Pembukuan hadith Lengkap

Pembukuan hadith Lengkap

Pembukuan hadith Lengkap
Pembukuan hadith Lengkap

Penjelasan

Sebagain jawaban terhadap pemalsuan hadith maupu tuduhan ahli hadith telah menyabarkan riwayat yang bertentangan, musykil dan penuh kufarat, kalangan ahli hadith melakukan beberapa cara untuk memelihara hadith.
Pertama, dengan menginvestarisasi kritik yang di lintarkan oleh kelompok mutakallimin, kemudian memberikan penjelasan dan jawabannya. Hal ini di lakukan oleh Muhammad Abdullah bin Muslim bin qataybah al-dinuri (w. 276 H ) dalam kitabnya ta’wil mukhtalaf al hadith.

Kandungan Hadith

Kandungan hadith ini mengandung tiga pokok pembicaraan:
1. Tantangan terhadap kritik dari kelompok penantang hadith.
2. Mengkompromikan yang nilai bertentangan
3. Jawaban terhadapa tuduhan bahwa hadith dipenuhi oleh msykilat dan shubhat.
Kedua, menghimpun hadith dengan system musnad, yakni pengelompokkan yang didasarkan kepada nama seorang sahabat, tidak dibedakan apakah riwayatnya sama atau tidak. Jadi tidak disusun menurut sistematika fiqh.

Musnad Abad ke-3

Di antara musnad yang disusun pada abad ketiga adalah:
a. Musnad ubaydillah bin musa (w. 213 H)
b. Musnad al-humaydi (w. 219 H)
c. Musnad musaddad (w. 237 H)
d. Musnad ishaq bin rahawayh (w. 237 H)
e. Musnad usman bin shaybah (w. 239 H)
f. Musnad ahmad bin hanbal (w. 241 H)

Ketiga, menyusun riwayat dengan basis fiqh, yaitu dengan pengelompokkan berdasarkan kitab fiqh, dalam hal ini ada yang menghimpun semua hadis, tetapi ada pula membatasi pada shahih saja. Perintis metode ketiga ini adalah Muhammad bin isma’il al bukhari (w. dawud dan al-tirmidzi. Metode yang terakhir inilah yang memberi kemudian pada pengkaji hadith.
Literature hadith yang berhasil disusun pada abad ketiga yang sampai saat ini dapat di temukan:
1. Al-musnad, imam ahmad
2. Al-jami’ al shahih,imam al-bukhari
3. Shahih muslim, imam muslim
4. Al-sunnah al-kubra dan mujtaba, imam al-nawawi
5. Al-sunnah, imam abu dawud
6. Al-jami’ al-shahih atau sunan, imam tirmidzi
7. Al-sunnah, imam ibnu majjah al-qazwayni.

Menurut perkiraan ahli hadith literature tersebut telah mengakar sebagian besar riwayat dari Rasulullah SAW, sehinggah sepakat tujuh kitab tersebut sebagai induk kitab hadith (ummahat kutub al-hadis).

Tujuh Literature Hadith

Dari tujuh literature hadith di atas dapat di bedakan menjadi tiga istilah, yaitu:

a. Al-musnad, yang disusun berdasarkan entri nama sahabat.
b. Al-jami’ al-shahih, yang dimaksud oleh penyusunnya untuk menghimpun hadith yang shahih saja.
c. Al-sunnah, yang di maksud oleh penyusunya menghimpun semua kategori hadith, shahih, hasan atau dha’if.

Kemudian timbul juga peristilah untuk memudahkan penyebutan literature secara bersama yaitu:

1. Al-shahihaini, untuk kitab Bukhari dan Muslim.
2. Al-thalatha’, untuk kitab Abu Dawud, Tirmidzi, nsa’i.
3. Al-arba’ah, untuk Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan ibnu Majjah.
4. Al-sittah, untuk kitab Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan ibnu majjah.
5. Al-sab’ah, untuk kitab Al-Bukhari, Muslim,Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majjah, dan Ahmad.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/