Posted in: Umum

Pada awalnya Sultan Akbar adalah seorang penganut Sunni yang taat

KONSEP DIN-I-ILAHI

1. Sebab munculnya Din-i-Ilahi

Pada awalnya Sultan Akbar adalah seorang penganut Sunni yang taat. Dia menunaikan shalat lima waktu berjama’ah, mengumandangkan azan, membersihkan masjid, menghormati dua pimpinan agama utama di istana yaitu Makhdum-ul Mulk dan Syekh Abdul Nabi. Syekh Abdul Nabi diberi otoritas yang pemegang jabatan lain tidak pernah menikmatinya. Sultan Akbar sering pergi ke rumahnya untuk mendengarkan dakwahnya mengenai hadist Nabi saw dan menyerahkan pengasuhan Pangeran Salim kepadanya. Bukti lain ialah Sultan Akbar selalu menziarahi makam sufi Chistiyah yaitu Khawaja Muinuddin di Ajmer setiap tahunnya.
Kekecewaannya pada kaum ortodoks Sunni berawal dari kegiatan diskusi keagamaan yang diadakannya di Ibadat Khana selalu diwarnai dengan pertengkaran, saling menghina, dan memojokkan lawan. Selain itu dua pejabat tertinggi keagamaan istana yaitu Makdamul Mulk dan Syekh Abdul Nabi kerap terlibat dalam perdebatan keras seputar masalah-masalah agama. Kekecewaan Sultan Akbar mencapai puncaknya ketika Syekh Abdul Nabi sebagai Sadrul Sudur menjatuhkan hukuman mati kepada seorang brahmana yang didakwa mengambil material membangun masjid untuk membangun candi, mengutuk Nabi Muhammad saw dan menunjukkan kebenciannya kepada orang-orang Islam dengan berbagai cara. Keputusan Syekh Abdul Nabi ini mendapat kritik keras dari pejabat- pejabat istana yang beragama Hindu dan istri Sultan Akbar sendiri dari suku Rajput, sehingga hal tersebut menyulitkan posisi Sultan Akbar.
Lalu Sultan Akbar pun datang kepada Syekh Mubarak, seorang ulama yang memiliki pikiran bebas. Beliau menerangkan bahwa menurut undang-undang Islam, jika ada pertikaian pendapat antara ahli hukum maka kepala pemerintahan Isalm memiliki hak untuk memilih salah satu pendapat tersebut. Dari sinilah kemudian disusun dokumen yang berisi bahwa Akbar memiliki otoritas untuk memilih pendapat yang menguntungkan bangsa jika terjadi perselisihan. Selain itu akbar juga berhak mengeluarkan perintah baru yang tidak hanya sesuai ajaran Islam namun juga menguntungkan berbagai bangsa.
Melalui dokumen tersebut, Sultan Akbar kemudian membuka Ibadat Khana yang pada awalnya hanya diperuntukkan bagi muslim, kemudian terbuka bagi seluruh agama yang ada di India. Akbar mengumumkan suatu pembaharuan yaitu sijda atau sujud ketika menghadap raja, dikenal dengan zaminbos. Dengan diumumkannya sijda ini, maka resmilah Sultan Akbar menyatakan gagasannya tentang Din-i-Ilahi yaitu sebuah ajaran yang memandang semua agama adalah sama dan agar semua rakyat mendapat keadilan yang sama. Din-i-Ilahi bukanlah sebuah agama baru, melainkan sebuah perkumpulan yang memiliki tujuan agar semua orang masuk ke dalam perkumpulan itu, terutama pembesar kerajaan baik Islam atau Hindu, dengan loyalitas dan rela berkorban untuk kepentingan Akbar. Meskipun begitu, Sultan Akbar sendiri tidak pernah memaksakan gagasannya tersebut kepada siapa pun juga.


Sumber: https://pss-sleman.co.id/