PASCA-SUPERSEMAR
Posted in: Pendidikan

PASCA-SUPERSEMAR

PASCA-SUPERSEMAR

PASCA-SUPERSEMAR

Masa ini juga menjadi

sejarah supersemar yang penting. Setelah Supersemar terbit, Soeharto menggunakan kewenangan ini untuk segara membubarkan PKI. Selain itu, ia juga menangkap 15 menteri pendukung Soekarno, dan memulangkan anggota pasukan Tjakrabirawa.

Supersemar layaknya sebuah ‘surat sakti’ bagi Soeharto. Pasca-dikeluarkannya Supersemar, kekuasaan Presiden Soekarno semakin tergerus dengan posisi Soeharto sebagai pelaksana semua tindakan pemerintah.

Pada 27 Maret 1966, dilakukan perombakan kabinet Dwikora pimpinan Soekarno. Namun perombakan ini sebenarnya mendapat pertentangan dari Soekarno lantaran banyak wajah baru yang dianggap kurang dekat dengan dirinya. Tetapi kabinet tersebut turut tetap dilantik 3 hari kemudian. Pada 6 Juli 1966, Supersemar diputuskan untuk dilanjutkan perluasannya berdasarkan Tap MPRS No IX/MPRS/1966.

Presiden Soekarno semakin tidak setuju dengan aturan yang ditetapkan MPRS tersebut. Sikap ketidaksetujuannya tercermin dalam pidato kenegaraannya pada 17 Agustus 1966. Pidato tersebut dikenal dengan Pidato Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Pidato ini menimbulkan reaksi di masyarakat. Massa mulai melakukan demonstrasi menuntut Presiden melakukan pertanggungjawaban aksi G 30 S PKI. Demonstrasi ini berlangsung berurutan hingga Desember 1966.

Massa semakin banyak yang melakuakan demonstrasi. Mereka menyampaikan fakta jika Presiden Soekarno terlibat dalam G 30 S PKI dan meminta Soekarno untuk diadili seadil-adilnya. Pada 31 Desember 1966, Pimpinan MPRS membahas situasi pelik pada masa itu dan merekomendasi penyelesaian masalah melalui Tap MPRS No IX/MPRS/1966.

Akhirnya pada 20 Februari 1967 yang merupakan bagian dari sejarah supersemar, Presiden Soekarno memberikan pengumuman untuk menyerahkan kekuasaan kepada pengemban Tap MPRS No IX/MPRS/1966 tentang perluasan Supersemar, yakni Soeharto.

Jenderal Soeharto sebagai pengembang Tap MPRS No IX/MPRS/1966 akhirnya berpidato soal penegasan penyerahan kekuasaan dari Soekarno ke dirinya. Akhirnya pada 7 Maret 1967, Soeharto resmi menjabat sebagi Presiden Republik Indonesia menggantikan Soekarno.


Baca Juga :