Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Nonnormatif
Posted in: Pendidikan

Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Nonnormatif

Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Nonnormatif

Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Nonnormatif

Perkembangan seorang anak hanya dapat dipahami dalam konteks di mana ia tinggal bersama-sama dengan orang lain di sekitarnya. Seorang anak dipengaruhi dan pada gilirannya juga memengaruhi keluarga mereka sementara anak-anak tersebut dan keluarganya juga adalah produk dari lingkungan (setting) geographis, kesejarahan, sosial dan politik di mana mereka tinggal dan tumbuh. Tidak ada seorang anak pun bahkan seorang individu yang benar-benar terisolasi dari pengaruh-pengaruh tersebut. Proses perkembangan melibatkan interaksi antara anak dengan lingkungannya, anak memengaruhi semua yang berada di sekelilingnya, termasuk kedua orang tua mereka. Papalia dan Feldman (2012), mengemukakan bahwa persamaan dan perbedaan seorang anak dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor normatif dan nonnormatif. Faktor normatif adalah kejadian biologis dan lingkungan yang secara umum memengaruhi kebanyakan atau sebagian besar orang dalam masyarakat.  Kelainan yang muncul pada seorang anak berkaitan erat dengan faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan mereka. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah :

  1. Cetak Biru Biologis (Biological Birthright)

Dalam sel tubuh manusia terdapat 46 kromosom yang terbentuk menjadi 23 pasang struktur yang di dalamnya mengandung gen. 23 kromosom berasal dari sperma ayah dan 23 lainnya dari sel telur ibu, bersatu bersama-sama membentuk sel pertama dari bayi. Kode genetik bayi yang bersifat personal yang dapat “dibaca” melalui contoh darah. Kode genetik ini sangat unik, sehingga tidak ada satu pun orang yang memiliki kode genetik sama, seperti halnya sidikjari.Banyak karakteristik yang sifatnya bawaan seperti misalnya warna rambut. Warna rambut hingga saat ini adalah merupakan contoh karakteristik bawaan yang murni, tidak ada yang dapat kita lakukan selama ataupun setelah kelahiran untuk memengaruhi warna alami dari rambut bayi.

  1. Genetik atau Lingkungan

Faktor genetik adalah bawaan lahir Ciri-ciri bawaan yang berasal dari kedua orang tua, sedangkan faktor lingkungan adalah dunia Ji luar diri mdividu, dimulai saat dalam kandungan, dan pembelajaran yang diperoleh dari pengalaman. Dari semua area dimana pengaruh genetik dan lingkungan saling berinteraksi mempengaruhi seorang anak, maka ada dua aspek yang mengundang perbedaan pendapat paling kontroversial yaitu berkaitan dengan perbedaan jender yaitu perbedaan antara laki-laki dan perempuan;, dan yang kedua adalah berkaitan dengan peranan, sifat-sifat serta asal-usul inteligensi. Perbedaan muncul dalam kaitan mana yang pada awalnya dipengaruhi oleh faktor bavvaan dan mana yang secara prinsip dipengaruhi oleh lingkungan sosial.

  1. Perbedaan jender

Hal mendasar lain yang dapat menjadi contoh bagus untuk memahami bahwa perbedaan dalam perilaku dan menentukan pilihan mana yang lebih disukai antara kedua jenis kelamin juga berakar pada dasar-dasar biologis. Dikatakan bahwa perempuan akan menjadi perempuan dan laki-laki akan menjadi laki-laki karena memang seharusnya demikian. Orang tua dan lingkungan mengharapkan agar anak-anak berperilaku sesuai dengan stereotipi jenis kelamin mereka dan, kemudian secara utnum anak-anak mematuhi hal tersebut.

  1. Inteligensi

Pembahasan mengenai inteligensi, seperti juga stereotipi jender, dengan segera secara langsung menimbulkan prasangka dan kesalahan pemahaman, menimbulkan diskusi cukup sengit di kalangan akademisi. Menurut Lansdown dan walker (1996) pada tahun 1921 ada empat belas orang psikolog memberikan sumbangan dalam sebuah simposium dengan topik inteligensi, dan juga berakhir dengan empat belas buah definisi. Beberapa di antaranya adalah :

1)        Kemampuan untuk membina hubungan.

2)        Kemampuan membedakan (menurut Cicero).

3)        Kapasitas global dari individu untuk berperilaku secara tepat, berpikir rasional dan berhadapan dengan lingkungan secara efektif.

4)        Atensi, penyesuaian diri dan kapasitas belajar.

  1. Konteks Sosial
  2. Keluarga

Berkaitan dengan kuatnya dan keluasan pengaruh, maka tidak ada konteks yang memberikan pengaruh sedemikian besar kecuali keluarga. Keluarga adalah konteks pertama yang memperkenalkan anak kepada dunia secara fisik melalui kegiatan bermain dan menjelajah obyek-obyek yang berada di sekitamya. Juga menciptakan ikatan yang khas di antara orang-orang yang berada di sekitar anak. Kelekatan dengan orang tua dan saudara kandung biasanya berjalan sepanjang kehidupan dan menjadi model saat membina hubungan dalam dunia yang lebih luas seperti tetangga, sekolah dan masyarakat di sekitar tempat kita tinggal.

Penelitian-penelitian mutakhir memandang keluarga sebagai suatu jejaring dari hubungan yang saling memiliki ketergantungan satu sama lain (interdependent). Bronfenbrenner menyebutnya sebagai suatu sistem yang memiliki pengaruh bidirectional (bidirectional influences), artinya perilaku atau respons dari setiap anggota keluarga dipengaruhi dan saling memengaruhi anggota keluarga yang lainnya.pengaruh-pengaruh tersebut dapat bersifat langsung maupun tidak langsung .

1.)    Pengaruh yang bersifat langsung (direct influences)

2.)    Pengamh yang bersifat tidak langsung

  1. Status sosial ekonomi danfungsi keluarga

Para peneliti menempatkan kedudukan keluarga seseorang dalam rentang tersebut berdasarkan suatu indeks yang disebut status sosial ekonomi atau yang sering disingkat dengan SES. Indeks tersebut merupakan kombinasi dari tiga variabel yang saling berhubungan satu sama lain namun tidak saling tumpang tindih sepenuhnya. Variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut: (1) tingkat pendidikan dan (2) kedudukan atau keterampilan dalam pekerjaan, dirnana kedua ha! ini mengukur status sosial; dan (3) pendapatan, yang bertujuan mengukur status ekonomi. Dalam kenyataannya status sosial ekonomi ini dapat naik dan turun, yang pada gilirannya tentu saja perubahari-perubahan ini juga memengaruhi fungsi keluarga.

  1. Kemiskinan

Kemiskinan membuat kesehatan fisik memburuk, kemampuan kognitif atau kecerdasan berkurang atau tidak berkembang optimal, kemampuan akademis menurun, putus-sekolah, gangguan jiwa dan meningka.nya perilaku anti sosial atau kenakalan. (Poulton dkk., 2000; Secombe, 2002; dalam Berk, 2005). Selain anak maka stres yang muncul secara terus menerus akibat kemiskinan ini membuat orang tua menjadi depresi, mudah marah, mudah tersinggung dan pada akhirnya akan mengganggu perkembangan anak.

  1. Perbedaan Budaya

Bila kita cermati, maka di seluruh dunia ini amat banyak perbedaan-perbedaan yang dapat kita amati, mengenai bagaimana cara-cara setiap budaya memperlakukan bayi-bayi yang baru lahir.

Hampir semua bangsa, melalui sistem pendidikan di sekolah, secara disadari maupun tidak cenderung menekan anak-anak, agar mereka mematuhi nilai-nilai budaya yang berkembang dalam masyarakatnya. Bila mereka tidak patuh pada nilai-nilai tersebut, maka hukuman atau “label” tertentu akan diberikan pada anak tersebut.

Penelitian yang panjang dilakukan oleh banyak peneliti untuk melihat faktor-faktor apa yang dapat melindungi seorang anak dari kerusakan yang ditimbulkan sebagai akibat dari lingkungan yang penuh dengan tekanan. Ditemukan adanya empat faktor utama, yaitu:

1) Karakteristik Pribadi (Persona! characteristics)

  1. Pengasuhan yang Penuh Kehangatan
  2. Dukungan Sosial di luar Keluarga Inti
  3. Masyarakat yang Peduli

Sumber: https://desaingrafis.co.id/alphabet-google-dikabarkan-merapat-ke-lyft/