Posted in: Pendidikan

Kandungan hikayt mararong mahawangsa

Kandungan hikayt mararong mahawangsa

Latar belakang penulisan suatu karya sejarah sastra tradisional Melayu adalah titah raja. Seorang raja Melayu tradisional selalu ingin menampilkan kebesarannya sendiri dengan berbagai macam cara. Salah satu cara yang ditempuhnya adalah dengan memerintahkan penulis yang berada di bawah naungannya untuk menuliskan karya yang sesuai dengan keinginannya tersebut (Harun Mat Piah et al., 2000, Salleh, 1998).

Tentu saja seorang raja Melayu tradisional bertempat dalam sebuah konteks politik yang tidak selalu mendukung klaim kebesarannya. Hal ini tampak jelas dalam HMM. Raja yang memerintahkan penulisan HMM adalah raja yang menghadapi ketegangan dan tekanan inferiorisasi dari negeri-negeri lain di bagian utara Semenanjung Melayu. Oleh karena itu HMM dengan jelas berusaha mengungkapkan kesan bahwa Kedah lebih besar daripada negeri-negeri lain di kawasan tersebut.

Citra kebesaran raja Melayu tradisional juga diciptakan sedemikian rupa di dalam karya sastra kesejarahan Melayu dengan menyisipkan narasi yang terkait dengan konsep “daulat” dan “durhaka” (derhaka). Konsep daulat menyatakan bahwa seorang raja adalah penguasa tertinggi di suatu negeri. Sementara itu, konsep durhaka menyatakan bahwa rakyat yang melakukan pembangkangan terhadap raja akan ditimpa bencana. Dalam karya kesejarahan Melayu tradisional, daulat raja ditekankan sedangkan durhaka diperlihatkan sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa takut untuk membangkang pada audiens.

HMM justru mengambil pola yang berbeda. Hal ini terlihat dalam narasi ketika keempat menteri utama berinisiatif untuk menggulingkan Raja Bersiung. Raja Bersiung adalah seorang penguasa Kedah yang suka memakan daging manusia. Setiap hari dia mewajibkan salah seorang rakyatnya untuk dijadikan santapannya. Menurut konsep daulat dan durhaka, maka perintah itu harus ditaati oleh seluruh rakyat Kedah. Akan tetapi pengarang HMM memberikan perkecualian dalam kasus Raja Bersiung dengan membenarkan upaya kudeta oleh para menteri yang juga didukung oleh permaisuri. Bagi pengarang HMM, kekuasaan raja tidak mutlak, tetapi kondisional. Jika raja berbuat lalim, maka rakyat berhak memakzulkannya.

Sebagai sebuah karya sastra kesejarahan Melayu tradisional, HMM mematuhi prinsip penulisan yang berbeda dari prinsip penulisan sejarah saintifik modern. Menurut Piah et al. (2002) dan Salleh (1998),

historiografi Melayu tradisional mengandung lima unsur yang selalu ada, yaitu:

  1. a) asal-usul keturunan raja,
  2. b) pembukaan sebuah negeri,
  3. c) jurai keturunan raja yang pertama sampai yang terakhir,
  4. d) proses pengislaman raja dan seluruh negeri, dan
  5. e) situasi ketika penulisan atau penyalinan terakhir dilaksanakan.

Hampir semua unsur tersebut, kecuali yang terakhir, dituliskan berdasarkan mitos, legenda, perlambangan dan lain-lain (Salleh, 1998).