Posted in: Perikanan

Teori pendidikan interaksional

Teori pendidikan interaksional

          Pendidikan interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga berintikan kerja sama dan interaksi. Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari pendidik kepada peserta didik dan dari peserta didik kepada pendidik. Lebih dari itu, interaksi ini juga terjadi antara peserta didik dengan materi pembelajaran dan dengan lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Interaksi ini terjadi melalui berbagai bentuk dialog.

          Pembahasan mengenai teori pendidikan, dikenal ada tiga macam aliran

  1. Aliran nativisme : Dengan tokohnya adalah Schopenhaver, ia mengatakan bahwa bakat mempunyai peranan yang penting, tidak ada gunanya orang mendidik kalau bakat anak memang jelek. Sehingga pendidikan diumpamakan dengan “mengubah emas menjadi perak” adalah suatu hal yang tidak mungkin.
  2. Aliran empirisme : Dengan tokohnya adalah John Locke, ia mengatakan bahwa pendidikan itu perlu sekali. Teorinya terkenal dengan istilah “ teori tabularasa”. Ini artinya bahwa kelahiran anak diumpamakan sebagai kertas putih bersih yang dapat diwarnai setiap orang (penulis). Dalam konteks pendidikan “warna” terhadap anak didik.
  3. Aliran convergensi : Dengan tokohnya Wiliam Stern, aliran ini mengakui kedua aliran sebelumnya. Oleh karena itu pendidikan sangat perlu, namun bakat (pembawaan) yang ada pada anak didik juga mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Aliran ini seolah-olah merupakan campuran dari aliran nativisme danaliran empirisme. Aliran ini sekarang banyak dianut.Pilar-Pilar Pendidikan. Ada lima pilar pendidikan yang direkomendasikan UNESCO yang dapat digunakan sebagai prinsip pembelajaran yang bisa diterapkan didunia pendidikan:
  4. Learning to know : Learning to know bukan sebatas proses belajar dimana pebelajar mengetahui dan memiliki materi informasi sebanyak-banyaknya, menyimpan dan mengingat, namun juga kemampuan untuk dapat memahami makna dibalik materi ajar yang telah diterimanya. Dengan learning to know,kemampuan menangkap peluang untuk melakukan pendekatan ilmiah diharapkan bisa berkembang yang tidak hanya melalui logika empirisme semata, tetapi juga secara transendental, yaitu kemampuan mengaitkannya dengan nilai-nilai spiritual
  5. Learning to do : Learning to do merupakan konsekuensi dari learning to know. Kelemahan model pendidikan dan pengajaran yang selama ini berjalan adalah mengajarkan “omong” (baca: teori), dan kurang menuntun orang untuk “berbuat” (praktik). Learning to do bukanlah pembelajaran yang hanya menumbuhkembangkan kemampuan berbuat mekanis dan keterampilan tanpa pemikiran; tetapi mendorong peserta didik agar terus belajar bagaimana menumbuhkembangkan kerja, juga bagaimana mengembangkan teori atau konsep.

sumber :

https://www.prayasone.org/speech-to-text-translator-apk/