Sejarah Kodifikasi Hadith

Sejarah Kodifikasi Hadith

Sejarah Kodifikasi Hadith
Sejarah Kodifikasi Hadith

Hadith Pertama Kali

Ide penghimpunan hadith nabi secara tertulis untuk pertama kali dikemukakan oleh khalifah Umar bin al Khottab. Ide tersebut tidak dilaksanakan oleh umar karena Umar merasa khawatir umat islam akan terganggu perhatiannya dalam mempelajari al-Qur’an. Pembatasan niat Umar untuk menghimpun hadith nabi itu dikemukakan sesudah beliau melakaukan sholat istikharah selama satu bulan. Kebijaksanaan Umar dapat di mengerti karena pada zaman Umar daerah islam telah semakin meluas dan hal itu membawa akibat jumlah orang yang baru memeluk islam semakin bertambah banyak.

Periode Tabi’in

Memasuki periode tabi’in, sebenarnya kekhawatiran membukukan/ kodifikasi hadith tidak perlu terjadi, justru pada periode ini telah bertabur hadith-hadith palsu yang mulai bermunculan setelah umat islam terpecah belah menjadi golongan-golongan, yang semula berorientasi politik berubah menjadi faham keagamaan, seperti khawarij, syi’ah, murjji’ah dan lain-lain. Perpecahan innin terjadi sesaat setelah peristiwa tahkim yang merupakan rentetan peristiwa yang bersal dari terbunuhnya khalifah Umar bin Affan ra. Untuk mengukkuhkan eksistensi masing-masing golongan mereka merasa perlu menciptakan hadith palsu.

Kemudian semua karya tentang hadith dikumpulkan pada paruh akhir abad ke-2H/8M atau selama abad ke-3/9M. Berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa di seputar awal abad ke-2H,sejumlah kecil muhadditsun (ahli kitab) telah mulai menulis hadith,meskipun tidak dalam himpunan yang runtut. Belakangnan koleksi kecil ini menjadi sumber bagi karya-karya yag lebih besar. Meskipun begitu kebanyakan hadith yang ada dalam himpunan-himpunan disampaikan melalui tradisi lisan. Sebelum dicatat dalam himpunan-himpunan tersebut belum pernah dicatat ditempat manapun.

Ada beberapa pendapat yang berkembang mengenai kapan kodifikasi secara resmi dan serentak di mulai.

a. Kelomppok syi’ah

mendasarkan pendapat hasan al-sadr (1272-1354 H), yang menyatakan bahwa penullisan hadis telah ada sejak masa nabi dan kompilasi hadis telah ada sejak awal khalifah Ali bin Abi Thalib (35 H), terbukti adanya kitab Abu Rafi’, kitab al-Sunan wa al-Ahkam wa al-Qadaya.

b. Sejak abad 1 H

yakni atas prakasa seorang gubernur mesir ‘Abdul aziz bin marwan yang memerintahkan kepada kathir bin M urrah, seorang ulama hamsy untuk mengumpulkan haadis, yang kemmudian disanggah syuhudi ismail dengan alasan bahwa perintah Abdul Aziz bin M arwan bukan merupakan perintah resmi, Iegal dan kedinasaan terhadap ulama yang berada di luar wilayah kekuasaannya.

c. Sejak awal II H

yakni masa khalifah ke-5 dinasti Abbasiyyah, Umar ibn Abdul Aziz yang memerintahkan kepada semua gubernur dan ulama di daerah kekuasaannya untuk mengumpulkan hadith-hadith nabi. Kepada ibnu shihab al-Zuhri, belliau berkirim surat yang isinya “perhatikanlah hadith Rasulullah SAW, lalu tulislah. Karena aku mengkhawatirkan lenyapnya ilmu itu dan hilangnya para ahli” dan kepada Abu Bakar Muhammad ibn ‘Amr ibn hazm, beliau menyatakan: “tulislah kepadaku hadis Rasulillah SAW yang ad padamu dan hadis yang ada pada ‘Amrah (amrah binti Abdurrahman, w. 98 H ), karena aku mengkhawatirkan ilmu itu a.kan hilang dan lenyap”

Pendapat ketiga ini yang di anut jumhur ulama hadis, dengan pertimbangan jabatan khalilfah gaungnnya lebih besar daripada seorang gubernur, khalifah memerintah kepada para gubernur dan ulama dengan perintah resmi dan Iegal serta adanya tindak lanjut yang nyata dari par ulama masa itu untuk mewujudkannya dan kemudian menggandakan serta menyebarkan ke berbagai tempat.

Dengan demikian, penulisan hadith yang sudah ada dan marak tetapi belum selesai di tullis pada masa Nabi, baru diupayakan kodifikasinya secara serentak, rresmi dan massal pada awal abad II H yakni masa Umar bin Abdul A ziz, meskipun bisa jadi inisiatif tersebut berasal dari ayahnya, Gubernur mesir yang pernah mengisyaratkan hal yang sama sebelumnya.

Ada pun siapa kodifikator hadis pertama, muncul nama Ibnu Shihab al- Zuhri (w, 123H), karena beliaulah yang pertama kali mengkomplikasikan hadith dalam satu kitab dan menggandakannya untuk memberikan ke berbagai wilayah sebagaiman pernyataannya: “Umar bin Abdul Aziz memerintahkan kepada kami menghimpun sunnah, lalu kami menulisnya beberpa buku.” Kemudian belliau mengirimkan satu buku kepada setiap wilayah yang berada dalam kekuasaannya. Demikian pandangan yang diruntut sebagian sejarawan dan ahli hadith. Adapun yang berpandangan Muhammad abu Bakr ibn Amr ibn Hazm yang mengkodifikasikan hadith pertama, ditolak oleh banyak pihak, karena tidak menggandakannya hasil kodifikasi Ibn Amr Hazm untuk disebarluaskan ke berbagai wilayah.

Meski demikian, ada juga yang berpendapat bahwa kodifikator hadith sebelum adanya instruksi kodifikasi dari khalifah Umar ibn ‘Abdul Aziz telah dilakukan, yakni oleh khalid bin Ma’dan (w, 103 H). Rasyid Ridha (1282-1354 H) berpendapat seprti itu, berdasarkan periwayatan, khalid telah menyusun kitab pada masa itu yang diberi kancing agar tidak terlepas lembaran-lembarannya. Namun pendapat inni ditolak ‘Ajjaj al-Khatib, karena penulisan tersebut bersifat individual, dan hal tersebut telah dilakukan jauh sebelumnya oleh para sahabat. Terbukti adanya naskah kompilasi hadis dari abad 1H, yang sampai pada kita, yakni al-Sahafiah al-Sahihah.

Tulisan-tulisan hadis pada abad masa awal sangat penting sebagai dokumentasi ilmiah dalam sejarah, sebagai bukti adanya penulisan hadis sejak zaman Rasulullah, sampai dengan masa pengkodifikasian resmi dari Umar bin abdul Aziz. Bahkan sampai masa sekarang.

Baca Juga: