Bio Farma Bantu Warga Garut Korban Banjir Bandang

Bio Farma Bantu Warga Garut Korban Banjir Bandang

Bio Farma Bantu Warga Garut Korban Banjir Bandang

Bio Farma Bantu Warga Garut Korban Banjir Bandang
Bio Farma Bantu Warga Garut Korban Banjir Bandang

BANDUNG-Hujan deras yang melanda Kabupaten Garut pada tanggal 20 September 2016 dini hari, telah menyebabkan bencana banjir bandang, yang mengakibatkan ratusan rumah di enam Kecamatan antara lain; Bayongbong, Pasirwangi, Samarang, Tarogong Kidul dan Banyuresmi hanyut terbawa banjir, dan menelan puluhan korban jiwa.

Banjir bandang yang diakibatkan meluapnya Sungai Cimanuk juga ikut menerjang fasilitas umum seperti RSUD Dr Slamet, Kecamatan Tarogong, Garut.

Bio Farma sebagai BUMN yang keberadaannya dekat dengan Garut, bersama

dengan relawan–relawan dari Kodim 0611 Garut, Denpo, Garut, Yonif 301, Polres Garut, Brimob, Satpol PP, BPBD Garut, SAR Garut, Kwarcab, Polantas, FKPN Garut dan Basarnas, membantu untuk meringankan beban para korban bencana banjir dengan membuka Posko Penanggulangan Bencana Alam Garut yang dipusatkan di Makodim 0611 Garut.

Bantuan yang diberikan oleh Bio Farma antara lain peralatan mandi, handuk, selimut, makanan/sembako untuk dapur lapangan dan pelayanan kesehatan gratis untuk mengantisipasi penyakit pasca banjir seperti; Diare, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), Leptospirosis, dan sebagainya.

Menurut M. Rahman Rustan, Corporate Secretary Bio Farma yang hadir

bersama Juliman, Direktur Produksi Bio Farma, bantuan dari Bio Farma senilai Rp 75 Juta, nantinya akan digabung dengan bantuan dari BUMN lain yang berada di wilayah Jawa Barat, seperti Pertamina, Telkom, dan BRI, dan diserahkan kepada Koordinator PIC Tanggap Bencana di Posko Sinergi BUMN Hadir untuk Negeri di Garut yang berlokasi di Kantor PT Telkom Garut.

“Bantuan ini selanjutnya akan diserahkan ke Dansatgas Penanggulangan

Bencana Alam Garut yang berlokasi di Posko Penanggulangan Bencana Alam Garut, Makodim 0611/Garut,” katanya.

“Semoga dengan bantuan yang kami berikan, dapat meringankan beban para korban, kami juga akan mengadakan pelayanan kesehatan gratis sebagai langkah antisipasi pasca bencana” pungkasnya. jo

 

 

Sumber :

http://forum.detik.com/isi-trikora-t2044971.html

Pertamina EP dan Badan Geologi Kerjasama Eksplorasi Indonesia Timur

Pertamina EP dan Badan Geologi Kerjasama Eksplorasi Indonesia Timur

Pertamina EP dan Badan Geologi Kerjasama Eksplorasi Indonesia Timur

Pertamina EP dan Badan Geologi Kerjasama Eksplorasi Indonesia Timur
Pertamina EP dan Badan Geologi Kerjasama Eksplorasi Indonesia Timur

BANDUNG-Perjanjian kerjasama antara Badan Geologi dan Pertamina EP itu

dilakukan di Kantor Badan Geologi Kementerian ESDM, Jl. Diponegoro Bandung, Jum’at (23/9). Kerjasama difokuskan untuk melakukan penelitian dan eksplorasi minyak dan gas.

“Indonesia ini memiliki 128 basin atau ceruk potensi minyak bumi, sementara

yang termanfaatkan baru kurang dari 5 persen. Jadi masih banyak yang harus dieksplorasi lagi, lalu kalau memungkinkan dieksploitasi” ujar Kepala Badan Geologi Ego Syahrial.

Menurut Ego 128 basin itu tersebar di wilayah Indonesia, tetapi kebanyakan

yang baru dimanfaatkan di wilayah Barat.

“Indonesia bagian Timur bahkan ada yang belum terjamah sama sekali padahal potensinya cukup besar, terutama di sekitar wilayah laut Papua” katanya.

Jika seluruh potensi itu bisa dimanfaatkan, maka Indonesia tidak perlu lagi impor minyak. (Pun)

 

Sumber :

http://forum.detik.com/jaringan-tumbuhan-t2044969.html

Sejarah Upacara Adat Ngaben Umat Hindu Bali

Sejarah Upacara Adat Ngaben Umat Hindu Bali

Sejarah Upacara Adat Ngaben Umat Hindu Bali

Sejarah Upacara Adat Ngaben Umat Hindu Bali
Sejarah Upacara Adat Ngaben Umat Hindu Bali

Sobat kali ini kita akan membahas tentang upacara pembakaran mayat di Bali atau lebih dikenal dengan nama Ngaben. Masyarakat Hindu di Bali mempercayai bahwa kematian bukanlah suatu yang harus ditangisi, sehingga dalam acara Ngaben biasanya sanak saudara akan bersuka cita karena jenazah akan menjalani reinkarnasi dan menemukan peristirahatan yang terakhir di Moksha (bebas dari roda kematian dan reinkarnasi).

Ngaben merupakan ritual yang harus dilaksanakan ketika salah satu sanak-saudara meninggal

sebagai rasa penghormatan dan kasih sayang dari mereka yang ditinggalkan. Jenazah diletakkan di peti-peti mati dan akan dimasukan dalam sarcophagus, sebuah lembu atau dalam wadah berbentuk vihara yang terbuat dari kayu dan kertas.

Kemudian seorang pendeta atau dari kasta Brahmana membacakan mantra dan doa. Lembu dibakar sampai menjadi abu. Api tersebut dipercaya bisa membebaskan roh dari tubuh dan memudahkan reinkarnasi. Abu pembakaran mayat tersebut dimasukan kedalam buah kelapa gading lalu kemudian di larungkan/dihayutkan ke laut atau sungai yang dianggap suci.

Upacara Ngaben, memang tidak serta merta langsung dilaksanakan ketika ada orang meninggal

Ini menyangkut status sosial keluarga yang ditinggalkan. Biasanya untuk kasta tinggi, Ngaben akan dilaksanakan tiga hari usai meninggalnya si jenazah. untuk sementara waktu jasad disemayamkan di rumah, sambil menunggu waktu yang baik kemudian dilakukan kremasi.

Namun bagi mereka yang berkasta rendah, ngaben baru akan dilakukan secara massal setelah jenazah dikuburkan terlebih dahulu. Biasanya kremasi kelompok dengan warga satu kampung dan menunggu sampai biaya terkumpul. Pasalnya pelaksanaan Ngaben membutuhkan biaya yang besar.

Biasanya, penetapan hari pelaksanaan akan dikonsultasikan oleh keluarga dengan pendeta atau dari kasta Brahmana. Sambil menunggu hari baik, biasanya pihak keluarga dan dibantu masyarakat beramai ramai melakukan Persiapan tempat mayat ( bade/keranda ) dan replica berbentuk lembu yang terbuat dari bambu, kayu, kertas warna-warni, yang nantinya untuk tempat pembakaran mayat tersebut.

Pagi harinya pelaksanaan, seluruh keluarga dan masyarakat akan berkumpul.

Sementara itu mayat terlebih dahulu dibersihkan/dimandikan dan tetap dipimpin oleh seorang Pendeta atau orang dari golongan kasta Bramana. Mayat kemudian dirias dengan mengenakan pakaian baju adat Bali. Kemudian seluruh keluarga berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir dan diiringi doa agar arwah memperoleh kedamaian dan berada di tempat yang lebih baik.

Mayat tersebut diletakan di dalam “Bade/keranda” lalu di usung secara beramai-ramai, seluruh anggota keluarga dan masyarakat berbaris di depan “Bade/keranda”. Selama dalam perjalanan menuju tempat upacara tersebut, bila terdapat persimpangan atau pertigaan, Bade/keranda akan diputar putar sebanyak tiga kali, ini dipercaya agar si arwah bingung dan tidak kembali lagi ,dalam pelepasan jenazah tidak ada isak tangis, tidak baik untuk jenazah tersebut, seakan tidak rela atas kepergiannya. Arak arakan yang menghantar kepergian jenazah diiringi bunyi gamelan,kidung suci. Pada sisi depan dan belakang Bade/keranda yang di usung terdapat kain putih yang mempunyai makna sebagai jembatan penghubung bagi sang arwah untuk dapat sampai ketempat asalnya.

Keluarga yang ditinggalkan dipercaya dapat membebaskan roh/arwah jenazah dari perbuatan perbuatan yang pernah dilakukan dunia dan menghantarkannya menuju surga abadi dan kembali berenkarnasi lagi dalam wujud yang berbeda.

Nah Sobat, demikian cerita singkat tentang upacara Ngaben di Bali. Semoga semakin menambah pengetahuan kita tentang tradisi dan budaya nusantara.

Baca juga artikel:

Kelebihan Budidaya Ikan Lele Memakai Kolam Terpal

Kelebihan Budidaya Ikan Lele Memakai Kolam Terpal

Kelebihan Budidaya Ikan Lele Memakai Kolam Terpal

Kelebihan Budidaya Ikan Lele Memakai Kolam Terpal
Kelebihan Budidaya Ikan Lele Memakai Kolam Terpal

Lele ialah salah satu macam ikan tawar yang sudah dibudidaykan secara menyeluruh dan komersial oleh masyarakat Indonesia, khususnya di pulau Jawa:

Bisa dilakukan di bidang budidaya sumber daya air yang terbatas meskipun jumlah tebar benih besar, Mudah dikendalikan oleh masyarakat, Pemasaran ini mudah, dan Venture modal yang dibutuhkan relatif rendah (tergantung pada dimensi dari biaya pkan), Selain itu, lele memiliki kandungan gizi terbesar dibandingkan oleh model ikan perairan darat lainnya.

Kelebihan Cara Budidaya Ikan Lele Memakai Kolam Terpal

Pembuatan kolam terpal bisa dilakukan di pekarangan ataupun di halaman rumah. bidang yang digunkan berupa bidang yang belom dipergunkan atau bidang yang telah dipergunkan, tapi Lebih Produktif. keuntungan dari kolam terpal ialah terhindar dari hewan pemburu ikan, hewan peliharaan, ikan terlihat lebih berseni, dan ular sawah.

Dilengkapi pengaturan volume air yang berguna tuk pemanenan dan bisa mempermudah penyesuaian kebesaran air sesuai usia ikan. bisa dijadikan peluang usaha skala kecil dan besar, Lele yang dihasilkan lebih berkualitas, lele terlihat tampak bersih, dan seragam. Bidang yang digunkan regular tak berubah karna bukan kolam galian.

  • Menghindari dimangsa hama seperti ikan dan ular bidang liar.
  • Dilengkapi oleh volume air yang berguna tuk memfasilitasi perubahan air dan tanaman dan tuk memfasilitasi penyesuaian kebesaran air sesuai oleh usia ikan.
  • Bisa digunkan sebagai peluang usaha kecil dan besar,
  • Menghasilkan kualitas lele yang lebih besar, terlihat lele tampak bersih, dan seirama.
  • Penggunaan bidang tak berubah karna tak penggalian kolam renang atau kolam semen.

Cara Awal Pengisian Air dan Bibit

Model kolam

umpan ikan mas – Tahap utama dalam budidaya ikan lele ialah wadah budidaya baik kolam tanah ataupun kolam terpal dan kali ini ialah cara budidaya ikan lele di kolam terpal. Bagian dalam kolam terpal dicuci oleh sabun tuk melenyapkan bau lem atau bahan kimia yang bisa membunuh benih ikan. Setelah itu, bagian dalam terpal dibilas bersih dan dikeringkan sekalianr satu hari, kolam diisi oleh air sampai 20 cm.Setelah kolam sudah terisi air diamkan sekalianr kurang lebih 1 minggu tuk proses pembentukan kerak atau lumut dan tuk pertumbuhan bakteri plankton.

Kemudian tambahkanlah air lagi sampai mencapai 80 cm setelah ikan berangsung dewasa. Air yang telah ditinggalkan sekalianr seminggu penuh dan diberikan daun-daun seperti daun singkong, atau pepaya. Tujuannya agar air berwarna hijau. air hijau tuk mencegah bau yang disebabkan karna penguapan air kolam dan harus dilakukan 25% penambahan dan penggantian air.

Pemilihan Benih Unggul

  • Benih unggul bisa kalian lihat oleh cara memperhatikan Ciri-ciri Sebagai Berikut :
  • Benih Terlihat aktif Melakukan oksigenasi;
  • cepat, lincah Dan cerah;
  • Dimensi Terlihat Seragam;
  • Warna terlihat Lebih Terang;

Cara Budidaya Ikan Lele di Kolam Bundar

Cara Budidaya Ikan Lele di Kolam Bundar

Cara Budidaya Ikan Lele di Kolam Bundar

Cara Budidaya Ikan Lele di Kolam Bundar
Cara Budidaya Ikan Lele di Kolam Bundar

Sekarang sudah banyak orang budidaya ikan lele di kolam bundar terutama di tempat kota-kota besar seperti halnya di kota Palembang ini, baik skala hobi dan bisnis, karena nama ikan lele sekarang sudah menjadi lebih baik di mata masyarakat, tidak seperti pada zaman nenek kita dulu nama ikan lele ini kurang diminati karena tempat kehidupan ikan lele tsb sangat terkenal kotor. tetapi di zaman sekarang ini nama lele sudah sangat baik bahkan menjadi kebutuhan pokok masyarakat untuk lauk pauk makanan kita sehari-hari.

Untuk kebutuhan lele kosumsi di kota besar Palembang ini menghabiskan kurang lebih 2 ton perhari nya untuk kebutuhan masyarakat, penjual rumah makan, dan pecel lele yang sangat semarak sekali yang selalu kita lihat di pingiran trotoar jalan maupun toko. nahh disini kita bisa lihat ada peluang untuk kita memulai usaha sebagai budidaya ikan jenis lele ini, karena peluangnya sangat besar sekali.

bagi anda yang ingin budidaya ikan lele tetapi tidak mempunyai lahan yang besar, jangan hawatir karena ada solusinya yaitu memakai kolam bundar palembang. contoh gambar ini adalah lahan kecil di teras depan rumah.

 Didalam budidaya lele sekarang ini sudah banyak sekali metode-metode ataupun tehnik, seperti Kovensional,Bioflock, NWS, Organik, dan lain-lain. Adapun cara budidaya lele ini saya akan berbagi ilmu dan pengetahuan saya cara budidaya ikan lele tsb :

Hari pertama Budidaya Ikan Lele di kolam bundar

  • sebelum menebar ikan kedalam kolam bundar terlebih dahulu kita menyiapkan air setinggi 40 cm.
  • siapkan dedak 30gr/m3, ragi tape 1butir/m3, beri air secukupnya, masukan dalam wadah dan tutup rapat sampai 3 hari.
  • tambahkan dolomit 300gr/m3.
  • probiotik 30-40 mill/m3
  • fermantasi dedak diatas di saring lalu ambil air ny saja, masukan kedalam air kolam.
  • setelah 4 hari,
  • tambahkan air setinggi minimal 70cm,
  • dolomit 50gr/m3.
  • probiotik 20ml/m3.
  • -hari ke 7 – 10 barulah tebar bibit .

jenis ikan hias air tawar terindah di aquarium – ketika saat menebar bibit, ikan di wajibkan puasa selama 2-3 hari karna bibit masih merasakan stres saat di perjalanan dan tinggal  di tempat suhu yang baru. bibit ikan yang baru di tebar tidaklah merasakan kelaparan pada waktu puasa selama 2-3 hari karena didalam kolam sudah banyak terdapat makanan alami seperti jentik nyamuk, plankton, dan jenis mahkluk hidup lainnya dikolam tsb ( contoh poto di bawah ini air yang sudah siap di tebar bibit ).

setelah puasa barulah di kasih pakan yang berprotein tingggi secukupnya yang penting jangan berlebihan kerena akan mengandung zat racun ( pantogen ) dari sisa pakan.

Untuk aplikasi managemen air mingguan haruslah dilakukan sbb :

  • dijalani 7 hari sekali.
  • saat aplikasi ikan di puasakan 24 jam.
  • semua aplikasi pagi hari.
  • tambahkan ragi tape 1 butir/m3.
  • ganti air kolam jika terpaksa, buang air dasar 30cm.
  • aplikasi bakteri loctobacilus ( probiotik ) 20ml/m3.
  • aplikasi dolomit 50-100 gr/m3.

inilah salah satu cara formalitas budidaya lele sebelum menebar bibit lele, cara ini bukan berarti kita selalu berhasil, yang penting kita cari info yang lain nya juga melalui sesama teman budidaya ikan lele, internet, dan lainnya ( berdoa dan berusaha, jangan pantang menyerah ). good luck !!!

Sampai disini dulu cerita pendek saya ini, terima kasih sudah mampir di web kami ini.

Sejarah Kodifikasi Hadith

Sejarah Kodifikasi Hadith

Sejarah Kodifikasi Hadith

Sejarah Kodifikasi Hadith
Sejarah Kodifikasi Hadith

Hadith Pertama Kali

Ide penghimpunan hadith nabi secara tertulis untuk pertama kali dikemukakan oleh khalifah Umar bin al Khottab. Ide tersebut tidak dilaksanakan oleh umar karena Umar merasa khawatir umat islam akan terganggu perhatiannya dalam mempelajari al-Qur’an. Pembatasan niat Umar untuk menghimpun hadith nabi itu dikemukakan sesudah beliau melakaukan sholat istikharah selama satu bulan. Kebijaksanaan Umar dapat di mengerti karena pada zaman Umar daerah islam telah semakin meluas dan hal itu membawa akibat jumlah orang yang baru memeluk islam semakin bertambah banyak.

Periode Tabi’in

Memasuki periode tabi’in, sebenarnya kekhawatiran membukukan/ kodifikasi hadith tidak perlu terjadi, justru pada periode ini telah bertabur hadith-hadith palsu yang mulai bermunculan setelah umat islam terpecah belah menjadi golongan-golongan, yang semula berorientasi politik berubah menjadi faham keagamaan, seperti khawarij, syi’ah, murjji’ah dan lain-lain. Perpecahan innin terjadi sesaat setelah peristiwa tahkim yang merupakan rentetan peristiwa yang bersal dari terbunuhnya khalifah Umar bin Affan ra. Untuk mengukkuhkan eksistensi masing-masing golongan mereka merasa perlu menciptakan hadith palsu.

Kemudian semua karya tentang hadith dikumpulkan pada paruh akhir abad ke-2H/8M atau selama abad ke-3/9M. Berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa di seputar awal abad ke-2H,sejumlah kecil muhadditsun (ahli kitab) telah mulai menulis hadith,meskipun tidak dalam himpunan yang runtut. Belakangnan koleksi kecil ini menjadi sumber bagi karya-karya yag lebih besar. Meskipun begitu kebanyakan hadith yang ada dalam himpunan-himpunan disampaikan melalui tradisi lisan. Sebelum dicatat dalam himpunan-himpunan tersebut belum pernah dicatat ditempat manapun.

Ada beberapa pendapat yang berkembang mengenai kapan kodifikasi secara resmi dan serentak di mulai.

a. Kelomppok syi’ah

mendasarkan pendapat hasan al-sadr (1272-1354 H), yang menyatakan bahwa penullisan hadis telah ada sejak masa nabi dan kompilasi hadis telah ada sejak awal khalifah Ali bin Abi Thalib (35 H), terbukti adanya kitab Abu Rafi’, kitab al-Sunan wa al-Ahkam wa al-Qadaya.

b. Sejak abad 1 H

yakni atas prakasa seorang gubernur mesir ‘Abdul aziz bin marwan yang memerintahkan kepada kathir bin M urrah, seorang ulama hamsy untuk mengumpulkan haadis, yang kemmudian disanggah syuhudi ismail dengan alasan bahwa perintah Abdul Aziz bin M arwan bukan merupakan perintah resmi, Iegal dan kedinasaan terhadap ulama yang berada di luar wilayah kekuasaannya.

c. Sejak awal II H

yakni masa khalifah ke-5 dinasti Abbasiyyah, Umar ibn Abdul Aziz yang memerintahkan kepada semua gubernur dan ulama di daerah kekuasaannya untuk mengumpulkan hadith-hadith nabi. Kepada ibnu shihab al-Zuhri, belliau berkirim surat yang isinya “perhatikanlah hadith Rasulullah SAW, lalu tulislah. Karena aku mengkhawatirkan lenyapnya ilmu itu dan hilangnya para ahli” dan kepada Abu Bakar Muhammad ibn ‘Amr ibn hazm, beliau menyatakan: “tulislah kepadaku hadis Rasulillah SAW yang ad padamu dan hadis yang ada pada ‘Amrah (amrah binti Abdurrahman, w. 98 H ), karena aku mengkhawatirkan ilmu itu a.kan hilang dan lenyap”

Pendapat ketiga ini yang di anut jumhur ulama hadis, dengan pertimbangan jabatan khalilfah gaungnnya lebih besar daripada seorang gubernur, khalifah memerintah kepada para gubernur dan ulama dengan perintah resmi dan Iegal serta adanya tindak lanjut yang nyata dari par ulama masa itu untuk mewujudkannya dan kemudian menggandakan serta menyebarkan ke berbagai tempat.

Dengan demikian, penulisan hadith yang sudah ada dan marak tetapi belum selesai di tullis pada masa Nabi, baru diupayakan kodifikasinya secara serentak, rresmi dan massal pada awal abad II H yakni masa Umar bin Abdul A ziz, meskipun bisa jadi inisiatif tersebut berasal dari ayahnya, Gubernur mesir yang pernah mengisyaratkan hal yang sama sebelumnya.

Ada pun siapa kodifikator hadis pertama, muncul nama Ibnu Shihab al- Zuhri (w, 123H), karena beliaulah yang pertama kali mengkomplikasikan hadith dalam satu kitab dan menggandakannya untuk memberikan ke berbagai wilayah sebagaiman pernyataannya: “Umar bin Abdul Aziz memerintahkan kepada kami menghimpun sunnah, lalu kami menulisnya beberpa buku.” Kemudian belliau mengirimkan satu buku kepada setiap wilayah yang berada dalam kekuasaannya. Demikian pandangan yang diruntut sebagian sejarawan dan ahli hadith. Adapun yang berpandangan Muhammad abu Bakr ibn Amr ibn Hazm yang mengkodifikasikan hadith pertama, ditolak oleh banyak pihak, karena tidak menggandakannya hasil kodifikasi Ibn Amr Hazm untuk disebarluaskan ke berbagai wilayah.

Meski demikian, ada juga yang berpendapat bahwa kodifikator hadith sebelum adanya instruksi kodifikasi dari khalifah Umar ibn ‘Abdul Aziz telah dilakukan, yakni oleh khalid bin Ma’dan (w, 103 H). Rasyid Ridha (1282-1354 H) berpendapat seprti itu, berdasarkan periwayatan, khalid telah menyusun kitab pada masa itu yang diberi kancing agar tidak terlepas lembaran-lembarannya. Namun pendapat inni ditolak ‘Ajjaj al-Khatib, karena penulisan tersebut bersifat individual, dan hal tersebut telah dilakukan jauh sebelumnya oleh para sahabat. Terbukti adanya naskah kompilasi hadis dari abad 1H, yang sampai pada kita, yakni al-Sahafiah al-Sahihah.

Tulisan-tulisan hadis pada abad masa awal sangat penting sebagai dokumentasi ilmiah dalam sejarah, sebagai bukti adanya penulisan hadis sejak zaman Rasulullah, sampai dengan masa pengkodifikasian resmi dari Umar bin abdul Aziz. Bahkan sampai masa sekarang.

Baca Juga: 

Pembukuan hadith Lengkap

Pembukuan hadith Lengkap

Pembukuan hadith Lengkap

Pembukuan hadith Lengkap
Pembukuan hadith Lengkap

Penjelasan

Sebagain jawaban terhadap pemalsuan hadith maupu tuduhan ahli hadith telah menyabarkan riwayat yang bertentangan, musykil dan penuh kufarat, kalangan ahli hadith melakukan beberapa cara untuk memelihara hadith.
Pertama, dengan menginvestarisasi kritik yang di lintarkan oleh kelompok mutakallimin, kemudian memberikan penjelasan dan jawabannya. Hal ini di lakukan oleh Muhammad Abdullah bin Muslim bin qataybah al-dinuri (w. 276 H ) dalam kitabnya ta’wil mukhtalaf al hadith.

Kandungan Hadith

Kandungan hadith ini mengandung tiga pokok pembicaraan:
1. Tantangan terhadap kritik dari kelompok penantang hadith.
2. Mengkompromikan yang nilai bertentangan
3. Jawaban terhadapa tuduhan bahwa hadith dipenuhi oleh msykilat dan shubhat.
Kedua, menghimpun hadith dengan system musnad, yakni pengelompokkan yang didasarkan kepada nama seorang sahabat, tidak dibedakan apakah riwayatnya sama atau tidak. Jadi tidak disusun menurut sistematika fiqh.

Musnad Abad ke-3

Di antara musnad yang disusun pada abad ketiga adalah:
a. Musnad ubaydillah bin musa (w. 213 H)
b. Musnad al-humaydi (w. 219 H)
c. Musnad musaddad (w. 237 H)
d. Musnad ishaq bin rahawayh (w. 237 H)
e. Musnad usman bin shaybah (w. 239 H)
f. Musnad ahmad bin hanbal (w. 241 H)

Ketiga, menyusun riwayat dengan basis fiqh, yaitu dengan pengelompokkan berdasarkan kitab fiqh, dalam hal ini ada yang menghimpun semua hadis, tetapi ada pula membatasi pada shahih saja. Perintis metode ketiga ini adalah Muhammad bin isma’il al bukhari (w. dawud dan al-tirmidzi. Metode yang terakhir inilah yang memberi kemudian pada pengkaji hadith.
Literature hadith yang berhasil disusun pada abad ketiga yang sampai saat ini dapat di temukan:
1. Al-musnad, imam ahmad
2. Al-jami’ al shahih,imam al-bukhari
3. Shahih muslim, imam muslim
4. Al-sunnah al-kubra dan mujtaba, imam al-nawawi
5. Al-sunnah, imam abu dawud
6. Al-jami’ al-shahih atau sunan, imam tirmidzi
7. Al-sunnah, imam ibnu majjah al-qazwayni.

Menurut perkiraan ahli hadith literature tersebut telah mengakar sebagian besar riwayat dari Rasulullah SAW, sehinggah sepakat tujuh kitab tersebut sebagai induk kitab hadith (ummahat kutub al-hadis).

Tujuh Literature Hadith

Dari tujuh literature hadith di atas dapat di bedakan menjadi tiga istilah, yaitu:

a. Al-musnad, yang disusun berdasarkan entri nama sahabat.
b. Al-jami’ al-shahih, yang dimaksud oleh penyusunnya untuk menghimpun hadith yang shahih saja.
c. Al-sunnah, yang di maksud oleh penyusunya menghimpun semua kategori hadith, shahih, hasan atau dha’if.

Kemudian timbul juga peristilah untuk memudahkan penyebutan literature secara bersama yaitu:

1. Al-shahihaini, untuk kitab Bukhari dan Muslim.
2. Al-thalatha’, untuk kitab Abu Dawud, Tirmidzi, nsa’i.
3. Al-arba’ah, untuk Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan ibnu Majjah.
4. Al-sittah, untuk kitab Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan ibnu majjah.
5. Al-sab’ah, untuk kitab Al-Bukhari, Muslim,Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majjah, dan Ahmad.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/

Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya

Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya

Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya

Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya
Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya

A. Pengertian kodifikasi hadith

Secara etimologi kata kodifikasi berasal dari kata codification yang berarti penyusunan menurut aturan/sistem tertentu. Atau dari kata tadwin dapat berarti perekaman (recording), penulisan (writing down), pembukuan (booking), pendaftaran (listing, registration). Lebih dari itu, kata tadwin juga berarti pendokumentasia, penghimpunan atau pengumpulan serta penyusunan. Maka kata tadwin tidak semata-mata berarti penulisan, namun ia mencakup penghimpunan, pembukuan dan pendokumentasian.
Jadi yang dimaksud dengan kodifikasi hadith secara resmi adalah penulisan hadith nabi yang dilakukan oleh pemerintah yang di susun menurut aturan dan sistem tertentu yang diakui oleh masyrakat.

Perbedaannya

Ada pun perbedaan antara kodifikasi hadith secara resmi dan penulisan hadith adalah:

1. Kodifikasi hadith secara resmi dilakukan oleh suatu lembaga adminstratif yang diakui oleh masyarakat, sedanng penulisan hadith dilakukan perorangan.
2. Kegiatan kodifikasi hadith tidak hanya menulis, tapi juga mengumpulkan, menghimpun dan mendokumntasiannya.
3. Tadwin hadith dilakukan secra umum yang mellibatkan segala perangkat yang dianggap kompeten teradapnya, sedang penulisan hadith dilakukan oleh orang-orang tertentu.

B. Latar Belakang

Hadith sebagai salah satu sumber hukum dalam islam memiliki sejarah perkembangan dan penyebaran yang kompleks. Sejak dari masa pra-kodifikasi, zaman Nabi, Sahabat, dan Tabi’in hingga setelah pembukuan pada abad ke-2 H. Perkembangan hadits pada masa awal lebih banyak menggunakan lisan, dikarenakan larangan Nabi untuk menulis hadits. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran Nabi akan tercampurnya nash al-Qur’an dengan hadits. Selain itu, juga disebabkan fokus Nabi pada para sahabat yang bisa menulis untuk menulis al-Qur’an. Larangan tersebut berlanjut sampai pada masa Tabi’in Besar. Bahkan Khalifah Umar ibn Khattab sangat menentang penulisan hadits, begitu juga dengan Khalifah yang lain. Periodisasi penulisan dan pembukuan hadits secara resmi dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (abad 2 H). Terlepas dari naik-turunnya perkembangan hadits, tak dapat dinafikan bahwa sejarah perkembangan hadits memberikan pengaruh yang besar dalam sejarah peradaban Islam.

Faktor-faktor pendorong kodifikasi hadith

Ada beberapa hal yang mendorong ‘Umar bin Abdul al- Aziz’ mengambil inisiatif untuk memerintahkan para gubernur dan pembantunya untuk mengumpulkan dan menullis hadis, diantaranya adalah:
1. Tidak ada khawatiran bercampurnya hadis dan al-Qur’an, karena al-Qur’an ketika itu telah di buktikan dan disebarluaskan.
2. Munculnya kekhawatiran akan hilang dan lenyapnya hadis karena banyak sahabat yang meninggal dunia akibat usia atau sering terjadinya peperangan.
3. Semakin maraknya pemalsuan hadis yang dilatar belakangi perpecahan politik dan perbedaan mazhab dikalangan umat islam. Hal ini upaya untuk menyelamatkan hadis dengan cara pembukuannya setelah melalui seleksi yang ketat harus segera dilakukan.
4. Karena telah semakin luasnya daerah kekuasaan islam disertai dengan semakin banyak dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi umat islam, maka hal tersebut menurut mereka untuk mendapat petunjuk dari hadis nabi SAW, selain petunjuk al-Qur’an. Senada dengan beberapa faktor-faktor yang telah dijelaskan.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/

Pemilihan Anggota DPD Melalui Pansel Tidak Masuk Akal

Pemilihan Anggota DPD Melalui Pansel Tidak Masuk Akal

Pemilihan Anggota DPD Melalui Pansel Tidak Masuk Akal

Pemilihan Anggota DPD Melalui Pansel Tidak Masuk Akal
Pemilihan Anggota DPD Melalui Pansel Tidak Masuk Akal

BANDUNF-Anggota Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Ayi Hambali mengatakan pemilihan anggota DPD melalui pansel sangat tidak masuk akal karena bertentangan dengan logika hukum tata negara.

“Ini jangan-jangan ada semacam target terselubung untuk mengerdilkan DPD. Kalau mau menghapuskan bikin amandemen karena DPD ada di konstitusi,”katanya kepada wartawan di Bandung, Senin (1/5/2017)

Rancangan Undang Undang Pemilihan Umum (Pemilu) menyebutkan bahwa pemilihan anggota DPD harus melalui pansel (DPRD, provinsi, dan gubernur).

“Ini tidak layak dan aneh karena masa iya DPD yang sejajar dengan DPR dan presiden tapi dipilih pansel yang notabene di bawahnya,”ujarnya.

Ayi memaparkan, isu besar di DPD adalah orang mempertanyakan bagaimana caranya orang partai ada di DPD. Hal Itu tidak melanggar.

“Memang UU yang pertama di tahun 2002 tidak membolehkannya tapi kemudian di 2014 diubah oleh DPR bahwa anggota DPD boleh dari partai,”imbuhnya.

Ayi menilai jika orang-orang partai akan menguatkan kinerja DPD. Kini

banyak

politisi Hanura yang menghuni di DPD, selain itu juga beberapa anggota lain seperti Golkar dan PKS.

“Menurut UU, DPD adalah rezim pemilu. Maka yang layak menentukan ya pemilu. Kalau sekarang banyak isu anggota DPD tidak berkualitas, bukan itu. Tetapi kewenangannya tidak ada,”tuturnya.

Selain itu, pertimbangan mengenai anggaran banyak disusun DPD seperti

dana alokasi khusus, dana alokasi umum, tapi karena kewenangan sedikit dianggapnya DPD kurang seksi dan tidak bekerja. Dengan alasan itulah mereka mengecilkan DPD.

“Menurut saya 90% anggota DPD berkualitas dan menguasai masalah. Tetapi ga ada kewenangan. Kalau ada kewenagang lebih maka akan lebih terlihat. Kami tidak meminta semua UU dibahas Tripartit bersama pemerintah dan DPR. Tapi sebatas yang menjadi domain kami seperti otonomi daerah,”paparnya.

Ayi menegaskan penguatan DPD bukan untuk anggotanya saja tapi untuk

mendudukkan dan meluruskan masalah ketatanegaraan. Sedangkan permasalahannya terdapat sistem dua kamar hanya satu saja yang penuh.

“Selama ini apa yang kami sampaikan dari desa ke DPR, hanya menguap begitu saja.Kami tidak meminta lebih, tapi tolong apa yang diaspirasikan masyarakat supaya disampaikan,”pungkasnya. (MAT)

 

Baca Juga :

 

 

Pakar : Peretasan akan Sering Terjadi, Siapkan BCP Lengkap

Pakar Peretasan akan Sering Terjadi, Siapkan BCP Lengkap

Pakar : Peretasan akan Sering Terjadi, Siapkan BCP Lengkap

Pakar Peretasan akan Sering Terjadi, Siapkan BCP Lengkap
Pakar Peretasan akan Sering Terjadi, Siapkan BCP Lengkap

BANDUNG, Sekitar awal Maret 2017, situs Bukalapak dan Tokopedia tumbang bersamaan akibat mis manajemen pusat data (server). Salah satunya, website Telkomsel diretas, dan setelah berjam-jam berangsur pulih dan kembali bisa diakses. Sehari kemudian, giliran Indosat yang kena retas dengan pemulihannya relatif lambat.

Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Dimitri Mahayana mengatakan, bila yang tumbang adalah sistem inti operasional, maka bisa dibayangkan berapa kerugian langsung yang dialami perusahaan maupun pelanggan bila pemulihannya lambat. Tentu ditambah kerugian stratejik, berupa turunnya brand image dan kepercayaan publik pada kehandalan sistem yang dikelola perusahaan.

“Dalam kasus website, kadang website sering tidak dianggap sistem utama terutama bila sifatnya hanya menyajikan informasi, tidak mendukung operasional dan transaksi langsung pelanggan,”katanya di Bandung, Kamis (4/5)

Menurutnya, dalam kasus peretasan website perusahaan yang memiliki mega brand seperti Telkomsel, dan pemulihannya membutuhkan waktu berjam-jam, bisa dibayangkan besarnya kerugian tidak langsung berupa kerugian stratejik turunnya brand image di mata pelanggan, investor maupun regulator, serta turunnya kepercayaan publik pada kehandalan sistem yang dikelola perusahaan yang memungkinkan dampak negatif bola salju yang lain.

Menyikapi hal ini, kata Dimitri, pihaknya merekomendasikan tiga hal. Pertama, pemerintah melakukan penegasan kembali berlakunya PP PSTE 82/2012, termasuk di antaranya pasal kewajiban mengimplementasikan rencana keberlangsungan kegiatan (Business Continuity Plan/BCP) secara tuntas sesuai best practice bagi para penyelenggara sistem dan transaksi elektronik bagi publik.

“Mungkin praktek serupa di dunia perbankan yang sudah lama dilaksanakan

oleh pihak regulator industri keuangan, yaitu mewajibkan penyelenggara menggunakan auditor eksternal yang netral untuk mengaudit secara periodik minimal satu tahun sekali dan dilaporkan ke instansi pengawas dan pengatur sektor, bisa dipertimbangkan,” paparnya.

Kedua, semua pihak yang menggunakan sistem dan transaksi elektronik, baik di sektor swasta maupun pemerintahan, agar kembali mengkaji dan mengimplementasi tuntas rencana keberlangungan kegiatan (Business Continuity Plan), dan menjaganya tetap relevan serta benar-benar efektif mencapai target pemulihan pada saat kejadian yang tidak diinginkan.

Terakhir, ujar Dosen Sekolah Teknik Elektro Informatika ITB ini,

mempertimbangkan solusi teknologi hemat dengan konfigurasi optimal  yang disertai rencana aktifitas yang efektif. Juga, pengawakan organisasi BCP yang tepat demi implementasi rencana keberlangsungan kegiatan BCP yang efektif dan efisien.

“Frekuensi peretasan mungkin akan meningkat pesat, dan power down bisa

terjadi kapan saja dengan banyaknya faktor yang tidak bisa diduga. Demikian pula kejadian-kejadian tak diinginkan lainnya yang berpotensi memutus keberlangsungan bisnis. Maka, semua harus mulai berbenah terus menyiapkan diri. Now or never!” pungkasnya. (MAT)

 

Sumber :

https://www.kiwibox.com/alistudio/blog/entry/147702851/pengembangan-ide-kreatif-dan-inovatif/