Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya

Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya

Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya
Pengertian Kodifikasi hadith, Latar Belakang dan Faktornya

A. Pengertian kodifikasi hadith

Secara etimologi kata kodifikasi berasal dari kata codification yang berarti penyusunan menurut aturan/sistem tertentu. Atau dari kata tadwin dapat berarti perekaman (recording), penulisan (writing down), pembukuan (booking), pendaftaran (listing, registration). Lebih dari itu, kata tadwin juga berarti pendokumentasia, penghimpunan atau pengumpulan serta penyusunan. Maka kata tadwin tidak semata-mata berarti penulisan, namun ia mencakup penghimpunan, pembukuan dan pendokumentasian.
Jadi yang dimaksud dengan kodifikasi hadith secara resmi adalah penulisan hadith nabi yang dilakukan oleh pemerintah yang di susun menurut aturan dan sistem tertentu yang diakui oleh masyrakat.

Perbedaannya

Ada pun perbedaan antara kodifikasi hadith secara resmi dan penulisan hadith adalah:

1. Kodifikasi hadith secara resmi dilakukan oleh suatu lembaga adminstratif yang diakui oleh masyarakat, sedanng penulisan hadith dilakukan perorangan.
2. Kegiatan kodifikasi hadith tidak hanya menulis, tapi juga mengumpulkan, menghimpun dan mendokumntasiannya.
3. Tadwin hadith dilakukan secra umum yang mellibatkan segala perangkat yang dianggap kompeten teradapnya, sedang penulisan hadith dilakukan oleh orang-orang tertentu.

B. Latar Belakang

Hadith sebagai salah satu sumber hukum dalam islam memiliki sejarah perkembangan dan penyebaran yang kompleks. Sejak dari masa pra-kodifikasi, zaman Nabi, Sahabat, dan Tabi’in hingga setelah pembukuan pada abad ke-2 H. Perkembangan hadits pada masa awal lebih banyak menggunakan lisan, dikarenakan larangan Nabi untuk menulis hadits. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran Nabi akan tercampurnya nash al-Qur’an dengan hadits. Selain itu, juga disebabkan fokus Nabi pada para sahabat yang bisa menulis untuk menulis al-Qur’an. Larangan tersebut berlanjut sampai pada masa Tabi’in Besar. Bahkan Khalifah Umar ibn Khattab sangat menentang penulisan hadits, begitu juga dengan Khalifah yang lain. Periodisasi penulisan dan pembukuan hadits secara resmi dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (abad 2 H). Terlepas dari naik-turunnya perkembangan hadits, tak dapat dinafikan bahwa sejarah perkembangan hadits memberikan pengaruh yang besar dalam sejarah peradaban Islam.

Faktor-faktor pendorong kodifikasi hadith

Ada beberapa hal yang mendorong ‘Umar bin Abdul al- Aziz’ mengambil inisiatif untuk memerintahkan para gubernur dan pembantunya untuk mengumpulkan dan menullis hadis, diantaranya adalah:
1. Tidak ada khawatiran bercampurnya hadis dan al-Qur’an, karena al-Qur’an ketika itu telah di buktikan dan disebarluaskan.
2. Munculnya kekhawatiran akan hilang dan lenyapnya hadis karena banyak sahabat yang meninggal dunia akibat usia atau sering terjadinya peperangan.
3. Semakin maraknya pemalsuan hadis yang dilatar belakangi perpecahan politik dan perbedaan mazhab dikalangan umat islam. Hal ini upaya untuk menyelamatkan hadis dengan cara pembukuannya setelah melalui seleksi yang ketat harus segera dilakukan.
4. Karena telah semakin luasnya daerah kekuasaan islam disertai dengan semakin banyak dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi umat islam, maka hal tersebut menurut mereka untuk mendapat petunjuk dari hadis nabi SAW, selain petunjuk al-Qur’an. Senada dengan beberapa faktor-faktor yang telah dijelaskan.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/