DILEMMATIK

DILEMMATIK

DILEMMATIK
DILEMMATIK

JAKARTA.05032015. Dimakan mati ibu

tidak dimakan mati ayah. Begitulah sebuah situasi dimana tidak ada satupun pilihan yang mengenakkan (favourable). Situasi ini disebut dilemmatik.

Dalam kehidupan sehari hari, memang seringkali sekonyong-konyong situasi dilemmatik sudah berada dihadapan kita. Sudah tentu, kita akan mengalami kesulitan untuk menentukan pilihan. Hal ini, karena dua alternatif pilihan yang tersedia sama sama berdampak tidak enak bagi yang memilih. Untuk menyikapi hal ini, maka kita perlu menemukan cara untuk menentukan pilihan.

Pada dasarnya pilihan harus diambil secara mandiri, tenang, terukur, dan tidak terburu-buru. Kuncinya adalah menyadari sepenuhnya bahwa situasi dilemmatik ini adalah situasi kekinian, yang sudah ada di depan mata, sehingga akan membuang buang waktu apabila pikiran tercurah hanya untuk meratapi kelalaian atau kesalahan masa lalu yang mungkin sebagai penyebabnya, tetapi justru curahkan pikiran untuk mencari peluang untuk mendapat keuntungan terbesar dan resiko terkecil dari masing-masing situasi dilemmatik tersebut.

Menghadapi situasi kekinian tersebut tentunya harus dihadapi dengan cara responsif, sebaliknya jangan pernah dihadapi dengan cara reaktif. Dengan cara responsif maka muatan permasalahan dapat tergali secara dalam dan konfrehensif, sedangkan apabila dengan cara reaktif, maka muatan permasalahan hanya digali secara dangkal dan tidak menyeluruh. Dengan demikian, tentunya keputusan yang akan diambil dengan cara responsif akan lebih baik dibandingkan dengan cara reaktif.

Menganalisis permasalahan melalui pembicaraan telpon lebih reaktif

dari pada melalui pembicaraan tatap-muka dalam perundingan. Tetapi, menganalisis permasalahan dari dokumen tertulis, termasuk melalui SMS termasuk cara responsif. Namun, tentunya SMS kurang konperehensif dibandingkan dari dokumen berupa surat dan dokumen tertulis lainnya. Singkat kata, cara responsif adalah ketika tersedia cukup waktu untuk menganalisa permasalahan, sementara cara reaktif adalah ketika kurang tersedia culkup waktu untuk menganalisa permasalahan.

Pelibatan sanak keluarga untuk situasi dilemmatik

terkait masalah peribadi atau pelibatan teman sejawat untuk situasi dilemmatik untuk bukan masalah pribadi, tentunya akan semakin menambah kedalaman dan konprehensifitas dalam menganalisis permasalahan. Oleh karena itu, jangan segan untuk mengajak orang terdekat dalam proses pengambilan keputusan.

Setelah pilihan keputusan sudah ditemukan, maka jangan ragu untuk menentukan pilihan, sebab dengan mengambil keputusan, maka situasi dilemmatik sudah diakhiri. Selanjutnya, waktu dan pikiran kita dapat beralih untuk mengawal perjalanan dari pilihan kita tersebut.

Dalam hal, situasi dilemmatik di atas ternyata tidak ada pilihan

yang akan diambil, maka biarkan saja, sebab menurut Gus Dur semua permasalahan yang ada di dunia ini akan terselesaikan dengan sendirinya apabila dibiarkan. Sesungguhnya, keputusan tidak memilih salah satu dari situasi dilemmatik itu adalah sebuah keputusan juga

Sumber : https://pendidikan.id/main/forum/diskusi-pendidikan/mata-pelajaran/11140-isi-trikora-lengkap