Posted in: Agama, Umum

 Sejarah Perkembangan Hukum Islam

 Sejarah Perkembangan Hukum Islam

Untuk memperoleh gambaran yang komprehensif tentang hukum islam, berikut ini akan disajikan perkembangan permikiran hukum islam mulai dari periode perkembangan awal, yang dikenal dengan periode tasyri’ yang merupakan bentuk dari kata masdar syarra’a.[1]  hingga periode kebangkitan  kembali hukum islam pada  masa moderen.

  1. Periode kenabian

Yang dimaksud dengan periode kenabian adalah periode yang bermula dari turunnya wahyu hingga wafatnya nabi pada tahun 11 hijriyah (621-631 M).  periode ini merupakan masa pertumbuhan dan pembentukan hukum islam, suatu masa turunnya syari’at  islam dalam pergertian yang sesungguhnya.

Turunnya syari’ah dalam arti proses munculnya hukum-hukum  syar’iyah  hanya terjadi pada periode kenabian ini. sebab, syar’iah  itu turun dari allah dan itu berakhir dengan turunnya wahyu setelah nabi wafat. Nabi sendiri tidak mempunyai kekuasaan untuk membuat  hukum-hukum syar’iyah karena tugas seorang rasul hanyalah menyampaikan hukum-hukum  syar’iyah  kepada ummatnya.

Karenanya, dapat dikatakan bahwa pada periode ini belum ada suatu ilmu yang secara spesifik membahas tentang hukum islam  dengan segala  permasalahnnya. Yang dimaksudkan di sini adalag bahwa hukum islam belum disistematisasikan. Selama masa hidup nabi.  Nabi sendiri tidak mengkategorikan ajaran islam pada kelompok-kelompok tertentu, seperti wajib, mandub,halal  makruh, dan mubah. Klasifikasi itu merupan  hasil  kerja para fuqaha’  yang secara sungguh-sungguh  mempelajari ayat-ayat al-Qur’an, al-sunnah, praktik para sahabat  kaum muslim pada periode awal.

Namun demikian,pada periode ini pemahaman  hukum islam telah berwujud secara  factual, walaupun sesungguhnya walaupun  keadaan hukum islam masih sederhana, yakni berupan pengenalan terhadap hukum-hukum islam dalam ruang dan waktu tertentu. Beberapa masalah, peristiwa, situasi dan kondisi  yang ditemui nabi dan sahabatnya langsung dirujuk pada hukum-hukum al-Qur’an.

Ketika muncul permasalahan para sahabat langsung bertanya padanya  atau jika  kebetulah posisi nabi  jauh,mereka  berijtihad  kemudian  menyampaikan  hasil  ijtihad  mereka kepada  nabi. Sehingga  semua persoalan  menjadi  jelas  dan gamblang antara yang  ditetapkan atau yang dikoreksi, karena ia  memiliki  otoritas penuh  untuk   tasyri.

Sekalipun  hanya  nabi saw yang  memiliki otoritas tasyri’ , ia tidak pernah mencela   apalagi  melarang tindakan  ijtihad para sahabat. Justru  sikap yang ia tunjukan  menunjukkan apresiasinya terhadap  tindakan itu. Hal itu memberi  pengertian  bahwa   ia tunjakan  restu  kepada  para  sahabatnya  untuk ber-ijtihad.

Bagaimana ijtihadi  pada masa nabi?  Bolehkan  nabi melakukan  ijtihad  atas sesuatu yang  tidak  ada ketentuannya  di dalam al-Qur’an?  Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat. Ibn Hasan al-jawziyah membolehkan nabi ber- ijtihad dalam masalah-masalah yang menyangkut kemaslahatan keduniaan dan strategi perang, seperti yang pernah dilakukan nabi dalam peristiwa perang badar dan perang  tabuk.

Berkenaan  dengan masalah syar’iyah, terdapat sebagian  ulama, yaitu ibn hasan, abu ‘ali, dan abu hasyim dari pihak  mu’tazilah, tidak membolehkannya dan sebagian  ulama membolehkan.

Pos-pos Terbaru