Posted in: Pendidikan

Pandangan Positif

Pandangan Positif

Para ilmuwan modern, baik dari Barat maupun kalangan Melayu sendiri, dalam tahun-tahun belakangan telah mengambil posisi yang lebih adil dalam memandang HMM. Walaupun demikian, ada juga ilmuwan Barat yang memandang positif terhadap karya ini. Selain James Low, ilmuwan lain yang memberikan pandangan positif kepada karya ini adalah C.O. Blagden (1899) dan van Ronkel (1909).

C.O. Blagden (1899) menyebutkan adanya dua naskah HMM yang berlainan dalam koleksi manuskrip Melayu W. Maxwell dalam sebuah makalah yang tersiar dalam JRAS. Selain itu, Blagden juga menumpukan perhatian kepada tokoh Raja Bersiung. Dia menggunakan sumber-sumber dari sastra India dan cerita-cerita Jataka untuk membuktikan bahwa tokoh ini adalah tokoh saduran (Blagden dalam Salleh, 1998). Sementara itu, van Ronkel menyediakan katalog manuskrip dalam koleksi Bataviaasch Genootschap di Batavia, yaitu versi yang dikenal sebagai Sjadjarah Negeri Kedah (Salleh, 1998).

Pada tahun 1940, H.G.Q. Wales, seorang ahli arkeologi, melakukan penyelidikan atas beberapa tempat di negeri Kedah dan menyimpulkan bahwa tinggalan-tinggalan arkeologis yang dikemukakan oleh James Low jauh lebih tua tarikhnya daripada yang disebutkan dalam HMM. Namun, tentang tokoh Raja Merong Mahawangsa sendiri, Wales masih sepakat dengan Winstedt: “… evidently merely a legendary adventure (possibly a memory of the Maharaja, King of the Mountain), from whom the Kedah kings are supposed ultimately to have derived their origin” (Salleh, 1998).

Pada tahun 1964-1966, Siti Hawa Haji Salleh menyelesaikan sebuah tesis sarjana sastra berjudul “Hikayat Merong Mahawangsa: Sebuah Kajian Kritikan Teks” di Jabatan Pengajian Melayu, Universiti Malaya, dengan menggunakan pendekatan filologi. Hasil kajian ini diterbitkan pada tahun 1970 dan 1991 oleh Penerbit Universiti Malaya. Kajian ini menggunakan perpaduan dari beberapa versi HMM yang telah ada, yaitu versi Wilkinson, versi Sturrock dan Ms. Maxwell 21. Dalam bagian pendahuluannya, Salleh mempertahankan kedudukan karya ini sebagai sebuah karya kesejarahan Melayu yang dihasilkan berdasarkan ciri-ciri penulisan sejarah Melayu tradisional yang tertentu. Salleh juga membuktikan kesimpulan-kesimpulan Winstedt yang salah. Untuk pertama kali, penerbitan teks hikayat ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Salleh, 1998).

Pada tahun 1985, H.M.J. Maier dengan menggunakan pendekatan Foucault menumpukan perhatian kepada lapisan-lapisan interpretasi teks, bagaimana sebuah teks dibangun atas dasar lapisan-lapisan dan unsur-unsur budaya yang mempengaruhi pengarang ketika menulis. Tanpa menyentuh teks secara langsung, Maier membicarakan tentang perkembangan sosial, politik dan ekonomi yang sezaman dengan zaman penciptaan HMM (Salleh, 1998).

Penerbitan hasil kajian Maier menimbulkan reaksi di kalangan para sarjana kesusastraan Melayu tradisional, khususnya di kalangan pendukung ilmu filologi konvensional. Umar Junus menjadi penghubung antara kajian yang dihasilkan oleh Maier dengan peminat kesusastraan di Malaysia termasuk ahli-ahli filologi Melayu. Hasilnya adalah sebuah makalah yang berjudul “Henk Maier dan Hikayat Merong Mahawangsa” (Salleh, 1998).

Sumber :

https://fgth.uk/