Penjelasan Nikah Mut'ah & Nikah Muhallil
Posted in: Agama

Penjelasan Nikah Mut’ah & Nikah Muhallil

Penjelasan Nikah Mut’ah & Nikah Muhallil

Penjelasan Nikah Mut'ah & Nikah Muhallil
Penjelasan Nikah Mut’ah & Nikah Muhallil

Nikah Mut’ah

Nikah Mut’ah adalah sebuah bentuk pernikahan yang dibatasi dengan perjanjian waktu dan upah tertentu tanpa memperhatikan perwalian dan saksi, untuk kemudian terjadi perceraian apabila telah habis masa kontraknya tanpa terikat hukum perceraian dan warisan. Nikah Mut’ah juga dinamakan Nikah Muaqqat artinya kawin untuk waktu tertentu atau nikah Munqothi artinya kawin terputus yaitu seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan untuk beberapa hari, seminggu atau sebulan, pada awal tegaknya agama Islam Nikah Mut’ah di perbolehkan oleh Rasullah SAW didalam beberapa hadits diantaranya

Dari Qais, dia berkata “Saya pernah mendengar Abdullah bin Mas’ud RA berkata, kami pernah perang bersama Rasullah SAW tanpa membawa istri lalu kami berkata. Apakah sebaiknya kita mengebiri kemaluan kita? Lalu Rasullah SAW melarang kami berbuat demikian dan beliau memberikan keringan pada kami untuk menikahi perempuan sampai pada batas waktu tertentu dengan mas kawin pakaian” lalu Abdullah bin Mas’ud membaca ayat yang artinya: “Hai orang-orang beriman janganlah kamu mengharamkan apa yang lebih baik yang telah dihalalkan oleh Allah SWT bagimu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (Q.S Maidah 5;87){Muslim 4/130}

Kemudian datang hadits-hadits yang shahih bahwa Nikah Mut’ah tersebut tidak diperbolehkan lagi penghapusan hukum halalnya Nikah Mut’ah dan pengharamnya.

Hadits

Dari Sabrah Al-Juhuni RA bahwa dia pernah bersama Rasullah SAW, lalu beliau bersabda: “Saudara-saudara! sesungguhnya aku dulu pernah memperbolehkan kalian untuk menikahi perempuan secara Mut’ah tapi Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat barang siapa masih mempunyai istri Mut’ah maka ceraikanlah dan jangan mengambil kembali mas kawin yang telah kamu berikan kepada istri Mut’ah itu {Muslim 4/132}
وَعَن سَلَمَة الاَكوع رَضَّيَ اللهُ عَنهُ قَالَ: رَخَصَ رَسُولَ اللهُ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَمَ عَامَ أَوطَاس فِي المُتعَةِ ثَلاَثَةٍ أَيَّامٍ ثُمّ نَهَى عَنهَا. (رواه مسلم )
Artinya: Dari Salamah Al-aku’i RA berkata“Nabi telah pernah memberikan rukhsah pada waktu tahun Authas mengenai Nikah mut’ah tiga hari kemudian melarangnya”
Menurut kesepakatan mazhab, mazhab dalam kalangan Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Nikah ini di katakan mut’ah artinya senang-senang. Karena akadnya hanya semata-mata untuk senang-senang saja, antara laki-laki dan perempuan dan untuk memuaskan nafsu belaka. Bukan untuk bergaul sebagai suami-istri untuk mendapatkan keturunan atau hidup sebagai suami-istri dengan membina rumah tangga sejahtera. Pada Kawin mut’ah bertentangan dengan hukum-hukum Al-Qur’an tetang perkawinan, tahlaq, iddah dan waris. Dalam nikah mut’ah tidak ada aturan tentang thalaq karena pernikahan itu akan berakhir dengan habisnya waktu yang ditentukan.

Nikah Muhallil

Secara Etimologi tahlil berarti menghalalkan sesuatu yang tadinya hukumnya adalah haram menjadi halal. Kalau di kaitkan dengan perkawinan akan berarti perbuatan yang menyebabkan seseorang yang semula haram melangsungkan perkawinan menjadi boleh atau halal. Orang yang mendapat menyebabkan halalnya orang lain melakukan perkawinan itu disebut Muhalil sedangkan orang yang telah halal melakukan perkawinan yang di lakukan Muhalil dinamakan Muhallah lah.
Dari Ibnu Mas’ud ia berkata, bahwa Rasullah SAW melaknat Muhallil yang(mengahalalkan) dan orang yang dihalalkan (H.R Ahmad, An-Nasa’i, dan Turmudzi mengesahkannya )
Nikah Muhalil secara terminologi ialah seorang laki-laki mengawini seorang wanita yang sudah ditalak tiga setelah berakhir masa iddahnya, kemudian dia mentalaknya supaya menjadi halal kawin lagi dengan mantan suaminya yang pertama. Imam Malik berpendapat bahwa Nikah Muhalil itu dapat dibatalkan sedangkan imam Abu Hanifah dan Syafi’i berpendapat bahwa nikah Muhalil itu sah. Silang pendapt ini disebabkan oleh silang pendapat mereka tentang pengertian sabda Nabi SAW: “Allah mengutuk orang yang Nikah Muhalil” {H.R Ahmad dan Abu Daud}
Bagi fuqaha yang mengalami kutukan tersebut hanya dosa semata mengatakan bahwa nikah Muhalil itu sah. Sedangkan bagi Fuqaha yang mengalami kutukan tersebut adalah batalnya akad Nikah karena dipersamakan dengan larangan yang menunjukan batalnya perbuatan yang dilarang mengatakkan bahwa nikah muhalil itu tidak sah. dan dari Uqabah bin Amir ia berkata Rasullah SAW bersabda “Maukah kamu ku beritahu tentang pejahatan pinjaman ? Mereka menjawab: Mau ya Rasullah ! Rasullah bersabda “yaitu Muhallil semoga Allah melaknat Muhallil dan orang yang dihalalkannya” (H.R Ibnu Majah)

Sumber: https://www.dutadakwah.org/