PERAN PONDOK PESANTREN DALAM PEMBINAAN UMAT

PERAN PONDOK PESANTREN DALAM PEMBINAAN UMAT

PERAN PONDOK PESANTREN DALAM PEMBINAAN UMAT
PERAN PONDOK PESANTREN DALAM PEMBINAAN UMAT

CIAMIS.07012017. Sudah diakui dan dirasakan secara luas, bahwa Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang telah mengakar serta menjadi bagian sosiokultural masyarakat Indonesia.

Pondok Pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan agama Islam, tetapi juga sebagai lembaga pelatihan kewirausahaan, sehingga tingkat kemandirian alumni Pondok Pesantren lebih tinggi dari Lembaga Pendidikan Umum. Alhamdulillah, kini Pondok Pesantren sudah menemukan jatidirinya. Sudah banyak prestasi yang dicapai. Sudah dapat bersaing dengan Lembaga Pendidikan Umum.

Kini, alumni Pondok Pesantren banyak yang sukses di segala bidang. Mulai dari Petani hingga Menteri. Mulai dari Ustadz hingga Konglemerat. Mulai dari guru SD hingga DPRRI. Mulai skala lokal hingga internasional. Mulai dari Kades hingga Dubes. Mulai Kaur hingga Gubernur, dan lain lain.

Ini tidak terlepas dari banyaknya pondok pesantren yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan jumlah santri yang cukup besar. Data dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemeterian Agama, pada tahun 2011 Indonesia memiliki 27.218 pondok pesantren dengan jumlah santri mencapai 3.642.738 orang.
Modal dasar di atas harus kita kembangkan. Salah satu jalan yang sangat mungkin dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan pesantren berbasis vokasi. Lulusannya harus berpengetahuan, berkeahlian, dan berakhlakul karimah.

Dengan demikian, dari pondok pesantren akan lahir santri-santri enterpreneur dan santri-santri yang memiliki skill yang tinggi, yang tidak hanya handal tetapi juga berakhlak mulia. Sehingga nantinya mereka dapat menggerakkan usaha ekonomi produktif di lingkungan pondok pesantren maupun di lingkungan sekitarnya pasca selesai mondok, yang dalam jangka panjang akan menciptakan kemandirian ekonomi lokal, yang kemudian akan mewujudkan kesejahteraan bangsa, serta pada akhirnya akan mewujudkan keutuhan bangsa. Inilah yang disebut dengan mewujudkan keutuhan bangsa dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity), bukan pendekatan keamanan (security).

Tidak ada institusi pendidikan umum yang selengkap fungsi Pondok Pesantren. Santri dan kiai bersatu bekerjasama untuk melatih disiplin, sejak sebelum subuh sudah bangun dan lalu dilanjut salat subuh berjamaah, ini sungguh latihan disiplin yang tidak ringan, maka siapapun yang lulusan pesantren dan istikomah dengan amalan ini, insyallah hidupnya akan sukses. Karena dalam dunia pesantren kita mengenal Maqolah, al istiqomatu khoirun min alfi karomah: konsistensi, disiplin itu lebih baik dari seribu karomah. Ini adalah jargon milik pesantren.

Soal tanggungjawab, Santri pasti akan memiliki tanggungjawab atas hidupnya, karena dia hapal hadits nabi Muhammad SAW, kullukum roo in wakullukum mas ulun an roiyyatih, bahwa setiap kita punya tanggungjawab yang harus kita tunaikan atas amanat yang dibebankan kepada kita. Santri, apalagi kiai pasti hapal soal ini.

Terkhir, kalau ada santri yang berhasil jadi pengusaha, maka dia akan memegang teguh hadits rasulullah SAW dari riwayat Ibnu Majah, yang berbunyi, “berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering”. Sebaliknya kalau santri yang jadi pekerja, pasti dia akan sungguh-sungguh, bekerja keras sebagai wujud nyata dari tanggungjawab, disiplin dan istikomah. Sikap inilah yang dibutuhkan dalam dunia kerja yang penuh persaingan.

Dalam menghadapi persaingan global dan kompetisi dunia, secara kuantitas potensi kekuatan negara kita sebetulnya cukup besar.  60% dari penduduk Indonesia adalah anak muda. Jumlah tersebut akan terus meningkat hingga mencapai 195 juta penduduk usia produktif di tahun 2040.

Namun. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus 2016

oleh BPS, kualitas angkatan kerja Indonesia masih rendah: Dari 118,41 Juta orang Penduduk Yang Bekerja, 60,24 persennya hanya berpendidikan SMP kebawah. Dan dari 7,03 juta orang Pengangur sebesar 39,45 persennya hanya berpendidikan SMP kebawah.

Daya saing kita juga rendah. Dari 138 negara yang disurvai oleh World Economic Forum Tahun 2015-2016, kita berada pada ranking 41. Sementara Singapura rangking 2, Malaysia rangking 25, dan Thailand rangking 34. Hal ini menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Untuk itu, tentunya semua lembaga pendidikan dan pelatihan, khususnya Pondok Pesantren untuk memfasilitasi lulusannya supaya lebih kompeten, bersertifikat dan berdaya saing global.

Baca  :