Posted in: Pendidikan

Contoh Tafsir Bi-Al-Ra’y

Contoh Tafsir Bi-Al-Ra’y

          Ayat Al-Quran yang jika ditafsirkan oleh orang yang bodoh akan menjadi rusak maksudnya. Artinya

“Barang siapa yang buta (hatinya)di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan  lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan yang benar.”  (Q.S. Al-Isra : 72)

Ia menetapkan bahwa setiap orang yang buta adalah celaka dan rugi serta akan masuk neraka jahanam. Padahal yang dimasud dengan buta di sini bukan mata, tetapi buta hati berdasarkan alasan firman Allah.

Artinya

“…….. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati dalam dada.”  (Q.S. Al- Hajj : 46)[13]

          Ayat lain yang dikemukakan oleh sebagian orang yang mengaku pandai tentang firman Allah SWT.

Artinya:

“ (ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya” (QS. Al-Isra:71)

          Mereka berkata bahwa maksud firman Allah di atas adalah “ Allah Ta’ala memanggil manusia pada  hari kiamat dengan nama ibunya karena menutupi mereka.” Mereka menafsirkan kata “imam” dengan “ummahat” (ibu) dengan berpendapat bahwa imam adalah jamak dari umum padahal menurut ketentuan bahasa arab tidak demikian, karena jamak dari umum adalah ummahat sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

Artinya :

“ibu-ibumu yang menyusui kamu…” (QS. An-Nisa’)

          Bentuk jamak dari ummum itu bukanlah kata imam, karena itu, pengertian di atas menurut bahasa dan syara’ btidaklah benar. Yang dimaksud imam disana adalah nabi yang diikuti oleh ummatnya atau catatan amal.[14]

BAB III

PENUTUP

            Pada saat ini rupanya sangat sulit untuk memahami fenomena-fenomena tanpa adanya pemahaman fenomena yang terjadi dimasa-masa awal ketika Al-Qur’an diturunkan. Jika kita rasakan sepertinya wahyu sangat terasa membumi ketika awal-awal Al-Qur’an di turunkan dan rasul berserta sahabatnya masih hidup, karena rujukan dan sumbernya dapat ditemukan langsung. Tetapi hal ini tidaklah menjadi suatu peghalang dalam melihat dan menganalisis Al-Qur’an yang tentunya tetap berpijak pada pemahaman yang pertama kali dicontohkan.

            Pendapat yang tidak membolehkan adanya penafsiran bi al-ra’y pernah dianggap sebagai biang keladi adanya kejumudan berpikir dikalangan umat Islam, karena pendapat tersebut memberikan rasa takut dan menyebabkan tidak mengkaji isi Al-Qur’an, masalah-masalah lain yang menjadi bukti kuat kekalnya Al-Quran. Penggunaan tafsir logika tidak dibenarkan jika dipakai dalam mengkaji kegiatan ubudiyah yang tidak mungkin terjadi adanya perubahan. Penafsiran ini hanya bisa dipakai untuk masalah-masalah sosial atau aspek kehidupan yang sangat dinamis, dan berkembang pesat yang membutuhkan kajian sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an, menghasilkan teori yang relevan dengan dinamika yang ada dengan berdasar pada kekalnya Al-Qur’an dan jawaban terhadap masalah-masalah yang terjadi, hal ini merupakan konsekuensi logisnya.

sumber :

https://mcitp70-643.com/princess-kingdom-apk/