, semoga kedepannya semakin banyak lagi lembaga di ITB yang dapat berkolaborasi di Gondjang-Gandjing Cisitu ini,” ungkap Lutfan. Baca Juga: Selain itu berbicara mengenai pesan yang ingin diangkat di acara ini adalah untuk menyadarkan kembali mahasiswa maupun masyarakat agar dapat mengenal kembali budaya asli daerahnya. “Semoga semua yang hadir di Gondjang-Gandjing Cisitu ini dapat menangkap pesan yang terdapat dalam setiap pertunjukkan,” tutup Lutfan.

Awas, Jumlah Kesenian Di Bantul Mulai Punah

Awas, Jumlah Kesenian Di Bantul Mulai Punah

 

 

Kesenian srandul Kecamatan Sedayu

pekbung Kecamatan Pandak dan Langen Mondro Wanara Sembungan Bantul terancam keberadaannya karena tidak ada regenerasi terpadu dari yang tua ke yang muda. Masalah ini diperparah oleh anak muda yang cenderung cuek terhadap seni kebudayaan yang ada disekitarnya.

 

Masyarakat Adat dan Tradisi

Demikian disampaikan oleh Tedi Kusyairi dari Masyarakat Adat & Tradisi Mataram (Mantram) yang berbasis di Jeblok, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Komunitas ini berkonsentrasi pada lintas pelaku budaya yang menangani kesenian, adat budaya serta tradisi mataram.

“Proses transfer ilmu budaya lemah, tidak adanya keterlibatan anak muda, serta gaya hidup anak sekarang yang cenderung gadget holic membuat kesenian tradisional diambang kepunahan,” jelas Tedi.

Merujuk pada Perda DIY no. 4 tahun 2011

yang mengatakan bahwa Tata Nilai Budaya Yogyakarta merupakan kekayaan daerah tidak berwujud (intangible) yang tak ternilai sehingga perlu dilestarikan, dikembangkan, dan dilindungi dengan peraturan daerah.

Melalui acuan tersebut Mantram ingin memulihkan kondisi memprihatinkan tersebut. “Problem regenerasi menjadi salah satu sebab mengapa kami harus bergerak melalui arus bawah,” tukasnya.

Menurut Kepala Pusat Studi Kebudayaan, Dr. Aprianus Salam, M. Hum, tidak adanya pembelajaran dan sistem managerial dalam dunia seni menjadi akar utama yang harus segera dipecahkan. “Bahkan proses tranfer ilmu ke generasi muda kadang tidak lengkap, ada informasi yang tergradasi dari waktu ke waktu,” tambahnya.

Agar mampu menjawab problem tersebut, pihaknya mendukung upaya Mantram untuk menggiatkan serta mengefektifkan pertunjukan kesenian, melakukan diskusi budaya serta melakukan evaluasi terhadap peraturan kebudayaan yang sedang dalam proses penelitian.

Mantram sendiri berencana akan melaksanakan kegiatan kongres kebudayaan rakyat

pada 31 Agustus di Balai desa Tirtonirmolo serta akan melaksanakan kirab berbagai macam kesenian asli Bantul dari sejumlah komunitas yang ada disana. Acaranya sendiri akan dilaksanakan pada 1 September 2013 di Gedung Pemuda, Ambarbinangun, Bantul.

 

Baca Juga Artikel Lainnya:

Cara Memandang (Judie Paxton)

Cara Memandang (Judie Paxton)

Cara Memandang (Judie Paxton)

Ketika masih duduk di SD, aku terlibat dalam perdebatan sengit dengan seorang anak lelaki di kelasku. Aku sudah lupa apa topik perdebatan kami, tetapi aku tidak lupa pelajaran yang kuperoleh hari itu.

Aku yakin sekali bahwa akulah yang benar, sedangkan ia salah. Sebaliknya, ia juga yakin bahwa ia yang benar dan aku yang salah. Maka guru kami memutuskan untuk memberikan pelajaran yang sangat penting. Ia menyuruh kami maju ke depan kelas. Aku berdiri di satu sisi meja, sementara anak itu di sisi yang lain. Di tengah meja ada satu obyek besar dan bundar. Aku melihat dengan jelas bahwa benda tsb berwarna hitam.

Lalu guru kami bertanya pada anak itu, apa warna benda tsb. “Putih”, sahutnya. Aku tak percaya mendengarnya, sebab benda tsb jelas-jelas hitam. Kami kembali berdebat dengan sengit, kali ini tentang warna benda tsb.

Guru kami kemudian menyuruhku berdiri di tempat anak tadi, sementara anak tadi berdiri di tempatku. Kami bertukar tempat, dan sekarang guru kami bertanya kepadaku, apa warna benda itu. Aku terpaksa menjawab, “Putih”, sebab benda tsb memang mempunyai dua sisi yang berbeda warna. Dari sudut ini, warna yang kelihatan adalah putih, sedangkan dari sisi yang lain warnanya hitam.

Hari itu aku mendapat pelajaran penting. Kita mesti bisa menempatkan diri pada posisi orang lain dan melihat situasinya melalui mata mereka supaya kita bisa benar-benar memahami perspektif mereka.

Guru adalah mereka yang menjadikan diri mereka jembatan. Para murid diundang untuk menyeberanginya. Setelah semua menyeberang, dengan senang hati mereka mengundurkan diri dan mendorong para murid untuk menciptakan jembatan tersebut

Baca Juga : 

KAKAK SEORANG GELANDANGAN

KAKAK SEORANG GELANDANGAN

KAKAK SEORANG GELANDANGAN
Roy Angel yang miskin memiliki kakak seorang milyuner.Pada tahun 1940, ketika bisnis minyak bumi sedang mengalami puncak,kakaknya menjual padang rumput di Texas pada waktu yang tepat dengan harga yang sangat tinggi. Seketika itu kakak Roy Angel menjadi kaya raya.Setelah itu kakak Roy Angel menanam saham pada perusahaan besar danmemperoleh untung yang besar. Kini dia tinggal di apartemen mewah diNew York dan memiliki kantor di allstreet.
Seminggu sebelum Natal, kakaknya menghadiahi Roy Angel sebuah mobil baru yang mewah dan mengkilap. Suatu pagi seorang anak gelandangan menatap mobilnya dengan penuh kekaguman.”Hai.. nak” sapa Roy Anak itu melihat pada Roy dan bertanya “Apakahini mobil Tuan?””Ya,” jawab Roy singkat. “Berapa harganya Tuan?””Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa”.”Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankan Tuan yang punya mobil ini?”Gelandangan kecil itu bertanya penuh heran. “Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak saya”
Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan bergumam,”Seandainya…. seandainya…”Roy mengira ia tahu persis apa yang didambakan anak kecil itu, “Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama seperti kakakku”.Ternyata Roy salah menduga, saat anak itu melanjutkan kata-katanya: “Seandainya… seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu..”
Dengan masih terheran-heran Roy mengajak anak itu berkeliling dengan mobilnya.Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya. Sampai satu kali anak itu berkata,”Tuan bersediakah Tuan mampir ke rumah saya ?Letaknya hanya beberapa blok dari sini”.Sekali lagi Roy mengira dia tahu apa yang ingin dilakukan anak ini.”Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ia telah naik mobil mewah” pikir Roy. “OK, mengapa tidak”, kata Roy sambil menuju arah rumah anak itu.
Tiba disudut jalan si anak gelandangan memohon pada Roy untuk berhenti seje nak,”Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan segera kembali”.Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah reot. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Roy mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan keluar dari mobilnya, menatap rumah reot itu. Pada waktu itu ia mendengar suara kaki yang perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian anak gelandangan itu keluar sambil menggendong adiknya yang lumpuh.
Setelah tiba di dekat mobil anak gelandangan itu berkata pada adiknya:”Lihat… seperti yang kakak bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan ini. Suatu saat nanti kakak akan membelikan mobil seperti ini untukmu”.Bukan karena keinginan seorang anak gelandangan yang hendak menghadiahkan mobil mewah untuk adiknya yang membuat Roy tak dapat menahan haru pada saat itu juga, tetapi karena ketulusan kasihseorang kakak yang selalu ingin memberi yang terbaik bagi adiknya.