Penjelasan Mahram karena Sesusuan
Posted in: Agama

Penjelasan Mahram karena Sesusuan

Penjelasan Mahram karena Sesusuan

 

Penjelasan Mahram karena Sesusuan
Penjelasan Mahram karena Sesusuan

Mahram karena Sesusuan

Menurut riwayat Abu Daud, An-Nisa’i dan Ibnu Majah dari Aisyah, keharaman karena sesusuan ini diterangkan pada hadits yang artinya “Diharamkan karena hubungan sesusuan apa yang diharamkan karena ada hubungan nasab”. Diantaranya adalah :
1. Perempuan yang menyusui, karena dengan memberikan air susunya ia itu dianggap seperti ibunya sendiri.
2. Ibu dari perempuan yang menyusui, karena dianggap sebagai neneknya.
3. Ibu dari suami yang menyusukan karena juga karena dianggap sebagai neneknya.
4. Saudara perempuan yang menyusui karena seperti bibi.
5. Saudara perempuan dari suami yang wanita yang menyusui karena seperti bibinya pula.
6. Anak dan cucu perempuan dari perempuan yang menyusui.
7. Saudara perempuan baik dari perempuan yang sekandung, seayah atau seibu.
Sebagai tambahan penjelasan sekitar susuan ini dapat dikemukakan beberapa hal :
a. Yang dimaksud dengan susuan dengan susuan yang mengakibatkan keharamkan perkawinan ialah susuan yang diberikan pada anak yang memang masih memperoleh makanan dari air susu.
b. Mengenai berapa kali seorang bayi menyusui pada seorang ibu yang menimbulkan keharaman perkawinan seperti keharaman hubungan nasab sebagaimana tersebut dalam hadits diatas, melihat dalil yang kuat ialah yang tidak dibatasi jumlahnya, asal seorang bayi telah menyusu dan kenyang pada seorang itu menyebabkan keharaman perkawinan. Demikian pendapat hanafi dan maliki. Menurut pendapat syafi’i, Ibnu Hamdan Imam Ahmad menurut sebagaian riwayat, membatasi sekurang-kurangnya 5 (lima) kali susuan dan mengenyangkan. Adapun pendapat Tsaur Abu Ubaid, Daud Ibnu Ali Az-Zhahirity dan Ibnu Muzakkir, sedikitnya tiga kali susuan yang menyenangkan
Larangan karena sesusuan sama seperti haram karena nasab, perempuan yang haram dinikahi karena nasab yaitu : ibu,anak perempuan, saudara perempuan, bibi, anak perempuan dari saudara laki-laki, anak perempuan dari saudara perempuan, semuanya itu haram di nikahi berdasarkan furman Allah SWT :

Firman Allah SWT

حُرِّمَتۡ عَلَيۡڪُمۡ أُمَّهَـٰتُكُمۡ وَبَنَاتُكُمۡ وَأَخَوَٲتُڪُمۡ وَعَمَّـٰتُكُمۡ وَخَـٰلَـٰتُكُمۡ وَبَنَاتُ ٱلۡأَخِ وَبَنَاتُ ٱلۡأُخۡتِ وَأُمَّهَـٰتُڪُمُ ٱلَّـٰتِىٓ أَرۡضَعۡنَكُمۡ وَأَخَوَٲتُڪُم مِّنَ ٱلرَّضَـٰعَةِ وَأُمَّهَـٰتُ نِسَآٮِٕكُمۡ وَرَبَـٰٓٮِٕبُڪُمُ ٱلَّـٰتِى فِى حُجُورِڪُم مِّن نِّسَآٮِٕكُمُ ٱلَّـٰتِى دَخَلۡتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمۡ تَكُونُواْ دَخَلۡتُم بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡڪُمۡ وَحَلَـٰٓٮِٕلُ أَبۡنَآٮِٕڪُمُ ٱلَّذِينَ مِنۡ أَصۡلَـٰبِڪُمۡ وَأَن تَجۡمَعُواْ بَيۡنَ ٱلۡأُخۡتَيۡنِ إِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورً۬ا رَّحِيمً۬ا
Artinya : “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan ayahmu, saudara-saudara perempuan ibumu, anak-anak perempuan dari saudara laki-lakimu, anak-anak dari saudara perempuanmu, ibu-ibu yang menyusukan kamu dan saudara-saudara perempuan sesusuanmu.” (Q.S An-Nisa ayat: 23)

c. Kadar susuan yang di haramkan perkawinan

Sesusuan yang menyebabkan haramnya seseorang perempuan dinikahi itu mutlak. Tidak dianggap menyusui bila tidak menyusui secra sempurna, yaitu apabila seorang bayi menghisap dan menelan air susu seorang ibu dan belum akan berhenti menyusu sebelum kenyang, karena bukan dihentikan, kalau menghisap hanya sekali dua kali tidak menyebabkan haram karena belum dianggap menyusu, karena tidak ada pengaruhnya dan belum mengenyangkan. Rasullah bersabda: ”Tidaklah mengharamkan satu atau dua kali hisapan”
Sebagian pendapat bahwa menyusui baik sedikit ataupun banyak mengharamkan, mereka beralasan dengan makna umum dari ayat dan hadits
“Dan diharamkan kawin dengan ibu-ibu yang menyusukan kamu dan saudara-saudara perempuan sepersusuan”(An-Nisa ayat:23) Dalam ayat diatas tidak diterangkan beberapa kali harus menghisap susunya sehingga di jadikan dasar untuk mengharamkan menikahi ibu susuan.
Dalam kompilasi Hukum Islam, larangan kawin seperti telah diuraikan di atas dijelaskan pula secara rinci dalam bab IV, sebagai berikut :

Pasal 39

Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita disebabkan :
1) Karena pertalian nasab:
2) dengan seorang wanita yang melahirkan atau yang menurunkannya atau keturunannya.
3) Dengan seorang wanita keturunan ayah.
4) Dengan seorang wanita saudara yang melahirkannya.
5) Karena pertalian kerabat semenda :
6) Dengan seorang wanita yang melahirkan istrinya atau bekas istrinya.
7) Dengan seorang wanita bekas istri orang yang menurunkannya.
8) Dengan seorang wanita keturunan istri atau bekas istrinya, kecuali putusnya hubungan perkawinan dengan bekas istrinya itu qabla al-dukhul.
9) Dengan seorang wanita bekas istri keturunannya.
10) Karena pertalian susuan
11) Dengan wanita yang menyusuinya dan seterusnya menurut garis lurus ke atas
12) Dengan seorang wanita sesusuan dan seterusnya menurut garis lurus ke bawah.
13) Dengan seorang wanita saudara sesusuan, dan kemenakan sesusuan ke bawah.
14) Dengan seorang wanita bibi sesusuan an nenek bibi sesusuan ke atas.
15) Dengan anak yang disusui oleh istrinya danketurunannya

Pasal 40

Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita karena keadaan tertentu :
1) Karena wanita yang bersangkutan masih terikat satu perkawinan dengan pria lain;
2) Seorang wanita yang masih berada dalam masa iddah dengan pria lain;
3) Seorang wanita yang tidak beragama Islam.

Pasal 41

1) Seorang pria dilarang memadu istrinya dengan seorang wanita yang mempunyai hubungan pertalian nasab atau susuan dengan istrinya:
2) Saudara kandung, seayah atau seibu serta keturunannya;
3) Wanita dengan bibinya atau keturunannya;
4) Larangan tersebut pada ayat (1) tetap berlaku meskipun istri-istrinya telah ditalak raj’i, tetapi dalam masa iddah.
Pasal 42
Seorang pria dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang wanita apabila pria tersebut sedang mempuyai 4 (empat) orang istri, yang keempat-empatnya masih terikat tali perkawinan atau masih dalam iddah talak raj’i ataupun salah seorang di antara mereka masih terikat tali perkawinan sedangkan yang lainnya dalam masa iddah talak raj’i.
Pasal 43
Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria:
1) Dengan seorang wanita bekas istrinya yang ditlak tiga kali.
2) Dengan seorang wanita bekas istrinya yang dili’an
3) Larangan tersebut pada ayat (1) huruf a gugur, kalau bekas istrinya tadi telah kawin dengan pria lain, kemudian perkawinan tersebut putus ba’da dukhul dan habis masa iddahnya.
Pasal 44
Seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam.

Baca Juga: