Mengenal Taman Bacaan yang Selalu Hidupkan Budaya Antre

Mengenal Taman Bacaan yang Selalu Hidupkan Budaya Antre

Mengenal Taman Bacaan yang Selalu Hidupkan Budaya Antre

Tradisi antre disinyalir sudah mulai hilang di era digital ini.

Banyak orang lebih memilih untuk cari “cara cepat” untuk sampai ke tujuan. Instan dalam meraih sesuatu yang diinginkan. Mungkin, mengantre dianggap aktivitas yang menjemukan. Bahkan tidak mengenakkan bagi sebagaian besar orang. Apalagi yang berpangkat atau yang merasa tinggi. Wajar bila akhirnya, orang berebut untuk buru-buru. Sehingga tradidi antre jadi terabaikan.
Tradisi antre bisa jadi sudah mulai hilang. Karena hari ini, banyak orang sudah tidak mau lagi berdiri berderet-deret; memanjang sambil menunggu untuk mendapat giliran. Dalam hal apapun, untuk keperluan apapun. Bahkan tidak sedikit orang yang sudi “membayar” orang bila terpaksa haru antre.
Maka benar anekdot yang menyatakan “seorang anak hanya butuh waktu singkat untuk bisa menguasai ilmu matematika. Tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk memiliki budaya antre.

Berangkat dari realitas itulah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera

Pustaka telah menjadikan budaya antre sebagai adab yang dipelihara. Melalui event bulanan bertajuk “Membaca di Alam” hari ini, Minggu 19 Januari 2020, sekitar 40 anak-anak pembaca aktif Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor tetap melatih tradisi antre. Hebatnya, tradisi antre yang diajarakn tidak melalui ceramah. Tapi langsung praktik dengan menerapkan “jajanan kampung gratis” seperti baslok, cincau dan sebagainya. Seusai mengikuti senam literasi, bermain games, dan membaca di alam di Sungai Ciherang, anak-anak TBM Lentera Pustaka langsung antre untuk menikmati jajajan kampung gratis.
Dibimbing langsung oleh Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepela Program TBM Lentera Pustaka, anak-anak usia sekolah yang selalu membaca seminggu 3 kali ini menjadikan tradisi antre sebagai adab yang harus dijunjung tinggi. Selain tradisi antre, anak-anak TBM Lentera Pustaka pun diajarkan adab-adab lainnya, seperti 1) memberi salam, 2) cium tangan, dan 3) berdoa sebelum membaca.

“Selain menjadi tempat membaca secara rutin, anak-anak TBM Lentera

Pustaka memang dilatih untuk memiliki adab antre, salam, cium tangan, dan berdoa. Dan setelah 2 tahun berjalan, semua itu sudah menjadi nilai-nilai yang melekat dalam diri mereka. Adab inilah yang perlu diajarkan di era yang katanya semakin canggih, di era digital” ujar Syarifudin Yunus yang ikut mengantre bersama anak-anak.

 

Baca Juga :