Hukum Zakat
Posted in: Pendidikan

Hukum Zakat

Hukum Zakat

Hukum Zakat

Mengeluarkan zakat itu hukumnya wajib sebagai salah satu rukun Islam. (M. Ali Hasan. Zakat dan Infak : Salah Satu Solusi Mengatasi Problem Sosial di Indonesia, (Jakarta : Kencana), hal. 17) Namun demikian, tidak semua orang yang memiliki harta terkena kewajiban zakat mal. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, baik terkait dengan pemilik harta maupun harta itu sendiri. (Indi Aunullah. Op.cit, hal. 18)

4.    Orang-orang yang Berhak Menerima Zakat

” Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, orang-orang yang berjuang untuk Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. At Taubah : 60)
1.     Orang fakir     : tidak mempunyai mata pencaharian tetap dan tidak ada yang menanggung kebutuhan hidup sehari-harinya.
2.     Orang miskin     :    mempunyai mata pencaharian tetapi penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
3.     Amil    :    yang mengurusi zakat, mulai dari pengumpulan sampai dengan pembagian kepada yang berhak.
4.     Hamba Sahaya    :    orang yang menjadi budak dan dapat diperjualbelikan.
5.    Fi Sabilillah    :    yang memperjuangkan agama Islam. (Tim KKG PAI Kota Surabaya, Op.cit, hal. 60)
6.    Muallaf     :     1. Orang yang baru masuk Islam dan imannya belum teguh.
2.  Orang Islam yang berpengaruh dalam kaumnya.
3.  Orang Islam yang berpengaruh terhadap kafir.
4.  Orang yang menolak atau menangani kejahatan orang yang anti zakat.
7.    Orang yang berhutang    :     1. Orang yang berhutang karena mendamaikan dua orang yang berselisih.
2. Orang yang berhutang untuk kepentingan dirinya yang dibolehkan.
3. Orang yang berhutang karena menjamin utang orang lain, sedangkan dia dan orang yang dijamin tidak mampu membayar. (Tim Abdi Guru, Op.cit, hal. 159)

baa juga :